Di Batas Waktu

Di Batas Waktu
DBW 48 Menikmati Hari Pertama Liburan


__ADS_3

Di Batas Waktu (48)


" Sayang, sini!", Irfan melambaikan tangan pada seseorang.


Adel dan Sakha melihat ke arah orang yang di maksud Irfan.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Adel dan Sakha sudah ada di dalam kamar hotel. Mereka bergiliran untuk membersihkan diri sebelum mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah.


Adel sudah tampak segar. Ia yang lebih dulu mandi karena benar-benar merasa tak nyaman dengan badannya yang lengket.


Adel segera mengeringkan rambutnya. Setelah itu, ia duduk di atas tempat tidur dan bersandar di headboard. Sambil menunggu Sakha yang sedang mandi, Adel membuka sosial media.


Adel fokus melihat ke arah ponselnya tanpa menyadarinya kehadiran Sakha yang sedang berjalan ke arahnya.


Sakha langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Adel.


Adel yang menyadari Sakha ada di pangkuannya, refleks mengusap kepala Sakh dengan tangan kanannya sementara matanya tetap fokus pada ponsel yang ada di tangan kirinya.


" Apa ponsel kamu lebih menarik daripada suamimu?", tanya Sakha melihat ke arah Adel.


" Maaf", ucap Adel langsung menyimpan ponselnya di atas nakas.


"Aish, masih basah. Tunggu sampai rambutan benar-benar kering, baru tidur", omel Adel sambil mengangkat kepala Sakha agar merubah posisinya menjadi duduk. Sementara Adel segera beranjak dari duduknya dan mengambil handuk untuk mengeringkan rambut Sakha.


" Aku kan sudah bilang, keringkan rambutnya sebelum tidur. Tidur saat rambut masih basah bisa jadi penyebab sakit kepala juga flu. Belum lagi bisa bikin rambut rusak", Adel mengomel lagi sambil mengeringkan rambut Sakha.


Sakha hanya diam menikmatinya. Sementara Omelan Adel tidak ia tanggapi, cukup dengarkan saja.


" Iya sayang, maaf", ucap Sakha mengakui kesalahannya.


Sakha tahu, Omelan Adel itu demi kebaikannya.


" Tadi, di ponsel kamu lihat apa sampai gak sadar mas keluar dari kamar mandi?", tanya Sakha penasaran.


" Aku tertarik sama tawaran dari Irfan tadi. Kamu mau kan, Mas?",pinta Adel memelas.


Adel tahu Sakha tidak terlalu suka di foto, namun rasanya ia pun ingin punya foto berdua dengan berbagai tema. Sepertinya menarik.


Flashback on


" Jadi kamu nikah sama Tiara?", tanya Sakha menyadari sosok perempuan yang tak asing. Walau kini memakai kerudung, Sakha masih bisa mengenalinya.


" Iya ", jawab Irfan tersenyum kikuk.

__ADS_1


" Benar-benar kejutan. Dulu nolak secara terang-terangan, sekarang malah jadi pasangan suami istri", Sakha geleng-geleng kepala.


Saat SMA dulu, Irfan memang idola sekolah. Banyak fansnya, termasuk Tiara. Ia yang suka fotografer ikut bergabung dengan tim Mading sekolah. Irfan adalah obyek gambar yang tak pernah absen mengisi kameranya.


Namun, Irfan terang-terangan menolak Tiara karena tidak suka penampilannya yang modis dan terkesan se*si. Sementara Irfan suka perempuan yang menutup auratnya. Namun, Tiara tak peduli dan terus mendekati Irfan.


" Jodoh emang gakkan kemana ya, Tiara", timpal Adel.


Tiara hanya tersenyum. Ada rasa malu bila inget tingkahnya yang mengejar-ngejar Irfan.


" Kalian juga?", tanya Tiara menyelidik.


" Alhamdulillah kami sudah menikah", jawab Adel.


" Alhamdulillah. Gak nyangka ya?", timpal Tiara.


Mereka pun sedikit bernostalgia mengingat saat-saat SMA dulu. Sesekali di selingi tawa ketika mengingat hal-hal memalukan saat di kenang.


Namun karena waktu juga, pertemuan itu hanya sebentar saja.


" Oh iya, kalau kalian mau foto post wedding, bisa sama kita ya", Tiara promosi.


" Foto post wedding?",Adel penasaran.


Flashback off


Sakha menghela nafas. Bukan tak ingin mengabulkan keinginan istrinya. Tapi, ia tak bisa kalau di paksa berpose begitu.


" Kasih aku alasan kenapa aku harus mau?", tanya Sakha akhirnya.


" Aku juga kan pengen punya foto berdua begitu. Yang romantis dengan latar belakang yang bagus". jelas Adel antusias.


" Kamu yakin bisa berpose romantis di depan orang lain?", tanya Sakha akhirnya.


Adel menggeleng. Rasanya dia pasti malu. Jangankan orang lain, di lihat Mama Ria saja rasanya memalukan.


" Lalu bagaimana bisa berpose seperti itu di depan fotografer?", tanya Sakha.


Adel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia hanya fokus pada hasil foto tanpa menyadari seperti apa proses untuk mendapatkan foto itu.


" Kalau untuk mendapatkan foto yang kamu inginkan, bisa pakai kamera hp kan. Lebih bisa puas mengekspresikan keromantisan kita tanpa harus malu di lihat orang", usul Sakha tersenyum jahil sambil menggerakkan kedua alisnya.


Adel sudah malu duluan melihat sikap Sakha.


" Tapi, yang pasti keromantisan malam ini tidak perlu di abadikan ya!", lagi-lagi dengan senyum jahilnya.

__ADS_1


Adel hanya mendelik.


" Sudah, ayo. Waktu itu ada yang janji mau melayani dengan baik", tagih Sakha antusias.


Adel paham maksud dari perkataan Sakha. Dengan cepat lampu kamar pin di matikan dan hanya menyisakan lampu tidur saja.


Mereka pun melakukan ibadah malam di atas ranjang setelah sekian lama puasa.


***


Pagi pun tiba, Sakha benar-benar meminta pelayanan ekstra. Pagi ini, sebelum melakukan check out dari hotel, ia kembali meminta asupan nutrisi dari sang istri. Sarapan nyatanya tak cukup baginya.


Mereka pun segera membersihkan diri untuk yang kedua kalinya di pagi ini. Keduanya langsung bersiap karena akan ke rumah Bu Indah untuk menanyakan tentang orang yang akan membersihkan rumah orang tua Adel.


Namun sebelum itu, mereka menyempatkan untuk berbelanja kebutuhan bersih-bersih nanti juga kebutuhan dapur karena mereka akan mulai menginap di rumah orang tua Adel mulai malam ini.


***


" Bagaimana, Bu?", tanya Adel.


Sekarang Sakha dan Adel sudah ada di rumah Bu Indah.


" Sebentar lagi juga datang. Seperti permintaan Nak Adel ada tiga orang." jelas Bu Indah sambil meletakkan cangkir berisi air putih. " Maaf hanya ada air putih ", jelas Bu indah tersenyum.


" Tidak apa-apa, Bu",


" Mungkin nanti saya dan Adel akan pergi dulu selama rumah itu di bersihkan. Karena kita mau ziarah dulu ke makamnya ayah dan bunda", jelas Sakha.


Sakha memang belum pernah berziarah ke makam kedua mertuanya sejak ia menikahi Adel. Karena itu, sebelum menikmati liburannya ia ingin berkunjung dan mendo'akan keduanya. Sekalipun berdo'a bisa di lakukan dimana saja tanpa harus datang langsung ke makam.


Tidak lama kemudian orang yang di tunggu pun tiba, mereka berbincang sebentar sebelum akhirnya Adel menitipkan kunci rumah itu kepada Bu Indah.


Sakha dan Adel mulai pergi menuju ke makam yang letaknya cukup jauh dari rumah Adel. Sebelum masuk ke area makam, Adel membeli bunga dari penjual bunga yang selalu ada berjualan di sekitar makam. Setelah mendapatkan bunga yang di butuhkan, keduanya segera melangkah ke arah makam yang di kelilingi oleh pohon-pohon yang rindang.


Adel dan Sakha bersimpuh di depan makam kedua orang tua Adel yang di makamkan bersebelahan.


TBC


...----------------...


...Mohon dukungannya.....


...Terimakasih ...


...🥰 🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2