Di Batas Waktu

Di Batas Waktu
DBW 56 Keram Perut


__ADS_3

Di Batas Waktu (56)


" Alhamdulillah sesuai keinginan sang ayah. Jenis Kelaminnya laki-laki",


" Alhamdulillah. Tuh kan anak kita nurut", celetuk Sakha.


" Maksudnya?" Dokter Mila heran.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Sakha dan Adel kembali ke rumah setelah selesai melakukan kontrol kandungan. Sepanjang perjalanan, Sakha terlihat sangat bahagia. Keinginannya untuk mendapatkan anak laki-laki, terkabul juga.


Sebenarnya, jawaban yang ia berikan pada dokter Mala hanyalah gurauan saja. Keinginannya untuk memiliki anak laki-laki sebagai anak pertama adalah agar kelak ia bisa menjaga adik-adiknya. Ya, tentu saja saka tidak ingin hanya memiliki satu anak saja.


Walaupun, pada akhirnya ia akan ikut direpotkan jika Adel kembali hamil. Bagi Sakha tidak masalah. Menurutnya, laki-laki justru harus banyak berperan jangan sampai hanya ikut menyumbangkan sp3rmanya saja.


"Apakah kamu sangat senang, sayang? Karena anaknya berjenis kelamin laki-laki?," tanya ada yang melihat raut wajah suaminya berseri-seri.


"Tentu saja, aku sangat senang. Akhirnya baby boy kita akan segera launching", jawabnya terkekeh.


Adel hanya tersenyum Sakha yang ia lihat akhir-akhir ini seperti Sakha yang dulu hangat periang dan sedikit pecicilan.


"Tapi, kamu harus sabar menunggunya selama 5 bulan lagi",


"Tentu saja aku akan sabar dan menikmati sisa lima bulan kehamilan mu".


"Jadi, kapan kita akan berbelanja pakaian bayi?," tanya Sakha antusias.


" Aku baru hamil 4 bulan, sayang. Tunggu beberapa bulan lagi baru kita akan mempersiapkan semua keperluan anak pertama kita", jelas Adel.


Bukan masalah mitos. Hanya saja, jarak menuju melahirkan kan masih panjang.


"Aku benar-benar tidak sabar!", seru Sakha.


"Benarkah?", Adel tidak percaya. "Kamu yakin ingin berbelanja pakaian bayi, sayang?",


"Tentu saja, kenapa tidak? Bukankah selama ini aku selalu menemanimu berbelanja kebutuhan rumah, bahkan pakaian untuk kita pun aku selalu ikut menemanimu?",


"Tapi, berbelanja keperluan bayi pasti akan lebih lama karena banyak yang harus dibeli", jelas Adele.


"Aku akan menikmati masa-masa itu. Menemanimu kemanapun. Ya, memanfaatkan masa berduaan kita yang hanya tinggal beberapa bulan lagi. Bukankah ketika dia lahir kita akan sulit untuk memiliki waktu berdua?"


Adel benar-benar kagum pada suaminya. Kebanyakan laki-laki paling tidak menyukai menemani istrinya berbelanja. Mereka lebih senang menunggu daripada repot-repot memilihkan ini dan itu. Ribet katanya.


" Suamiku memang the best!", Adel terkekeh.


"Ya, suami sepertiku memang limited edition dan kamu beruntung mendapatkannya", gurau Sakha.

__ADS_1


...***...


Adel dan Sakha sedang bersiap. Hari ini adalah hari pengajian 4 bulanan yang telah mereka rencanakan.


Gamis berwarna putih tulang dengan kerudung yang sama sudah melekat di tubuh Adel. Adel tampak lebih bersinar di kehamilannya yang ke-4 bulan ini.


Sakha pun sudah siap dengan Koko berwarna putihnya dan tidak lupa kopiah hitamnya. Hampir semua memakai pakaian dengan warna yang senada yaitu putih baik itu tuan rumah maupun para tamu undangan.


Mungkin sudah seperti sebuah tradisi di mana ketika ada pengajian 4 bulanan, para ibu-ibu majelis taklim di sekitar rumah mereka selalu menggunakan pakaian berwarna putih.


Adel sudah duduk bersama ibu mertua dan suaminya para tamu undangan pun sudah duduk memenuhi ruang tamu dengan duduk beralaskan karpet tebal. Dimana, perabotan di dalamnya sudah dikeluarkan. Tentu agar ruangannya lebih lapang dan muat untuk menampung banyak tamu.


Akhirnya, acara di mulai. Sakha mulai mengambil alih acara.


" Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh".


" Wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarokatuh".


" Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah mempertemukan kita semua dalam rangka pengajian empat bulanan istri saya, Dandelion Az-Zahra atau yang lebih akrab kita panggil Adel. Alhamdulillah, kehamilan yang sebenarnya adalah yang kedua bagi istri saya ini, kami sekeluarga mohon do'a bagi kesehatan ibu dan janinnya. Semoga anak yang terlahir nanti menjadi anak yang Sholeh."


" Aamiin "


" Insya Allah pada hari ini selain bertausiyah, Pak Ustadz Hasan juga akan memimpin pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an juga akan memimpin pembacaan do'a. Kepada, Pak Ustadz saya persilahkan ",


Acara pun berlangsung dengan khidmat. Tausiyah dari Ustadz Hasan mengenai ibu hamil menambah ilmu tidak hanya bagi Adel juga bagi para jamaah yang hadir.


Setelah acara selesai, Paar tamu undangan pun di persilahkan untuk menikmati hidangan yang di sediakan.


Rumah pun kembali sepi. Para sahabat Adel dan Sakha membantu membereskan rumah.


" Nanti, kamu mau ikut ke panti asuhannya juga?",tanya Syifa yang duduk di samping Adel.


" Insya Allah ikut. Sekalian kulineran pulangnya",jelas Adel.


" Bumil masih ngidam?",


" Gak juga sih. Cuma lagi suka ngemil aja", kekeh Adel.


" Si bungsu gak bisa dateng ya?", Syifa menanyakan Tia.


" Iya, kan masih di luar kota",jelas Adel.


Tia memang menelpon, minta maaf tidak bisa datang karena masih di luar kota menemani suaminya menghadiri acara keluarga.


" Aisyah juga nanti gak bisa ikut ya?" sedih Syifa.


"Iya mau gimana lagi, Dede Fatihnya lagi rewel", jelas Adel. " Tapi, gak apa-apa sih cuma nganterin bingkisan kok", tambah Adel .

__ADS_1


" Hubungan kamu sama Yudi gimana?",


" Insya Allah, Minggu depan Mas Yudi mau ngelamar",


" Alhamdulillah. Serius?",


"Iya"


Mereka pun segera pergi ke panti asuhan untuk mengantarkan bingkisan untuk anak-anak panti. Selesai dari sana Adel dan Syifa berpisah. Langsung pulang masing-masing.


Bulan berganti bulan. Kehamilan Adel pun sudah mendekati hari perkiraan lahiran. Kalau di hitung sekitar tiga Minggu menjelang hari perkiraan lahiran.


" Kenapa belinya sedikit?", tanya Sakha saat Adel hanya mengambil beberapa setel pakaian saja.


Saat ini Sakha sedang menemani Adel belanja pakaian bayi. Sakha senang bisa mewujudkan keinginannya untuk membeli pakaian untuk anak pertama mereka.


" Bayi itu, cepat besarnya. Jadi, jangan terlalu banyak beli. Nanti malah mubazir karena tidak terpakai ", jelas Adel.


Adel memang banyak bertukar pendapat dengan Aisyah. Ia mewanti-wanti agar jangan sampai kalap saat belanja. Karena bisa-bisa banyak yang tidak terpakai.


Itu sebenarnya pengalaman Aisyah. Ia membeli setiap baju yang lucu menurutnya. Akhirnya, ia berbelanja (bukan karena kebutuhan melainkan keinginan. Alhasil banyak baju yang belum sempat dipakai tapi, sudah tidak muat.


" Tapi, yang ini bagus . Yangitu juga bagus. Daripada bingung, mending ambil semuanya kan?", Sakha meminta dukungan.


" Ambil satu saja. Di rumah sudah ada beberapa yang seperti ini sekalipun beda model.", jelas Adel.


Adel malah jadi ingin tertawa sendiri. Biasanya ibu-ibu yang kalap kalau berbelanja,ini malah bapaknya yang heboh pengen segala di beli.


" Sudahlah semuanya aja. Uang buat belinya juga kan ada", Sakha beralasan.


" Beli yang dibutuhkan, bukan yang di inginkan. Jangan Mubazir ", Skak mat.


Akhirnya Sakha menurut. Padahal niat awal hanya akan membeli selimut bayi tapi, berakhir dengan berbelanja yang lainnya juga.


Tiba-tiba Adel memegang perutnya, ia merasa keram.


"Mas..."


TBC


...----------------...


...Jangan lupa untuk tinggalkan jejak...


...Like, komentar dan subscribe...


...Terimakasih atas dukungannya...

__ADS_1


...🥰🥰🥰...


__ADS_2