
Di Batas Waktu (47)
Mereka baru saja sampai.
Adel turun lebih dulu dari mobil memandangi rumah yang sudah lama ia tinggalkan. Dari luar saja sudah kelihatan bahwa banyak yang harus mereka bersihkan.
" Assalamu'alaikum", seseorang datang menghampiri keduanya.
Keduanya berbalik badan melihat siapa yang datang.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Adel dan Sakha tersenyum menyambut seorang wanita paruh baya yang menghampiri mereka.
" Wa'alaikumsalam", jawab keduanya kompak.
" Bu Indah apa kabar?", tanya Adel ramah mencium tangan Bu Indah.
Bu Indah adalah tetangga Adel. Dia kebetulan lewat mampir menghampiri keduanya saat melihat keberadaan Adel.
" Alhamdulillah. Adel sendiri apa kabar? Udah lama gak kelihatan", Bu Indah balik bertanya.
" Alhamdulillah baik", jawab Adel
" Ini suaminya?", tanya Bu indah lagi. Bu Indah memang mendengar kabar pernikahan Adel di Jakarta. Namun, ia tak tahu Adel menikah dengan siapa.
" Iya. Kenalkan Bu, ini Mas Sakha, suami Adel", Sakha pun turut mencium tangan Bu Indah.
" Mau pindah kesini ?"
" Gak Bu. Kita mau liburan aja. Paling lama semingguan tinggal disini. Setelah itu, kembali lagi. Soalnya kan kerjaan suami ada di kota J", jelas Adel.
" Ough gitu. Kapan-kapan bikinin ibu lagi kue ya. Ibu kangen kue bikinan Adel", seru Bu Indah tersenyum. Adel hanya tersenyum. Niat liburan malah ada yang order kue.
" Ya Bu, insya Allah ya"
" Bu Indah kira-kira tahu orang yang bisa saya bayar untuk bersih-bersih gak ya? Tadinya saya dan Adel mau bersih-bersih sendiri, cuma karena Adel belum boleh melakukan pekerjaan berat, jadi sepertinya saya milih untuk bayar orang aja", jelas Sakha.
Awalnya mereka memang akan membersihkan rumah itu bersama-sama. Lagipula rumahnya tidak terlalu besar. Namun, melihat kondisi Adel, Sakha memilih jalan aman saja. Daripada kaki Adel kenapa-kenapa.
" Memang Adelnya kenapa?", tanya Bu Indah khawatir.
" Adel tertabrak mobil dan kakinya mengalami patah tulang. Tapi, Alhamdulillah sekarang sudah bisa berjalan hanya saja masih belum boleh melakukan pekerjaan berat saja ", jelas Sakha.
" Alhamdulillah kalau sudah baikan. Ya memang baiknya nyuruh orang saja untuk bersih-bersih. Nanti ibu minta orang yang biasa bantu- bantu begitu untuk membersihkan rumah. Paling besok, gak apa-apa?", tanya Bu Indah.
" Iya Bu gak apa-apa. Makasih ya, Bu ", ucap Adel tulus.
" Iya sama-sama. Ya sudah, ibu pulang dulu ya", pamit Bu indah. " Assalamu'alaikum "
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam "
Adel pun langsung masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Sakha. Pemandangan pertama yang di lihat adalah perabotan rumah yang di tutupi kain.
Adel langsung menuju kamarnya. Kamar yang sudah lama ia tinggalkan. Setelah dari sana, keduanya berkeliling melihat-lihat kondisi rumah. Mereka pun duduk di bangku yang ada di teras rumah. Bangku yang terbuat dari kayu.
" Bagaimana kalau kita menginap di hotel dulu. Besok setelah di bersihkan, baru kita tinggal disini", usul Sakha.
Adel diam sejenak. " Mungkin lebih baik begitu. Apalagi hari menjelang sore".
Awalnya ia berfikir cukup membersihkan kamar dulu yang penting bisa mereka pakai untuk tidur. Tapi, ia urungkan niat itu.
" Ya sudah ayo", ajak Sakha. "Besok kita langsung ke rumah Bu Indah untuk bertemu orang yang akan membersihkan rumah.
Adel dan Sakha akhirnya langsung pergi. Mobil pun melaju menuju hotel. Cukup jauh memang tapi, dari pada memaksakan diri tidur di rumah yang belum di bersihkan juga rasanya tidak nyaman.
" Mau mampir dulu?" tanya Sakha sambil melihat ke arah Adel.
" Mampir ke kedai bakso yang dulu sering kita datangi aja", usul Adel. Tiba-tiba ia rindu makan bakso disana.
" Baiklah", Sakha langsung melajukan mobilnya ke kedai bakso yang dulu sempat viral pada masanya karena bakso jumbonya.
Merekapun sampai di tempat yang di tuju. Tak di sangka, kedai bakso yang dulu luasnya tidak seberapa kini semakin bertambah luas dan bahkan bangunannya jadi dua lantai.
Adel dan Sakha memilih mencari meja di lantai atas. Mereka memilih menu sesuai keinginan masing-masing. Sambil menunggu, mereka melihat pemandangan kota dan aktivitas di halaman masjid. Kebetulan kedai bakso itu berseberangan dengan masjid yang cukup besar. Di sana pula Sakha memarkirkan mobilnya.
" Sudah banyak yang berubah ya?", tanya Sakha sambil memperhatikan sekitarnya. Setelah lulus SMA, Sakha memang belum pernah ke kedai bakso itu lagi.
" Permisi", sapa seorang pelayan yang mengantarkan dua mangkuk bakso dan dua gelas jus alpukat serta dua gelas air putih.
" Selamat menikmati", ucap pelayan itu sopan.
" Terimakasih "
" Sama-sama", pelayan itu pergi meninggalkan keduanya.
Adel dan Sakha mulai meracik bakso mereka dengan menambahkan kecap dan sambal yang sudah tersedia di atas meja. Setelah mencoba dan mendapatkan rasa yang pas, barulah mereka mulai menikmati potongan bakso yang rasanya masih tetap enak seperti dulu.
Mereka menikmatinya dengan lahap. Tidak lupa memasukkan kerupuk ke dalam kuah baksonya. Kerupuk yang juga sudah tersedia disana.
" Alhamdulillah", seru Adel yang lebih dulu menghabiskan bakso miliknya.
" Sakha?", sapa seseorang yang baru sampai dan duduk di samping meja Sakha.
Sakha diam sejenak dan mencoba mengingat siapa orang di sampingnya itu.
" Irfan!", Seru Adel yang lebih dulu ingat bahwa orang yang menyapa mereka adalah Irfan teman satu sekolah dulu.
" Eh, Adel?", Irfan mengerutkan keningnya. Perubahan tampilan Adel membuatnya pangling." Beneran Adel kan? si anak tomboy",Irfan memastikan.
__ADS_1
"Iya aku Adel. Sekarang sudah gak tomboy", Adel tersenyum.
" Maaf ,Fan. Kamu banyak berubah. Jadi gak bisa langsung ingat", Sakha tersenyum. " Apa kabar?", Sakha mengulurkan tangannya.
" Alhamdulillah ", jawab Irfan.
Adel hanya menangkupkan kedua tangannya di dada saat Irfan mengajaknya bersalaman.
" Masya Allah, benar-benar berubah ", puji Irfan.
" Alhamdulillah ", timpal Adel.
" Ngomong-ngomong kalian di sini cuma berdua? jangan-jangan...", Irfan menyelidik.
" Kami sudah menikah ",jawab Sakha.
" Alhamdulillah. Ternyata gak nyangka, kalau jodoh emang gak kemana ya. Padahal dulu waktu anak-anak bilang kalian serasi, kamu cuma bilang kalau kalian cuma sahabatan ", Irfan geleng-geleng kepala.
Sakha hanya tersenyum. Dulu memang ia tak pernah terbayangkan akan menikah dengan Adel.
" Kapan nikahnya? Aish gak undang-undang",
" Maaf. Memang waktu itu situasinya gak memungkinkan. Kita menikah hanya akad saja tidak ada resepsi. Itu pun di rumah Sakit saat Papa di rawat. Memang permintaan beliau sebelum meninggal", jelas Sakha.
" Jadi, om.."
" Iya, papa meninggal tidak lama setelah kita menikah "
" Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un. Turut berbela sungkawa ", ucap Irfan.
" Tidak apa-apa. Lagian semua juga sudah berlalu. Kamu sendiri kesini sama siapa?", tanya Sakha.
" Sama istriku. Tapi, barusan ketemu temannya. Jadi, aku duluan kesini", jelas Irfan.
"Udah nikah juga ternyata. Alhamdulillah ", seru Sakha.
" Hehe. Masa iya idola sekolah belum nikah", kelakarnya.
Adel dan Sakha hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mantan ketua OSIS mereka.
" Kalian pasti kaget kalau tahu aku nikah sama siapa".
"Memang nikah sama siapa?", Adel penasaran.
" Sayang, sini!", Irfan melambaikan tangan pada seseorang.
Adel dan Sakha melihat ke arah orang yang di maksud Irfan.
TBC.
__ADS_1
...----------------...
Mohon tinggalkan jejak like, komen dan subscribe. Terimakasih semuanya 🥰🥰🥰