
Di Batas Waktu (39)
" Kamu ingat tentang seseorang yang berniat bekerja sama denganku. Rencananya aku akan ke luar kota beberapa hari untuk meninjau tempat nya. Selama aku pergi Mama akan menjagamu. Aku juga meminta Fitri untuk bergantian dengan mama dengan tetap menggajinya sekalipun dia tidak ke toko," jelas Sakha sambil membersihkan tubuh Adel.
Sakha langsung membereskan lap yang ia gunakan setelah selesai membersihkan tubuh Adel. Sakha memang melakukannya tanpa bantuan suster. Ia ingin dia sendiri yang melakukan semua itu. Karena ia tidak mau tubuh Adel di lihat oleh orang lain sekalipun itu perempuan. Bersyukur dokter yang menangani Adel pun perempuan.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Sakha sedang mempersiapkan diri untuk pergi ke luar kota selama beberapa hari. Ia tidak pergi sendiri melainkan bersama Satria. Satria sudah menjadi orang kepercayaannya. Sementara untuk sementara waktu, kafe di tangani oleh orang yang memang sudah dipersiapkan oleh Satria jauh-jauh hari.
Sementara untuk Adel, Sakha sudah menyerahkan sepenuhnya kepada sang ibu.
"Sat, nanti saat disana kamu harus terus sama aku ya", pinta Sakha.
" Kenapa Pak?", tanya Satria bingung.
" Sudahlah jangan terlalu formal kalau hanya berdua," pinta Sakha. Sakha memang meminta Satria jangan terlalu formal jika tidak ada orang lain.
"Siap", ucapnya terkekeh.
" Enggak tahu, perasaankun kok gak enak ya?", jujur Sakha. Entahlah ini firasat apa. Tapi, kalau boleh rasanya lebih baik tidak jadi pergi saja. Namun, ia juga tidak bisa seenaknya membatalkan perjanjian yang sudah ia tanda tangani.
" Apa karena kak Adel ?", tanya Satria hati-hati.
" Gak tahu juga ya", Sakha benar-benar tidak tahu. Hanya saja perasaannya tidak enak.
" Ya, kakak tenang saja. Aku bakal sama kakak terus saat disana nanti"
Sakha hanya mengangguk.
Ini adalah malam terakhir Sakha menemani Adel. Besok, ia akan pergi ke luar kota. Seperti biasa, Sakha akan mengadal Adel berbicara.
" Sayang, besok aku akan ke luar kota. Mulai besok kamu di temani mama ya", ucap Sakha.
" Aku akan cepat-cepat menyelesaikan urusanku disana agar bisa cepat pulang. Semoga saat pulang nanti aku bisa melihat senyummu lagi." harap Sakha.
" Bangun ya, katanya mau nostalgia ke kota B. Walaupun kita gak jadi baby moon, tapi kita kan bisa honeymoon".
Sakha akhirnya harus berangkat juga. Walaupun berat meninggalkan Adel dalam kondisi seperti ini, tapi ia juga tidak boleh abai dengan urusan yang lainnya.
__ADS_1
" Sayang, aku berangkat dulu", Sakha mencium kening Adel. " Assalamu'alaikum".
" Sudah, pergi sana! Pamitnya jangan lama-lama", Mama Ria menarik lengan Sakha dan menggandengnya. " Kalau terus-terusan pamit , kapan perginya? Kasian Satria nunggu kamu dari tadi", Mama Ria bukan tega. Tapi, mau bagaimana lagi.
"Iya, iya." Sakha akhirnya menuruti perkataan Ibunya." Titip Adel ya, Ma. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku", pinta Sakha.
" Iya", jawab Mama Ria. " Kamu yang nyetir kan Satria?"
" Iya ,Bu".
" Maaf kalau ngerepotin. Tapi, khawatir aja kalau Sakha yang bawa mobil. Apalagi ini perjalanan jauh".
" iya gak apa-apa. Ini memang sudah tugas saya", jelas Satria singkat.
Sakha dan Satria pun pamit. Mama Ria kembali ke ruangan Adel.
Perjalanan yang sebenarnya hanya beberapa jam saja terasa lama bagi Sakha. Ia ingin segera menyelesaikan urusannya dan menemani Adel di rumah sakit. Walaupun dokter bilang kondisinya stabil. Tinggal menunggu Adel sadar saja.
" Kita fokus dulu sama pekerjaan kak. Biar urusan nanti bisa cepat selesai dan kita bisa cepat pulang", Satria sadar, tubuh Sakha ada bersamanya tapi tidak dengan pikirannya.
Sakha hanya mengangguk.
Pagi akhirnya tiba, Sakha segera bersiap untuk pertemuan hari ini. Begitu juga Satria yang sudah siap dan menunggu Sakha sambil membalas pesan dari keluarganya.
Mereka pun pergi ke restoran tempat dimana pertemuan itu di adakan.
Saat sampai, Sakha kaget melihat seorang perempuan yang tidak asing baginya.
" Pak Sakha, kenalkan ini keponakan saya. Untuk urusan kerja sama ini saya akan menyerahkan kepadanya. Soalnya saya akan ada perjalanan bisnis ke luar kota untuk sementara ini", jelas Pak Arman rekan bisnis Sakha.
Sakha hanya mengangguk. Ingin menolak pun rasanya tak bisa. Ia tidak ingin di anggap tidak profesional hanya karena mencampuradukkan urusan pribadi dan urusan pekerjaan.
" Hai Sakha, apa kabar?", tanya Tari mencoba tersenyum. Walaupun awalnya sempat kesal karena Sakha menolak uluran tangannya dan hanya membalas dengan mengatupkan kedua tangannya, hingga akhirnya Satria yang membalas uluran tangannya.
" Baik. Kamu apa kabar?",tanya Sakha basa-basi.
" Aku baik. Bahkan sangat baik setelah akhirnya bisa ketemu kamu lagi", ucapnya dengan bahagia.
Kini, mereka memang hanya bertiga. Pak Arman sendiri sudah pamit undur diri karena mendadak ada telpon.
__ADS_1
" Jadi, bagaimana kalau kita langsung survei tempatnya saja. Aku gak bisa lama-lama di kota ini", jelas Sakha datar.
" Pasti karena sudah kangen sama Lisa", cibir Tari pura-pura tidak tahu. Padahal ia tahu Lisa mendekam di penjara karena menabrak seseorang dengan sengaja. Namun,ia tidak tahu siapa korbannya dan apa alasannya.
Satria yang kaget melihat ke arah tari dan Sakha bergantian. Ia penasaran sebenarnya, ada hubungan apa di antara mereka. Karena Tari terlihat seperti orang yang sedang cemburu saat menyebut nama Lisa.
"Aku dan Lisa sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Aku sudah menikah dengan wanita lain. Aku merindukan istriku", jelas Sakha.
Sakha hanya ingin memberitahu Tari bahwa ia sudah menikah tapi bukan dengan Lisa. Ia tak mau Tari mendekatinya lagi. Walaupun ia tak yakin, karena dulu saat ia masih bersama Lisa saja, Tari selalu mencari kesempatan.
" Kenapa?"
" Aku rasa itu bukan urusanmu. Urusanmu saat ini adalah menunjukkan lokasi yang akan kita survei", jawab Sakha datar.
" Kau masih saja ketus seperti itu", kesal Tari walaupun sudah biasa di acuhkan Sakha.
" Jadi?", tanya Sakha tidak peduli apapun yang di katakan Tari.
" Baiklah, baiklah. Kita pergi sekarang", Tari beranjak dari kursinya di ikuti oleh Sakha dan Satria.
" Aku ikut mobilmu saja ya? biar lebih mengefisienkan waktu", Tari langsung menyerobot masuk dan duduk di kursi penumpang di mobil Sakha.
Sakha yang malas meladeni langsung menutup pintu mobil duduk di samping kursi pengemudi.
Tari kembali di buat kesal. Ia pikir Sakha akan duduk di sampingnya karena menyangka Satria adalah supir Sakha.
Satria hanya mengulum senyum melihat ekspresi kesal Tari.
Ini perempuan benar-benar... batin Satria sambil geleng-geleng kepala.
***
Sakha sudah kembali ke hotel. Survei tempat berjalan dengan lancar walaupun Tari berusaha untuk selalu mendekati Sakha, tapi Satria selalu selangkah lebih maju.
" Satria, kedepannya kamu saja yang urus proyek ini ya?. Aku malas kalau harus berhubungan dengan Tari lagi. Kau lihat sendiri dia malah sibuk mencari perhatian ketimbang memperhatikan pembicaraan kita tentang proyek ini", pinta Sakha sambil mendudukkan tubuhnya di atas sofa.
" Baiklah. Perempuan itu memang kelihatannya pantang menyerah", jawab Satria di sertai kekehan.
Tiba-tiba ponsel Sakha berbunyi. Ada panggilan dari nomor yang tidak di kenal.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum", salam Sakha.