Di Batas Waktu

Di Batas Waktu
DBW 57 Persalinan


__ADS_3

Di Batas Waktu (57)


" Beli yang dibutuhkan, bukan yang di inginkan. Jangan Mubazir ", Skak mat.


Akhirnya Sakha menurut. Padahal niat awal hanya akan membeli selimut bayi tapi, berakhir dengan berbelanja yang lainnya juga.


Tiba-tiba Adel memegang perutnya, ia merasa keram.


"Mas..."


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Melihat Adel memegangi perutnya, Sakha jadi khawatir.


" Sakit?", tanya Sakha perhatian.


Adel mengangguk.


" Ayo duduk dulu!", ajak Sakha


"Sepertinya aku hanya merasakan kontraksi palsu. Sekarang sudah tidak sakit lagi", jawab Adel.


Mendengar jawaban sang istri, Sakha menghentikan aktivitasnya. Ia langsung pergi ke kasir untuk membayar belanjaan mereka.


Setelah membayar, keduanya duduk sejenak disana lalu segera pergi ke food court terdekat.


" Maaf, pasti capek ya berdiri terlalu lama", ucap Sakha saat mereka sedang menunggu makanan yang di pesan.


" Enggak apa-apa. Aku juga tidak sadar karena terlalu fokus belanja ", Adel tersenyum. Ia tak ingin menyalahkan siapapun. Kontraksi palsu memang umum terjadi. Dia hanya perlu beristirahat saja.


" Sayang, maaf ya. Kamu baik-baik di dalam sana. Kalau udah gak sabar pengen ketemu ayah, nanti aja jangan disini ya!", ucap Sakha jenaka. Mana bisa melahirkan di nego begitu.


Adel hanya diam, menikmati usapan sang suami di perutnya.


Keduanya mulai menyantap makanan yang sudah di hidangkan. Setelah merasa kenyang, mereka segera beranjak dari sana.


" Kita langsung pulang?",tanya Sakha yang berjalan di samping Adel. Satu tangan menggenggam tangan Adel, sementara tangannya yang lain membawa belanjaan.


" Langsung pulang aja deh, mas. Pengen langsung istirahat", jawab Adel.


***


" Mah, jadi masak ayam goreng kremes gak?", tanya Adel menghampiri ibu mertuanya ke dapur.


" Jadi dong, sayang. Masa kamu udah persen dari pagi, Mama gak masakin!", seru Mama Ria.


Ia membuka tudung saji dan menunjukkan ayam goreng pesanan Adel yang sudah matang.


" Udah mau makan sekarang ?",tanya Mama Ria


Adel melihat jam, ternyata waktu makan malam masih cukup lama.


"Apa boleh Adel makan duluan ?", tanya Adel.


Maam Ria tersenyum. " Boleh. Tentu boleh. Kamu harus banyak makan, ibu hamil gak boleh kelaparan. Sakha juga pasti maklum ",

__ADS_1


"Terimakasih, Ma", Adel memeluk Mama Ria.


" Sama-sama, sayang. Ayo makan dulu!", Mama Ria memberikan piring kepada Adel.


Adel memakannya dengan lahap. Mama Ria malah tersenyum melihat hal itu. Ia bahagia, tinggal menghitung hari akan segera bergelar nenek.


Hingga Adel terdiam. Perutnya terasa sakit seperti datang bulan. Setelah beberapa saat, sakit itu hilang. Adel kembali melanjutkan makannya yang tertunda.


Adel tidak mengatakan apapun perihal yang ia rasakan karena ia berpikir bisa saja itu kontraksi palsu.


Hingga setelah lebih dari sepuluh menit, rasa sakit itu kembali hadir. Adel kembali mnghentikan kegiatan makannya. Setelah beberapa menit sakit itu hilang kembali.


Hal itu terjadi berkali-kali dan semakin sering, yang membuat Adel yakin. Kontraksi sekarang adalah kontraksi asli menjelang persalinan.


"Ma, sepertinya aku akan melahirkan! ", seru Adel saat melihat Mama Ria kembali ke dapur setelah sebelumnya pergi ke kamar.


" Benarkah ?", Mama Ria panik.


Ia segera menghubungi Sakha. " Assalamu'alaikum, Sakha kamu ada dimana ?",


"Sakha masih di jalan, sebentar lagi sampai ", jawab Sakha


" Adel bilang, dia seperti akan melahirkan. Kami akan siap-siap. Nanti langsung pergi ke rumah sakit", pinta Mama Ria.


"Iya, ma"


" Jangan ngebut, bahaya. Kamu harus selamat sampai sini", pesan Mama Ria


Sakha yang sudah bersiap akan mengebut kembali menurunkan kecepatan mobilnya. Ia membenarkan perkataan Mama Ria. Jangan sampai malah ia tak pernah sampai ke rumah karena terjadi sesuatu.


"assalamu'alaikum ",


" Wa'alaikumsalam "


Setelah lebih dari lima belas menit, Sakha sampai ke rumah.


Maam Ria dan Adel sudah ada di teras rumah menyambut kedatangan Sakha. Keduanya langsung menuju mobil.


Setengah jam berlalu, akhirnya Mereka sudah sampai di rumah sakit.


Adel segera di periksa dan ternyata masih pembukaan 5. Adel pun diminta untuk berjalan-jalan di sekitar rumah sakit.


Sakha menemani Adel. Mereka berjalan-jalan di taman rumah sakit.


" Sakit lagi?", tanya Sakha saat merasakan Adel mencengkeram tangannya dengan erat.


Adel mengangguk.


"Ayo duduk dulu!", Sakha mengajak duduk di kursi taman.


Setelah duduk, ia mengusap pinggang Adel. Adel hanya menikmatinya tanpa berkata apapun.


Ia hanya terus beristighfar di dalam hati.


Setelah sakit itu hilang, Adel kembali mengajak Sakha berjalan-jalan.

__ADS_1


" Awalnya aku pengen punya banyak anak. Tapi, melihat kamu kesakitan seperti itu. Sepertinya, satu saja cukup ", Ucap Sakha.


Adel tersenyum. " Kontraksi akan melahirkan memang seperti ini",Adel menenangkan.


"Tapi, aku kasihan melihat kamu, sayang. Mana sakitnya aku gak tahu sesakit apa. Aku kan gak ngerasain. Tapi, melihat kamu kesakitan aku ikut sakit. Sakit karena gak bisa bantu apapun untuk meringankan sakit itu", jelas Sakha panjang lebar.


Adel tersenyum. Ia tersentuh dengan kata-kata Sakha.


"Sekalipun sakit, aku berharap bisa merasakan kembali kehamilan bahkan sampai melahirkan suatu saat nanti. Selama kamu ada di samping aku, menemani aku, itu sudah cukup", jawab Adel.


Sakha mengecup pucuk kepala Adel . Tinggi Adel memang di bawah Sakha. Hingga mempermudah sakha melakukan hal itu.


"Sampai mau memisahkan aku akan selalu ada di sisimu. Aku mencintaimu, sayang", Sakha mengungkapkan rasa cintanya.


Adel kembali terdiam dan mencengkeram erat tangan sakha. Rasa sakit itu kian bertambah.


Sakha memegang pinggang Adel dan mengusapnya.


Ia kemudian berjongkok di hadapan sang istri.


" Jagoan ayah, ayah dan bunda merindukanmu. Kami ingin cepat melihatmu. kalau kamu ingin cepat lahir dan melihat kami lahirlah jangan buat bundamu semakin kesakitan", pinta Sakha.


Keduanya kini duduk kembali.


Sakha membacakan doa agar persalinan Adel berjalan lancar. Ia terus mengajak sang jani berbicara sambil mengusap perut dan pinggang Adel.


Hingga kemudian Adel merasakan ada cairan hangat yang keluar dan membasahi kakinya.


" Sayang, sepertinya ketuban aku pecah", seru Adel. Adel bahkan merasakan mulas yang sangat sampai ia seperti ingin mengejan.


Sakha segera mengangkat tubuh Adel dan kembali ke ruangan mereka tadi.


Dokter segera memeriksa pembukaannya dan ternyata sudah pembukaan lengkap.


Semua segera di persiapkan. Sakha tak bergerak sedikitpun dari samping Adel. Ia menggenggam erat tangan Adel dan mencium keningnya.


" Kamu kuat sayang, aku akan selalu di sampingmu", sakha mengucapkan kata semangat dan terus mengusap Perut Adel dengan sayang.


Ia pun terus berdoa di dalam hati.


Akhirnya semua telah siap. Dokter dan suster sudah ada di posisinya.


"Tarik nafas, keluarkan", perintah Dokter pada Adel.


Adel melakukannya. Ia mengikuti aba-aba sang dokter.


TBC


 


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak


Like, komentar dan subscribe


Terimakasih atas dukungannya

__ADS_1


🥰🥰🥰


__ADS_2