Di Batas Waktu

Di Batas Waktu
DBW 58 Irsyad Fadil ( The End)


__ADS_3

Di Batas Waktu (58)


Akhirnya semua telah siap. Dokter dan suster sudah ada di posisinya.


"Tarik nafas, keluarkan", perintah Dokter pada Adel.


Adel melakukannya. Ia mengikuti aba-aba sang dokter.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Sakha tanpa sengaja malah mengikuti arahan dokter yang di tujukan kepada Adel.


Seperti arahan dari dokter, Adel sudah menekuk kedua kakinya dan membukanya lebar-lebar. Hal ini untuk mempermudah saat melahirkan secara normal.


Jika di dalam Adel sedang berjuang untuk bisa melahirkan putra pertamanya, di luar ruangan Mama Ria sedang menunggu dengan harap-harap cemas.


Di sampingnya, ada Syifa yang menemani Mama Ria. Sementara Yudi, sedang membeli minuman ke kantin rumah sakit.


Ooeekkk..


Ooeekkk..


Ooeekkk..


Tangisan bayi yang baru saja dilahirkan Adel menggema sampai ke luar ruangan.


"Alhamdulillah ", seru Sakha mengucapkan syukur.


Akhirnya mereka sudah menjadi seorang ayah dan seorang ibu dari bayi mungil yang baru saja menangis dengan kencang.


"Terimakasih, sayang. Kamu sudah berjuang untuk anak kita", Sakha mengecupi wajah Adel.


Adel dan Sakha terharu mendengar tangisan pertama putra mereka.


Suster membersihkan tubuh bayi mungil yang masih merah itu. Lalu meletakkannya di dada Adel untuk membantu proses Inisiasi Menyusu Dini ( IMD).


Keduanya terus mengamati bayi mungil yang sekarang sedang mencari sumber makanannya. Hingga setelah lama menunggu, bayi mungil itu menemukannya dan menyesapnya.


Ada rasa yang tak biasa. Bayi itu lahir dari rahimnya. Maha Besar Allah yang telah menciptakannya dengan bentuk yang sempurna. Air mata Adel menetes dengan sendirinya.


Setelah bayi mungil itu puas dengan satu-satunya sumber penghidupannya, suster mengambil kembali dan memakaikan pakaian. Baru setelah selesai, suster memberikannya kepada Sakha.


"Silahkan untuk mengadzani bayi anda, Pak",


suster menyerahkan perlahan ke dalam pangkuan Sakha.


Dengan agak kaku Sakha mencoba menggendong bayinya.


"Jangan kaku, Pak. "


" Hati-hati, sayang !", seru Adel khawatir.


" Di gendong bundanya saja, sus. Takut jatuh", akhirnya Sakha menyerah. Daripada terjadi sesuatu mungkin lebih baik nanti saja menggendong sendirinya.


Suster menyerahkan bayi itu kepada Adel. Adel menggendongnya. Memposisikan dengan nyaman, agar Sakha bisa melantunkan adzan tepat di telinga putra pertama mereka.


Sakha sedikit menunduk dan mulai mengumandangkan adzan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya.

__ADS_1


β€œBarang siapa yang mendapati seorang bayi yang dilahirkan, kemudian diadzankan di telinga kanannya dan diiqamatkan di telinga kirinya, maka ia tidak akan diganggu oleh Ummu Shibyan (setan yang selalu mengganggu anak kecil).” (HR. Ibn Sunny dari Hasan ibn Aki ra). Menurut Rasululah SAW, setan akan ketakutan dan berlari sejauh-jauhnya apabila mendengar suara adzan.


...***...


6 bulan kemudian


" Sayang, cepat mandi dulu. Nanti keburu telat !", Adel mengingatkan Sakha yang malah asik memeluk Adel dari belakang. Sedangkan tangannya sibuk mengusili Irsyad yang sedang di dandanin.


"Sebentar lagi", jawab Sakha yang malah mendusel-duselkan kepalaku ke leher Adel.


"Sayang, ayo. Aku tinggal ganti baju nih. Jangan sampai kita telat ke acaranya."


" Iya, iya. Cerewetnya ", Sakha mencium pipi Adel dan malah memangku Irsyad dan mengangkat tinggi-tinggi sampai bayi gembul itu tertawa renyah.


" Ya,, yah. ya,, yah", Irsyad menggerak-gerakan tangannya berusaha meraih wajah Sakha.


"Aish,, banyak iklan",


Adel mengambil alih Irsyad dan mendudukkannya di atas karpet tebal dimana sudah ada banyak mainan Irsyad berserakan.


" Ayo cepat !", Adel mendorong Sakha ke kamar mandi.


Putra pertama Sakha dan Adel yang di beri nama Irsyad Fadil itu kini berusia 6 bulan. Badannya yang gemuk dengan pipi chubby sangat menggemaskan. Padahal, saat lahir bobottnya hanya 2,8 kg. Tapi , kini mencapai 8 kg.


Terbayang kalau harus berlam-lama menggendongnya. Mimi ASI nya memang kuat sampai -sampai berat badan Adel cepat kemvali ke bobotnya sebelum hamil Irsyad.


Setelah itu ia beranjak mengganti pakaiannya. Dan mulai merias diri dengan make up tipis.


Adel sebenarnya tidak terlalu suka berdandan. Tapi, ketika akan menghadiri acara, ia pasti memakainya walaupun tidak tebal.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Panggilan grup dari sahabatnya. Karena Adel sudah selesai memakai kerudungnya, ia mengangkat video call itu.


"Wa'alaikumsalam " jawab Adel dan Aisyah bersamaan.


" Bumil udah di jalan?", tanya Adel pada Tia yang sekarang sedang hamil 5 bulan.


" Iya nih kalian masih di rumah ya?" tebak Tia


" Hehe biasa lah, tuh Masih di kamar mandi. Di suruh mandi dari tadi malah asyik main sama Irsyad ", jelas Adel


" Siapapun pasti betah lah lama-lama main sama bayi gembul kayak Irsyad. Pipinya ngegemesin minta di gigit", Seru Tia sambil terkekeh.


" Mana sekarang baby Irsyad nya?", tanya Aisyah yang juga sudah siap tapi masih belum berangkat.


"Tuh lagi sibuk sama busy book nya", Adel merubah tampilan kameranya menjadi kamera belakang.


" Baby Irsyad, ini onty Tia!"


Irsyad yang merasa namanya di panggil langsung melihat ke arah kamera sambil berceloteh.


" Kakak Fatih mana?", tanya Adel kemudian.


" Tuh, lagi sibuk sama bola karetnya ". Tampilan kamera memperlihatkan Fatih yang sedang menendang bola kesana kemari. Bayi berumur 17 bulan itu memang sedang aktif-aktifnya.


klik...


Tiba-tiba Syifa muncul dan bergabung di grup.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum "


"Wa'alaikumsalam "


"Hei calon pengantin udah siap rupanya ", seru Tia saat Syifa muncul dengan riasan pengantinnya.


" Kalian masih dimana ?, tega datengnya malah pada siang. Bukannya nemenin disini", Syifa memajukan bibirnya.


"Di rumah"


"Di rumah "


" Di jalan "


Jawab ketiganya berbarengan.


"Maaf, biasa Pak Su kalau di ajak pergi malah bolak-balik kamar mandi dulu", kebiasaan suami Aisyah memang aneh.


" Tenang, adikmu yang satu ini bentar lagi nyampe" jawab Tia.


"Aku left duluan, ya? Sakha sudah selesai. Bentar lagi langsung berangkat kok, jangan ngambek ya manisku. Assalamu'alaikum ", Adel menutup telponnya.


" Ayo cepat sini!", Adel mengambil kemeja yang sudah ia sediakan.


Sakha hanya diam membiarkan Adel melayaninya.


" Semakin hari kamu semakin cantik ", Pujo Sakha mengamati wajah Adel yang sedang mengancingkan kemejanya.


" Gombal" , seru Adel sambil tetap fokus pada kancing yang sedang ia masukkan ke dalam lubangnya.


" Muji istri sendiri kan gak apa-apa "


" Iya, iya. Duduklah, biar aku sisir rambutnya ", Adel berdiri di belakang Sakha sambil menyisir rambut Sakha.


Sakha hanya memandangi istrinya dari cermin.


"Kamu cantik banget. Aku jadi males pergi tanpa",


" Hei, jangan mulai lagi. Ini sudah siap mau berangkat. Kalau diam terus nanti malah telat", Sakha memeluk Adel.


Akhirnya, Sakha mengalah. Ia yang sudah selesai segera memangku Irsyad yang terus berceloteh sambil tertawa bahagia bisa di pangku Ayahnya. Sementara Adel mengikuti dari belakang setelah mengambil tasnya


Mereka bertiga berjalan keluar kamar menghampiri Mama Ria yang menunggu mereka di ruang tamu.


Mama Ria tersenyum menyambut anak, menantu dan cucunya. Ia bahagia melihat tawa keluarga kecil sang anak.


...THE END ...


Β 


...----------------...


...Jangan lupa untuk tinggalkan jejak...


...Like, komentar dan subscribe...


...Terimakasih atas dukungannya...

__ADS_1


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°...


__ADS_2