Di Batas Waktu

Di Batas Waktu
DBW 41 Kepulangan Adel dari Rumah Sakit


__ADS_3

Di Batas Waktu (41)


Sakha menghela napas. Ia bisa menebak apa yang akan di tanyakan oleh Adel padanya.


" Iya, insya Allah aku akan menjawabnya dengan jujur"


" Bagaimana kandungan aku?"


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


" Apa dia tidak selamat?", tanya Adel kemudian


Adel sebenarnya sudah berfikir tentang kemungkinan terburuk terjadi pada kandungannya. Jangankan benturan keras, jatuh biasa saja mungkin bisa mengalami keguguran. Apalagi usia kandungannya masih rentan.


" Maaf", singkat namun mewakili semuanya.


" Tidak apa-apa, ini memang salahku. Seandainya aku tidak melanggar perintahmu dan teidak pergi mungkin saja...", sekuat apapun tetap saja ia merasa kehilangan. Air matanya mengalir begitu saja.


" Tidak. Ini sudah takdir. Buktinya, sekuat apapun aku menjaga agar Lisa tidak bisa mencelakaimu, jika Allah sudah berkehendak, itu tetap terjadi", Sakha menggenggam tangan Adel memberikan kekuatan.


" ... ", Adel hanya mengangguk.


" Menangislah sampai kamu tenang. Tapi, setelah itu, jangan lagi ada air mata. Yakinlah apapun yang terjadi adalah yang terbaik bagi kita", Sakha menghapus air mata Adel dengan ibu jarinya.


" Iya, mas benar", Adel setuju. Hampir saja ia lupa dan menyalahkan takdir yang menimpanya. " Apa aku bisa hamil lagi?",


" Tentu saja, sayang ", jawab Sakha.


Apa Sakha berbohong? tentu saja tidak. Sebelumnya, Sakha memang sudah bertanya. Dokter pun mengatakan Adel masih bisa hamil lagi karena kondisi rahimnya baik-baik saja.


"Ya sudah, istirahat lagi, ya. Nanti aku bangunkan lagi", Adel mengangguk dan kembali tidur.


Pagi akhirnya tiba. Dokter sudah memeriksa keadaan Adel dan bersyukur semuanya baik-baik saja. Jika kondisi Adel semakin membaik, maka Adel bisa segera pulang.


Sakha dan Mama Ria menyambut kabar baik itu dengan sukacita. Walaupun untuk sementara waktu Adel harus menggunakan kursi rodanya karena patah tulang pada kakinya. Namun, itu tidak masalah karena masih bisa sembuh seiring berjalannya waktu.


Mendengar Adel yang sudah sadar, para sahabat Adel pun datang berkunjung. Mereka bersyukur Adel tidak terlalu lama mengalami koma. Bahkan Adel masih bisa sembuh seperti sedia kala walaupun masih memerlukan waktu.


Di kantin rumah sakit, Sakha duduk bersama Yudi meninggalkan sahabat Adel yang sedang menemui Adel.


" Aku lihat kamu dan Syifa semakin dekat. Apa kalian menjalin hubungan?", tanya Sakha.


" Hanya sebatas bos dan sekertarisnya", jawab Yudi datar, mengambil cangkir berisi kopi miliknya lalu meminumnya.


" Benarkah? Kau tidak bisa menipuku. Aku bisa melihatnya", Sakha tersenyum penuh arti.


" Aku memang tertarik padanya. Tapi, dia sepertinya biasa saja. Bahkan terkesan menjaga jarak",Yudi tahu tak bisa menutupi apapun dari Sakha.


" Syifa tidak seperti perempuan yang selama ini kamu temui"


" Ya, kamu benar. Justru karena dia berbeda, aku jadi tertarik ", timpal Yudi.


" Kalau kau serius, kau harus jujur tentang masa lalumu"

__ADS_1


" Itu yang rasanya akan sulit di terima".


" Yudi, kamu disini juga?" seseorang datang menghampiri mereka dan duduk di samping Sakha.


" Bang Rizal juga disini?", tanya Yudi tak percaya.


" Ya, dalam rangka misi mengajak istrinya rujuk", jawab Sakha tersenyum.


" Istri? Benarkah?", Yudi tak percaya. "Kapan menikah?"


" Jangankan istri, anak-anaknya saja sudah TK ", timpal Sakha. " Sepasang anak kembar ", tambah Sakha.


" Aku gak nyangka, bang", Yudi masih tak percaya.


" Ya, aku memang sudah menikah dan punya sepasang anak kembar yang sudah masuk TK ".


" Rujuknya sukses?", tanya Yudi.


" Sukses dong. Si kembar kan gak mau pisah sama Papanya", jelas Rizal bangga.


" Kesini mau jenguk siapa, bang?", tanya Yudi yang memang tidak tahu tujuan Rizal ke rumah sakit.


" Nganter istri jenguk istrinya Sakha", jawab Rizal


" Mereka saling kenal ?"


" Toko mereka bersebelahan "


" Dunia emang sempit ya, Bang?"


" Oh iya Sakha, kata Satria kamu menjalin kerjasama dengan Pak Arman?", tanya Yudi penasaran.


" Pak Arman, pamannya Tari?", Rizal bertanya penuh selidik. Karena yang dia tahu, Pak Arman pamannya Tari cukup terkenal di dunia bisnis.


" Iya. Aku kecolongan. Baru tahu kemarin" , ucap Sakha menghela napas.


" Jadi, sebelumnya kamu gak tahu?"


Sakha hanya mengangguk.


" Bakal sering ketemu dong sama fans nya?!", goda Rizal.


" Gak lah. Aku jadiin Satria wakilku untuk proyek kerjasama itu. Jadi, Satria yang nantinya berurusan sama Tari. Aku gak mau nyari masalah ", ungkap Satria.


" Benar sih. Ibaratnya kalau kamu bucin ke Lisa, Tari ya kamu versi cewek", Yudi dan Rizal terkekeh.


" Justru itu, dia benar-benar usaha buat cari perhatian sampai ogak memperhatikan obrolan tentang proyek itu",


" Kayak kata pepatah, wajahmu mengalihkan duniaku", Rizal lagi-lagi menggoda Sakha.


" Sebelum terjadi sesuatu, makanya aku bertindak. Bahkan kemarin dengan alasan sambutan kerjasama dia ngajak dinner".


" Usaha Tari emang patut di acungi jempol ", Yudi manggut-manggut.

__ADS_1


" Iya kalau yang dia kejar single sih gak masalah. Tapi, dia ngejar suami orang? Padahal jelas-jelas aku udah bilang kalau udah nikah walaupun bukan sama Lisa", Sakha tidak habis pikir.


" Terus kamu mau jujur ke Adel soal Tari?", tanya Yudi yang tahu bagaimana hubungan Sakha dan Adel.


" Jujurlah. Tapi, gak sekarang juga. Sekarang fokus ke kesembuhan Adel dulu. Kecuali dia nanya duluan ", Sakha tak ingin fokus pada hal lain. Tapi, jika memang Adel harus tahu lebih cepat pun tidak jadi masalah. Karena dia dan Tari tidak punya hubungan apa-apa.


Di kamar tempat Adel di rawat hanya menyisakan Syifa dan Keysha yang baru datang. Aisyah sudah pulang karena tidak mau meninggalkan anaknya terlalu lama.


" Mbak sama siapa kesini?", tanya Adel


" Sama mantan suamiku", jawab Keysha sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.


" Lalu si kembar?"


" Ada pengasuh. Baru kemarin mulai bekerja. Aku gak bisa nolak", Keysha menghela nafas mengingat Rizal yang bersikeras mempekerjakan pengasuh untuk si kembar.


" Mbak jadi rujuk?", tanya Adel penasaran.


" Insya Allah. Anak-anak butuh ayahnya. Aku tak bisa egois memisahkan mereka".


" Mbak benar",


" Kamu sendiri sekarang kost dimana, Syifa?" tanya Keysha yang sempat berkenalan dengan Adel yang pernah tinggal di ruko Adel.


" Kos-kosan yang dekat perusahaan, mbak. Si kembar apa kabar?",


" Alhamdulillah baik "


***


Hari yang di nanti pun tiba. Adel sudah diperbolehkan untuk pulang walaupun nanti dia harus ke rumah sakit lagi sampai kakinya benar-benar sembuh.


Setelah melakukan perjalanan yang hampir setengah jam, Adel dan Sakha sampai di rumah. Mama Ria menyambut Adel di depan pintu masuk.


Sakha segera mengeluarkan kursi roda dan mengangkat tubuh Adel dan mendudukkannya di kursi roda. Dengan perlahan, Sakha mendorong kursi roda Adel masuk ke dalam rumah.


" Assalamu'alaikum", Sakha dan Adel mengucapkan salam bersama-sama.


"Wa'alaikumsalam. Selamat datang sayang", Mama Ria memeluk Adel.


" Terimakasih, Ma",


Sakha kembali mendorong kursi roda Adel.


" Untuk sementara, kita tidur di kamar tamu ya? Supaya lebih mudah", jelas Sakha


" Iya gak apa-apa",


Keduanya masuk ke dalam kamar, dengan bantuan Sakha, Adel merebahkan tubuhnya di atas kasur. Hingga pandangannya mengarah pada sesuatu di atas nakas. Seperti sebuah foto namun,Adel pun tidak tahu itu.


Karena rasa penasaran, ia meraihnya dengan susah payah dan...


Deg!

__ADS_1


Adel d


__ADS_2