Di Batas Waktu

Di Batas Waktu
DBW 42 Cemburu


__ADS_3

Di Batas Waktu (42)


Keduanya masuk ke dalam kamar, dengan bantuan Sakha, Adel merebahkan tubuhnya di atas kasur. Hingga pandangannya mengarah pada sesuatu di atas nakas. Seperti sebuah foto namun,Adel pun tidak tahu itu.


Karena rasa penasaran, ia meraihnya dengan susah payah dan...


Deg!


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Ternyata itu benar sebuah foto. Foto suaminya dan Alifa dengan pose yang cukup intim.


Adel masih memandangi foto itu sampai sang suami tiba membawa minum.


" Aku bisa jelaskan...", Sakha kaget dan terburu-buru menyimpan gelas di atas nakas sampai ada air yang tertumpah.


" Itu gak seperti yang kamua bayangkan", Sakha berusaha menjelaskan.


" Memang apa yang aku bayangkan?", tanya Adel penasaran.


" Kamu pasti berpikir aku sama Alifa...", Sakha bingung harus menjelaskan seperti apa.


" Kamu sama Alifa kenapa?", tanya Adel menahan senyumnya. Melihat ekspresi Sakha yang seperti itu justru terlihat lucu.


" Ya,, pokoknya gak seperti apa yang kamu bayangkan ", Sakha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Iya, emang aku bayangin apa?"


" Kamu pasti mikir aku melakukan yang tidak-tidak kan?", Sakha malah balik bertanya.


" Yang tidak-tidak itu seperti apa?", tanya Adel menggoda.


" Itu... ", Sakha tiba-tiba diam. Dia baru menyadarinya sesuatu. " Kamu mengujiku?",tanyanya menyelidik.


" Menguji maksudnya?",


" Ah sudahlah. Sayang, kamu membuatku takut", Sakha merebahkan tubuhnya di samping Adel lalu memeluk pinggang Adel dari samping.


Adel hanya tersenyum. Melihat Sakha yang khawatir dan mencoba untuk menjelaskan semuanya karena takut dirinya salah paham dengan Sakha membuatnya menyadari satu hal. Hati Sakha sudah ia dapatkan. Sakha takut kehilangannya.


Bolehkah Adel percaya diri dengan kesimpulannya?


" Kenapa Mas setakut itu saat aku melihat foto kalian?", Adel mengusap lembut kepala Sakha.

__ADS_1


" Tentu saja. Kau pasti akan salah paham. Semua orang yang melihat sekilas foto itu pasti akan salah paham,"


" Karena itu aku terus mengamati fotobitu dan tidak melihatnya sekilas "


Sakha merubah posisinya. Ia ikut besandar dan duduk di samping Adel. " Jadi kau tahu foto itu hanya editan?", tanya Sakha penasaran.


" Seperti yang mas katakan, jika melihat sekilas pasti akan salah paham. Karena itu, aku mengamatinya. Ternyata, tidak membuatku salah paham sama sekali", jelas Adel dengan tenang.


" Tapi, dulu kamu ...",


" Itu dulu', Adel memotong perkataan Sakha.


" Ah benar, waktu membuatmu berubah. Istriku memang bukan sahabatku yang dulu".


" Manusia itu bukan mesin yang akan berjalan sesuai dengan perintah yang di rancang untuknya sampai kapanpun. Manusia itu akan senantiasa berubah entah ke arah yang lebih baik atau malah sebaliknya. Tergantung bagaiman penerimaannya terhadap takdir yang menimpanya ".


Sakha setuju. Banyak orang berubah 360 derajat karena satu kejadian.


" Tapi, apa kamu tidak cemburu sedikit pun saat melihat foto itu? Atau kamu justru memang tak punya perasaan apapun sampai kamu tidak bereaksi sama sekali karena kamu tak peduli?". Jika di pikir-pikir, Sakha belum pernah melihat Adel cemburu sejak mereka menikah.


Ia ingat saat sering bertanya tentang Lisa namun selalu di tanggapi biasa saja oleh Adel. Saat ia melihat Sakha bersama Lisa sekalipun Amel malah memilih pergi di banding menunjukkan rasa cemburunya.


" Bagaimana mas bisa berpikir seperti itu?", Adel menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang di katakan suaminya.


" Mas pikir aku tidak pernah cemburu pada Lisa?", tanya Adel menatap suaminya.


Sakha diam.


" Istri mana yang tidak cemburu jika suaminya memikirkan perempuan lain. Lalu apa bisa aku menunjukkan bahwa aku cemburu sementara dari awal mas akan menjanda kan ku jika berhasil menemukan Lisa?", Adel menghirup napas sejenak.


" Aku bukan tidak cemburu. Aku hanya merasa tak berhak untuk cemburu. Mengingat seperti apa pernikahan kita ".


Sakha merasa bersalah. Harusnya ia tak bertanya.


Bab


" Lalu soal Alifa, kalau aku tidak cemburu aku akan membiarkannya mendekatimu", jelas Adel.


" Maaf", Sakha menciumi tangan Adel.


" Sudahlah, kenapa malah jadi bahas ini",


" Tapi, seenggaknya aku tahu kamu cemburu dan punya perasaan padaku", Sakha hanya tersenyum.

__ADS_1


" Istirahat dulu, kamu pasti lelah", Sakha membantu Adel merebahkan tubuhnya.


" Mas juga istirahat lah, pasti melelahkan menjagaku di rumah sakit", Sakha menurut. Ia akui selama Adel di rumah sakit ia benar-benar tidak bisa mengistirahatkan tubuhnya. Ketakutan akan kehilangan Adel membuatnya tak bisa nyenyak untuk tidur.


Ia tahu, kematian bisa terjadi pada siapa saja. Orang sakit belum tentu meninggal lebih dahulu daripada orang yang sehat. Namun, orang sakit seakan-akan lebih dekat ajalnya daripada orang yang sehat.


Sakha memeluk guling hidupnya dengan tetap menjaga agar tidak sampai mengenai kaki Adel. Menghirup wangi tubuh sang istri membuatnya terlelap dengan mudah. Selain memang tubuhnya yang membutuhkan istirahat.


Adel pun demikian. Ia ikut memejamkan matanya dan mulai terlelap.


***


Satria dan Tari pulang bersama ke kota J. Tari mengajak Satria pulang bersama karena tujuan mereka sama. Lagipula Satria bisa bergiliran dengannya untuk mengendarai mobil.


Itu rencana awalnya. Namun, kenyataannya malah Satria yang menyetir dari awal perjalanan hingga akhirnya sampai di kota J. Mereka sampai saat hari sudah menjelang malam.


" Sat, ke rumah kamu dulu aja. Nanti aku bisa pulang mengendarai mobil sendiri", usul Tari.


" Gak apa-apa, aku antar kamu ke rumah saja. Nanti aku bisa pulang naik taxi", jawab Satria. "Lagian sudah hampir malam'.


Tari memang meminta Satria untuk tidak terlalu formal biar lebih nyaman aja. Karena itu, Satria melakukan seperti apa yang Tadi minta.


Tari akhirnya pasrah membiarkan Satria mengantarkannya pulang ke apartemen. Karena Satria yang memegang kendali saat ini. Padahal, belum terlalu malam menurut Tari. Apalagi ia sudah terbiasa pulang sendiri bahkan lebih malam dari ini.


" Soal Sakha, makasih sudah di ingatkan. Rasanya tak pantas kalau aku mengganggu hubungan Sakha dan istrinya ", Tari tulus berterima kasih.


" Sama-sama. Maaf kalau lancang mencampuri urusan pribadimu. Hanya saja sayang rasanya kalau kamu harus jadi p3lakor", ucap Satria sambil tetap fokus melihat ke arah jalan.


" Gak masalah. Setelah di pikir-pikir juga aku malah akan terlihat b0d0h jika melanjutkan niatku. Awalnya aku kira Sakha masih sama Lisa. Makanya aku punya niatan merebutnya dari Lisa".


" Kalian bersaing untuk mendapatkan Kak Sakha?" Satria menebak.


" Aku hanya merasa Lisa tak pantas mendapatkan Sakha yang menurutku terlalu baik buat dia. Aku tahu Lisa seperti apa, bahkan sudah memberitahukan pada Sakha . Tapi, dia menolak untuk percaya padaku dan lebih percaya pada Lisa. Itu sungguh membuatku kesal", jujur Tari.


" Itu artinya, kamu bukan suka ataupun cinta. Melainkan hanya terobsesi untuk bisa mendapatkan Kak Sakha"


" Mungkin juga sih ", Tadi baru sadar akan hal itu. Mungkin rasa iri pada Lisa membuatnya ingin memiliki apa yang dimiliki Lisa.


" Kamu sendiri, udah punya pacar belum?", tanya Tari penasaran.


Satria tidak langsung menjawab. Ia memarkirkan dulu mobilnya. Mereka memang sudah sampai di apartemen milik Tari.


Sementara Tari ia di buat penasaran karena harus menunggu jawaban Satria.

__ADS_1


TBC


__ADS_2