
Di Batas Waktu (38)
Ting Tong.. Ting Tong..
Walaupun tak kunjung di bukakan, orang itu terus menekan bel.
Lisa yang merasa terganggu dengan suara bel yang tak kunjung berhenti akhirnya membukakan pintu tanpa melihat dulu siapa yang ada di balik pintu.
Hingga matanya akhirnya membola saat melihat siapa yang ada di hadapannya. Ia benar-benar tidak percaya. Mulutnya terbuka lebar saking terkejutnya
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Lisa tak bisa berkutik setelah polisi menjelaskan tujuan kedatangannya. Bahkan surat penangkapan pun sudah ia baca.
Lisa dengan terpaksa mengikuti polisi menuju mobil yang akan mengantarkannya ke hotel prodeo. Memberontak pun percuma, ia sudah melakukannya namun hasilnya nihil. Tangannya tetap terborgol.
Sakha yang mendapatkan telpon bahwa Lisa sudah di tangkap, ingin rasanya segera melihatnya ke kantor polisi. Ia ingin memastikan Lisa akan mendekam di penjara. Apalagi kecelakaan ini ada unsur kesengajaan bahkan justru di rencanakan.
Hari ini Mama Ria tidak ke rumah sakit karena kurang enak badan. Sehingga Sakha meminta Mama Ria untuk beristirahat di rumah saja. Akhirnya Sakha urung ke kantor polisi karena ia tak mau meninggalkan Adel tanpa ada yang menjaganya. Ingin meminta pada pamannya Adel pun rasanya enggan.
Hingga akhirnya seseorang mengetuk pintu dari luar, dan disana sudah berdiri Syifa dan Tia.
" Assalamu'alaikum ", Syifa dan Tia mengucapkan salam
" Wa'alaikumsalam. kebetulan kamu datang, Syifa. Boleh titip Adel sebentar? saya mau ke kantor polisi", jelas Sakha singkat saat melihat Syifa.
Syifa dan Tia masuk ke dalam setelah di persilahkan.
" Apa ini ada hubungannya dengan Lisa?", tanya Syifa.
" Polisi sudah menangkapnya tadi pagi. Aku mau memastikan dia merasakan akibat dari perbuatannya", jelas Sakha.
" Sebenarnya aku hanya punya waktu sampai jam makan siang selesai. Soalnya aku harus ke kantor lagi. Paling nanti di tunggu sama Tia . Kamu bisa kan?" , tanya Syifa pada Tia yang masih melihat ke arah Adel.
" Tia?", karena tak ada jawaban dari Tia, Syifa kembali memanggil sahabatnya.
" Eh, apa?", tanya Tia
__ADS_1
" Sakha ada perlu ke kantor polisi. Kamu bisa tolong jaga disini dulu sampai urusannya selesai kan? soalnya aku harus ke kantor lagi." Syifa mengulang perkataannya.
" Oh iya, Insya Allah aku bisa kok", jawab Tia menyanggupi.
Sakha langsung pergi seketika itu juga. Agar urusannya di kantor polisi cepat selesai.
Setelah melakukan perjalanan hampir setengah jam, Sakha sampai dan langsung meminta untuk dipertemukan dengan Lisa.
Sakha duduk menunggu kedatangan Lisa yang langsung di antar sipir penjara.
Melihat Sakha, Lisa sangat senang seolah Sakha adalah penolongnya. Ia masih yakin Sakha masih sangat mencintainya hanya saja tidak bisa lagi bersama Lisa karena adanya Adel. Ia tidak tahu justru Sakha lah yang melaporkan juga memberikan bukti yang ia dapatkan ke polisi.
Melihat kedatangan Lisa, Sakha hanya menatapnya tanpa ingin sekedar berdiri untuk menyambut.
" Sakha, kau datang untuk membantuku?", tanya Lisa antusias saat sudah berada di dekat Sakha.
Sakha langsung mendorong tubuh Lisa yang akan memeluknya.
" Duduklah. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu benar -benar sudah ada di sini", jawab Sakha datar.
Rasa bahagia yang awalnya membuncah kini meredup melihat sikap dingin Sakha.
" Aku akan memastikan kamu mendekam di penjara karena ulahmu itu telah membuatku kehilangan calon anakku", jelas Sakha tanpa ingin mengungkit kondisi Adel. Ia tak ingin membuat Lisa merasa berhasil atas setiap rencananya
" Apa kamu mengharapkan anak itu?", pertanyaan b0d0h terlontar begitu saja.
" Pertanyaan macam apa itu?", geram Sakha. "Tentu saja aku mengharapkannya. Dia darah dagingku", tambahnya.
" Kau bisa mendapatkannya dariku. Kita menikah". katanya penuh harap.
" Aku sudah menikah. Aku bisa mendapatkannya dari istriku ", jelas Sakha.
" Bukankah dia koma. Mungkin besok atau lusa..."
" Jangan bicara sembarangan ", bentak Sakha. "Kalaupun Allah memanggilnya lebih dulu, aku takkan mau menikah denganmu. Semua ini semakin membuat ku sadar bahwa menikahi Adel bukanlah kesalahan".
" Kenapa?", tanya Lisa. "Bukankah kamu mencintaiku? Kamu bilang ingin menikah denganku?", Lisa masih tidak percaya apa yang ia dengar di ucapkan oleh orang yang dulu sangat mencintainya.
__ADS_1
" Dulu aku memang mencintaimu. Dulu aku memang ingin menikah denganmu. Tapi itu DULU!", tekan Sakha.
" Kamu bohong kan, Sakha?! Tak mungkin semudah itu kamu berpindah ke lain hati?"
Sakha menghela nafas. Harus seperti apa ia menjelaskan. Apa ia terlihat sama sekali tidak akan bisa mencintai perempuan lain selain Lisa kah?.
" Sudahlah Lisa. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi agar kamu yakin bahwa semua yang aku katakan itu benar".
" Adel pasti mengatakan hal buruk tentangku kan?"
Sakha hanya terkekeh.
" Jangan menyalahkan orang lain. Semua murni karena kelakuan mu sendiri, bukan karena siapa-siapa".
" Semoga kamu bisa introspeksi diri. Menyadari semua kesalahanmu. Sikapku yang berubah padamu bukan karena Adel, tapi karena kamu sendiri. Kamu yang lebih dulu menolak ajakan ku untuk menikah. Kamu yang lebih dulu mengkhianati ku." jelas Sakha. " Asal kau tahu juga, akulah yang melaporkan mu. Aku juga yang memberikan bukti bahwa kamulah pelakunya. Bahwa kecelakaan yang menimpa Adel bukan sekedar tabrak lari ", jelas Sakha.
Lisa langsung di giring kembali ke dalam sel setelah Sakha selesai berbicara kepadanya. Ia pun masih terdiam. Semua yang dikatakan Sakha masih terngiang-ngiang di kepalanya. Bahkan ia mulai berpikir bahwa semua yang dia lakukan hanyalah sia-sia.
Lisa tertawa. Menertawakan keb0d0hannya. Merencanakan semua dengan anggapan bahwa jika ia berhasil, ia akan kembali bersama Sakha. Bahwa Sakha masih sangat mencintainya. Bahwa semua kesalahannya mudah di maafkan oleh Sakha yang tergila-gila padanya. Namun ternyata semua anggapannya salah. Ia justru berakhir menikmati dinginnya hotel prodeo.
***
Sakha langsung kembali ke rumah sakit. Ia berterima kasih kepada Tia yang mau menemani Adel selama Sakha pergi. Bagi Tia sendiri itu bukan masalah. Toh kedatangannya ke kota ini pun untuk menjenguk Adel. Tidak ada rencana yang lain.
Sakha kembali mengajak Adel bicara walaupun sampai detik ini, hanya menjadi komunikasi satu arah. Ia menceritakan tentang Lisa yang sudah di tangkap polisi dan juga berjanji akan memastikan bahwa Lisa akan mendekam di penjara. Apalagi bukti yang kuat sudah di kantongi polisi.
" Kamu ingat tentang seseorang yang berniat bekerja sama denganku. Rencananya aku akan ke luar kota beberapa hari untuk meninjau tempat nya. Selama aku pergi Mama akan menjagamu. Aku juga meminta Fitri untuk bergantian dengan mama dengan tetap menggajinya sekalipun dia tidak ke toko," jelas Sakha sambil membersihkan tubuh Adel.
Sakha langsung membereskan lap yang ia gunakan setelah selesai membersihkan tubuh Adel. Sakha memang melakukannya tanpa bantuan suster. Ia ingin dia sendiri yang melakukan semua itu. Karena ia tidak mau tubuh Adel di lihat oleh orang lain sekalipun itu perempuan. Bersyukur dokter yang menangani Adel pun perempuan.
TBC.
...----------------...
Konfliknya memang gak terlalu berat ya! Author nya masih belum berani bikin konflik yang berat di novel pertama ini.
Target untuk novel pertama ini adalah bisa rajin upload setiap hari juga bisa menyelesaikan sampai tamat. Makanya kemungkinan besar bab nya pun gakkan terlalu panjang. Soalnya gak mau juga jadi malah bertele-tele biar bab nya banyak.
__ADS_1
Sebenarnya novel ini juga ikut lomba. Tapi, setelah di pelajari lagi, ternyata feel nya gak dapet untuk genre yang di lombakan. Tapi, karena sudah setengah jalan dan Alhamdulillah sudah di kontrak juga, jadi insya Allah tetap berlanjut mudah-mudahan sampai tamat.
Mohon dukungannya dan terima kasih yang sebesar-besarnya buat yang masih mau menikmati ceritanya 🙏🙏🥰🥰.