
Di Batas Waktu (45)
" Jangan di pikirkan, kak. Mama cuma becanda", Nela merasa tak enak hati dengan perkataan sang mama.
" Bercanda gimana? Mama serius. Jadi karyawan kontrak aja gajinya lumayan, apalagi kalau bisa jadi karyawan tetap atau malah naik jabatan".
" Kalau statusnya gimana? Udah nikah belum?" tanya Lastri lagi.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
" Bu, sudah cukup!", Anton tak enak hati.
" Apa sih ,pa?", Lastri tidak suka.
" Maafkan ibu ya kak", Nela mewakili sng ibu meminta maaf.
" Kenapa harus minta maaf?," Lastri kesal dengan sikap anak dan suaminya.
" Begini..", akhirnya Sakha angkat bicara untuk menengahi.
" Saya dan Yudi memang kenal dekat. Tapi, kami tidak pernah mencampuri urusan pekerjaan satu sama lain. Semua harus melewati tahapan yang seharusnya.", jelas Sakha. " Kalau Nela punya kemampuan, tanpa Bibi meminta pun, ia pasti jadi karyawan tetap bahkan mungkin naik jabatan", jelas Sakha panjang lebar.
Mama Ria tak percaya dengan sikap Bibinya Adel. Sementara Anton dan Nela merasa malu.
***
Waktu pun berlalu. Hari ini adalah jadwal Adel untuk melakukan pemeriksaan. Setelah melakukan Rontgen dan mendengarkan penjelasan dari dokter, keduanya bersyukur kondisi kaki Adel semakin baik.
Adel memang sudah bisa melangkahkan kakinya secara perlahan juga rasa sakit dan pembengkakan sudah mulai berkurang. Namun, dokter menyarankan untuk tetap berhati-hati. Adel harus menghindari dahulu aktivitas berat yang membebani kakinya seperti berdiri dan berjalan terlalu lama.
Dengan wajah gembira keduanya keluar dari rumah sakit. Seperti saran dokter yang tidak boleh berjalan terlalu lama, Sakha tetap menyuruh Adel menggunakan kursi roda.
" Sepertinya rencana kita akan bisa segera terwujud. Tinggal menunggu beberapa waktu lagi sampai bisa lepas dari roda", jujur Sakha bahagia.
Usaha mereka membuahkan hasil.
" Iya, Alhamdulillah ", timpal Adel.
" Mau membeli sesuatu dulu sebelum pulang?", tawar Sakha yang bersiap melajukan mobilnya.
" Langsung pulang saja", jawab Adel.
" Baiklah ", Sakha langsung tancap gas.
Mereka berkendara dengan kecepatan sedang menuju ke rumah. Namun, tiba-tiba ponsel Sakha berbunyi. Adel membantu mengambilkan.
__ADS_1
" Dari Satria ", kata Adel sambil menunjukkan layar ponsel dimana nama Satria tertera di sana.
Sakha mencari tempat agar bisa memarkirkan sebentar mobilnya untuk mengangkat telpon.
Ia pun akhirnya menelpon balik Satria karena panggilannya sudah mati.
" Assalamu'alaikum, Sat. Ada apa?", tanya Sakha.
Satria pun menjelaskan maksudnya menelpon Sakha. Setelah beberapa menelpon, akhirnya Sakha menutup telponnya.
" Kita mampir dulu ke kafe, gak apa-apa kan?", Sakha meminta pendapatnya Adel sebelum mengambil keputusan.
" Iya gak apa-apa. Lagi pula sudah lama aku gak pernah kesana", jawab Adel.
Adel memang belum pernah lagi menginjakkan kakinya di kafe Sakha setelah kejadian ia memergoki Sakha dan Lisa. Setelahnya, banyak peristiwa yang mereka alami.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di kafe.
Dengan perlahan Sakha menemani Adel berjalan menuju meja tempat ia dan Satria akan berbicara.
Sakha memilih untuk berbicara di kursi yang ada di lantai bawah dekat dengan pintu masuk. Hal ini tentu agar Adel bisa menjangkaunya dengan berjalan karena jaraknya tidak terlalu jauh.
Sampai disana, sudah ada Satria dan Tari yang langsung berdiri menyambut kedatangan keduanya.
" Alhamdulillah. Jadi, Bu Adel, sudah bisa berjalan?", Satria kaget melihatnya.
Sakha menarik kursi dan membantu Adel duduk. Setelah itu, ia menarik kursi untuk dirinya sendiri.
Semua perlakuan Sakha pada Adel tidak luput dari perhatian Tari.
" Tari, kenalkan ini Adel , istriku", Adel mengulur tangannya.
" Adel"
" Tari "
Keduanya saling bersalaman.
" Sayang, ini Tari. Perwakilan dari perusahaan yang bekerja sama denganku", jelas Sakha.
" Senang bisa berkenalan dengan istrinya Sakha", ucap Tari kemudian.
" Kamu kenapa dengan Sakha?", melihat bagaimana Tari Berbicara, ia terlihat mengenal Sakha bukan sebatas rekan kerja.
" Iya, kita teman kuliah", jawab Tari tersenyum.
__ADS_1
" Ough berarti kenal juga sama Yudi, ya?", tanya Adel kemudian. Padahal tadinya ia ingin menyebut nama Lisa. Namun, ia urungkan. Adel tak ingin pembicaraannya berbuntut panjang. Itu artinya ia akan membuka luka hatinya.
" Iya, sama Lisa juga kenal", jawab Tari keceplosan. " Maaf bukan maksud.." . Tari tak enak hati sudah keceplosan menyebutkan nama Lisa. Padahal, Satria sudah mewanti-wanti jangan menyebut nama itu. Tapi, yang namanya tidak sengaja kan tidak di rencanakan.
" Tidak apa-apa ", jawab Adel mencoba tersenyum. Walaupun entah lah mengingat Lisa rasanya ia ingat bagaimana ia kehilangan janinnya.
Tangan kanan Adel langsung memegang perutnya. Melihat itu, Sakha langsung menggenggam tangan kiri Adel.
Sakha melihat ke arah Adel, dimana Adel pun langsung melihat ke arah Sakha. Tatapan mata Salah seolah mengatakan ' Tidak apa-apa, semua baik-baik saja '. Adel pun hanya mengangguk tersenyum seolah paham maksud tatapan mata Sakha.
Sementara Satria sedikit melotot pada Tari karena kesal, padahal sudah di ingatkan. Tari hanya meringis melihat Satria sambil mengucapkan maaf namun hanya gerakan bibir saja, tanpa suara.
" Ayo kita mulai pembicaraannya", ucap Sakha pada Satria dan Tari. Sementara Adel hanya fokus pada makanan yang baru di hidangkan di atas mejanya.
Adel yang sudah selesai menikmati makanannya, membuka ponsel dan mulai membuka aplikasi chat. Satu persatu ia membalas pesan yang masuk. Hingga akhirnya Sakha membuyarkan konsentrasi Adel.
" Sayang, aku ke toilet dulu sebentar, ya. Gak apa-apa kan aku tinggal?", tanyanya.
" Iya, gak apa-apa", Sakha langsung berdiri dan pergi ke toilet. Namun masih sempat mengelus puncak kepala Adel sebelum pergi.
Lagi-lagi sikap mabis Sakha tidak luput dari perhatian Tari
Tari yang masih merasa tak enak hati kembali meminta maaf.
" Adel, soal yang tadi, aku benar-benar minta maaf. Aku gak bermaksud mengingatkan kamu tentang kejadian yang menimpamu", jujur Tari.
Adel tersenyum, " Iya gak apa-apa. Jangan di pikirkan".
" Tapi, aku gak enak sama kamu dan Sakha".
" Sudah, lupakan saja. Lagipula itu sudah berlalu. Walaupun harus kehilangan janin yang ku kandung, Alhamdulillah Allah masih memberikanku keselamatan", walaupun takdir yang Allah tetapkan itu terlihat buruk di matanya sebagai manusia, tapi ia yakin itu adalah yang terbaik.
Tari hanya mengangguk. Ia kagum pada sikap Adel. Rasanya dia akan tetap kalah kalau melanjutkan tujuan awalnya.
Melihat semua perlakuan Sakha pada Adel juga sikap Adel, ia percaya pada apa yang pernah di katakan Satria bahwa Sakha sangat mencintai istrinya. Istrinya pun memang pantas untuk di cintai. Jika harus bersaing dengan Adel, Tari tak percaya diri. Tidak seperti saat ia bersaing dengan Lisa.
" Bu Adel mau pesan makanan lagi?", tawar Satria mengalihkan pembicaraan.
" Sudah , Sat. Makasih. Ini sudah lebih dari cukup", jawab Adel yang memang sudah cukup kenyang.
" Kalau Bu Adel sudah bisa berjalan, berarti pergi ke kota B nya gak akan lama lagi dong?", tanya Satria. Karena itu artinya tugas untuk mengelola Kafe selama Sakha pergi akan beralih kepadanya.
" Menunggu beberapa waktu lagi sepertinya. Biar bisa lebih leluasa", jawab Adel. Karena kalau masih berganti pada kursi roda, rasanya kurang nyaman karena geraknya jadi terbatas.
" Pasti mau bulan madu ya?", tebak Tari.
__ADS_1
TBC