
Di Batas Waktu (52)
" Nanti lewat jalan sana ya," pinta Adel.
" Memangnya mau kemana dulu?",
" Aku mau mampir dulu ke restoran, sudah janjian soalnya,"
Sakha hanya mengangguk mengiyakan.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Sakha membelokkan mobilnya ke halaman sebuah restoran. Setelah memarkirkan mobil keduanya segera masuk ke dalam restoran. Di sebuah meja Fathia duduk dan ia pun melambaikan tangannya kepada Adel dan Sakha saat melihatnya masuk.
" Assalamualaikum," salam Adel dan Sakha.
" Wa'alaikumsalam," jawab Tia.
Adel menyalami Tia dan mencium pipi kanan dan kirinya seperti kebiasaan mereka ketika bertemu.
" Maaf ya membuatmu harus mampir dulu. Lagian, kamu datang ke sini tapi malah memberitahuku di akhir-akhir saat kalian mau pulang," kesal Tia.
" Hehehe. Maafkan Aku," Adel tersenyum. "Aku tidak bermaksud seperti itu," tambahnya.
" Ck,, Ck,,ck.," Tia berdecsk karena kesal. "Bagaimana bisa kamu melupakanku?,"
Adel hanya tersenyum sementara Sakha hanya memperhatikan keduanya.
" Emang ya, cinta membuatmu melupakan semuanya termasuk sahabatku sendiri," kesal Tia.
" Mana ada seperti itu?," Adel menggelengkan kepalanya.
" Sudahlah, ayo kita makan dulu," Fathia pun memanggil pelayan dan meminta mereka mengantarkan makanan kemeja mereka.
Mereka pun menikmati hidangan yang tersedia. Setelah mereka selesai makan, Tia pun memberikan sebuah kartu undangan kepada mereka.
Adel memperhatikan kartu undangan tersebut kartu undangan itu ternyata adalah kartu undangan pernikahan, dan yang mencengangkan nama orang yang tertera adalah Fathia sendiri.
" Masya Allah jadi kamu beneran mau nikah sama dia Tia?," tanya Adel.
" Begitulah," jawab Tia.
" Kok kamu kayak nggak senang sih?," heran Adel.
Fathia mendesah. " Aku bukan tidak senang, hanya saja kamu kan tahu sendiri bagaimana aku dan dia bisa menikah?,"
Adel dan sahabatnya memang selalu terhubung di grup membicarakan kabar mereka masing-masing termasuk hubungan Tia dengan orang yang akan menikahinya. Baik Adel maupun sahabat yang lainnya sudah tahu, namun Adel sendiri tidak menyangka bahwa pernikahan itu akan cepat terjadi.
__ADS_1
" Jalani saja dulu, yang aku tahu dia itu kan orangnya baik,"
Sedikit banyak Adel tahu tentang orang yang dijodohkan dengan Tia. Tentu karena orang tersebut adalah teman satu angkatan mereka saat kuliah, hanya berbeda jurusan saja.
" Kau kan tahu dia kutu buku, aku mungkin tidak akan cemburu dengan perempuan. Tapi, aku pasti akan cemburu pada buku-bukunya karena dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan bukunya," keluh Fathia.
" Ya, kamu kan bisa bicarakan baik-baik setelah menikah nanti," saran Adel.
" Kamu benar juga," Tia menganggukan kepalanya. " Yang penting kalian harus datang ya?! jangan lupa agendakan," tekan Tia. Dia tidak mau ada satupun sahabatnya yang tidak datang di hari spesialnya.
"Insya Allah aku akan datang,"
" Oh ya, ini titip juga undangannya buat Syifa dan Aisyah tolong ya, Adel," pinta Tia.
" Kamu enggak akan mengirimnya langsung atau di grup mungkin?," tanya Adel.
" Aku hanya ingin memberi mereka kejutan. Kalau di grup kan jadi nggak seru. Tapi, kalau tiba-tiba datang undangan kan mereka pasti menghubungiku,"
" Dasar,," Adel terkekeh melihat ulah sahabatnya.
" Lagian, mereka pada sibuk. Jarang menghubungi ku lagi. Biarlah, sekali-kali mereka yang menghubungi duluan",
Setelah urusannya selesai, Adel dan Sakha pun kembali melanjutkan perjalanan mereka. Mereka tidak mau menunda-nundanya lagi. Karena mereka ingin malam ini mereka sudah sampai di rumah.
***
Hari ini, Sakha sudah kembali pergi ke cafe seperti biasanya. Namun, sebelum itu ia mengantarkan Adel terlebih dahulu ke rumah Aisyah untuk mengantarkan undangan dari Tia.
Setelah itu Adel pun ikut Sakha ke cafe. Karena yang ia tahu Syifa akan datang ke kafe saat makan siang bersama dengan Yudi, bosnya yang tidak lain adalah sahabat Sakha.
Syifa dan Adel Kini sedang menikmati sarapan siang mereka hanya berdua. Sementara Yudi dan Sakha di meja yang berbeda karena mereka ingin membicarakan pembicaraan secara empat mata.
" Fa, aku dititipin ini buat kamu," Adel memberikan kartu undangan ke hadapan Syifa.
" Kartu undangan pernikahan? Siapa yang akan menikah?," tanya Syifa penasaran.
" Kamu buka saja sendiri nanti juga kamu tahu jawabannya,"
" Fathia?! Aish,, anak itu dia jadi juga menikah?!," Syifa benar-benar kaget.
Adel menggangguk membenarkan. " Aku sendiri kaget saat kemarin akan pulang dia menghubungi agar mampir dulu ke restoran. Terrnyata, dia memberikan undangan ini
Dia mewanti-wanti agar kita mengagendakan dan jangan sampai kita tidak datang di hari spesialnya,"
" Anak ini benar-benar ya, dia cuma cerita akan dijodohkan itu pun baru beberapa hari yang lalu kan?! Nah, hari ini tiba-tiba dapat undangannya?," Syifa geleng-geleng kepala.
"Memang anak itu kan penuh kejutan," Adel terkekeh.
__ADS_1
" Ah benar, aku akan menelpon dan memarahinya. Bisa-bisanya dia menyembunyikan hal besar seperti ini dari kita,"
" ya.. ya.. ya.. Hubungi saja. Dia pasti senang karena itu keinginannya,"
" Hah? Maksudnya?," Syifa tidak mengerti.
" Kamu, Aisyah sibuk dengan kehidupan kalian masing-masing dan dia merasa tersisihkan begitu pula dengan aku yang mulai menata kehidupanku dengan Sakha. Sehingga aku terlalu fokus dengan kehidupan keluargaku dan ini adalah salah satu cara dia agar kalian menghubunginya terlebih dahulu,"
Syifa hanya tersenyum. Di antara mereka, Tia lah yang bersikap kekanak-kanakan. Bahkan di antara mereka berempat, Tia itu seperti adik terkecil mereka yang mereka jaga dan lindungi.
Mungkin karena dia anak semata wayang sehingga tidak merasakan kasih sayang dari kakak maupun adik. Karena itu, dia merasa nyaman saat bersama dengan sahabat-sahabatnya. Bahkan tidak malu saat bersikap manja.
" Oh ya, hubungan kamu sendiri dengan Yudi bagaimana?,"
" Cukup rumit. Jujur aku kaget dengan masa lalunya,"
" Kamu sudah tahu mengenai Lisa dan juga anaknya?,"
Syifa mengangguk
" Kamu menerimanya?,"
" Aku mengatakan padanya, aku siap menerima dia, seandainya dia bisa menjadi imam bagiku. Sementara, dia sendiri berkata jujur bahwa selama ini dia jauh dari Allah. Dia tak pernah beribadah bahkan membaca Alquran pun dia tak pernah. Jangankan membaca Alquran, dia mengakui bahwa dia memang tidak bisa membacanya. Bahkan dia tidak hafal huruf-huruf hijaiyah",
Ada tertegun. Ternyata Yudi benar-benar jauh dari sang Pencipta. Namun, ia masih bersyukur sekalipun Sakha bersahabat dekat dengannya, Sakha tidak terpengaruh oleh pergaulan Yudi.
" Lalu apa yang dia lakukan sekarang?,"
" Dia sedang belajar bahkan dia privat. Mendatangkan guru ngaji ke rumahnya untuk belajar iqro juga belajar salat,"
Adel menggangguk. Dia kagum dengan perjuangan Yudi untuk bisa melaksanakan ibadah dengan baik.
" Namun, masalahnya aku takut dia berubah karena ingin menikah denganku,"
" Kamu jelaskan saja padanya. Tidak apa-apa jika yang memotivasi dia untuk berubah adalah kamu. Hanya saja kamu bisa meluruskan kembali niatnya tanpa harus mematahkan semangatnya.
Syifa mengangguk.
Pembicaraan mereka terhenti saat Yudi dan Sakha menghampiri mereka berdua.
TBC
...----------------...
...Jangan lupa tinggalkan jejak!...
...Like, Komentar dan subscribe...
__ADS_1
...Terimakasih atas dukungannya...
...🥰🥰🥰...