Di Batas Waktu

Di Batas Waktu
DBW 55 Penurut Sejak Dalam Perut


__ADS_3

Di Batas Waktu (55)


" Masih lapar?," tanya Sakha kaget. Karena setelah menghabiskan satu porsi soto ayam lagi, Adel pun meminum air kelapa muda yang ia beli.


Adel hanya tersenyum.


" Aku tiba-tiba pengen rujak ...", ucapnya.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Seiring bertambahnya usia kehamilan Adel, bertambah pula nafsu makannya. Masa mengidamnya pun sejauh ini tidak pernah aneh-aneh. Namun, Adel sering meminta makanan yang di masak oleh Sakha.


Tak terasa usia kandungannya sudah memasuki bulan ke-4. Mama Ria berencana untuk mengadakan pengajian syukuran 4 bulanan kehamilan Adel.


Sebagai rasa syukur karena kehamilan Adel yang sekarang. Karena sejauh ini baik janin maupun ibunya semua baik-baik saja.


Juga berharap kedepannya janin dan ibunya juga semua anggota keluarga di berikan kesehatan.


Apalagi di usia kandungan ke empat bulan ini, Allah SWT memerintahkan malaikat untuk meniupkan ruh kepada janin. Selain itu, malaikat juga diperintahkan mencatat empat perkara yang berkaitan dengan rejeki, ajal, amal, dan bahagia atau celakanya si janin ketika ia hidup di dunia.


"Bumil pagi-pagi begini mau ke mana?," tanya Mama Ria melihat Adel yang sudah siap akan pergi bersama Sakha.


"Bumil lagi mau sarapan lontong Kari. Jadi, rencananya mau ke ke depan nyari lontong kari. Mama mau dibungkus kan juga tanya Sakha?,"


"Boleh deh dua bungkus buat Bi Nur juga,"


"Oke "


" Oh ya, buat pengajian minggu depan kalian mau mengundang berapa banyak?," tanya Mama Ria.


"Aku nggak banyak sih Mah, paling cuma sahabat-sahabat aku aja sama karyawan di toko kue," jelas Adel.


" Sakha juga paling Yudi sama karyawan kafe saja,"


" Ya udah, kalau gitu berarti, paling nanti dihitung aja jumlahnya, ya! . Biar konsumsinya tidak kurang," jelas Mama Ria.


Pengajian minggu depan memang rencananya akan mengundang ibu-ibu pengajian majelis taklim yang sering datang ke masjid yang ada di sana. Juga para tetangga di sekitar rumah. Tidak lupa keluarga dari Mama Ria juga dari Adel.


" Kalau soal rencana santunan buat anak yatim, gimana?," tanya Mama Ria kemudian.


" Tenang Ma, Aisyah dan yang lainnya yang mau bantu handle. Jadi, Mama bisa fokus ke acara pengajian ibu-ibu saja," jawab Adel sambil beranjak untuk pergi.


Sejak melakukan santunan kepada anak yatim ke panti asuhan, yaitu ketika Adel diketahui hamil, Adel maupun yang lainnya rutin melakukan santunan kesana. Bahkan Yudi, hatinya tergerak untuk menjadi donatur tetap disana.


Adel sendiri merasakan banyak kebaikan. Keinginannya agar kehamilannya kali ini lancar, benar-benar terbukti. Tidak ada masalah sedikit pun. Semuanya baik.


Yudi pun ingin di do'akan agar bisa Istiqomah dalam berhijrah. Bukan agar lamarannya bisa di terima keluarga Syifa lagi, namun ikhlas karena Allah. Kalaupun lamarannya di tolak, mungkin memang belum berjodoh. Tapi, kalau bisa ia berharap bisa berjodoh dengan Syifa ( maksa 🤭).


Kita tidak tahu do'a siapa yang akan di kabulkan Allah. Karena itu, semakin banyak yang mendo'akan semakin besar kemungkinan do'a itu terkabul.


...***...

__ADS_1


Dua hari menjelang acara pengajian, Adel dan Sakha pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Adel. Jadwal kontrol kandungan yang rutin setiap bulan.


" Sayang, berarti kita sudah bisa mengetahui jenis kelaminnya?," tanya Sakha antusias.


" Kalau dedenya gak malu-malu sih bisa", jawab Adel.


" Maksudnya?,"


" Pada usia empat bulan, memang alat k3lam1n sudah terbentuk. Tapi, kalau ada bagian tubuh yang menutupi itunya , ya tetap tidak bisa di lihat", jelas Adel.


Sakha mengangguk, ia mengerti.


" Anak ayah Sholeh, nanti saat USG jangan di tutupi ya, biar ayah sama bunda tahu kamu laki-laki atau perempuan",pinta Sakha berbicara pada perut Adel sambil mengusapnya.


Tiba-tiba ada tendangan yang di lakukan janin di dalam perut Adel.


"Sayang, dia bergerak!", seru Sakha antusias.


Adel ikut bahagia melihat ekspresi bahagia Sakha.


" Itu artinya dia dengerin kamu, Mas" jawab Adel.


" Berarti nanti bisa dong, kelihatan pas USG", Sakha berharap.


" Dengerin kan belum tentu nurutin apa mau ayahnya ", Adel terkekeh.


" Anak ayah sayang, kalau mau jadi anak Sholeh, nurut sama ayah ya! Nanti saat USG pokoknya jangan di sembunyiin", pinta Sakha maksa.


" Aish, maksa", Adel tertawa melihat tingkah sang suami.


Adel hanya geleng-geleng kepala. " Ya, ya, ya. Terserah ayahnya saja."


" Ekh, dia gerak-gerik lagi", Sakha terus memegang perut Adel. Merasa senang merasakan pergerakan janinnya.


Adel hanya melihat keseruan Sakha.


" Yah,, sudah gak gerak", keluh Sakha.


" Ibu Dandelion Az-Zahra ", panggil seorang perawat.


Adel dan Sakha segera berdiri dan berjalan memasuki ruang pemeriksaan.


" Assalamu'alaikum, dokter", salam Adel dan Sakha.


" Wa'alaikumsalam ," jawab dokter Mila ramah.


Adel memang kembali memilih untuk memeriksakan kondisi kandungannya kepada dokter yang sama saat kehamilannya yang pertama.


" Bagaimana Adel, apa yang di rasakan sekarang?," tanya dokter Mila.


Adel memang meminta dokter Mila memanggil namanya saja, jangan pakai embel-embel 'ibu'. Adel berasa tua. Sekalipun ia akan menjadi seorang ibu.

__ADS_1


" Alhamdulillah dokter, baik"


" Masih ada mual?",


" Alhamdulillah, enggak dok",


" Apa karena kemeja bekas pakai Ayahnya lagi?", tanya dokter Mila di sertai kekehan.


Sebelumnya Adel memang bercerita mulanya berkurang karena menghirup aroma dari suaminya yang tertinggal di kemeja. Hingga akhirnya ada saja kemeja Sakha yang di sisakan untuk tidak di cuci sebagai obat mual.


" Alhamdulillah sekarang sudah enggak, dok", jelas Adel malu.


" Iya, tapi sekarang saya malah di suruh terus mandi, dok. Keringat sedikit dia kompalin", Sakha mengadu.


Wajah Adel memerah karena aduan sang suami.


" Enggak apa-apa, nikmati saja. Masa kehamilan seperti ini memang kadang tak masuk logika. Tak bisa di jelaskan secara medis. Tapi, suatu hari pasti akan menjadi sesuatu yang indah untuk di kenang. Apalagi belum tentu di kehamilan berikutnya, akan seperti itu lagi", Adel dan Sakha mengangguk.


Setelah berbincang-bincang, dokter Mila dibantu perawat melakukan pemeriksaan.


" Alhamdulillah kondisi bayinya sehat. Semuanya juga normal. Ukuran janinnya kalau di ibaratkan seperti buah alpukat", jelas dokter Mila.


" Kalau jenis k3lam1nnya dok?", tanya Sakha antusias.


" Maunya apa?",tanya dokter Mila malah balik bertanya.


" Perempuan ataupun laki-laki sebenarnya sama saja sih, dok. Tapi, harapannya sih laki-laki kalau untuk anak pertama ", jelas Sakha.


" Biar ada yang jagain bundanya ya kalau ayahnya ke luar kota ",


" Bukan dok, biar istri saya tetap yang paling cantik dan tidak ada saingan", kekeh Sakha.


Dokter Mila hanya tersenyum. Sementara Adel hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban sang suami.


" Nah ini, alat k3lam1nnya", dokter Mila menunjukkan bahwa letaknya.


" Jadi, laki-laki atau perempuan, dok?" Sakha bingung mengartikannya.


" Alhamdulillah sesuai keinginan sang ayah. Jenis Kelaminnya laki-laki",


" Alhamdulillah. Tuh kan anak kita nurut", celetuk Sakha.


" Maksudnya?" Dokter Mila heran.


TBC


...----------------...


...Jangan lupa untuk tinggalkan jejak...


...Like, komentar dan subscribe...

__ADS_1


...Terimakasih atas dukungannya...


...🥰🥰🥰...


__ADS_2