
Di Batas Waktu (44)
" Iya, ibuku sangat cerewet soal ini. Katanya aku harus pandai masak supaya bisa memanjakan lidah suamiku nantinya", Tari tertawa ingat saat dia awal-awal belajar memasak dengan ibunya. Dapur jadi seperti kapal pecah.
Mereka pun makan di selingi obrolan ringan. Sambil melihat pemandangan jalanan yang ramai. Karena mereka saat ini makan di lantai dua dimana mereka bisa melihat pemandangan kota.
" Tari, kamu ada disini?", suara bariton seorang pria mengagetkan keduanya.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Meja yang awalnya hanya berisikan dua orang, kini menjadi empat orang. Menu yang terhidang pun bukan lagi makanan yang di bawa oleh Tari, melainkan menu yang ada di kafe.
Yudi sengaja mampir ke kafe Sakha. Bukan untuk menemui Sakha hanya saja ingin bersantai sejenak sebelum meeting sehabis makan siang.
Yudi tidak seorang diri, dengan siapa lagi kalau bukan dengan Syifa, sekertarisnya.
" Kalian jadian?", tanya Yudi membuyarkan keheningan yang melingkupi mereka.
" Iya", jawab Tari mantap. " Kamu sendiri? Itu pacar kamu?", tanya Tari menyelidik.
" Bukan. Saya bukan pacarnya. Saya sekertaris Pak Yudi", jelas Syifa tak ingin ada kesalahpahaman. Bagaimanapun ia harus menjaga nama baik atasannya. Walaupun biasa terjadi cinlok atau bahkan malah skandal antara Bos dan sekertarisnya, ia tak mau saja membiarkan orang lain dengan prasangka nya yang salah.
Jujur, Yudi kecewa. Walaupun memang di antara mereka tida ada hubungan apa-apa selain hubungan pekerjaan, namun dalam hatinya ia ingin memiliki hubungan yang lebih.
Tari yang menyadari raut wajah Yudi hanya geleng-geleng kepala.
" Saya permisi mau angkat telpon dulu?", pamit Syifa melangkah menjauhi meja.
" Kamu kenapa, Yud?", tanya Tari menahan senyumnya. " Pasti ingin memiliki hubungan yang lebih ya?", tebakan Tari memang betul.
" Jangan ngaco", Yudi menyangkal.
" Kelihatan jelas tuh di wajah kamu", Tari tertawa.
" Dia beda, gak kayak wanita yang biasa dekat dengan aku", Yudi akhirnya jujur.
" Iyalah, pasti. Dari luar aja udah kelihatan beda", Tari setuju bahwa Syifa memang berbeda dengan wanita yang ada di sekeliling Yudi.
Yudi biasanya di kelilingi wanita yang memakai baju yang bahannya kurang, cantik karena makeup yang berlapis-lapis dengan tingkah yang m3nggoda pula. Sedangkan Syifa, pakaiannya tertutup bahkan berkerudung, makeup tipis tapi tetap cantik, bahkan terlihat menjaga jarak.
Satria hanya mendengarkan sambil fokus menghabiskan makanan miliknya. Jam istirahat sebentar lagi habis. Bagaimana pun dia harus profesional sekalipun tidak ada Sakha.
Syifa kembali duduk setelah selesai menelpon.
" Oh ya, Sakha jarang ke kafe ya?", tanya Yudi langsung memulai pembicaraan yang lain saat Syifa datang.
" Iya, kak Sakha mau fokus untuk menemani istrinya di masa pemulihan ini", jawab Satria.
Yudi hanya manggut-manggut.
" Kapan ke kafe?," tanya Yudi lagi.
" Untuk saat ini sih belum ada rencana ke kafe".
Yudi bahagia sahabatnya itu menemukan cinta yang tepat.
" Oh, ya , Syifa. Kamu udah pernah jenguk Adel lagi?," tanya Yudi pada Syifa.
" Belum sih. Tapi, hampir tiap malam kita saling komunikasi. Jadi, sekalipun sibuk dan gak bisa ketemu, kita tahu kondisi kondisi Adel sekarang ", jelas Syifa.
__ADS_1
" Kita?", heran Yudi. Maksudnya?",
" Saya, Adel dan dua sahabat kita punya grup chatting",
"Oh ", Yudi hanya ber oh ria.
" Adel itu namanya istri Sakha?", tanya Tari yang penasaran. Karena sebelumnya mereka sedang membicarakan istri Sakha yang Tari sendiri tidak tahu namanya. Atau mungkin Tari lupa apakah Satria pernah menyebutkan namanya atau tidak.
"Iya, istri Sakha", jawab Yudi.
" Jadi istri Sakha itu sahabat kamu?,"
Syifa mengangguk. " Saya, Sakha dan Adel teman satu sekolah saat SMA dulu ", tambahnya.
Tiba-tiba Tari penasaran ingin mengorek informasi tentang Syifa.
" Kamu udah punya pacar, Syifa?"
" Saya...."
" Ish,, jangan terlalu formal. Santai aja", pinta Tari pada Syifa.
" Ough ok. Maaf sudah biasa soalnya", jawab Syifa.
" Jadi?"
" Aku gak pernah niat pacaran sih. Kalau udah ada yang cocok mah langsung ke KUA aja", jawab Syifa
" Wah mode gercep. Langsung nikah aja ", seru Tari salut.
" Iya. Dari pada nambah dosa mending nambah pahala. Godaan syetan luar biasa kalau hanya berdua. Orang pacaran kan biasanya pengennya berduaan. Saya sih takut khilaf ", jelas Syifa di sertai kekehan.
Satria hanya mengangguk setuju sementara Yudi fokus pada informasi yang di korek Tari.
" Punya tipe khusus gak?', tanya Tari lagi.
" Emm, gak juga. Yang penting bisa jadi imam yang baik buat saya rasanya sudah cukup "
Yudi menghela nafas. Syaratnya cuma satu, tapi tidak mudah.
Imam yang baik?. Jadi imam sholat aja aku masih belum mampu. Jangankan imam sholat, sholatnya aja masih bolong-bolong. Batin Yudi.
" Berarti soal status pria itu juga masalah?", Tari benar-benar mewakili pertanyaan Yudi.
" Mau duda sekalipun gak masalah sih. Asal jangan suami orang aja", jawab Syifa tersenyum.
Ah, iya status aku yang udah punya anak tapi bukan duda juga pasti sulit. Yudi berbicara di dalam hati.
" Ini kok kayak lagi wawancara ya?", Syifa sadar dari tadi Tapi hanya bertanya tentang dirinya. Sementara Satria dan Yudi hanya mendengarkan.
" Hehe gak kok. Cuma penasaran aja", kilah Tari.
" Jangan-jangan mbak mau jodohin saya", tanya Syifa menebak.
" Jangan panggil Mbak dong. Panggil Tari aja", pinta Tari lagi.
" ok. ok."
Mereka pun melanjutkan obrolan mereka sampai akhirnya harus berpisah dan kembali melakukan aktifitas masing-masing.
__ADS_1
***
" Kondisi kamu gimana, Del?", tanya Paman Adel.
Rasa bersalah menghampirinya karena hanya bisa menjenguk Adel sekali saat di rumah sakit. Padahal Adel satu-satunya keponakan yang ia miliki.
" Alhamdulillah seperti yang paman lihat", jawab Adel ramah.
" Maaf baru sempat menjenguk lagi".
" Gak apa-apa. Paman tidak perlu merasa bersalah. Paman pasti sibuk."
" Iya, kemarin Bibimu sakit dan tidak ada yang menjaganya," jelas Anton pada keponakannya.
" Bibi sakit apa?", tanya Adel penasaran.
" Hanya kelelahan ", jawab Lastri tersenyum palsu. Ia sebenarnya malas kalau tidak di paksa untuk ikut mana mungkin dia mau.
" Oh iya, kak Sakha kenal sama Pak Yudi?", tanya Nela penasaran.
Saat dulu ikut kedua orang tuanya menjenguk Adel ia melihat Sakha bersama Yudi di kantin rumah sakit. Lalu ia pun melihat sekertarisnya keluar dari ruang rawat Adel.
Nela memang tidak terlalu tahu kehidupan pribadi Adel. Karena ia tidak terlalu dekat.
" Ough iya, Yudi temanku saat kuliah dulu. Memangnya kenapa?", tanya Sakha.
" Pantas aku merasa melihat Pak Yudi sama kakak waktu di rumah sakit ", diam sejenak. "Sekarang aku kerja di perusahaannya ", tambah Nela singkat.
" Ough"
" Wah bisa dong?", seru Lastri tiba-tiba antusias saat tahu Sakha berteman dengan bosnya Nela.
" Maksudnya gimana?", Sakha mengerutkan dahinya.
" Maksudnya, mungkin kamu bisa membantu Nela minimal jadi karyawan tetap disana. Lebih bagus lagi kalau bisa naik jabatan ",
Sakha terbengong mendengar permintaan bibinya Adel. Berbicara tentang Adel dia enggan, kalau membahas anaknya langsung tancap gas.
Anton yang mendengarnya merasa malu. Bagaimana bisa istrinya meminta tolong seperti itu.
Begitu pula dengan Nela.
" Jangan di pikirkan, kak. Mama cuma becanda", Nela merasa tak enak hati dengan perkataan sang mama.
" Bercanda gimana? Mama serius. Jadi karyawan kontrak aja gajinya lumayan, apalagi kalau bisa jadi karyawan tetap atau malah naik jabatan".
" Kalau statusnya gimana? Udah nikah belum?" tanya Lastri lagi.
TBC
...---------------...
...Tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe juga ya....
...Dukung juga Karya author yang satunya lagi. "Cinta Untuk Ayunda "...
...Terimakasih...
...🥰🥰🥰...
__ADS_1