
Di Batas Waktu (43)
" Kamu sendiri, udah punya pacar belum?", tanya Tari penasaran.
Satria tidak langsung menjawab. Ia memarkirkan dulu mobilnya. Mereka memang sudah sampai di apartemen milik Tari.
Sementara Tari, ia di buat penasaran karena harus menunggu jawaban Satria.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Adel benar-benar di jadikan Ratu selama proses pemulihan. Sakha selalu ada di samping Adel menemani Adel selama 1 x 24 jam.
Bahkan ia sengaja tidak ke kafe dan lebih memilih bekerja dari rumah. Jika ada hal mendesak, barulah ia akan pergi.
Sakha sangat telaten merawat Adel. Menyiapkan obat dan selalu memastikan selalu tersedia air putih di atas nakas.
Bahkan Sakha sangat memperhatikan asupan nutrisi untuk Adel. Makanan yang bisa mempercepat proses penyembuhan ia sediakan. Mulai dari makanan yang tinggi protein, kalsium, zat besi juga yang mengandung berbagai macam vitamin yang bisa mempercepat penyembuhan, ia sediakan.
Makanan yang sekiranya akan menghambat proses penyembuhan Sakha singkirkan. Yang pasti, apapun akan ia lakukan agar Adel cepat sembuh.
Sakha pun tak pernah absen menemani Adel ke rumah sakit.
Adel sangat tersentuh melihat apa yang Sakha lakukan untuknya. Ya, inilah Sakha yang dari dulu memang sangat perhatian dan kini, perhatian itu hanya di tujukan untuknya seorang.
Setelah semua usaha yang dilakukan, akhirnya Adel mulai bisa berdiri walaupun baru sebentar.
" Minum dulu", Sakha memberikan air minum pada Adel.
" Terimakasih ", Adel minum dengan perlahan setelah membaca basmalah. Nafasnya masih tersengal. Peluh membasahi keningnya.
Padahal hanya berlatih berdiri dan itupun hanya sebentar, namun rasanya sangat melelahkan. Butuh perjuangan. Dulu, berjalan lama pun tidak mudah membuatnya lelah. Namun kini, jangankan berjalan berdiri lama pun Adel belum mampu.
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dusta kan?
Sering kali kita tidak bersyukur saat masih bisa berjalan dengan mudah, karena menganggap itu biasa. Membuat kita lalai menggunakan dengan baik. Bahkan mungkin malah membiarkannya melangkah di jalan yang salah.
Namun, di saat Allah mencabut fungsi kaki kita, barulah kita merasakan bahwa bisa berjalan adalah nikmat yang luar biasa.
Bukankah manusia harus merasakan kehilangan dahulu agar ia tahu betapa berharganya hal yang dianggapnya biasa saja?
Sakha mengambil sapu tangan handuk di atas nakas, mengelap keringat Adel yang bercucuran.
Adel mengambil alih untuk melap keringatnya sendiri. Namun, Sakha menolak.
" Maaf. Harusnya mas yang aku layani, bukan malah sebaliknya", terkadang perasaan tak enak itu tetap saja ada. Sekalipun Sakha tak pernah merasa keberatan atas setiap yang ia lakukan untuk Adel.
__ADS_1
" Kan kalau kamu sembuh, nanti kita langsung bulan madu, dan giliran kamu yang melayani mas nanti", Sakha tersenyum penuh arti.
Wajah Adel memerah. Terbayang sudah pelayanan seperti apa yang dimaksud.
" Kenapa malu?", tanya Sakha menyadari wajah Adel bak kepiting rebus. " Kan sudah biasa?", tambahnya disertai kekehan.
Memang sudah biasa. Tapi, tetap saja ia merasa malu.
" Iya, iya. Aku akan membayar semua yang mas lakukan nanti", jawab Adel akhirnya.
" Kok, aku ngerasa kesannya aku gak ikhlas dong kalau minta bayaran?", keluh Sakha.
" Aish, yang tadi minta balik di layani siapa?", Adel balik bertanya.
Sakha hanya menggaruk tengkuknya.
Adel meraih tangan Sakha yang duduk di samping. Ia meletakkan kepalanya di pundak Sakha.
" Tanpa mas minta, aku pasti melakukan semuanya. Bukan karena balas budi atas apa yang sudah mas lakukan. Tapi, sebagai bagian dari ibadah yang akan mendatangkan pahala ",
Sakha mengelus rambut Adel. Semakinlah ia merasa beruntung menikahi Adel.
" Setelah kamu sembuh nanti, kita langsung ke kota B ya?", ajak Sakha penuh semangat.
" Tapi, kita tinggal di rumah orang tua ku aja ya!", pinta Adel.
Tok...Tok ...Tok..
" Masuk aja, Ma", seru Sakha sambil turun dari ranjang.
Tidak ada orang lain di rumah ini, jadi Sakha sangat yakin itu pasti sang Mama.
Ceklek
Pintu terbuka. Mama Ria masuk dan tidak lupa menutup pintunya kembali.
" Di luar ada tamu. Mau ketemu kalian", Mama Ria langsung mengatakan maksud kedatangannya.
" Siapa , Ma?", tanya Adel penasaran.
" Pamanmu", jawab Mama Ria singkat.
" Ya sudah, sebentar lagi kita keluar", ucap Sakha sambil mengambil gamis Adel di dalam lemari.
Mama Ria pun kembali keluar untuk menemani Paman Adel dan keluarganya sampai Adel dan Sakha selesai bersiap. Ya, Paman Adel tidak sendiri, ia datang bersama istri dan anaknya.
__ADS_1
Sakha membantu Adel mengenakan gamis dan kerudungnya. Ia membantu dengan sangat hati-hati.
Setelah selesai, Sakha membantu Adel duduk di kursi rodanya. Perlahan mendorong kursi roda sampai ke ruang tamu dimana Mama Ria sedang mengobrol dengan paman juga istri dan anaknya.
***
Sementara di kafe milik Sakha, Satria sedang menyantap makan siang bersama seorang wanita. Dia tidak lain adalah Tari.
Hubungan mereka semakin dekat apalagi setelah malam dimana Tari bertanya tentang status Satria yang ternyata masih jomblo. Dengan keberanian dan menekan harga dirinya sebagai seorang wanita ia mengajak Satria untuk menjalin hubungan.
Satria yang di tembak mendadak jadi bingung. Ia belum terlalu kenal dengan Tari juga usianya yang lebih muda dua tahun dari Tari membuatnya menyangka Tari hanya sedang bercanda atau sekedar menjadikannya pelarian dari Sakha.
Namun, Tari menyangkal semua pikiran Satria. Ia sungguh-sungguh dengan ucapannya. Bahkan Tari tak peduli saat Satria mengatakan latar belakang keluarganya, yang kalau di lihat dari sudut manapun tidaklah sepadan. Itu anggapan Satria.
Tari pun menjelaskan bahwa ia merasa nyaman dengan Satria. Ia tak merisaukan jika di cap menyukai berondong. Adapun masalah sepadan dan tidak sepadan, ia pun tak mempermasalahkannya. Ia tak mencari pasangan yang kaya, karena keluarganya sudah kaya. Namun, ia mencari pasangan yang bisa membuatnya nyaman.
Akhirnya mereka mencoba untuk menjalaninya saja terlebih dahulu. Apakah mereka cocok atau malah sebaliknya. Apalagi dari pandangan Satria, Tari memang sebenarnya memiliki hati yang baik. Hanya saja ambisi membuatnya hampir salah melangkah.
" Honey, cobalah ini. Ini enak", Tari menyuapi Satria dengan makanan yang ia bawa sendiri. Makanan yang ia masak dengan tangannya sendiri.
Walaupun agak malu-malu, Satria menerima makanan itu dan langsung mengunyahnya.
" Bagaimana? Enak?", tanyanya penasaran.
"Enak", jawab Satria jujur.
Satria tidak sedang membuat Tari senang, namun ia memang mengakui bahwa Tari ternyata pandai memasak.
" Aku masak ini khusus untuk mu", ucapnya malu-malu.
" Terimakasih. Aku gak nyangka kamu pandai masak.Ini benar-benar enak", puji Satria lagi sambil menyodokkan makanan ke mulutnya dengan tangannya sendiri.
" Iya, ibuku sangat cerewet soal ini. Katanya aku harus pandai masak supaya bisa memanjakan lidah suamiku nantinya", Tari tertawa ingat saat dia awal-awal belajar memasak dengan ibunya. Dapur jadi seperti kapal pecah.
Mereka pun makan di selingi obrolan ringan. Sambil melihat pemandangan jalanan yang ramai. Karena mereka saat ini makan di lantai dua dimana mereka bisa melihat pemandangan kota.
" Tari, kamu ada disini?", suara bariton seorang pria mengagetkan keduanya.
TBC...
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Like, komen dan subscribe. Bintang 5 nyan juga ya!
Mampir juga ke karya Author yang baru, judulnya " Cinta Untuk Ayunda"
__ADS_1
Terimakasih 🥰 🥰🥰🥰🥰