
Erik, tak menyangka cewek Yang dia tolong peduli padanya. Terlihat dia keberatan saat Memapah dirinya "sudah lepaskan saja, gak apa say bisa sendiri."ucap Erik, dia tidak mau menyusahkan nya.
Berhenti di sebuah perumahan elit,"sebaiknya saya pergi saja."dengan wajah babak belur penuh luka. "Jangan dulu, gak apa itu rumah saya "sambil menunjuk rumah nya.
Erik, dia tidak menyangka cewek yang dia tolong orang kaya. Makin lah Erik malu melihat dirinya yang kumel, kotor, melihat cewek yang di tolongnya rupanya orang kaya."mbak tapi sebaiknya saya pulang,"Erik berdiri dengan kakinya yang masih terlihat berjalan pincang karena di tendang preman.
"Ayo, saya obati dulu. Gak apa." Ujar cewek yang di tolong Erik dia memaksa. Sambil berjalan menuju rumah nya.
Sampai lah di rumahnya, terlihat besar "ayo duduk, saya Devi btw terimakasih sudah menolongku tadi. Sebentar saya bawa obat dulu mas tunggu ya."ucap nya beranjak ke dalam.
Erik melihat-lihat rumah nya yang berwarna putih mewah, "mas maaf menunggu." Saat Devi keluar dari dalam."saya Erik, "ucap Erik , Devi tersenyum. "Bi mana minumnya"panggil Devi pada pembantunya.
"Mbak, gak usah repot-repot,"ucap Erik meski dirinya lapar dia malu, "maaf non, ini" pembantu nya melihat Erik yang terlihat babak belur.
Devi membersihkan luka Erik, "mas Erik tinggal di mana?,"tanya Devi sambil mengobati luka nya. "Saya gak tinggal di mana-mana, baru Sampai kota. Mau nyari kerja."jawab Erik.
Terlihat Erik, begitu kesakitan namun dia berusaha menahannya saat lukanya di bersihkan alkohol."tahan ya mas, mas emang gak ada saudar gitu di kota."ucap Devi melihat Erik yang terlihat kotor. "gak ada mbak, saya dari kampung sendiri."sahutnya.
Krekkk
Pintu terbuka, ibunya Devi keluar. "Devi, siapa yang kau bawa. Sini sebentar."ucap ibu nya. "maaf ya mas saya ke dalam sebentar."ujar nya,
Hari sudah terlihat Malam, terlihat sepi saat menatap sekeliling perumah orang kaya itu. Hanya di depan ada satpam sedang tunggu. Erik bingung harus tidur di mana malam ini?
Terdengar ibunya Devi memarahi nya ,"kenapa kau bawa gelandangan kesini!!"ucap ibunya, Erik kaget saat mendengar dirinya di sangka gelandangan."Bu, dia bukan gelandangan. Dia Hanya dari kampung nyari kerja katanya. "sahut Devi. "Gak, suruh dia pulang. Lihat dia kotor gitu." Ibunya minta Devi mengusir Erik.
Erik langsung beranjak pergi, dengan berjalan tertatih-tatih. Sudah biasa baginya di perlakukan begitu. "Erik .."panggil Devi dari pintu gerbangnya. Erik menoleh, Devi berlari. "Kenap pergi,"ucap nya, Erik tersenyum "terima kasih ya, tapi sebaiknya aku pergi." Sahut nya.
"Emang kau mau tidur di mana?"Tanya Devi, Erik bingung dia hanya diam sambil meliri sekliling. "Sudah tidur di rumah ku saja ayo. "Ajak Devi, masuk Kembali ke rumahnya. Ia Kembali masuk rumahnya.
__ADS_1
"Ayo ke belakang," masuk rumah dari belakang. Terlihat ada pembantu nya sedang di dapur. "Permisi.."ucap Erik saat melewatinya sambil tersenyum .tapi pembantunya sepertinya jijik pada dirinya.
"Tidur di sini gak apa kan," ucap Devi terlihat seperti gudang dekat dapur. Ada sofa bekas. 'iya gak apa terimakasih ya, "meski begitu ia sudah sangat bersyukur.
"Sudah, gue masuk dulu ya. "Ucap Devi keluar lagi dari gudang. Erik berbaring sambil menutup mata.
Tok-tok-tok,"Erik ."dengan suara pelan memanggilnya erikpun terbangun dengan berjalan tertatih-tatih membuka pintu. Saat di buka Rupanya Devi membawa minum dan cemilan"ini barangkali Lo lapar. Sudah ya selamat tidur."ujar nya dia pergi lagi.
Erik duduk kembali, sambil makan cemilan dia bingung bagaimana dengan hp nya Mira. Mungkin dia kahwatir aku tidak mengabarinya.
Tapi saat melihat hp nya sudah tidak bisa di perbaiki, erikpun pasrah. Menghela nafas iapun berbaring dan tidur kembali.
❇️❇️❇️
Tok-tok "Erik, bangun.."Devi membangunkan Erik . Ia pun bangun melihat di luar sudah pagi. Sambil berjalan pelan dia membuka pintu semua badanya terasa begitu sakit.
Devi terlihat senyum, sudah rapi akan kerja. "kau hari ini mau kemana?,"tanya Devi. "Sepertinya mau nyari kerjaan. Oh ya bisakah saya numpang mandi."ucap Erik. "ya sudah ayo."ajak Devi , iapun membawa tasnya dan beranjak ke kamar Devi sambil mengendap-endap di pagi buta itu.
"Ayo masuk, cepat ya nanti orang tua gue lihat. "kamarnya begitu besar. Erik langsung mengeluarkan handuk dari tasnya langsung beranjak ke kamar mandi.
"Terimakasih banyak ya," ucap Erik, dia sudah terlihat berpakaian rapi mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Devi terus bengong. Erik mengemasi lagi barangnya ke dalam tas. "Saya harus pamit." Sambil menggendong tasnya.
"Erik, kalo ada apa-apa kasih tahu saya. Mana nomor mu. Eh iya lupa ponselmu rusak ya,"ucap Devi. Dia terlihat membuka lacinya. "Ini pakai ponsel bekasku, masih bagus kok."Devi memberikan ponsel bekas nya.
Tentu saja dia senang. "ini nomor ku." Sambil memberikan nomor telponnya dalam secarik kertas. Erik menerimanya dia senang bisa kembali mengganti ponsel Mira. "Saya pamit ya sebelum ketahuan ibumu."beranjak keluar kamar Devi mengendap-endap.
Namun ternyata mereka sudah bangun, Devipun bingung. "Lewat depan ayo "ucap Devi namun sayangnya ayahnya melihat Devi. "Devi... Siapa dia!!" Ucap ayahnya saat Erik akan keluar .
"Sudah ibu katakan suruh pulang malah di bawa ke rumah. Pak dia geladangan. "Ucap ibunya saat melihat Erik. Ayahnya berdiri. "apa!! Kau bawa gelandangan ke rumah. Kau fikir sudah kaya. Rumah ini pantai sosial apa?"ayah nya marah pada Devi.
Erik Hanya menunduk," pah, Bu , dengar dia bukan gelandangan dia yang menolong Devi. Kalo ga ada dia Devi gak tahu lagi mungkin hidup Devi hancur dengan preman-preman jalan itu."Devi membela Erik.
Ayah dan ibunya pun diam saling menatap. "Apa sih ribut,"ucap seorang cowok turun dari atas dengan pakaian kantornya. "Bram, Devi bawa gelandangan ke rumah."sontak cowok itu tertawa. "Apa Lo bawa gelandangan, "sambil menatap Erik .
Melihat jam sudah pukul 6 .40 Erik pun harus pergi .
__ADS_1
"Maaf saya pamit, sudah telat. "Ucap Erik , mereka pun langsung menoleh padanya .
"Erik, iya kau mau melamar kerja ya, ya sudah ayo..."Devi langsung mengambil roti dan pergi bersama nya.
"Ini makan,"Devi memberikan roti dan berlari bersamanya. "Kau akan melamar di mana?,"Tanya Devi . "Aku melamar di mini market, aku hanya lulusan SMA . "Jawabnya.
Karena beda arah erikpun berpisah dengan Devi, Rupanya ada beberapa orang juga yang akan melamar sepertinya. Dengan nafas tengah-tengah karena berlari dia Sampai juga.
Orang-orang terlihat menatapnya, "mas melamar juga ya?,"tanya seseorang yang berada di hadapannya. "Iya"jawab Erik.
"Maaf mas, yang mau lemar ayo masuk ."ucap kasir. Keluarkan lamarannya silahkan kumpulkan.
Bersama Yang lain Rupanya tidak sendiri, tapi Erik yakin dia akan keterima. Saat di panggil Erik langsung masuk dan duduk .
"Mas , baru lulus ya. Belum pengalaman"ucap yang mewawancarai Erik.
"Iya, mbak.."sahut Erik .
"Maaf ya mas, ini untuk yang berpengalam dulu. Tapi nanti saya pnggil lagi ya. Terimakasih "ucapnya .
Erikpun dengan lemas keluar, dia bingung harus nyari kerja kemana? melihat uang yang tinggal 140 RB dari Mira.
Sambil berjalan tidak tentu arah, hari terasa begitu panas terus berjalan melihat sepanjang jalan banyak pengemis . Sebegitu susahnya nyari kerja di negeri ini. "Bahkan Hanya sebagi pegai toko saja."gumamnya dalam hati.
Terdengar ponsel bunyi, rupanya ada pesan dari Mira. \[Erik, Giamana sudah dapat kerja. Kau tinggal di mana? aku selalu memikirkan mu\] pesannya . Dia bingung harus jawab apa karena belum dapat kerja dan tidur pun di jalanan.
Sambil duduk termenung, ia berfikir Harus kemana lagi? Perut nya yang terdengar bunyi sedari tadi karena hanya makan satu roti. Melihat uang yang hanya tinggal sedikit. Erik pun bingung masa harus pengemis.
"Tidak, aku bukan pecundang yang hanya meminta belas kasih orang." Ucap Erik, berjalan kembali mencari kerjaan . Diapun tidak memilih-milih kerjaan apapun akan ia kerjakan walaupun harus kerja berat.
__ADS_1