DI KIRA MISKIN TERNYATA SULTAN

DI KIRA MISKIN TERNYATA SULTAN
part 24


__ADS_3

"Mira..bangun."panggil ibunya, "mau Sampai kapan tidur. Erik pergi sana kerja, aku gak Sudi punya menantu pengangguran."ucap ibunya Mira.


Erik terbangun, "Mira gue harus pergi. Jangan lah ikut kau di rumah saja ya, kalo ada apa-apa kan bisa nelpon."bujuk Erik supaya Mira tidak ikut.


"Ya sudah, tapi jangan nakal di rantau sana"sahut Mira. Erik pun beranjak mandi dan bersiap, Mira menyiapkan sarapan untuknya.


"Mira, kalo anak mu sudah lahir ceraikan dia. Ibu gak mau punya menantu sepeti dia. Iya kan pak, lihat tetangga pun membicarakan mu mereka pun ogah punya suami seperti Erik kau ke Kenapa kau mau."ucap ibunya Mira dengan suara yang keras.


Erik yang sedang mandi pun mendengar nya, dia Hanya bisa diam sambil mengelus dada. Entah Erik berfikir kenapa orang-orang begitu tidak Suka padanya. Erik selalu berfikir dirinya salah apa?


Selesai mandi ia bersiap berangkat,"sayang, ini sarapan dulu." Mira memberikan nasi pada Erik.


Erik pun memakannya, Mira mengambil uang dari lemarinya. "Ini, pakailah.."memberikan uang 500 RB. "Gak, simpan lah buat mu, aku masih ada itu untuk kebutuhan mu di sini."ujar Erik menolaknya.



"Gak apa, pakailah nanti kau akan butuh. Aku di rumah ada ibu dan bapak masih bisa minta bantuan."ucapnya.


Karena Erik pun butuh akhirnya dia menerimanya. Yang dia punya hanya uang 300 RB untungnya Mira baik. Dia tidak rewel seperti perempuan kebanyakan.


Pagi hari, saat Erik akan berpamitan pada ibunya Mira ibunya tidak sama sekali mau berbicara padanya "Bu... Saya berangkat."ucap Erik, bahkan dia tidak menjawab perkataan Erik.


Dengan hati yang terluka Erik pergi di temani Mira, "jangan di fikirkan, ibu memang begitu." Ucap Mira.


"Naik kereta saja biar murah. "Usul Mira Erik menoleh padanya "iya .. "jawab Erik.


Sepanjang jalan mereka terus di tatap tetangganya, "Mira kasihan kamu masih muda sudah harus merasakan hidup susah. Lihat Mira teman seumuran masih menikmati masa muda kesana kemari beli yang mereka mau."ucap tetangga.


Mira hanya tersenyum, sambil mengantar Erik ke stasiun yang jarak nya lumayan agak jauh sambil berjalan kaki.


"Sudah lah, kau pulang saja. Gak apa aku bisa sendiri" ucap Erik .



"Gak apa, bentar lagi sampai." Jawab Mira.


Berjalan berdua, terlihat sudah banyak orang di stasiun yang akan ke kota. Mira dia terpaksa tidak ikut karena Erik yang memintanya.


Sampai di stasiun Erik membeli tiket Mira duduk menunggu nya. Erik tersenyum beranjak duduk di sampingnya.


"Apa kau menyesal menikah muda?,"tanya Erik .


"Gak, aku sama sekali gak menyesal aku akan menyesal jika kau menikah dengan orang lain."ujarnya.


Erik tertawa, dulu dia tidak ada rasa cinta sama sekali buat Mira. Meski Mira mengajar-ngejarnya tapi sekarang dia berubah haluan.

__ADS_1


"Mira, setelah dari sini tolong kerumah ibu ku katakan maafku pada ibu dan bapak. Katakan aku pergi ke kota, aku belum berpamitan pada mereka. "Ucap Erik mirapun mengiyakannya.



Kereta pun terlihat datang, Mira berdiri "semoga kau cepat kerja ya, aku akan selalu menunggumu."ucap Mira sambil mencium tangan Erik. "Iya, jaga anak kita" sahut Erik sambil mencium keningnya.


Erikpun beranjak masuk kereta sambil melambaikan tangan pada istrinya.


Mira sedih saat harus berpisah lagi dengan Erik yang kini jadi suaminya.


Keretapun pergi , Mira mengehal nafas kembali pulang ke rumah orang tuanya Erik sambil berjalan. Dia tersenyum dalam hati nya masih tidak percaya bisa menjadi istrinya Erik.


Dulu dia sudah menyerah karena Erik tidak peka padanya.


Terdengar ribut saat Mira akan masuk rumah orang tuanya Erik.


Tok-tok-tok "pak, Bu..."ucap Mira , rupanya ayah dan ibunya Erik sedang bertengkar . "Iya Mira , ada apa? mana Erik..."ucap ayah nya Erik.


"Ini lagi, cewek gatel dengar kau kan yang duluan menggoda Erik..."pekik ibu Erik membuat Mira kaget. "Bu, diamlah ..."sahut ayah Erik.


"Pak, Erik sudah pergi ke kota, dia minta Mira untuk menyampaikan dia minta maaf tidak sempat ke sini."ucap Mira.


"Oh, ya sudah gak apa. Mira harusnya Erik bahagia. Tapi nyatanya sekarang dia masih susah. Bapak ingin tahu dia sekuat apa menjalani hidup yang keras inj."sahut ayahnya Erik.


Perkataan ayah mertuanya membuat Mira bingung dengan maksud nya. "Ya sudah pak saya pamit. "Ujar Mira beranjak meninggalkan rumah mertuanya.


Sementara Erik di dalam kereta dia terus memikirkan harus nyari kerja apa lagi, ke pabrik sudah pasti begitu harus ada orang dalam atau uang.


Dengan uang 800rb di dompetnya dia menuju kota tempat Eza kuliah. Berharap ia cepat dapat kerja apa lagi sekarang dia punya istri tanggungannya.



Dret...Dret... Ponselnya bergetar dalam saku celananya, ia pun melihat ya. \[ Erik Lo sudah berangkat \] pesan dari Eza, \[iya za, gue lagi di kereta.\] Balas Erik. \[Ya sudah, gue kuliah dulu ya nanti pulang gue jemput\] balas Eza.


Hari begitu cerah, melihat keluar jendela kereta terlihat persawahan yang membentang luas sejauh mata memandang.


Mungkin pemuda seusianya masih menikmati masa mudanya, mengejar mimpinya tapi Erik dia harus menanggung beban anak orang. Karena nafsu yang tidak bisa iya kendalikan.


Erikpun tidur, karena perjalanan masih lumayan jauh.



\*\*\*\*\*


Priiittt

__ADS_1


Siang hari Terdengar suara Pluit, Erik membuka mata . Orang-orang terlihat turun. "Mbak maaf apa ini stasiun kota?"tanya Erik pada seorang perempuan. "Oh iya mas ini stasiun kota.."jawabnya.


Erik pun langsung turun. Melihat jam sudah pukul 1 ada pesan Dari Eza. [ Rik, sudah sampai belum gue baru keluar dari kampus.] Pesannya. [ Ini baru sampai, cepat Lo kesini geu tunggu] balas Erik.


Sambil menunggu Eza datang, Mira sedari tadi rupanya menelpon namun Erik tidur sepanjang jalan.



\[Yang, sedang apa kenapa gak di angkat \] pesan dari istrinya.\[maaf, tadi aku tidur ini sudah di stasiun nunggu Eza\] balas Erik.


Erik sudah lama tidak bertemu temannya itu, dia ingin tahu Eza yang sekarang bagaimana.


Dret...dret...ponsel Erik getar rupanya Eza yang menelpon. Erik langsung mengangkat nya.


"Rik, Lo di mana gue di depan stasiun keluarlah ." Ucap Eza.


Erik pun beranjak keluar stasiun, terlihat Eza dia senyum memakai motor dengan tubuhnya yang agak gemukan mengenakan kacamata.


"Hey, lo masih sama ya..."ucap Eza saat melihat Erik yang tubuhnya tetap kurus." Ah beginilah gue, Lo senang ya lihat Lo tambah gendut jadi gemoy gini "sahut Erik sambil tertawa.


"Ayo cepat naik gue capek," ucap Eza.


Merekapun pergi ke kosannya Eza, dalam perjalanan Eza melihat Erik makin memprihatinkan . Dengan wajahnya makin hitam tubuh kurus.


Eza memakluminya mungkin Erik banyak fikiran, sejak SMA dia selalu di marahi ibunya. Eza tahu ibunya seperti tidak Suak padanya dan Eza tidak tahu apa sebabnya.



"Lo hidup senang ya di kota."ucap Erik memulai pembicaraan karena selama di perjalanan Eza diam.



"Senang dari mana stress yang ada, gue kira kuliah enak malah lebih pusing Dari sekolah, Rik ." Jawab Eza.



Erik tertawa, "setidaknya Lo bisa kuliah, siapa tahu suatu saat Lo bisa dapat kerjaan bagus." Ujarnya.


Sampailah di kosan Eza, "ini kosan gue, ayo naik.." Erik turun dari motornya berjalan ke lantai 2. "Masuk..."melihat kosan Eza yang terlihat rapi.


Erik membaringkan dirinya di tempat tidur Eza. "Rik, Kenap Lo bisa menikah dengan Mira. "tanya Eza. Itu yang buat Eza bertanya-tanya.


"Za Mira rupanya berbohong. Pada orangtuanya dia berkata ingin kerja bersama temannya dan dia bilang tidak bisa melanjutkan kuliah karena ekonomi tapi rupanya dia bohong supaya bisa dekat dengan gue "ucap Erik .


"Mira hamil, salah gue karena dia numpang di kosan gue beberapa hari dan gue gak bisa nahan nafsu gue. Lo tahu sendiri Mira selalu menggoda gue. " Ucap Erik

__ADS_1


Eza kaget dia tidak menyangka kalo Mira bisa seperti itu, membohongi orang tuanya supaya bisa bersama Erik.


__ADS_2