DI KIRA MISKIN TERNYATA SULTAN

DI KIRA MISKIN TERNYATA SULTAN
part 37 Terpaksa menjual diri


__ADS_3

Erik, sudah merasa lelah dengan ibu nya yang terus memerasnya. Ia berfikir untuk membawa anaknya ke rumah majikannya. Namun apakah majikannya gak keberatan jika Erik kerja bawa anak?


Malam hari, setalah mengirim uang ke kampung ia pun berniat minta izin pada majikannya.


"Erik, kau dari mana?" Tanya bibi.



"Itu, dari luar sebentar. Ibu dan bapak ada bi..."sahut Erik.



"Ada, mau apa ?" Bibi melihat Erik heran.



"Gak, mau minta izin bawa anak boleh gak ya..."



"Ya sudah, coba saja tapi Erik seperti nya gak akan boleh. Apalagi masih kecil nangis tengah malam. " Ujar bibi.



Memikirkan perkataan bibi, Erik pun berfikir dua kali.



Makin pusing lah dia, "ya sudah lah Bi, aku mau ke luar dulu kunci gerbang."



Sementara di kampung, ibunya nampak bahagia setelah Erik mengirim uang. Ia langsung belanja keperluan dirinya. Padahal Erik mengirim buat susu dan popok anaknya.



Saat pulang ke rumah, ibunya melihat suami nya sedang tertidur. "Pak.... Pak... Kenapa malah tiduran di sini!"



"Bu...bapak merasa gak enak badan, mag bapak sepertinya kambuh lagi. Bapak gak kuat perut bapak sakit," Keluh ayah Erik.



"Aduh pak, jangan sakit lagi gak ada uang."



Sambil membawa belanjaan ibunya Erik menidurkan anaknya Erik, diapun berajak ke warung beli obat.



Meringis kesakitan, ayah Erik seperti sudah tidak kuat lagi. "Pak, ayo minum obatnya." Dengan cepat istrinya memberikan obat.



Terlihat keluar keringat dingin, wajahnya pucat. Istrinya bingung tidak ada yang bisa di minta tolong, melihat tetangganya sama sepeti dirinya orang tidak punya.



"Pak, ayo ke kamar. Ibu masakin telur ya makan dulu..." Ucap istrinya.


Anaknya Erik menangis, makin di buat bingung "si Erik, kapan sih dia bawa anaknya. Bapak juga ngapain dulu anak begitu di pungut." Terus ngomel sambil masak. Anak erik terus menangis.


"Rio...lagi apa kamu. Sini bantu ibu mu." Begitu kesal ibu malam itu.


"Ini, pak makan lah jangan sakit pak. Ga ada uang buat berobat."ujarnya.



"Tunggu sebentar pak, ibu ke tetangga dulu. " Meninggalkan anaknya Erik yang sedang menangis. Ibunya Erik beranjak ke rumah tetangga.


Tok-tok-tok!


Mengetuk pintu malam-malam, "bi, mau numpang nelpon lagi. "Sambil tersenyum, "CK...ganggu aja. Bisa gak sih besok aja."ucap tetangganya.


Dengan wajah masam menelpon Erik, "ini...."memberikan telponnya pada ibu.

__ADS_1


"Iiya.. Bu ada apa lagi?" Tanya Erik.


"Eri, bapakmu sakit. Dia perlu biaya buat berobat ibu bingung harus nyari uang Kemana lagi." Sahut ibunya.


Menghela nafas, Erik sudah gak punya apa-apa. "Bu, pake dulu uang yang Erik kirim ya, nanti Erik cari lagi buat beli susu anak ku." Balas Erik.


Ibu nya terdengar kebingungan, "tapi....tapi Erik, uang itu sudah habis. " Ucapnya.


"Apa ...ibu pake buat apa? Bukankah untuk beli susu, masa baru Erik kirim sudah habis." Erik kaget dengan ibunya begitu cepat menghabiskan uang.


"Iya, ibu belikan susu juga keperluan rumah. Kau fikir kita gak butuh makan. Pokonya kau cari cara, gimana dapat uang buat ayah mu berobat. sudah." Langsung menutup teleponnya.


Erik makin setress di buat ibunya, dia bingung harus nyari uang kemana lagi. Duduk merenung di taman sendiri.


Berfikir gimana lagi, harus kemana?



Radit tiba-tiba datang, "Lo kenapa?"tanya Radit, "mau ngapain Lo...Lo gak akan tahu penderitaan orang susah. Yang Lo tahu hanya main, makan, senang-senang. Sana Lo pergi. Gue sedang setress."jawab Erik dengan ketus



Radit malah tertawa, "Lo kok malah nyolot. Gue memang ga tahu dengan penderitaan Lo. Dengar gue tahu lo butuh uang lagi kan? Orang-orang seperti mu pasti bingung masalah uang, gue bisa bantu tapi ya itu syaratnya. Gue bisa kasih lebih bagaimana." Sambil menggerakkan alisnya tersenyum menatap Erik yang sedang bingung.



"Aarggg enyah lah Lo, gue jijik membayangkan nya juga...." Bentak Erik langsung beranjak pergi dari hadapan Radit.



Masuk kamar nya, Erik tidak tahu harus apalagi. Haruskah dia menjual dirinya demi uang?



Erik pun menangis, sudah tidak kuat menjalani hidupnya. Menghela nafas. Dia pun. Sudah tidak tahu lagi harus apa .


Tengah malam, Erik berajak ke kamar Radit dia terpaksa melakukannya. Erik tidak tahu harus minta tolong kemana?


Tok-tok-tok!


Radit membuka pintu , "baik lah, tapi jangan kasih tahu Eza." Ucap Erik, malam itu Erik terpaksa melayani Radit.




Dalam hatinya dia merasa bersalah pada Eza sahabatnya. Namun tidak ada pilihan lain.



Setelah puas Radit berbaring lemas, "jangan bilang pada Eza..."ucap Erik, sambil menatap ke atas. "Tenanglah, gue tahu.."jawab radit. Diapun bangun, mengambil uang "ini, 2 JT sana pergi." Ucap Radit.



Erik langsung berpakaian Kembali dan mengambil uang nya, iapun langsung beranjak ke kamarnya Kembali.



Erik menangis, dia merasa dirinya kotor. Hanya untuk uang 2 JT sampai menjual tubuhnya.



Iapun tertidur, sambil memegang uang dari Radit.


*****


"Erik..." tok-tok!



Bibi mengetuk pintu, Erik bangun ia kesiangan. "Iya, bi.."langsung beranjak ke luar. Membuka gerbang.


Rasa sakit, masih ia rasakan. Radit senyum saat menatapnya membuat Erik takut, dia langsung pergi ke dapur.


" Bi, aku keluar sebentar ya...." Ucapnya.


" Mau kemana? Masih pagi." Sahut bibi.

__ADS_1


"Ini mau kirim uang, bapak sedang sakit perlu biaya berobat." Balas Erik.



"Ya sudah, jangan lama.." ujarnya.



Berjalan sendiri, mengirim uang pada ibunya. Erik memikirkan kejadian semalam. "Aku seperti pel4c\*r saja."gumamnya.



Namun tidak ada pilihan lain, walau masih terasa sakit juga menangis dalam hatinya.



Setelah mengirim uang, iapun langsung menelpon ibunya.



"Bi, tolong kasihkan pada ibu ya..." Ucap Erik.



"Ganggu saja terus, Erik belikan sana ibumu ponsel jangan terus nebeng tetangga. Mengganggu saja."ucapnya.



"Iya, maaf Bi..."sahut erik



"Ya sudah tunggu..."ujarnya.



Erik tahu pasti tetangga nya terganggu, tapi mau bagaimana lagi.



"Iya Erik, gimana?"tanya ibu



"Bu, Erik sudah kirim 2 JT buat ayah berobat juga buat susu anak Erik. Ingat jangan minta lagi Erik gak ada lagi uang .."sahut nya.



"Nah, begitu dong ya sudah ibu mau bawa ayah ke rumah sakit."sambil menutup telponnya.



Ibunya, tentu senang "ini bi..." Sambil memberikan poneslnya."lain kali beli jangan numpang terus, ke ganggu yang punya tahu."sahut tetangganya.



Ibunya sudah dapat uang lagi, dia pagi itu bahagia. "pak, ayo ke puskesmas ya.." Ucapnya.



Pagi itu, ibu membawa ayah nya Erik berobat.


Erik Kembali, dia memikirkan Adam anaknya di kampung. Dia merasa berat meninggalkan nya.


"Erik, dari mana?" Tanya majikan nya .



"Pak, dari luar sebentar. "sahutnya.



" Ya sudah, bapak mau berangkat. "Majikannya masuk kedalam mobil. Erik membuka gerbang majikannya pun pergi.



"Kapan aku bisa begitu, punya mobil bagus .."gumam nya, sambil berkhayal. Melihat mobil yang di kemudikan majikannya.

__ADS_1



"Hanya mimpi bagiku , "sambil menutup gerbang, iapun kembali kerja pagi itu.


__ADS_2