
Erik, pagi hari saat dia sedang membuka pintu gerbang terlihat kakanya Radit sudah keluar dari rumahnya.
Hanya senyum yang Erik tunjukan, "mau kemana, mbak pagi begini?"tanya Erik, "mau kerja, saya lumayan jauh tempat kerjanya jadi gak tinggal di sini." Sahutnya dia pun pergi sambil menatap Erik.
Erik, dia tertarik dengan kakanya Radit namun dia tahu diri siapa dia.
Dret... Dret...ponselnya bergetar , Erik langsung mengangkat nya.
"Hallo..."ucap Erik karena tidak tahu siapa.
"Erik, ini ibu. Iya uang yang kemarin sudah habis. Ibu perlu uang lagi buat beli susu anak mu, juga buat pokoknya."sahutnya.
"Bu, baru kemarin Erik kasih, Erik belum gajian lagian itu juga pinjam. Bu tolonglah Erik, kalo ada pun Erik langsung kirim." Erik memelas pada ibunya.
"Dengar ya, ibu sudah capek ngurus anakmu. Kau fikir apa-apa gak di beli. Ibu berehenti jualan karena anak mu. Sekarang ibu bingung kalo begini, bawa saja anak mu." Ucap ibunya Sambil menutup teleponnya.
Erik bingung ibunya terus memerasnya, dia baru kemarin mengirim uang ke kampung tapi rupanya sudah habis. Ia tidak tahu harus minjem sama siapa lagi?
Sementara ibunya di kampung, pagi itu dia ingin mengembalikan anak nya Erik pada ibunya Mira,
Ayah Erik sudah berangkat ke tempat kerjanya pagi itu, dengan membawa anaknya yang masih kecil dan juga menggendong anak nya Erik ia pergi ke rumah ibunya mira.
"Enak saja, aku capek dia enak-enakan sendiri. "Gumam ibunya Erik Sambil berjalan menuju rumah ibunya Mira.
Sesampainya di rumah ibunya Mira , terlihat Dia sedang di luar menjemur pakaian. Juga ada tetangganya sedang mengobrol.
Ibunya Mira sontak kaget melihat ibunya Erik datang membawa anaknya Mira, "mau ngapain kau ke sini!" Ucap ibunya Mira, dia langsung beranjak ke rumahnya cepat-cepat, tapi ibunya Erik langsung menariknya.
"Dengar ya, ini cucu mu. Kau tahu aku sudah capek ambil lah. "
"Aku tidak mau, sana pergi. Bawa anak ini aku tidak sudi punya anak dari keluarga mu. "Ibunya Mira langsung mengembalikan anaknya.
"Enak saja kau ya, Sudah punya menantu kaya kau tidak mau menerima cucumu. Lihat saja kau akan mendapat hukuman nya! Cham kan itu..."begitu emosi nya ibunya Erik saat anaknya di kembalikan lagi.
Tetangga sekitar hanya melihatnya saja, terpaksa ibunya membawa anaknya Erik Kembali.
"Nasib...nasib...Kenapa bapak bawa anak itu sejak kecil, sok-sokan kasihan sekarang malah jadi beban ku. "Ibunya terus ngomel sepanjang jalan menuju rumah nya.
Erik, bingung dia harus minjam uang pada siapa lagi. Sambil kerja di luar rumahnya Radit .
"Rik, kaya gak semangat gitu kerjanya," tanya bibi yang sedang menjemur pakaian di belakang rumah.
"Bi, iya banyak fikiran." Sahut Erik.
Bibi menghampirinya, "ada apa lagi sih, tiap hari selalu aja banyak fikiran." Ucap bibi.
"Bi, setelah punya anak banyak biaya ternyata. Erik bingung ibu minta lagi uang di kampung." Keluhnya.
__ADS_1
Bibi tersenyum , "makanya Rik, kalo mau berumah tangga itu fikirkan dulu, jangan hanya enak-enaknya saja waktu melakukan. Tapi biayanya sesudah punya anak lebih pusing. Apalagi sekarang apa-apa mahal kerjaan susah." Bibi malah menasehatinya.
Erik pun sudah tahu, dan diapun menyesal namun sudah telat dan sekarang terpaksa harus menerima semua yang sudah terjadi.
"Maaf ya, bibi gak bisa bantu." Sahut bibi beranjak kembali masuk ke dapur.
Memang benar apa kata bibi, menikah hanya enaknya sebentar. Tapi sudah punya anak orang-orang tidak punya seperti dirinya malah tambah beban.
Menghela nafas, sambil Kembali kerja.
Siang hari, saat Erik kerja mobil Radit datang iapun beranjak membuka gerbang.
Melihat Radit, Erik ingin mencoba minjem uang padanya.
"Ada apa?," Tanya Radit saat keluar dari mobilnya melihat Erik berdiri.
"Emmm, gue mau minta tolong."sahut Erik.
Tersenyum sinis, "gue sudah tahu..."jawab Radit belum juga Erik bicara.
"Berapa .."tanya Radit,
"1 JT saja.." sahut Erik.
"Boleh saja, gue bisa kasih tapi ada syaratnya..."
Erik langsung menoleh, "apa...."ucap Erik langsung senang.
"Apa!! Lo gila...." Erik langsung jauh dari Radit.
Radit. Tertawa sambil bejalan masuk ke rumah nya.
"Dasar gak waras, sakit..." Erik terus ngomel sendiri.
Sambil berfikri, Radit menawarkan uang 1 JT jika dia melayani nya. Erik merasa jijik jadinya. Tapi diapun bingung harus minjem sama siapa.
Erik berfikir, ga mau dengan tawaran ya Radit. Dia merasa jijik.
_ POV Mira _
Mira dia tahu suaminya punya pacar lagi, sore itu saat Fandi pulang kerja. Dia mendengar fandi bersama teman ceweknya.
"Adu, siap ini cantik sekali..."ucap ibu mertuanya melihat cewek yang di bawa Fandi.
Mira, melihat nya saat dia sendang di kamar. Dia mengintip dari celah pintu.
"Fan, harus nya yang begi perempuan yang kau nikahi, berkelas, cantik. "Ucap ibunya, Fandi hanya tersenyum. Begitupun cewek yang di bawa Fandi.
__ADS_1
Mira dia Hanya bisa menangis, melihat fandi suaminya bersama cewek lain. Dan ibunya Fandi mendukungnya.
"Bi .."panggil ibu, namun bibi sedang di atas mengangkat jemuran.
"Mira....Mira!!" Panggil ibunya Fandi, Mira langsung beranjak ke luar.
"Iya, Bu..." Sahut nya.
"Ngapain sih, sana ambil air." Ucap ibu.
Mira pun mengambilkan air, "maaf siapa dia? Kau baru lihat."ucap cewek yang di bawa Fandi, Rupanya dia sering kesini dan belum tahu fandi sudah menikah.
"Oh, dia pembantu baru..."ucap ibu ya Fandi dan Fandi tersenyum.
Preeee
Terdengar gelas pecah, "permisi sebantar..."ibunya langsung beranjak ke dapur. Mira kaget kalo dia di anggap pembantu.
Plaakkk
Ibu mertua nya memukul kepala Mira, "Bodoh.....bodoh...apa gak bisa ambil air saja, bisanya cuman molor. Kau enyah lah sana aku tidak Sudi punya menantu miskin sepertimu."ucap ibu mertuanya.
"Maaf, Bu gak sengaja..." Sahut Mira.
Mira dia teringat, ibunya sering berkata begitu pada Erik. Mira ingat ibunya sering mengatakan 'gak Sudi punya menantu miskin' dan sekarang dirinyalah yang merasakan hinaan itu.
Mira, sadar jika di bandingkan dengan Fandi jauh lebih kaya Fandi. Mira merasa ini adalah hukum karma karena telah menyakiti Erik.
Entah kenapa ayah Fandi setuju menjodohkan Fandi dengan Mira. Itu yang membuat mira bertanya-tanya.
Sambil memunguti pecahan kaca, Mira meneteskan air mata. akhirnya dia tahu sakitnya dihina miskin oleh orang kaya.
"Mungkin ini yang di rasakan Erik, dia sering dari dulu di hina nya. "Fikir Mira
Sementara Erik, dia bingung. "Apa aku harus menuruti keinginan Radit, tapi aku tidak mau .tapi bagaimana aku perlu uang?" Erik dilema.
Tok-tok-tok!
mengetuk pintu kamar Radit. Radit membuka pintu, dia senyum " gimana kau mau..." Ucapnya.
"Gak, gue hanya mau pinjam saja. "sahut Erik.
" Ya sudah, sini masuk..." Ucap nya.
Erik tahu akal busuk Radit, " gue tunggu sini saja." Radi tertawa.
"Lo gak berfikir, kalo Eza tahu ? Geu temannya, geu gak mau hancur hubungan gue dengan Eza hanya karena Lo.."ucap Erik.
__ADS_1
"Bodoh, yang jangan sampai tahu...ini uang nya jangan lupa bayar. "Sahut Radit.
Erik pun tidak mengerti dengan jalan fikir nya. Tapi Erik tenang sekarang mendapat pinjaman lagi. Ibunya terus memerasnya di kampung entah dia beli apa. Masa beli susu 1 JT belum 2 Minggu sudah habis. Erik pun curiga.