DI KIRA MISKIN TERNYATA SULTAN

DI KIRA MISKIN TERNYATA SULTAN
part 42 warisan orang tua


__ADS_3

Erik tidak menyangka dirinya orang kaya, sambil menatap rumah yang begitu besar dan megah, iapun mengambil kunci dalam tasnya yang di berikan ibunya.


Kreekkk


Gerbang terbuka, berdiri di hadapan rumahanya sambil wajahnya senyum sumringah.


Erik berjalan mendekat terlihat di belakang rumahnya perkebunan teh yang luas. Erik bergegas menuju rumahnya.


Iapun membuka pintu rumah yang nampak terlihat tinggi berwarna coklat dengan ukiran bunga di setiap sudutnya.


Pintu terbuka, nampak begitu luas tangga yang melingkar. Berlantaikan marmer, tembok dengan cat putih bergaris hitam bawahnya, lampu kristal menjuntai dari atas.


"Apakah ini benar rumah ku? Apakah aku sedang bermimpi.." sambil menampar pipinya.


"Rupanya bukan mimpi..."


Erik melihat-lihat rumah yang di tinggalkan orang tuanya. Namun dia merasa kesepian jika tinggal sendirian di rumah sebesar ini.



Melihat dapur, yang terlihat luas dengan perabotan yang lengkap.



Sofa di tutupi dengan kain putih, piano, terlihat banyak debu. "Apa ayah sering datang ke sini?" Melihat rumah masih rapi walau sudah di tingalan 20 tahun.



"Sepertinya bapak sering ke sini?" Gumam nya.


Berlari menuju atas, terlihat kamar-kamar berjejer. Iapun membuka pintu ke arah balkon rumah nya.


Nampak perkebunan teh milik ayahnya yang begitu luas. Saat Erik berdiri terlihat ada orang-orang yang sepertinya membawa teh. Mereka melihat Erik dengan penuh keheranan.


Karena dia belum melihat rumah besar ini ada orang.


Tiba-tiba seorang bapak-bapak turun dari mobil kolbak dengan ibu-ibu seperti pemetik teh, iapun mendekat.



"Mas... Siapa ya? Kenapa bisa ada di rumah ini?" Tanya nya.


Erik tersenyum," pak, saya yang punya rumah ini.."sahut Erik.


Bapak-bapak terlihat heran, "maksudnya, mas..."


"Saya anak yang punya rumah ini.." ucapnya.


"Maksudnya, anak pak Ivan dan Bu Lily ?"


Erik mengangguk, "oh ....saya baru tahu mas...saya kerja di perkebunan ini. Tanya saja ke pabrik mas, di sana ada pak Bambang yang urus. Mari mas," Ujar nya.


"Iya saya pak Agus, den siapa namanya..." Tanya pak Agus.


"Erik, pak..." Sahut Erik .


Iapun beranjak pergi, berbicara pada ibu-ibu yang berada di belakang nya. Nampak ibu-ibu melihat ke arah Erik.


Erik beranjak ke kamar orang tuanya, nampak gelap. Saat membuka tirai ia kaget kamarnya luas ada lukisan besar ibu dan ayahnya dan dirinya yang masih kecil.



Duduk di tempat tidur orang tuanya yang luas. Erik hanya bisa tersenyum.



Ia tidak percaya orang tuanya sekaya ini. Erikpun berbaring. Sampai ia ketiduran.

__ADS_1


______


Hembusan angin dari luar membuatnya tertidur lelap, udara yang terasa sejuk membaut Erik begitu tenang.



Tok-tok-tok!!



Terdengar seseorang mengetuk pintu, Erik membuka mata diapun beranjak ke bawah membuka pintu.



"Den Erik ya .."ucapnya, seorang bapak-bapak yang sudah tua memakai kemeja pendek, mengenakan topi.



" Iya, bapak siapa ya..?" Tanya Erik.



"Saya pak Bambang, pak Agus memberi tahu bapak kalo ada den datang. Iya tuan dan nyonya sudah memberitahu bapak kalo suatu hari akan ada anaknya Yang akan memegang perkebunan ini.



"Iya, den mau lihat pabrik nya..." Ajak pak Bambang.


Namun Erik teringat anaknya di rumah, hari berajak sore...." Besok saja pak, saya ada anak di rumah." Sahut Erik.


"Den sudah menikah?" Pak Bambang kaget mendengarnya. "Iya pak," jawab Erik.



" Ya sudah, mari saya antar pulang. Dari sini ke bawah harus naik kendaraan den lumayan kalo jalan..." Ujar nya.




Erik beranjak ke atas menutup dan mengunci kembali kamar.


Pak Bambang sudah menunggu di luar. Erikpun mengunci kembali pintu rumah dan pintu gerbangnya.


Iapun langsung naik mobil pak Bambang, pak Bambang tersenyum. "Den, ayah angkat mu kemana pak Kosim. "Tanya pak Bambang.


"Dia sudah meninggal, pak..." Sambil menunduk.


"Hah!!! Kapan? kenapa gak bilang?, baru saja seminggu yang lalu dia kesini cek rumah. Kenapa meninggalnya. " Ucap pak Bambang.


"Dia sakit pak, maag nya sudah kronis. Tapi begitulah bapak dia gak mau merepotkan. Orang." Jawab Erik.


"Turut berdua yang den..."


Sampai di jalan, Erik turun dari mobil pak Bambang. " Den ini nomor bapak. Kalo mau ke sini kasih tahu saja..." Sambil memberikan kartu namanya.


"Terimakasih pak " sahut Erik


Pak Bambang kembali pergi, sepertinya dia sudah kerja lama dengan orang tuanya.


Erik tidak bisa lama-lama karena adam anaknya dengan ibunya di rumah, erikpun kembali pulang menaiki bus.


Dalam perjalanan Erik tidak tahu harus bagaimana mengurus perkebunan seluas itu,


Dret... Dret...ponsel bergetar, Rupanya Eza nelpon. " Aku tidak mau orang-orang tahu aku orang berada, aku ingin tetap seperti Erik yang seperti Biasa." Gumamnya. Erik pun mengangkat telpon dari Eza.


"Rik, kapan kesini?" Tanya Eza .

__ADS_1



"Za, sorry gue gak akan ke kota lagi. Gue di kampung saja." Sahut Erik.



"Erik, gimana ya gue lagi butuh uang. Kau sudah ada belum."



Erik bingung Eza menagih hutang nya, "za tenang secepatnya gue bayar ya. Lo butuhnya kapan?" Tanya Erik .



"2 hari lagi bisa , kan Rik ."



"Iya gue usahakan, jangan kahwatir. Oh iya nanti geu hubungi lagi ya lagi di bus.." sambil menutup teleponnya.



" Bang di depan.." ucap Erik pada supir.



Sore hari Erik baru pulang, "ibu pasti marah. " Karena dia janjinya sebentar tapi sampai sore.


Melihat tempat kerja ayahnya , Erik teringat ayah nya yang seorang tukang tambal ban dia meneteskan air mata dulu dia sering membantunya setelah pulang sekolah namun kini terlihat sepi dan kosong. Hanya jadi kenangan begitu berat ayah nya menafkahi keluarga nya.


Sampai di rumah, terlihat ibu yang sedang duduk memegang kepalanya. Adam sedang berbaring di kamar.



"Bu, ada apa?" Tanya Erik duduk di depannya.



" Erik, maafkan ibu. Ibu seperti nya gak bisa kalo begini terus. Erik bisakah kau jaga adik-adik mu. Ibu akan kerja ke kota.. " ucapnya.


"Bu...sudah jangan pergi, kasihan rio ibu tega apa meninggalkan Rio. "


"Erik, kalo ibu gak kerja kita dari mana. Kau meneruskan usaha bapak mu yang tidak seberapa uangnya. Sedangkan sekarang kau punya anak..." Sahut ibu.


"Ibu mau kerja apa di kota."


"Ibu mau jadi ART, ada yang ngajak ibu tetangga. "


Erik menghela nafas, "sudah, jangan pergi nanti Erik cari kerja tenang saja ibu gak akan kekurangan." Erik beranjak ke kamar.



"Kerja, apa? Tukang tambal ban!!" Bentak ibunya.



Erik pun bingung gimana cara ngasih tahunya, ibu sama sekali tidak tahu Erik yang ternyata anak orang kaya. Dan Erik gak mau ibu tahu.



"Erik, di terima kerja Bu di perusahan yang dekat kebun teh itu. "


Ibunya menoleh, " yang dimana? Perkebunan teh! perasaan di sini gak ada." Jawab ibu nya


"Sudah lah Bu, Erik akan kerja ibu sudah gak usah kerja biar Erik yang cari uang. " Ujarnya.


Ibunya pun senyum dia punya senang mendengar Erik sudah terima kerja di pabrik.

__ADS_1


Sementara Mira, dia terus menyesal. Mira berfikir untuk meminta maaf pada Erik. Namun Erik yang sekarang apa akan memaafkan nya? Mengingat dia duluan sering di hina dan direndahkan keluarganya.


__ADS_2