
Keesokkan harinya, Erik terlihat sudah bersiap. Siang itu ia berencana akan kembali ke kota. Meski hanya punya uang tidak banyak tapi ia memberikan uang itu pada ibunya.
"Bu, Erik berangkat ya, ini ada uang sedikit." Ucap nya, yang tadinya uang buat bekal namun ia takut susu anaknya habis.
Hanya uang 100 RB yang di kasih Erik, "cepat, kau kirim uang. Ibu jadi gak jualan kalo begini ngurus anakmu."sahut ibunya.
"Iya, Bu Erik berangkat titip adam ya."ucap Erik.
Ia dia menamai anaknya Adam, Erik beranjak pergi ke tempat ayahnya kerja. Dia ingin berpamitan padanya.
Terlihat ayah nya sedang kerja, "pak, Erik mau pamit ya." Ucapnya, "iya, Erik kalo ada apa-apa telpon tetangga ya.."sahut bapak.
Iapun pergi, di saat ada pesta pernikahan Mira. Ternyata benar saat Erik berjalan terdengar suara musik di lapangan. Orang-orang sedang menonton.
Begitu mewah, pernikahan Mira di lapangan dengan tenda berwarna biru. Erik hanya lewat sambil membawa tas.
Orang-orang melihat Erik sambil berbisik-bisik. Erik terus jalan sambil menunduk.
Dalam hatinya sedih, baru saja cerai tapi Mira langsung menikah.
Semua di kampung di undang kecuali keluarganya dan juga orang yang gak punya seperti dirinya. Entah kenapa ibu nya Mira seperti pilih-pilih orang.
Erik terus berjalan ke stasiun, meninggalkan kampung dan anaknya bersama ibunya. Meski Mira tidak mau mengakui anaknya tapi Erik dia begitu bahagia punya anak.
Sampai stasiun, teringat Mira begitu sedih saat di tinggalkan Erik. Namun sekarang hanya jadi kenangan.
Teeettttt
Suara kereta datang, Erik pun langsung masuk dan duduk. Cuaca terlihat mendung sambil memandangi ke luar Erik sambil merenung memikirkan anaknya nya tanpa seorang ibu.
"Boleh duduk di sini..."seorang perempuan membangun lamunan nya."iya mbak silahkan."sahut Erik.
Kereta pun berjalan, tiba-tiba turun gerimis. Masih terdengar suara musik dari pesta pernikahan Mira mantan istrinya, namun semakin jauh suara itu makin menghilang.
"Mas, makan..."ucap cewek yang duduk di sampingnya, menawari gorengan dan juga lontong.
"Ah, terima kasih mbak silahkan lanjutkan saja."sahut Erik, padahal dia begitu lapar.
"Gak apa, ayo mas makan saja jangan malu ambil lah." Ujar nya.
Erikpun Sambil tersenyum mengambil nya, meski malu tapi perutnya begitu lapar. "Terima kasih ya...."ucap Erik.
"Saya Fiona, mas siapa?"tanya Fiona ngajak berkenalan.
"Saya Erik..."jawab Erik sambil makan.
"Mas, maau ke kota juga. Kerja apa kuliah? "ucapnya.
__ADS_1
"Saya kerja mbak..." Jawab Erik.
"Kirain sama, saya kuliah" balasnya.
Terlihat masih muda, seusia Mira ternyata dia mahasiswi pantas saja.
Erikpun tertidur, di luar turun hujan. Begitu lelap Erik tidur sampai ponselnya bergetar pun dia tidak terasa.
\*\*\*\*
Hari beranjak sore, Fiona yang duduk di sebelah nya membangunkan Erik. "Mas...mas.."sambil menepuk pundaknya. Erik pun terbangun. "Iya..."sahut Erik bangun. "Sudah sampai," ucap nya.
Erik pun beranjak dari kereta, sambil memegang tasnya terlihat cewek yang duduk di samping sedang berdiri sendiri seperti sedang menunggu seseorang.
Di luar hujan namun tidak besar, Erik mendekati nya.
"Mbak, kuliahnya di mana?,"tanya Erik.
"Eh ,mas... Di unversitas yang di pusat kota. "sahutnya.
Ternyata satu kampus dengan Eza, " yang itu, saya juga punya teman di kampus itu. "Ucap Erik, "Oh ya, jurusan apa?" Ucap Fiona.
Namun Erik tidak tahu Eza kuliah jurusan apa, "gak tahu juga mbak, aku hanya tau dia kuliah di situ. "jawab Erik, Fiona tersenyum.
Erikpun menelpon Eza, memintanya untuk di jemput.
Terbesar Eza mendecak, "ya sudah tunggu. "ujarnya, Erik tahu dia terpaksa tapi dia bingung pada siapa lagi minta tolong.
Fion terlihat masih duduk menunggu seseorang, Erik duduk di sampingnya.
"Mbak nunggu seseorang ya?"tanya Erik membuka pembicaraan karena saling diam.
"Iya, cowok ku tapi dia lama datang katanya sebentar. "Sahut Fiona sambil terus menatap ponselnya.
Terlihat Eza datang, "Erik... Sini."panggil Eza, Erik melihat Fiona yang masih menunggu hari sudah akan malam.
Erik menghampiri Eza, "ayo pergi..."ucapnya, namun Erik melihat Fiona sendirian dia tidak tega melihat cewek sendirian. Sementara hari sudah akan malam juga gerimis.
"Za, lihat cewek itu gak. Kasihan dia, dia satu kampus dengan mu, Lo. "Ucap Erik , Eza melihat nya sedang duduk.
"Iya terus kenapa?" Tanya Eza.
"Lo kanap gak anter saja, za kasihan dia "ucap Erik.
"CK...Erik dengar abaikan saja dia, dia juga sepertinya sedang menunggu jemputan. Jangan mengurusi hidup orang lain Rik, lihat hidupmu saja masih butuh pertolongan lain."ujar Eza.
Yang di katakan Eza memang benar, tapi Erik dia tidak tega melihatnya.
Tiba-tiba seorang cowok datang dengan motornya. Dia menghampirinya, namun Fiona telihat marah-marah.
__ADS_1
"Tuh lihat ada yang jemput , ayo cepat..." Ucap Eza. Erikpun langsung naik motornya.
"Lo ya, hidup Lo aja masih perlu pertolongan ini malah kasihan sama orang lain. "Ucap Eza, dia terus ngomel karena kesal dengan sikap Erik.
Sampai lah di rumah majikannya Erik, saat akan masuk rumah, Eza kaget melihat Radit sedang dengan seorang yang gak dia kenal di depan rumahnya.
Eza dia langsung turun dari motornya bersama Erik, "e~eza, Lo ada apa ke sini. "ucap Radit begitu gugup, Eza melihat seorang cewek di samping nya. "gak, hanya antar Erik saja. Iya siapa dia?"tanya Eza.
Radit seperti akan mengantarnya pulang, "mas,kenalin Kasandra pacarnya Radit."Eza langsung beranjak pergi dari ruamh Radit.
"Za.... tunggu, gue bisa jelaskan." Ucap radit, pacarnya terlihat mengernyitkan dahinya melihat Eza yang tiba-tiba pergi.
Erik tahu Eza pasti marah melihat radit yang ternyata punya pacar, ezapun pergi Radit Kembali bersama pacarnya.
"Siapa?"tanya kasandra pacara Radit.
"Dia, dia teman kuliah..." Ujarnya.
"Oh, ya udah ayo antar aku pulang." Sahut pacarnya sambil masuk mobilnya Radit, Radit menatap Erik. Mereka pun pergi.
Tok-tok-tok,"bi..."panggil Erik dari pintu belakang.
Krekkk
Pintu terbuka, telihat Bibi senyum "Erik, kau sudah kembali. Gimana kelahiran istrimu. Hebat kamu masih muda sudah punya anak." Ucapnya.
Erik senyum, duduk berdua di dapur. "Sehat bi, cuman gitu bi, aku harus mengurus seorang diri."sahut Erik.
"Emang kenapa Rik, istrimu meninggal?," Bibi beranggapan begitu karena mendengar perkataan Erik yang harus mengeurus anaknya sendiri.
"Dia kawin lagi bi, dia tidak mau dengan anakku. Dia ternyata memilih harta sekarang. " Dengan wajah sedih Erik menceritakan pada Bibi.
"Kok bisa istri mu begitu, jahat sekali kalo bibi punya anak begitu ihhhh sudah bibi omelin." Ucapnya, dengar wajah yang terlihat greget.
Erikpun tertawa, " ya sudah bi, aku mau istirahat ya...."Erik beranjak ke kamarnya.
Dret... Dret...ponselnya bergetar, Rupanya Eza menelpon.
" Erik, sejak kapan Radit punya pacar?" Tanya Eza terdengar seperti menangis.
"Za, gue gak tahu juga barusan gue lihat dia bawa cewek. "sahut Erik.
"Dengar, kasih tahu jika Radit bawa seseorang ke rumahnya." Balas Eza sambil menutup teleponnya.
Erik tidak mengerti kenapa Eza begitu.
Tok-tok-tok, seseorang mengetuk pintu kamar Erik. Erik pun beranjak membuka ternyata Radit berdiri.
"Ikut gue, "perintah Radit, erikpun berjalan mengikuti Radit.
__ADS_1
"Lo sudah tahu hubungan kami, dengar jangan sampai Lo bicara sama siapapun termasuk bokap, nyokap gue. Ingat kalo Lo bicar habis riwayat Lo " Radit mengancam nya sambil menunjuk- nunjuk wajah Erik.
Radit pun pergi, Erik Sama sekali tidak mengerti dengan hubungan Meraka.