DI KIRA MISKIN TERNYATA SULTAN

DI KIRA MISKIN TERNYATA SULTAN
part 27


__ADS_3

Keesokan harinya, Erik yang akan berangkat kerja di larang Eza.


"Lo mau kerja di tempat yang kemarin, bukannya mau kerja di tempat teman gue. Nanti pulang kuliah dia kesini Lo."ucap Eza,


"Emang jam berapa kau pulang?,"tanya Erik.


"Biasa pukul 1 sudah pulang, sudah kau tunggu saja gak lama ini, ya..." Sambil melihat Erik yang memakai sepatunya.


"Ya sudah, jangan lama ya "sahut nya.


Akhirnya Eza pun berangkat dan Erik menunggu di kosannya.


Selama menunggu Eza, Erik terus menelpon Mira istrinya namun tidak juga di angkatnya, Erik merasa ada yang beda dengan Mira. Sikapnya yang dulu sering menghubunginya Bahkan saat kerja dia terus nelpon kini dia tidak pernah lagi. Hanya sesekali mengirim pesan dan sudah tidak di balas lagi.


"Kemana ya Mira"gumamnya sambil duduk di depan kosan melihat cuaca yang begitu cerah, orang-orang sibuk dengan rutinitasnya masing-masing kebanyakan pergi kuliah seperti Eza temanya.


Erik terus menelpon Mira.


"Hallo Mira, kau kemana saja. Dari tadi aku telpon gak di angkat."ucap Erik.


"Erik, maaf gue lagi ga enak badan, iya gimana kau sudah kerja ?" Sahut Mira terdengar malas berbicara pada Erik, Erik berfikir mungkin karena dia sedang tidak enak badan.


"Ya sudah, istriahat saja ia gue udah kerja "sahut Erik.


"Oh gitu ya, ya sudah dulu ya aku mau istrihat." Balas Mira menutup telponnya.


Mira yang baru bangun tidur merasa cintanya pada Erik memudar, ia sekarang teringat akan Fandi cowok yang ayah nya jodohkan.


Saat keluar dari kamarnya ibunya terlihat senang, "Mira, gimana Fandi cakep kan? Kau suka?"tanya ibunya.


Mira hanya senyum, "ibu sih telat, harusnya dari dulu bilang."sahut Mira. Ayahnya yang akan berangkat kerja menoleh padanya "ayah juga baru tahu anak teman ayah sudah cerai. Dan dia nyari ibu buat anaknya, katanya." Timpal ayah Mira.


"Sudahlah, yang terpenting sekarang Fandi mau gak sama Mira. Tapi Mira gimana dengan anak mu. Ibu bingung jadinya dan ibu gak mau urus anak si Erik.."ucap ibunya.


Mirapun diam memikirkan harus gimana dengan anak nya ini, jika menikah dengan Fandi harus bercerai dulu tentunya dengan Erik Mira bingung alasan buat ceria apa? Dan juga anak ini dia tidak mau kalo nanti benar menikah dengan Fandi tidak mungkin ikut ke rumah Fandi.


"Bu, apa aku kasihkan saja ya sama Erik anak ini "ujarnya.


Ibunya yang sedang menyapu langsung menoleh,"nah begitu, ibu juga berfikir ke situ gak mungkin Fandi mau menerima anak nya si Erik. Ibu juga gak mau urus, capek."sahutnya.


Mereka sudah merencanakan, setelah anaknya lahir akan minta cerai dari Erik namun Mira masih memikirkan alasan dia minta cerai pada Erik.


*****


Siang hari Erik di kosan terlelap tidur, karena tidak ada yang harus di kerjakan. Menunggu Eza pulang.


"Yah, Lo malah tidur..."ucap Erik saat Sampai Kosan.

__ADS_1


"Rik, bangun jangan malas ini lihat teman gue, katanya Lo mau kerja ayo.."Eza menarik tanganya. "Iya za...."sahut Erik.


Temanya Eza terlihat tinggi putih, seperti orang kaya."Erik ini Radit, Lo akan kerja di rumah nya. "Ucap Eza.


"Erik..."sambil bersalaman.


" Cepat bawa pakaian lo, kita kerumah Radit."ucap Eza, Erik pun membawa tasnya pergi bersama Radit dan Eza. Ternyata Radit Bawa mobil Eza pun ikut masuk ke dalam mobilnya.


"Erik, Lo gak kuliah?," Ucap Radit melihat dari kaca depan ."ah gue kuliah, hanya mimpi .'' sahut Erik Radit tersenyum.


"Dengar, Lo jangan bikin gue malu ."pesan Eza .


"Iya tenang saja "sahut Erik.


Sampai di rumah yang begitu besar, saat masuk gerbang halamannya luas. Dia begitu kaya bahkan Erik hanya melongo melihat rumahnya yang besar.


"Ayo masuk..." Ucap Radit saat turun dari mobil berjalan masuk rumah Radit. Erik dan Eza mengikutinya dari belakang.


"Den...."sapa pembantunya.


"Ibu mana bi.."sahut Radit.


"Ada di dalam" jawab pembantunya.


Masuk ke dalam ruamahnya, Erik tercengang dengan ruamahnya yang seperti istana. "Za, ini rumah apa istana?"tanya Erik. "Ya rumah, jangan bikin malu."sahut Eza.


Erik dan Eza duduk sambil melihat-lihat sekeliling rumahnya. Nampak lampu kristal menjuntai bergitu berkilau.


"Za, Lo punya teman sekaya ini, pasti senang ya "ucap Erik sambil melihat rumahnya.


"Biasa saja, Rik nanti kau kerja di sini gak apa kan tinggal di sini."sahut Eza.


"Heem gak apa, lagian gue mau kerja niat kesini kan "sahutnya.


Radit datang bersama ibunya, Eza langsung berdiri sambil menepuk pundak Erik supaya berdiri. Erikpun berdiri.


Sambil tersenyum turun dari tangga ibunya Radi terlihat cantik, "Bu, ini Erik yang mau kerja katanya."ucap Radit. Ibunya melirik Erik "yakin ini, kirain ibu sudah bapak-bapak "ucap ibunya Radit.


"Ya sudah , siapa Erik ayo ikut.."ucapnya.


Erikpun ikut ke belakang, Eza dan Radit mengobrol. Saat menoleh pada Eza yang sedang mengobrol sambil tersenyum pada Radit, Erik merasa iri padanya namun dia hanya orang miskin.


"Nah ini kamar mu ya, iya kerjaan nya di luar sampe malam beresin taman, kalo rumput panjang potong, kalo ada tamu gerbang buka, nyiram tanaman itu sih. "ucap ibunya Radit.


"Iya Tante..."sahut Erik.


"Bi .. sini sebentar, ini ada yang kerja tolong bibi kasih peralatan dia mulai kerja hari ini ya..." Ucapnya.

__ADS_1


Pembantunya melihat erik dengan sinis dia terlihat judes.


"Ya sudah tante tinggal dulu..."ujar ibunya Radit beranjak pergi.


"Ya sudah, sini..."pembantunya membuat Erik kesal dengan ekspresi wajahnya yang masam.


"Nah itu perlata kebun, kau sana kerjakan rumput sudah panjang sana..."perintahnya malah dia yang seperti nyonya menyuruh-nyuruh Erik.


Erik mengambil pemotong rumput, hari sudah sore hari pertama Erik kerja. Eza dan Radit dia asik mengobrol teras rumahnya.


"Erik, yang Rajin ya..."teriak Eza sambil tertawa bersama Radit.


"Kenapa hanya diriku yang begini, melihat orang-orang begitu bahagia hidupnya dengan keluarganya yang mendukungnya. Kenapa aku terlahir dari ibu yang tidak menyayangiku. "Gumamnya dalam hatinya sambil motong rumput.


Hari beranjak sore , Eza seperti akan pulang. "Rik, gue pulang ya. Yang betah.."ujarnya. "Iya..."sahut Erik.


Tinggal lah Erik sendiri, Radit setelah mengantar Eza ke depan dia melihatku namun tidak bertanya malah langsung masuk rumahnya.


Erik sadar diri mungkin dia tidak level berteman dengan orang miskin kerja babu seperti Erik.


Hanya bisa bersabar, baginya dapat pekerjaan pun sudah begitu senang. Duduk bersitirahat tidak ada yang ngasih minum.iapun pergi ke dapur.


"Mau apa?,"tanya bibi pembantu nya saat Erik masuk dapur .


"Mau minum, bi.."sahut Erik.


"Ini... Minum di botol saja." Memberikan air dengan wajah ketus.


Erik pun Kembali ke luar, kerjaan masih banyak di laut hari sudah akan gelap. Erik duduk.


"Sudah, lanjutkan saja besok " Erik menoleh rupanya Radit di belakang dia mendekatinya sambil merokok duduk di samping Erik.


"Merokok..."Ucapnya


"Tidak, terimakasih.."sahut Erik.


"Katanya sudah nikah ya, Kenapa? Padahal masih muda Lo "ucapnya .


Erik tersenyum, "iya, yah gimana ya namanya kecelakaan."sahut Erik, Radit tertawa.


"Radit, masuk sini..."panggil ibunya, "ya sudah lo istriahat saja, besok lanjut gue masuk dulu "ucapnya beranjak masuk rumah.


Ibunya seperti melarang Radit mengobrol dengan ku, tidak seperti yang di fikirkan dirinya Radit sepertinya baik.


Sambil duduk sendiri di taman, sore beranjak malam, Erik memikirkan Mira sambil menatap ponselnya yang tidak lagi menghubunginya. Bahkan mengirim pesan tidak lagi.


" Ada apa dengan Mira? " Dalam hatinya bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2