DI KIRA MISKIN TERNYATA SULTAN

DI KIRA MISKIN TERNYATA SULTAN
part 39 wasiat ayah


__ADS_3

"Apa!! Radit, dia semalam cuman ngajak ngobrol saja," ucap Erik.


Eza tertawa, "gue cuma becanda, lagian gak mungkin Lo begitu." Sahutnya.


Erik, ikut tertawa tapi dalam hatinya dia merasa bersalah pada Eza. "Ayo tidur sudah malam, besok bukannya mau pulang." Sambil berbaring di samping Erik.


"Rik, Mira kenapa menceraikan Lo. Bukannya dia mengejar-ngejar Lo waktu masih sekolah ." Ucap Eza,


"Gak tahu za, mungkin dia di jodohkan orang tuanya. Tapi aku pun sudah ikhlas, lagian sekarang bagiku yang terpenting adalah anakku. Aku hanya ingin fokus mengurusnya." Ujar Erik.


"Kau benar, buat apa meratapi orang yang sudah pergi mengkhianati kita gak ada untungnya, hidup terus berjalan." Sahut Eza.


Ezapun tidak bertanya lagi, Erik pun menutup matanya.


POV Mira.


Rasa penyesalan ada dalam hatinya, setelah bercerai dari Erik. Fandi tidak sama sekali mencintainya.


"Lo, tidur di sofa saja bisa, kan" perintah Fandi.


Mira yang sedang berbaring di kasur kaget, Fandi ingin dirinya tidur pisah. Sambil menatap Fandi yang memakai piyama dari toilet.


Mira hanya mengangguk saja sambil membawa bantal.


Melihat Fandi suaminya tidur, Mira sadar diri Fandi begitu tampan, putih, badanya tinggi. Sedangkan dirinya terlihat berisi meski sekarang sudah berubah lebih baik dari dulu.


Sejak menikah Mira belum pernah di sentuh Fandi, jangan kan menyentuhnya fandi jarang sekali memperhatikannya.


Mira sambil berbaring, dia menangis "untuk apa aku menikah jika begini. Di jadikan babu, Erik apakah dia masih mau menerima ku? Aku menyesal."gumamnya.


Karena Erik, dia begitu perhatian "bodohnya aku, harusnya aku sadar Fandi hanya tertarik dengan cewek seksi, cantik, Kenapa aku langsung tertarik dengan ketampanannya." Rasa penyesalan Mira yang terus menghantui setelah menceraikan Erik.


***


"Mira, Lo mau tidur saja. Ibu memanggil" terdengar suara Fandi.


Mira membuka mata, melihat Fandi sudah rapi."maaf.." ucap Mira beranjak ke dapur, Fandi hanya menggelengkan kepalanya sambil melihat Mira berjalan ke dapur.


"Bangun siang, sudah jadi istri tapi begini. Dengar bereskan dapur. Cepat!" Perintah ibu mertuanya.

__ADS_1


Fandi datang, terlihat anaknya Fandi datang bersama fandi. "Mira, hentikan ayo duduk " ucap ibu mertua ketika suaminya datang.


"Mira, bagaimana betah?" Tanya ayah mertuanya setiap melihat Mira.


"Iya pak..." Jawab Mira.


Padahal dia tidak betah sama sekali, namun terpaksa karena sudah menikah. Melihat Fandi dan anaknya tidak melihat nya Bahkan mengajaknya bicara.


"Ya sudah, bapak mau berangkat fan, ayo..." Tiap hari selalu begini Mira Mera bosan. Setelah melihat Fandi berangkat Mira harus kembali jadi pembantu lagi di rumah ibu mertua nya.


Sementara Erik, pagi hari sudah bersiap pulang. "Erik, ayo gue antar sampai stasiun" ucap Eza.


Erik pun berangkat bersama Eza, "iya, semoga ayahmu cepat sembuh ya. Lo kalo mau kesini kabari gue ya."


Dalam perjalanan Erik terus diam, dia masih tidak enak dengan Eza. Sesampainya di stasiun, Erik langsung berlari karena kereta akan segera berangkat.


Erik pun masuk dan duduk, ia merasa tidak mau lagi datang ke kota ini. Rasanya sudah cukup menderita di kota ini namun Erik bingung harus kemana lagi.


Kereta Pun bergerak, dalam hati nya tidak merasa tenang ayah nya yang sedang sakit parah. Erik memikikan tidak bisa hidup tanpa ayahnya.


Baginya hanya dia yang baik padanya, sejak kecil kalo gak ada dia entah hidup seperti apa mengingat ibunya yang tidak menyayanginya nya.


Erikpun tertidur selama di kereta, karena perjalanan masih masih sangat jauh.


[Gue gak akan datang lagi..] balas Erik, dia sudah muak, baginya cukup sekali dan itupun terpaksa karena bingung harus nyari bantuan pada siapa.


Siang menuju sore akhirnya iapun Sampai di kampungnya, keluar dari kereta Erik langsung berlari. Melihat rumah yang makin lapuk, nampak terlihat sudah begitu butut.


"Kak... pulang" ucap Rio yang sedang main di luar, adiknya senang melihat Erik ulang terlihat Rio makin besar. "Rio..bapak sakit ya." Tanya Erik."iya kak, Kaka lihat saja..."sahut Rio.


Erikpun beranjak masuk, "Erik, lihat ayah mu."ucap ibunya saat Erik masuk, Erik melihat ayahnya yang sedang berbaring. "Pak.. kenapa? Bapak sudah berobat, ayo ke rumah sakit." Ucap Erik saat menatap ayahnya yang terlihat pucat, kurus, nafasnya terdengar sesak.


"Erik, gak apa. Bapak baik-baik saja." Sambil memegang tangan nya. "tapi pak, biar bapak cepat sembuh ayo kita kerumah sakit saja.." ujar Erik.


"Erik, memang punya uang? Kerumah sakit mahal." Timpal ibunya, Erik pun diam dia tidak bisa apa-apa. Hutang masih menumpuk pada Eza, Mira, juga bibi.


Erikpun menangis di hadapan ayah nya, "Erik, gak apa bapak akan baik-baik saja." Ujarnya.


"Kau jagalah anakmu, jangan ke kota lagi titip ibu dan adikmu, teruskan saja usah bapak jangan malu." Pesan ayah nya.

__ADS_1


Seolah mengatakan perpisahan, "gak, pak bapak akan sehat kembali jangan bicara begitu..." Sahut Erik.


Hari beranjak sore, "Erik ini Anakmu.." ibu memberikannya pada nya, Erik pun menggendongnya.


Menatap anaknya, Erik senyum anaknya sudah tumbuh besar.


Meski hidup tanpa ibu tapi Erik tidak mau anaknya kekurangan apapun. " Erik, uang itu udah mau habis. Di belanjakan beras, ayah mu berobat, juga buat kebutuhan rumah lainya."ucap ibu.


"Iya Bu, gak apa Erik akan kerja di kampung saja Bu meneruskan usaha bapak." Sahutnya.


"Apa!! Tapi Erik meneruskan usaha bapak mu gak tentu hasilnya, juga kecil kenapa gak ke kota saja. Gak apa ibu urus Adam asal kau kirim uang."ucap ibunya.


Ibunya sudah keenakan dikirim uang tiap bulan, bahkan gak Sampai satu bulan ibu sudah minta lagi dengan berbagai alasan.


"Gak, Bu gak apa Erik akan meneruskan usaha bapak walau gak banyak. Ibu bisa kembali jualan kalo mau Erik akan mengeurus anak Erik sendiri."


Ibunya langsung marah, "Erik, dengar lebih baik kau ke kota. Sudah biar Adam ibu yang urus gak apa. " Begitu nyolot.


"Bu, sayang tempat usaha bapak. Gak apa Erik bisa urus semuanya. "


"Terserah kau saja, tapi ibu sudah gak mau jualan capek." Ujarnya.


Ia sudah terbiasa makan uang dari Erik, makanya ibu nya jadi malas lagi jualan.


Erik beranjak duduk di samping ayahnya, menatap ayahnya yang begitu kurus membuat Erik sedih.


"Pak, pak... Makan dulu" ucap Erik sambil memegang tangan nya. Ayah nya membuka mata Sambil menggelangkan kepala. "Ayah mu susah makan, ibu juga bingung." Timpal ibunya.


"Ya sudah pak, bapak kerumah sakit saja ayo gak apa soal biaya jangan di fikirkan Erik akan berusaha pak mencarinya. Ayo pak.."bujuk Erik, dan lagi-lagi ayahnya menggelangkan kepala.


Bingung, melihat ayahnya yang begitu lemah tapi gak mau ngapain-ngapain. Makan susah gak masuk Erik hanya duduk menemaninya.


"Sudah, ibu mau ke warung dulu.." ucap ibu, beranjak keluar.


Bapaknya menatap Erik, "sini ..."tangannya melambai, Erik mendekat. "Ambil amplop di bawah pakaian bapak.."ucapnya dengan suara pelan. Erikpun beranjak membuka lemari.


Melihat amplop di bawah pakaiannya tertutup rapat, terasa tebal, Erik heran apa sisinya?


"Ini pak.." sambil memberikannya.

__ADS_1


"Pegang lah, itu punya mu." Ujarnya, Erik makin heran dengan ucapan ayahnya melihat amplop sambil mengernyitkan dahinya.


"Erik, sebenarnya bapak dan ibu bukan orang tuamu." Ucap nya , Erik langsung kaget sambil menohok.


__ADS_2