DI KIRA MISKIN TERNYATA SULTAN

DI KIRA MISKIN TERNYATA SULTAN
part 8


__ADS_3

Eza kini sudah tahu Erik dan Mira sudah jadian, hal itu membuat Erik malu pada nya.


Hari-hari berlalu, Erik melewati ujian nya dengan lancar. Meski dirinya tahu tidak akan mendapatkan nilai yang tinggi. Tapi setidaknya Erik berharap bisa segera lulus dari sekolah nya itu.


Impian untuk membantu perekonomian keluarganya yang miskin, di tambah dirinya Yang sering di hina membuat ia semangat untuk merubah nasib nya.


Mira dan Eza sudah menunggu, ia masih saja mengerjakan soal. Hari itu ujian terakhir mereka. Terlihat ia keluar dari ruangan sambil tersenyum."Haahhh akhirnya selesai juga, gue tenang sekarang. Ayo pulang"ajak Erik sambil merangkul Eza.


"Heh gembel jangan dulu pulang, sini Lo ikut gue."ucap Nino dan gengnya saat melihat Erik berjalan pulang dengan Eza dan Mira. Erik terlihat sudah lelah menghadapinya."Lo mau ngapain lagi sih, gue dah muak lihat Lo sana pergi."ucap Erik, melihat mereka duduk di atas motor mereka.


"Dengar ikut gue, kalo gak habis Lo cepat!!"dengan memaksa erik untuk ikut mereka. Eza menatap Erik "za ajak Mira, kalian pulang lah duluan."ucap Erik menghampiri mereka.


Eza dan Mira hanya melihat ia pergi bersama Nino dan geng nya. Mira sebagai pacar mengkhawatirkan nya."dengar, gue ada cewek yang gue suka di sekolah saingan kita. Lo harus pergi dan Lo harus menanyakan nomor nya. Ngerti Lo."ucap Nino sambil mengendarai motornya.


"Kenapa gak lo sendiri saja yang tanyakan , gue malu." Sahut Erik, tapi Nino memaksanya "Lo harus nurut gembel, kalo Lo ga dapat lihat akibatnya nanti."Nino mengancamnya.


Dengan terpaksa ia pun menuruti apa kata Nino, sampai di sekolah cewek yang dia sukai Nino. Dia dan gengnya menunggu. Erik berfikir bukanya dia menyukai Siska? Kenapa dia masih melirik cewek lain. Padahal Siska cantik. Sambil menatap Nino yang sedang melihat sekolah cewek yang dia sukai.


"Nah lihat, lihat cewek yang cantik itu. Yang putih bersama teman nya," menunjuk cewek yang ternyata begitu cantik.


"Sana pergi gembel..." Nino mendorong Erik , sambil berjalan mendekatinya ia terlihat malu. Orang-orang memperhatikan nya karena dia kumel, seragamnya lusuh. Saat berdiri di depan cewek yang Nino sukai dia hanya diam. "Iya ada apa ya?,"tanya cewek yang di sukai nino, melihat Erik jijik. Sambil terlihat ketakutan memegang tangan teman nya."maaf kak, ada seseorang yang ingin berkenalan. Bisakah minta no ponselnya" ucap Erik sambil menunduk .


"Siapa?,"tanya cewek ya di sukai Nino. Erik menunjuk Nino. Rupanya dia menolak."maaf katakan pada teman mu jangan Suka menyuruh-nyuruh. Kalo cowok datanglah sendiri."sambil berjalan pergi meninggalkan erik yang sedang berdiri.


Dari kejauhan terlihat Nino kesal pada Erik."mana?,"tanya Nino sambil membentak Erik. "Nino, dia ingin Lo yang minta sendiri." Sahut Erik.


"Dasar gak guna, Lo" sambil menjitak kepala Erik Nino ," naik cepat!" Bentak nya. Sambil membawaku ke bangunan kosong. "Gembel sini Lo, sini...gak guna banget. Enaknya di apain dia" sambil Erik yang berdiri di depan nya. "Lo mau apa, cewek itu bilang Lo sendiri yang harus minta apa salah gue." Jawab Erik.

__ADS_1


Bruugggg


Nino langsung memukul wajahnya,"dasar gak guna, dengar sampai kapan pun Lo itu Hanya gembel. Mau Lo lulus sekolah pun Lo itu Hanya orang miskin, tukang tambal ban hahaha."sambil memukul-mukul kepala Erik. Erik dalam hatinya begitu kesal padanya. Tapi dia tidak bisa melawan karena dia tahu pasti kalah melawan 3 orang.


"Cuihhh, najis Lo " Erik di ludahi mereka ,"tolol, dasar miskin ayo cabut ." Sambil menjitak kepala Erik mereka pergi meninggalkan Erik sendiri di bangunan kosong.


Berdiri sambil menunduk, dia begitu dendam pada Nino sambil mengepalkan tangan nya . "Awas kalia ya, akan ku balas perbuat Lo padaku" ucap Erik.


Sambil berjalan, terlihat dari kejauhan awan hitam mendekat. Langit mulai mendung. Tiba-tiba gerimis turun membasahi Erik Yang sedang berjalan.


Mira, rupanya dia menunggunya di depan rumah. Sambil tersenyum dia menghampiri Erik yang terlihat basah. "Kau gak apa-apa?"tanya Mira. Sambil menyentuh rambutnya." Gak apa, Lo pulang lah nanti ibu ku pulang." Sahut Erik dia gak mau di ketahui ibunya Kalo dia sedang pacaran.


"Ya sudah, aku pulang ya."ucap Mira, dia pun pergi, saat masuk rumah Erik membereskan kamarnya. sekolahnya sudah usai diapun berencana untuk segera pergi.


Melihat adik-adiknya yang masih kecil ia kasihan saat mereka kekurangan."gimana sekolah mu sudah selesai?,"tanya ibu yang baru pulang dari jualan. "Sudah Bu," sahut Erik.


"Baguslah, cepat pergi cari duit. Jangan Hanya jadi beban."ucap ibunya sambil duduk di kursi.


Erik pun ikut dengan nya, "Rik itu di rumah gak ada siapa-siapa, aku mau masak tapi gas habis, bisa kan pasang tabung gas?,"tanya Mira, Erik tiba-tiba tertawa.


Tetangga Mira melihat Mira membawa masuk Erik ke rumah,"ayo masuk"di rumah nya terlihat sepi. Mira terus menatap Erik seakan dia ingin memeluk nya.


"Jangan pulang dulu. Duduk lah aku masakin, aku tahu kau belum makan."ucap Mira, Erik duduk sambil menunggu Mira masak.


"Sudah ya gue pulang, gak enak Sama orang."sambil beranjak ke luar. Tiba-tiba Mira mendekat sambil memegang tangan Erik.


"Jangan lah pulang, sini dulu"sambil menarik tangan Erik Mira sepertinya dia ingin berduaan dengan nya. "ada apa lagi, gue takut ibu lo datang mereka pasti akan marah."sahut Erik. Tapi Mira terus mamaksanya.

__ADS_1


Sambil menghela nafas Erik pun menurut, duduk berdua di sofa . Entah Erik bingung mau mengatakan apa. Mira terlihat makin dekat.


"Ku harap kau gak pergi, kalo pergi bisakah aku ikut dengan mu."ucap nya, sambil melihat Mira Yang sepertinya ingin di manja. "Maaf, sebaiknya Lo lanjutin saja kuliah. Lagian gue ke kota juga mau kerja bukan untuk main-main. Sahut Erik.


Lagi mengobrol berdua, tiba-tiba ibunya Mira datang. Dia kaget saat ada Erik di rumahnya berdua bersma Mira anak nya."Mira!! Kenapa bawa dia ke sini. Apa gak malu sma tetangga" ibunya Mira melihat Mira memegang tangan Erik. Erik sontak melapaskan tangan nya.


"Bu, Mira mencintai Erik."ucap Mira, Erik Hanya bisa diam sambil nunduk."apa! Kau mencintai cowok gembel dan miskin seperti dia. Gak masih banyak cowok lain heh Erik sana pergi. Jangan mendekati Mira lagi ingat." Ucap ibunya Mira.


Ketika Erik akan pergi, mira langsung berlari mengejar nya. Tapi ibunya menahannya. "sudah diam lah di rumah, punya pacar seperti gembel,miskin mau di kasih makan apa nanti kau hah, lihat ibunya saja jualan keliling ayah nya tukang tambal ban. Apa gak malu ibu punya besan seperti mereka." Ujar ibunya Mira.


Erik mendengar saat akan keluar rumah, hinaan mereka sungguh membuat hatinya Erik sakit . Bahkan ibunya Mira dia menghinanya.


Tetangga mira pun sama, mereka melihat Erik dengan tatapan tajam."heh habis ngapain kerumah Mira, berdua lagi." Ucap tetangganya Mira. Erik hanya diam sambil terus berjalan.


Hujan pun turun, dia berlari ke rumah nya."Erik, sekolahmu Gimana? Sudah selesai" tanya ayah nya, "sudah pak." Sahut Erik masuk kamar. Ayah ya begitu senang setelah Erik menyelesaikan sekolahnya walau dirinya punya banyak hutang ke sekolah.


Erik pun langsung berkemas sore itu, "Rik mau kemana?,"tanya ayah nya ketika dia memasukan pakaian nya ke dalam tas bututnya. "Pak, Erik sebaiknya pergi dari sini. Erik mau nyari kerja."sahut Erik.


Ayahnya sedih, meski dirinya ayah angkatnya tapi sudah menganggap Erik anaknya endiri. di saat temannya melanjutkan kuliah dia Hanya bisa menempuh pendidikan sampai SMA saja. Ayah nya mendekat seakan ingin memberi tahu kalo dirinya tidak lah miskin.


"Rik, asal kamu tahu suatu hari kau tidak akan lagi menderita. Percaya Sama bapak."ucap ayah nya. Erik melihat ayahnya tersenyum sambil berkemas."iya pak, semoga saja nasib kita berubah, sudah dari kecil aku di hina. Rasanya seperti makanan sehari-hari," sahut Erik


Sambil melihat Erik, dia teringat dengan ayah nya. Untuk memberi kan semua warisan nya padanya. Erik yang kini sudah dewasa ayah angkatnya pun bingung apakah harus memberitahunya sekarang?


Mengingat warisan yang di tinggalkan orang tuanya Erik cukup besar. "pak, nanti hutang ke sekolah biar Erik bayar ya " ucap nya.


Ayah nya Hanya tersenyum, terdengar hujan di luar makin deras. "Kak mau kemana?,"tanya Rio. Erik senyum "mau pergi kerja." Jawabnya.

__ADS_1


Ayah angkat Erik kini bingung, harta yang di tinggalkan orang tua Erik cukup besar. Tapi sambil melihat Erik Yang sudah dewasa. Dan juga wasiat orang tuanya Erik untuk memberi tahunya Erik ketika dewasa.


Tapi ayah angkat nya rupanya dia ingin melihat Erik berjuang sendiri, iapun mengurungkan niatnya untuk memberi tahu warisan yang di tinggalkan orang tuanya Erik padanya.


__ADS_2