
Erik begitu terkejut, mendengar ayahnya yang selama ini mengurusnya dari kecil bukan lah orang tuanya.
"Pak, bapak pasti berbohong pada Erik. Pak apa Erik anak pungut seperti yang mereka katakan?" Tanya Erik.
Ayah Erik tersenyum, dengan nafas terdengar sesak. "Dengar, ayah dan ibumu orang kaya. Ayah dulu kerja padanya tapi ayah mu, Mereka kecelakaan ayah mu langsung meninggal. ibu dia masuk rumah sakit. Sebelum meninggal menyusul ayah mu ibumu menuliskan surat itu buat mu." Ujar ayahnya.
Erik hanya bisa terdiam, dia tidak percaya dirinya orang kaya. Bahkan dia tidak pernah membayangkan nya.
Sambil memegang amplop dari ibunya Erik, dia merasa ini Hanya mimpi. "Pak, ini tidak benar, kan" memegang tangan ayahnya yang sudah lemah.
"Pak...pak, bapak tetap ayah Erik. Pak...ayo kerumah sakit. Bapak jangan keras kepala." Ucap Erik.
Terlihat ayahnya tersenyum seperti sudah tenang, sudah menyampaikan amanat majikannya.
Terlihat bapak, matanya mantap ke atas. Erik terus memegang tangannya. Diapun berhenti bergerak.
Ibu sudah pulang dari warung, malam itu bapak terlihat diam. "Pak.. bangun, pak..."sambil menggoyang-goyang kan tangannya namun bapak tidak juga bergerak.
Erik menangis, "Bu... Bapak dia sudah tidak ada." Ucap Erik, ibu langsung duduk lemas.
Erik terus menangis di samping ayah angkatnya, Rio yang baru pulang main dia melihat Erik menangis, "kak bapak kenapa?" Tanya Rio, "Rio...bapak sudah tidak ada."
Rio langsung menangis, Erik langsung menutup matanya, malam itu Erik langsung memberi tahu pak RT. Ibu terus menangis di samping bapak yang sedang berbaring.
Tok-tok-tok!!
"Pak..."panggil Erik, pak RT membuka pintu melihat Erik seperti sudah menangis."Erik!! Ada apa?" Tanya pak RT. "Pak, ayah ku sudah meninggal."
Pak RT langsung beranjak kerumah Erik, malam hari para tetangga melayat. Erik tidak menyangka akan di tinggalkan ayah nya secepat ini. Bahkan dia sedih belum bisa membahagiakannya.
Walau pun dia ayah angkat tapi Erik sudah menganggap nya ayah sendiri, teman Erik sekampung hanya melihatnya. Dari dulu Erik tidak punya teman di kampung nya. Mereka selalu menjauhi nya ketika Erik menghampirinya. Entah kenapa Erik pun tidak mengerti.
"Erik, yang sabar ya..."ucap pak RT memegang bahunya Erik yang sedang duduk merenung.
Ibu terus menangis, tetangga terlihat menenangkannya.
"Erik, ayo mandikan bapak mu " perintah pak RT.
Erik pun beranjak memandikan ayah ya, Erik terus menatap nya sambil menangis. Selama bersama hidup nya Erik merasa ayahnya belum pernah bahagia.
Malam itu juga bapak di makam kan di antar para tetangga. Melihat bapak sudah berbaring di peristirahatan terakhirnya. Erik terus meneteskan air mata.
Bapaknya pun sudah tidak ada,"Rik, ayo pulang..."pak RT mengajaknya pulang. "Bu ayo pulang" melihat ibu terus duduk di makam bapak sambil menggedong anaknya, Erik menggendong Adam, Rio berdiri di samping ibunya meratapi ayahnya yang sudah tidak ada.
"Ayo Bu..."sambil menggadeng tangan nya.
Erik tahu, sekarang ibu dan adiknya jadi tanggung jawabnya. Bapak nya menitipkan ibu dan adiknya padanya.
__ADS_1
Sambil berjalan ibu tidak hentinya menangis, sampai rumah suasana nampak sepi. Rio sudah tidur ibu di kamar terus meratapi kepergian bapak.
Erik duduk sendiri, di berfikir harus bagaiman mengurus keluarganya. Erik beranjak ke kamar melihat amplop yang di berikan ayah nya Erik begitu penasaran.
Erik membukanya terlihat surat, beberapa kunci, juga ada liontin, iapun membaca surat.
" Erik, anakku jika kau baca surat ini kau sudah dewasa. Ibu dan ayah mu walau sudah tidak ada selalu bersamamu.
Erik, jadilah anak baik, iya ayah mu meninggalkan rumah untuk mu, perkebunan, kunci itu. Ia di rumah di kamar ibu dan ayahmu ada berankas. Semua barang berharga ibu dan ayahmu ada di sana.
Erik, teruskan lah usaha ayah mu, semua kerja keras ayah dan ibumu buat mu. Iya ayah angkat mu jangan lupakan dia. Ibu dan ayah mencintaimu.
Salam cinta dari ibu dan ayahmu.
Erik melihat foto kedua orang tuanya bersama dirinya. Terlihat liontin saat di buka ternyata foto mereka. Erik pun memakainya.
Melihat ayahnya yang tampan memakai blazer abu ibunya dengan dress warna putih begitu cantik dengan rambut panjang terurai, sambil ternyum mereka nampak masih muda. Erik meneteskan air mata.
Begitu banyak kunci yang ada di amplop itu.
Melihat alamat rumahnya, yang rupanya lumayan cukup jauh dari kampung nya.
Erik sambil memegang foto orang tuanya dia pun tertidur.
****
"Bu, sudah jangan di tangisi terus. Bapak sudah tenang di sana." Ucap Erik.
" Erik, ibu bingung sekarang harus mengurus Rio dan adik nya sendiri. Ibu tidak bisa." Jawab ibu.
"Bu, Erik akan bantu. Sudah lah meski bapak sudah pergi tapi hidup terus berjalan." Ujar Erik.
Ibu mengusap air matanya," sekarang kau akan apa? Apa akan ke kota meninggalkan anak mu? Tidak, ibu sekarang sudah tidak sanggup." Sahut ibu.
"Gak, Bu Erik akan meneruskan usaha ayah ku."jawab Erik.
"Jadi tukang tambal ban? Itu tidak seberapa Erik akan tatap kurang." Sahut ibunya.
Ibunya tidak tahu Erik Inging meneruskan usaha ayah kandungnya. Ia hanya tersenyum.
" Bu ini uang, pakailah..." Memberikan uang hasil gaji terakhirnya.
Yang tadinya Erik, akan menyimpan nya untuk keperluan anaknya.
Ibunya menerima uang dari Erik, Rio bangun dia duduk terdiam. "Rio cepat sekolah.." ucap Erik.
Erik merasa ayah nya masih ada, ia berencana hari ini ingin melihat rumah peninggalan orang tuanya.
__ADS_1
"Bu, Erik akan pergi sebentar." Ucapnya, beranjak ke kamar mengambil amplop juga kunci dari orang tuanya.
"Mau kemana?" Tanya ibu.
"Mau ke rumah teman sebentar, ibu bisa kan titip adam sebentar. "sahut Erik sambil membawa tas.
"Jangan lama..."Ujar nya.
"Gak akan lama Bu..." Erik pun beranjak pergi.
Sepanjang jalan dia tidak menyangka kalo dirinya orang berada selama ini, dirinya mengira selama ini hanya anak pungut. Karena tetangga sering mengatakan dirinya anak pungut.
"Apakah ibu tahu..." Gumam nya sambil berjalan. Tapi dia merasa ibunya tidak tahu hanya ayah angkat nya yang tahu.
"Jadi selam ini ayah angkat ku kerja pada orang tuaku." Ucapnya.
Menunggu bus, Erik tidak sabar ingin melihat rumah orang tuanya.
Terlihat bus datang iapun langsung mencegatnya dan masuk.
Dret.. Dret...getar ponsel membangunkan dari lamunan nya dia terus memikirkan rumah orang tuanya.
"Erik, ini bibi iya gimana keadaan ayah mu?" Tanya bibi.
"Bi... Dia sudah tidak ada , bi" jawab Erik.
"Bibi turut berduka ya, ia kapan kau kesini bapak menanyakan mu.."
"Maaf, Bi sepertinya Erik gak akan kembali. Sampaikan maafku pada ibu dan bapak. Ia hutang bibi nanti Erik kirim ya..." Ucap Erik.
"Yah, Erik bibi akan sepi gak ada kau. Terus kau mau kemana sekarang."
Erik ternyum, "aku sepertinya akan di kampung saja bi, meneruskan usaha ayah ku. "jawab Erik.
" Ya sudah, tapi jangan lupakan bibi ya..." Sahut bibi menutup telponnya.
Melihat alamat, " pak di depan.." ucap Erik diapun turun dari bus.
Bertanya pada seorang warga,"pak, maaf apa ini alamat rumah ini benar?" Tanya Erik.
" Rumah besar itu, iya benar harus naik motor mas.." ujarnya.
Erik pun memanggil ojek, " bang, kerumah yang ada di alamat ini..."
Iapun naik motor,"mas mau ngapain ke rumah besar itu... Sudah lama kosong. Sayang rumah megah di tinggal tapi agak serem sih sekarang." Ucap tukang ojek.
" Mas disini.." Erikpun turun dan membayar nya.
__ADS_1
Ia kaget saat melihat rumah yang begitu besar, terlihat megah , gerbangnya begitu besar dan tinggi. Erik tidak percaya "apakah ini ruamhku ?"