
Terlihat lelah, Eza saat melihat Erik tertidur di kasur nya.
Eza merasa beruntung dirinya setelah melihat Erik, namun entah dia bingung harus membantunya bagaimana lagi. Hanya ini yang bisa dia bantu.
"Rik, bangun sudah sore. Sana mandi"ucap Eza, Erik terbangun dari tidurnya saat melihat di depan Eza sudah ada makanan. "Wah kebetulan gue lapar."ujarnya.
"Sana mandi dulu .."perintah Eza, tapi Erik dia selalu tidak menuruti Eza "ah sudah nanti saja, makan dulu gue lapar. Ayo makan"sahut Erik mereka pun makan bersama sore itu.
Sementara Mira, dengan kandungannya yang sudah terlihat ibunya seperti membencinya sekarang.
"Anak gak nurut apa kata orang tua, mau jadi apa? Udah bikin malu malah bunting duluan lihat teman mu mereka kuliah. Ini malah ingin menikah dengan si Erik udah miskin kumel. Ibu heran kenapa kau suka dengan nya."ibunya Mira terus ngomel sore itu saat sedang masak.
Mira hanya bisa diam saat ibunya terus ngomel pada dirinya.
Ayahnya yang baru pulang kerja, melihat Mira sedang duduk menonton tv ibunya sedang ngomel padanya.
"Lihat pak, dia memang gak bisa di bilangin ibu sudah bingung jadinya. Ibu malu pak tiap keluar rumah selalu di gosipkan, mereka bilang apa orang tuanya gak becus didik " keluh ibunya Mira pada ayah nya.
Mengehal nafas, sambil duduk di dekat ibunya "sudah Bu, begini saja jika anak ini sudah lahir suruh dia cerai dengan Erik kita jodohkan dengan anak teman ayah yang duda. Dia sudah mapan."ucap ayah nya Mira.
Mira langsung kaget menoleh pada ayah nya, "apa!! Gak Bu, pak, aku gak mau. Kalo ibu dan bapak kekeh aku harus cerai lebih baik pergi saja. "ujar Mira sambil beranjak ke kamarnya dengan perut yang sudah kelihatan besar.
"Pak, pokoknya kita harus menikahkan Mira dengan teman bapak itu. Ibu gak Sudi punya menantu seperti si Erik udah miskin keluarganya bikin suka ulah, banyak hutang pula." Ucap ibunya.
"Iya Bu, bapak juga setuju tapi anak itu memang keras kepala." Sahut ayah Mira.
Mira, dia terus menelpon Erik namun tidak di angkatnya.
Sementara Erik dia sedang mandi, Eza membereskan bekas makan. "Rik, ada yang nelpon dari Mira ."ucap Eza. "Biarkan saja, za " sahut Erik.
Duduk sambil mengerjakan tugas kuliah nya Eza terus menatap ponsel Erik yang bergetar. Iapun akhirnya mengangkat nya.
"Erik, kemana saja kau kenapa lama angkatanya. "Ucap Mira dengan suara yang terdengar sedih
" Mir, sorry ini Eza Erik sedang mandi."sahut Eza.
"Eh , za apa kabar maaf makasih ya udah mau menolong Erik."balas Mira.
"Gak apa, lagian dia kan temanku. Iya gimana kehamilanmu. Katanya sudah jadi istrinya Erik ya. "ucap Eza sambil melihat Erik keluar dari kamar mandi.
Terdengar Mira tertawa, "iya za, gue sedang mengandung anaknya. Ya sudah nanti kalo ada Erik katakan telpon balik ya. "Terdengar Mira begitu senang.
__ADS_1
"Eh ini Erik..." Tapi Mira malang langsung mematikan nya.
Melihat erik, Eza Heran dengannya kenapa dia jadi suka pada Mira.
Duduk di sampingku sambil melihat ku ngerjain tuga, "gue mau tanya "ucapku sambil meliriknya. "Apa?,"sahut Erik .
Eza menatap Erik dengan rambutnya yang basah, wajahnya yang sebenarnya cakep tapi kenapa dia kumel buat orang menggap seperti gak bisa mengurus diri.
"Lo kenapa natap gue, Lo Suka sama gue ya." Canda Erik
Uueekkkk
"Gue suka Lo, membayangkan nya saja sudah pengen muntah."jawab Eza. Erikpun tertawa.
"Gak, gue pengen tahu saja kenapa Lo Suka Mira dulu kau bahkan gak melirik nya. Tapi sekarang kenapa Lo bisa mencintainya?" Tanya Eza.
Erik menghela nafas sambil beranjak duduk menyender di tembok. "Gue dulu memang gak Suka, geu punya hutang padanya 2 JT, dia menolong keluargaku dan aku fikir dia begitu baik padaku, saat aku pergi aku tidak punya uang dia yang memberikan uang padaku. Awalnya aku menerima dia karena aku ada hutang dan kasihan tapi entah kenapa makin kesini gue merasa cinta itu tumbuh sendirinya."ucap Erik.
Eza pun tersenyum dia mengerti, mungkin itu yang katakan orang dari benci jadi cinta."gue sudah bilang dulu Lo cocok sama Mira"Timpal Eza.
"Makanya Rik, kalo Lo gak Suka sama Mira jangan nyakitin dia dan akhirnya Lo sekarang malah mencintainya."ujar Eza.
Erik beruntung dapat teman Eza walau hanya dia teman yang di miliki Erik. Tapi bagusnya dia tidak suka banyak teman, cukup satu yang penting dia tidak datang saat butuh nya saja.
Tapi ini malah Erik yang datang ada Eza setiap dia butuh.
Eza mungkin banyak teman di kampus nya, Erik sambil menatap Eza yang sedang serius mengerjakan tugas kuliah nya.
" Za, Lo pasti punya banyak teman ya di kampus?,"Tanya Erik .
"Kenapa, ada beberapa gak banyak tapi mereka pulang ke rumah nya gak ngekos, mereka orang kaya" Sahut Eza.
Erik sudah menduganya, "apa gue jadi beban datang ke sini?"tanya Erik takut merepotkannya. "Lo bicara apa sih, gak lah emang Lo besok mau kerja di mana?"Eza balik bertanya.
"Gue pun gak tahu, Lo dong tolong gue tanyain. Siapa tahu teman-teman Lo ada lowongan apa kerja apapun gue mau. Gue sekarang butuh bgt kerjaan buat kelahiran Mira."ucap Erik.
"Ya sudah, geu coba bantu tapi gak janji ya..."sahut Eza.
"Thanks ya Lo memang sahabat gue. "jawabnya.
Sore beranjak malam, tak teras begitu cepat waktu berlalu. Eza setelah menyelesaikan tugasnya dia langsung menjatuhkan dirinya di samping Erik sambil mengehal nafas.
__ADS_1
"Miskin,"ucap Eza sambil tertawa.
"Iya gue miskin, mungkin orang tidak suka Sama gue karena gue miskin ya. Za gue selalu heran kenapa gue beda dengan Rio adik gue katanya orang-orang gue gak mirip dengan keluarga gue. Lo lihat gak wajah gue berbeda dengan keluarga gue?"tanya Erik.
"Iya sih, geu melihat keluarga Lo sama Lo kok beda. Mungkin Lo anak pungut" canda Eza ambil tertawa terbahak-bahak.
Plakkkk
"Si*l Lo , " Erik memukul kepanya.
"AW... Sakit tau."jawab Eza.
Eza pun berfikir sama halnya dengan Erik, memenang beda dengan Rio adiknya Bahkan sangat jauh bila di bandingkan. Eza selalu bertanya-tanya apakah erik dari keluarga mereka atau anak adopsi ?
"Ayo cepat tidur.."ucap Eza.
Malam hari terasa begitu sepi, hanya terdengar suara jarum jam berdetak . Eza sudah terlihat tidur.
Erik bertanya pada dirinya sendiri. Ia memikirkan apa yang di katakan Eza. "Apa benar dirinya anak pungut ?"gumamnya dalam hati.
Erik berfikir selama dari kecil dia tidak pernah merasa di manjakan ibunya. Bahkan dia selalu mendapat pukulan dari ibunya ketika menangis.
Jika menginginkan sesuatu dirinya hanya bisa melihat temannya. Tidak pernah sekalipun ibunya membelikan apa yang dia inginkan.
Erik makin lah bertanya-tanya?
Iapun tidur menutup harinya yang lelah, memikirkan Mira istrinya yang sebantar lagi akan melahirkan.
****
Terdengar bunyi alarm mengagetkan nya, " za berisik .."ucapnya .
Eza bangun mematikan alarm nya. "Erik, bangun..." Ucap Eza. Namun Erik begitu susah di bangunkan . "Bangun cepat ah, gue mau pergi Lo sana cari kerja gue gak mau Lo malah diam di kosan." Sambil menarik tangannya.
"Iya, gue bangun sana Lo mandi duluan" ucap Erik.
Eza pun mandi, pagi itu cuaca cerah merekapun bersiap berangkat. "sarapan di luar saja ya "ucap Eza. Ambil beranjak keluar dengan motornya.
"Za, tolong ya tanyain sama teman Lo siapa tahu ada lowongan."ucap Erik minta tolong. "Iya gue tahu. Sudah nanti kalo ada juga gue bilang. Ayo sarapan dulu."sambil menepikan motornya di pinggir jalan.
__ADS_1
Mereka pun sarapan bersama, "semoga cepat Lo dapat kerjaan ya."ucap Eza sambil makan. "Iya, semoga saja."sahutnya.
Setelah sarapan Eza dan Erik pun berpisah, Eza ke kampusnya Erik sendiri berjalan kaki mencari kerjaan.