
Sambil berdiri menggedong anaknya, Erik melihat Mira yang pergi bersama ibu dan ayahnya.
Erik tidak percaya Mira ternyata tergoda dengan tampang dan harta Fandi cowok yang di jodohkan ayah nya.
"Pak, maaf bapak harus menyelesaikan biaya admistrasi persalinan istrinya. "Ucap seorang perawat.
"Iya, mbak..."sahut Erik beranjak mengikuti perawat.
"Pak di sini ya, permisi..."ucap perawat Kemabli kerja.
Erik berdiri di depan kasir , " atas nama pak Erik ya .."ucap mbak kasir, melihat Erik sambil menggedong anak "iya mbak..."sahutnya.
Deg-degan yang dirasakan Erik takut biayanya mahal dia hanya bawa uang 5juta hasil tabungan yang ia kumpulkan selama kerja di kota.
"8 juta ya pak.."Ujarnya.
Erik pun bingung uang nya Kurang, dia gak tahu harus apa."mbak, saya ada 5juta gimana ya.."ucap Erik dengan wajah kebingungan. "Gimana ya pak."sahut mbak kasir.
"Ya sudah pak, begini saja indentitas bapak saya pegang dulu bapak cari saja tambahannya gimana. "Usul mbak kasir.
Erikpun mengiyakan sambil memberikan uang 5jt dan juga kartu identitas nya iapun pulang sambil mendong bayi.
Dengan naik angkot Erik pulang ke rumah Mira, meski dia sudah di usir tapi dia tidak tega melihat anaknya yang masih butuh seorang ibu.
Sampai di kampung, tetangga melihat Erik, "Erik sudah punya anak saja kau."ucap tetangga nya saat ia lewat Erik hanya senyum masuk rumah Mira.
"Mau apa lagi kau Kesini."ucap ibunya Mira saat Erik masuk.
"Bu, maaf anakku masih bayi. Kasihan dia lihat seperti nya lapar."ucap Erik.
Ibunya pun diam membiarkan Erik masuk kamar , Mira terlihat sedang tertidur. "Mira...susui anakmu lihat dia lapar, kasihan. "Ucap Erik.
Mira terbangun sambil mendecak, "tapi Erik, ini yang terakhir ya aku gak mau lagi ngurus anak, capek ."sahutnya. "Iya, aku harus keluar sebentar. "Ucap nya.
Sambil berdiri erik beranjak dari kamar Mira. "kau mau ke mana?"tanya Mira mungkin takut Erik pergi.
"Mau ke rumah ibu ku. "sahut Erik..
Lelah yang dia rasakan, dari kemarin dia belum tidur. Kepalanya terasa pusing sambil berjalan Mecari uang pinjaman 3juta buat bayar rumah sakit Erik bingung. Pinjam orang tuanya sudah tentu mereka tidak ada .
"Pinjem sama siapa ya?" Sambil berjalan terus berfikir, yang dia tuju hanya Eza sahabatnya tapi dia tidak mungkin mungkin Eza Sekarang dia marah padanya karena perlakuan Erik kemarin.
__ADS_1
Tapi Erik tidak punya pilihan lain selain minta tolong padanya.
Erikpun beranjak ke rumah Eza meski dia malu.
Sampai di depan rumahnya, terlihat Eza sedang bersiap akan pergi sambil memakai helm.
"Za..."ucap Erik, Eza menoleh "ada apa Lagi. "Sahut Eza dengan wajah kesal. "Bisa kita bicara sebentar "ucap nya.
Eza menghela nafas, membuka gerbang rumahnya "masuk..."sahut Eza. Duduk berdua.
"Maaf, gue salah..."ucap Erik.
"Gue gak mengerti, Lo kenapa? salah gue apa dan Lo bilang Lo gak menyangka. Maksud lo gak menyangka apa ?"Tanya Eza dia heran pada Erik.
"Za, Lo gay?" Ucap Erik , seketika Eza kaget."hah, mana mungkin gue begitu. Erik jangan fitnah gue." Sahut Eza dia berbohong pada Erik.
"Za, meski Lo begitu gue gak peduli. Lo tetap teman gue. Gue tahu Lo berpacaran sama Radit kan. Gue gak sengaja lihat Lo berciuman dengannya." Erik memberi tahu semua yang dia lihat kemarin.
Eza menunduk dia tidak bisa menyangkal Lagi, "Lo tahu, maaf bukan gue merahasiakan dari Lo tapi ini menjijikan bagi orang lain hanya gue yang tahun."sahut Eza.
"Sejak kapan?"tanya Erik.
Eza tertawa kecil, "sudah lama, Rik sejak sekolah pun tapi panjang ceritanya sudahlah lupakan Lo sudah tahu sekarang. Iya Lo ada apa," ucap Eza.
Erik mentap Eza, terlihat dia malu mengatakannya nya. "katakan saja, ada apa?" Eza melihat Erik malu.
Eza sudah tahu jika Erik datang pasti butuh sesuatu. "Sudah gue duga, berapa ?"tanya Eza.
"3 JT saja." Jawab Erik.
"Ya sudah ayo pergi, uang gue di ATM ."Eza pun beranjak pergi bersama Erik.
Sepanjang jalan Erik terus menatap Eza, dia tidak menyangka Eza begitu. Tapi Erik dia tidak peduli walau Eza gay. Baginya Eza Lah yang suka membantu dirinya. Tidak ada alasan bagi Erik untuk membencinya.
"Za, gue gak nyangka sahabat gue homo haha,"Erik sambil tertawa .
"Sial4n Lo, "sahut Eza.
Sampai di ATM Eza langsung mengambil uang, dan memberikannya pada Erik, "ini, gue pengen lihat anak Lo ."ucapnya sambil memberikan uang pada Erik. "Ya sudah, ayo emang Lo gak ada acara ."sahut Erik. "Tadinya mau jalan bosan di rumah."balas Eza.
Dengan motor nya Erik kerumah sakit lagi melunasi biaya persalinan istrinya , saat akan Kembali pulang Erik meminta Eza untuk berhenti sejenak.
"Za, jangan pulang dulu sini. Gue mau cerita. "Ujarnya.
"Ada apa lagi, bukanya Lo senang sudah punya anak. Kenapa kaya gak senang begitu "tanya Eza menatap Erik yang terlihat pucat dan sedih.
__ADS_1
Duduk di samping Eza, menarik nafas Erik terlihat pucat. "Lo sakit.."Eza menatap Erik pucat , "gak, Mira akan mencarikan gue. Dia akan menikah lagi dengan cowok pilihan orang tuanya. Gue sadar za gue orang gak punya. Tapi kenapa Mira memulai duluan dan akhirnya begini. Kau tahu anak nya suruh aku bawa dia tidak mau mengurusnya . Sedang kan aku kerja masa harus bawa Bayi . Ibuku dia tidak akan mau mengurus anakku aku jadi bingung harus bagaimana."keluh Erik menceritakan curahan hatinya pada Eza sahabatnya.
Eza pun dia tidak percaya, dulu Mira ngejar-ngejar Erik sekarang mencampakan Erik begitu saja dengan anaknya.
"Kenapa Mira bisa seperti itu?"tanya Eza.
"Entah gue juga tidak tahu, mungkin melihat Fandi cowok yang akan dia nikahi lebih cakep , kaya, karena itu mungkin. "jawab Erik.
Termenung di temani Eza, di depan rumah sakit. Erik bingung harus keman dengan anaknya yang masih bayi. Eza menatap Erik yang kebingungan namun dia tidak bisa membantu ya lebih.
"Coba tanyakan dulu pada ibumu, asal kau kasih unang tiap bulan dia mau gak ngurus anak Lo. "Usul Eza.
Erik terenyum, dia tahu ibunya akan menolaknya. Hari beranjak siang cuaca begitu panas. Melihat orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing di rumah sakit itu.
Ponsel Erik berdering, Erik sudah tahu itu dari Mira.
"Erik, lama sekali ini anakmu menangis cepat pulang "ucapnya.
"Iya sebentar, ini mau beli susu dulu.."sahut Erik.
"Cepat pulang bawa anak mu..." Balas Mira langsung menutup teleponnya.
"Ayo za, anter gue beli susu dulu."ucap Erik, Eza mengatarnya membeli susu.
Selesai membeli susu, Erik Kembali ke rumah Mira. Eza masuk mengikuti Erik.."za, kau pulang ?" Tanya Mira saat melihat Eza datang "iya gimana anakmu .."sahut Eza.
Mira pura-pura baik, dia menggendong anaknya."sehat za, iya Lo tambah cakep aja. Senang ya kuliah. Andai dulu aku juga kuliah. "ucap Mira.
"Ya syukur deh kalo anak Lo sehat, gue pulang dulu ya...Erik kalo Lo mau bareng nanti berangkat ke kota bilang aja ya.."ucap Eza beranjak dari rumah Mira.
Erikpun dia sekarang tidak tahu akan ke kota lagi atau tidak, melihat anaknya tidak ada yang akan mengurusnya.
"Ini bawa sana, Erik besok aku akan urus perceraian kita. "Ucap Mira.
Erikpun menggendong anaknya."kau tidak punya hati Mira, ku kira kau dulu benar mencintaiku. "Sahut Erik sambil mengemasi pakaiannya. "Erik, itu dulu aku yang bego. Kini gue sekarang sadar cinta saja gak cukup. Gue juga mau seperti orang lain hidup mewah, Jalan-jalan, terpandang."sahutnya.
Kata-kata nya berbanding terbalik saat dia mengikuti Erik ke kota dia bilang tidak apa-apa seadanya asalkan tetap bersama Erik.
Erikpun pergi dari rumah Mira dengan membawa tas juga menggendong bayinya ke rumah ibu nya
"Bu... Aku pulang." Ucap Erik.
Ibunya langsung kaget, "Kenapa kau pulang ke sini. Itu bawa anakmu lagi. Sana pulang ke rumah mertuamu di sini sudah sesak. Kau bawa lagi anak." Sahut ibunya.
__ADS_1
"Bu, Erik akan bercerai dengan Mira " ucap Erik.
"apa!!!" Wajah ibu terlihat kaget saat Erik mengatakan akan bercerai dari Mira.