
"Bu, Erik akan bercerai dengan Mira." Ucap Erik.
Meski malu pada ibu, Erik tidak tahu lagi harus pergi kemana.
"Kenapa istrimu menceraikan mu? Apak kau buat masalah?"tanya ibu.
"Aku tidak tahu juga, Bu."sahut Erik.
"Ah, nambah beban lagi. Sekarang gimana anakmu siapa yang urus"ucap ibunya.
Terpaksa Erik harus meminta tolong pada ibunya, meski dia tahu ibu tidak mau mengurusnya.
Sore hari terlihat ayahnya pulang kerja, "pak, lihat anakmu malah bawa anak ke sini. Dia juga akan di ceraikan sama istrinya. Sekarang ibu bingung harus mengurusnya, tambah biaya lagi pak." Ucap ibunya pada ayah Erik.
Ayah Erik duduk melihat Erik yang sedang menggendong anaknya. Dia sudah tahu sejak awal kalo ini akan terjadi karena sudah mendengar langsung dari ibunya Mira.
"Ya sudah, Bu mau gimana lagi? Gak apa kita urus saja."sahut ayah Erik.
"Tapi pak, kita masih kekurangan dan ini di tambah anaknya."sahut ibunya.
"Bu, gak apa Erik akan kirim tiap bulan untuk susu anakku dan ibu."Timpal Erik.
"Tuh kan Bu, Erik nanti akan kirim tiap bulan. Gak akan membebani ibu."bujuk ayah nya Erik.
Ibunya tetap saja dia berwajah masam, walau begitu ibunya pun akhirnya menerima karena ayahnya meyakin kan nya Erik akan mengirim uang tiap bulan padanya.
****
Hari demi hari berlalu, mira yang sudah mendaftarkan perceraiannya siang itu dia datang ke rumah bersama ibunya.
Erik yang sedang mengurus anak nya kaget, "Bu, Mira, ada apa?" Tanya Erik melihat Mira sudah sehat kembali. "Erik besok persidangan cerai kita, Kau harus datang pagi. Sudah aku mau belanja buat pernikahan Ku."ucap Mira.
Ibunya Mira menatap rumah Erik, dia seperti meremehkan nya melihat rumah Erik yang berantakan dan kumuh. "ayo Mira, nanti kita ketularan miskin lama-lama di sini."ucapnya.
Untunnya ibunya Erik sedang pergi jualan.
"Besok aku akan resmi menduda, tidak menyangka aku menjadi duda."guamamnya.
Erik, tidak pernah ia bayangkan baru menikah satu tahun lebih sudah mau menduda. Usianya yang masih 21 tahu sekarang dia sudah punya anak.
Siang hari saat ibunya pulang, mendengar suara anak Erik menangis dia langsung marah-marah. "Erik, kasih susu bukan di gedong saja kau gimana sih!"Ucap ibu nya Erik, dia sama sekali tidak mengerti.
"Maaf Bu, Erik gak mengerti cara mengurus anak." Sahutnya.
"Bu, lusa Erik pergi ke kota. Erik akan lama gak pulang ibu kalo ada uang bisa tolong dulu gak, nanti Erik ganti."ucap Erik.
Ibu langsung menoleh padanya, "uang dari mana? Buat rio aja kurang. Sana kau cari uang pinjaman sendiri." Jawab ibunya.
Sambil berfikir Erik tidak tahu harus meminjam lagi ke siapa, Eza sudah banyak hutang padanya.
"Erik, Lo sedang apa?"tanya Eza yang tiba-tiba berdi di samping nya.
"Eh, za Lo ada apa" sahut Erik.
"Kenapa? Lo jijik ya sama gue, kok segitu saat Lo lihat gue."ujarnya.
"Gak za, gue hanya kaget saja. Lo jangan berfikiran gue benci Lo. meski gue tahu Lo begitu.."sahut Erik.
__ADS_1
Eza tertawa, melihat anaknya sedang di susui Erik di luar.
"Besok gue mau ke kota, Lo mau ikut bareng gue gak. "Ucapnya .
"Za besok sidang perceraian gue, kemungkinan lusa. "Sahutnya.
"Oh gitu ya, gue gak menyangka Lo sebentar lagi duda. Makanya Rik tahan nafsu. "Ujar Eza.
Hari beranjak sore, Erik terus menatap Eza dia ingin pinjam uang Lagi tapi dia malu. Eza melihat anaknya Erik yang tertidur.
"Erik, besok sekalian beli susu anakmu buat beberapa bulan."perintah ibunya. Erik Hanya diam, Eza melihat nya.
"Eza, mau pinjem duit lagi ada gak. Nanti di kota gue bayar."ucap Erik walau malu tapi dia memberanikan diri.
"Aduh, Erik bukan gue gak mau ngasih tapi duit gue habis."sahut Eza, erikpun mengerti apalagi dia masih kuliah.
"Maaf, ya za gue nyusahin Lo terus. Gak apa kalo gak ada. "Sahut nya.
"Ya sudah gue pulang dulu ya,udah mau malam. "ujarnya.
"Pak, Erik tolong ya kalo anak Erik susunya habis bapak tolong dulu nanti Erik ganti. " Erik meminta tolong pada ayah nya.
"Iya gak apa, kalo ada bapak pasti bantu."sahutnya.
Hanya ayahnya yang baik padanya, erikpun Kembali ke kamarnya dengan anaknya.
Tengah malam ayahnya terbangun, ia beranjak melihat Erik sedang tidur "Erik sudah dewasa ternyata" gumam ayah nya. Dan Kembali ke kamarnya, melihat surat wasiat dari orang tuanya Erik yang gak boleh di buka sampai Erik dewasa.
"Apakah waktunya ya sekarang," ucap ayah nya sambil melihat amplop.
Ayah nya adalah ayah angkat, dulu ayah nya kerja sebagai orang kepercayaan orang tua Erik. Namun karena orang tuanya kecelakaan mereka meninggal hanya tinggal Erik seorang.
Hanya ayah angkatnya yang tahu kalo Erik bukanlah dari keluarga sembarangan.
"Pak sedang apa? Iya pak gimana dengan anaknya si Erik, ibu rasanya gak bisa mengurusnya. Bapak lihat sendiri ibu jualan sambil bawa anak juga. "Keluh ibunya.
Menghela nafas sambil Kembali menyimpan surat wasiat itu ke dalam lemari dan menguncinya. "iya Bu, gak apa ibu jangan jualan dulu."sahut ayah nya Erik.
__ADS_1
'gak bisa pak, ibu banyak hutang kalo berhenti. Dari mana bayarnya, bapak nyari uang buat makan sama anak-anak."balas istrinya.
"Ya sudah lah Bu, kita fikirkan besok ayo tidur lagi."ucap ayah Erik.
Karena masih malam merekapun tidur Kembali.
***
Terdengar suara anaknya menangis, Erik terbangun langsung memberikan susu. Melihat jam masih pukul 3 walau dirinya begitu ngantuk tapi terpaksa harus bangun dan menggendongnya.
"Ternyata capek juga punya anak"keluhnya. Namun Erik tetap bersabar kalo bukan dia siapa lagi yang urus. Mira malah mau menikah lagi.
Hari beranjak pagi, Erik tertidur di kursi sambil menggedong anaknya. Hari ini dia akan berangkat ke pengadilan.
''erik, bangun sudah pagi."ayah nya sambil menepuk pundaknya. Erik membuka mata, "iya pak, aku harus ke pengadilan. Bapak titip anak Erik ya sebentar "sambil memberikan anaknya pada ayahnya.
"Dari dulu kerjanya nyusahin aja, kapan kau membalas kebaikan bapakmu. Dari kecil di urus sampe gede eh masih saja nambahin beban. "Timpal ibunya saat Erik mandi.
"Bu, diam jangan banyak bicara..."jawab ayahnya. Erik Hanya diam setiap ibu nya ngomel.
Erik pun bersiap-siap dan pergi dengan naik angkot ke pengadilan, saat Sampai di pengadilan rupanya Mira sudah datang dengan ibunya.
Mereka menatap Erik sinis , namun Erik tidak memperdulikannya.
Menunggu giliran sidang, Erik dia hanya datang sendiri sedangkan Mira dengan ibunya.
Erik melihat Mira seperti bukan Mira yang dulu, kini dia terlihat cantik, bandan nya berisi tidak kurus seperti dulu. Namun ia Sekarang tidak lagi mencintainya.
Tibalah giliran Erik dan Mira, sambil duduk berdua Mira menggugat Erik karena tidak di nafkahi. Padahal Erik memberinya uang 500 RB tiap bulan walau Tidka banyak tapi Mira merasa kurang.
Tokkk
Palu di ketuk, dan resmilah mereka bercerai. Erik kini sudah resmi menyandang status duda, dan Mira terlihat bahagia sudah bercerai dari nya.
"Ayo pulang, Mira kau sudah bebas Sekarang. Kita harus mempersiapkan pesta pernikahan yang lebih meriah." Ucap ibunya Mira saat berjalan keluar dari ruangan persidangan.
Erik mendengar semua perkataan mereka , begitu berat baginya melihat anaknya tanpa seorang ibu.
Berjalan sendiri, terus berfikir "seandainya aku orang punya akan ku balas mereka-mereka yang sudah menyakitiku."gumam Erik dalam hati.
"Heh Erik, dengar akan ada pesta besar di kampung. Dan akan ada hiburan 3malam. "Ucap ibunya Mira. Dia seakan pamer punya menantu kaya yang memberikan uang buat pesta pernikahan mewah.
"Iya Bu, maaf aku gak bisa datang harus Kembali ke kota. "jawab Erik.
''emang siap yang ngundang keluargamu, aku juga gak mau kedatang orang miskin seperti kalian. "ucap ibunya Mira.
Erik hanya diam sambil terus berjalan pulang, dia tidak mau berurusan lagi dengan keluarganya Mira.
__ADS_1