DI REINKARNASI KE ZAMAN KERAJAAN

DI REINKARNASI KE ZAMAN KERAJAAN
Chapter 15


__ADS_3

Pagi itu aku telah berpakaian rapi sambil melihat sekeliling kamarku yang sudah bersih dan juga beberapa barang yang sudah kosong dari tempatnya. Serta di waktu yang sama pelayan yang disuruh oleh kakek untuk menjemputku menggunakan kereta kuda pun sudah ada di depan rumah.


Suara ketukan pintu terdengar dan pintu pun dibuka.


Ternyata itu adalah Fanny yang menjemputku.


"Permisi nona Lisa saat ini kereta kuda yang menjemput anda telah tiba. "


Sopan Fanny.


"Terima kasih atas infonya Fanny. Aku akan segera turun."


"Baiklah nona, kalau begitu kami akan membawakan barang-barang anda."


Fanny serta pelayan pria dan wanita lainnya di belakang Fanny akan membawakan barang-barang ku. Sementara mereka sibuk akan membawa barang-barang ku, aku berjalan duluan ke luar kamar untuk segera ke depan rumah dimana kereta kuda yang di parkir kan .


Di depan halaman rumah aku melihat gerbong kereta kuda yang berwarna hitam yang di tengah pintu gerbong kayu itu terukir gambar mawar. Tak hanya itu saja gerbong kereta kuda ini juga ditarik oleh empat kuda yang berwarna hitam bercorak putih di area mata dan pergelangan kakinya pun terlihat indah.


Setelah itu tidak memakan waktu lama Fanny serta pelayan lainnya sudah membawa barang-barang yang ku.


Kedua orangtuaku hadir untuk mengantarkan kepergianku saat ini tak hanya ibunda dan ayahanda para pelayan rumah pun hadir disana mengantar kepergianku juga.


Suasana sedih di tunjukkan oleh kedua orangtuaku. Apalagi saat melihat raut wajah ibundaku yang sudah menetes air matanya saat ini.


"Sayang jagalah kesehatan disana yah, jangan sampai sakit dan juga jang pernah lupakan makan yang teratur."


"Baiklah ibunda aku akan mengingat itu. "


Aku tersenyum canggung. Karena kebiasaanku yang selalu melewatkan jadwal makan akibat sering terlarut membaca buku nampaknya ibunda khawatir akan hal itu.


"Sesekali ibunda pasti akan berkunjung kesananya. "


"Baiklah ibunda. Ibunda tidak usah khawatir aku pasti baik-baik saja disana karena disana ada kakek serta nenek."


Ibunda memelukku serta mengelus kepalaku dengan lembut. Dia seperti tidak rela menyerahkan aku untuk pergi sendiri di tempat yang jauh memisahkan jarak antara diriku dengan mereka.


Sudah cukup lama aku berpelukan dengan ibundaku, ibunda melepas pelukannya. Pelayan yang membawa kereta kuda itupun berkata sambil membuka pintu kereta.


"Baiklah nona sekarang waktunya kita untuk berangkat."


"Baiklah kalah begitu aku berangkat yah ayahanda, ibunda."

__ADS_1


Lalu aku dan Fanny serta Diana naik setelah Fanny serta pelayan lainnya sudah menaruh barang kita di bagasi dan Diana hanya membawa keranjang makanan lalu membawanya ke dalam kereta kuda.


Aku duduk berhadapan dengan Diana dan ia menaruh keranjang nya di sebelah ia di bangku yang kosong lalu aku duduk bersebelahan dengan Fanny.


Terlihat di dalam kereta itu ada 2 tempat duduk yang hanya cukup untuk empat orang yang saling berhadapan namun agak luas jaraknya. Pelayan yang sekaligus menjadi kusir menutup kembali pintunya dan langsung naik ke bangku kusir kembali.


Aku melihat kearah luar kaca jendela, melihat ibunda serta ayahanda sambil melambaikan tangan. Ibindaku masih tetap menangis tersedu-sedu melihat kepergianku.


Sang kusir pun memecut keretanya dan mulai berjalan perlahan,. Aku terus melambaikan tangan kepada semuanya yang mengantarku di depan rumah lalu melewati gerbang rumahku.


Dan setelah melewati gerbang rumah kereta itupun perlahan demi perlahan mulai meningkat kecepatannya dan sudah tak terlihat lagi wujud mereka serta kediamanku juga.


Lalu aku melihat pemandangan diluar dari jendela kereta sambil melamun dan dalam benakku berkata.


"Selamat tinggal kerajaan Marsiey selamat tinggal orangtuaku selamat tinggal teman-temanku dan selamat tinggal semuanya.


Aku pasti akan merindukan kalian walaupun entah berapa lama aku kembali lagi kesini."


Lalu saat aku melamun melihat kearah luar jendela, Diana pun bertanya, "Nona apakah anda ingin sarapan ?"


Namun aku tak menanggapi ucapanya, lalu ia pun berkata kembali.


"Nona..., nona..., nona Lisa? "


"Iya? Ada apa Diana? Kamu membuat aku terkejut Diana. "


"Mohon maafkan ketidaksopanan saya nona. Tapi Nona dari tadi aku panggil-panggil namun tidak menjawab-jawab jadi aku mencoba menyentuh anda nona."


"Begutukah, maaf yah Diana. jadi ada apa Diana ?"


Lalu ia mengambil keranjang makanan di sampingnya menaruh di pangkuan kedua kakinya lalu membuka tutup keranjangnya di.


Terlihat disana ada 6 potong roti lapis serta satu termos kecil. Lalu menyodorkannya padaku sambil berkata.


"Lebih baik nona Lisa sarapan dulu karena perjalanan ini pasti banyak memakan waktu yang cukup lama?"


Diana seperti biasa begitu baik serta n pengertian kepadaku.


"Baiklah aku ingin sarapan tapi kamu juga harus ikut sarapan !"


"Baiklah kalau begitu Nona."

__ADS_1


Aku mengambil roti yang ada di dalam keranjang makan itu lalu memakannya.


Tekstur lembut serta juicy daging sapi isian dari roti lapis ini, rasa renyah dari sayur selada kemudian rasa segar dari tomat serta rasa saus mayonais berpacu menjadi satu di dalam mulutku menjadi sebuah harmoni.


Sarapan pagi di perjalanan ini begitu sangat pas dan juga tidak terlalu berat untuk perut.


"Diana apakah roti lapis ini engkau yang buat? Ini sangat enak sekali. "


"Benar nona Lisa. Terima kasih atas pujian nya syukurlah nona Lisa suka akan rasanya. "


"Sebaiknya engkau juga Fanny harus mencoba ini. "


Kedua pelayan ku ini sedikit terkejut.


"Ta-Tapi nona saya rasa itu kurang sopan jika kami ikut makan bersama anda?. "


Ucap Fanny dengan sangat hormat dan sedikit gagap.


"Itu benar sekali nona Lisa."


ujar Diana pun.


Aku mengembangkan pipiku, memasang wajah cemberut kepada mereka.


"Sudahlah kalian tidak perlu khawatir dan tidak perlu sesungkan itu padaku. Jika kalian seperti itu aku akan marah nih. "


Jawabku sambil memalingkan wajahku ke arah samping berpura-pura merajuk.


"Mohon maaf nona! Baiklah kami akan menuruti apa yang nona Lisa katakan, Asalkan nona tidak marah kepada kami. "


Diana tersipu malu karena mendapatkan pujian diriku atas roti lapis yang sudah dia buat ini.


"Benar sekali nona Lisa. Ini benar-benar enak rasanya jauh lebih enak dari roti lapis yang ada di restoran pernah aku makan. "


Fanny memuji juga atas roti lapis nya.


"Nona silahkan minum ini setelah makan rotinya."


Secangkir teh yang hangat dengan aroma yang begitu harum nan lembut menggelitik hidungku. Itu adalah aroma dari teh lemon yang di campur dengan madu karena dari aromanya saja sudah sangat terasa.


"Gimana nona enakkan minumannya untuk menenangkan suasana."

__ADS_1


"Iya Diana ini terasa menenangkan kamu dan juga Fanny ikut minum juga yah."


Lalu kami minum bersama sambil melihat pemandangan diluar yang tidak terasa sudah di perbatasan antar kerajaan Marsiey dan Leoport.


__ADS_2