
Hari sudah mulai gelap, kecemasanku seketika mereda setelah akhirnya Fizkar mengatakan bahwa saat ini kita sudah sampai di depan gerbang kediaman Kakek.
Di depan gerbang terlihat dua orang penjaga membawa Zirah serta memegangi tombak saat kereta ini melewati gerbang masuk.
Kediaman kakek ku pu bisa dikatakan hampir sama bentuknya dengan kediaman rumah ibunda serta ayahanda. Jalanan yang jaraknya cukup jauh dari gerbang utama menuju ke kediaman serta jalanan yang terbentuk dari paling block ini diterangi oleh lampu-lampu jalan berwarna pijar.
Kereta kuda pun berhenti. Fizkar pun membukakan pintu kereta kuda. Aku turun dan disusul oleh Fanny serta Diana di belakangku.
Saat aku baru saja turun dari kereta kuda, ada seorang pria tua memakai setelan pelayan sangat rapi. Rambutnya sudah memutih semua serta dia mengenakan kacamata.
Dia membungkuk hormat di depan ku "Selamat datang Nona muda Lisa di kediaman Alson. Perkenalkan nama saya Andreas Born, saya di perintahkan menyambut anda oleh tuan besar yaitu kakek anda Sir Robert Alson, nona Lisa. "
Sikapnya begitu hormat kepadaku, padahal dirinya baru kali ini bertemu denganku.
"Terima kasih atas sambutannya tuan Andre."
Balas ku sambil membungkuk hormat kepadanya karena ini adalah sebuah kesopanan yang sudah mendarah daging kepadaku ketika orang menghormati dirimu kamu harus lebih menghormati mereka.
Kemudian kami berdua kembali Negap kan badan kami. Andre tersenyum dan berkata, "Tidak usah terlalu sopan terhadapku nona muda Lisa. Anda bisa memanggil saja dengan sebutan Andre saja. "
"Baiklah Andre."
"Baiklah kalau begitu Nona muda Lisa bisakah anda mengikuti saya."
"Dengan senang hati. "
Andre berjalan di depan masuk ke dalam kediaman di ikuti olehku dari belakang nya.
Sementara itu Fanny, Diana serta pelayan lainnya menurunkan barang-barang bawaan ku.
Tak kalah megah, mewah serta bersih berkilau kediaman ini pun dengan kediaman ku. Aku terus berjalan sambil melewati koleksi-koleksi yang ada di sana sampai pada akhirnya Andre pun berhenti di depan sebuah pintu berwarna putih. Aku pun ikut berhenti.
Andre mengetuk pintu.
"Tuan, Nyonya saya sudah membawa nona muda Lisa."
Andre membuka pintunya kemudian melihat ke arahku sambil membuat gerakan sopan mempersilahkan aku masuk.
"Nona muda Lisa. Tuan serta Nyonya sudah menunggu anda."
Aku berjalan masuk kedalam. Dan setelah didalam aku seketika disambut dengan sangat gembira oleh kakek dan nenek ku. Kakek dan nenek ku mendekat kepadaku kemudian langsung memelukku.
"Lisa cucuku sayang selamat datang di rumah kakek bagaimana kabarmu sehat nak ?"
"Iya sayang nenek juga sangat merindukanmu."
Dengan penuh kasih sayang mereka memelukku.
Kakekku bernama Sir Robert Alson. Adalah seorang pensiunan Jenderal. Dulunya dimana saat zaman penjajahan dirinya adalah sosok Jenderal yang paling di segani sekaligus ditakuti dari kerajaan ini, yaitu Kerjaan Leopord maupun negara musuh yang memerangi Kerajaan Leopord ini. Dirinya dengan sangat gagah berani mempertahankan wilayah Findar yaitu wilayah di sebelah barat wilayah kerajaan ini.
Kakek ku yang bertarung dengan gagah berani pun berhasil menyapu lebih dari ribuan pasukan dengan kekuatannya sendiri serta pasukan yang dia pimpin berhasil unggul telak mengalahkan negara musuh yang jumlahnya lima kali lipat dari pasukan yang di pimpin oleh kakek ku.
Dan setelah perang usai kakek ku pun di beri julukan oleh musuh sebagai Sang Tiran dari Leopord dan disitu juga kakek untuk pertama kali di usianya yang menginjak dua puluh tahun diberi gelar Marquis oleh sang raja saat itu.
Kemudian nenek ku mempunyai nama yaitu Ellisabet Doli pada saat mudanya namun sekarang nama ya adalah Ellisabet Alson. Nenekku waktu muda adalah seorang bangsawan kelas atas yaitu dari keluarga Duke Doli. Keluarga Doli adalah keluarga yang sangat dikenal akan kecerdasan, kecantikan serta kekuatan di Kerajaan Leopord.
Dan juga nenek ku adalah wanita pertama yang menjadi komandan strategi pasukan kerajaan dan ia pun telah mendapatkan mendali kehormatan atas jasa keikutsertaan perang.
"Iyah nenek, kakek aku juga kangen kepada kalian namun saat ini aku akan ada disini menemani kalian." Ucapku sambil membalas pelukan mereka.
__ADS_1
"Yasudah kalau begitu mari kita masuk kami sudah membuat makanan untukmu pasti kamu lapar kan habis perjalanan jauh."
Ucap nenekku lalu akhirnya kamipun masuk makan bersama.
***
Sesampainya di ruang makan di meja pun banyak sekali hidangan yang telah dimasak atas menyambutnya kedatanganku. Masakan dimulai dari steak sapi, ayam panggang, sup ikan, berbagai macam sup dan masih banyak masakan yang lainnya.
Piring serta alat makan yang lainnya pun sudah di atas meja. Kakek dan nenek duduk berdampingan, sementara aku duduk di seberang mereka.
"Nenek banyak sekali hidangannya memangnya akan habis ?" Ucapku begitu.
"Kan kamu yang akan menghabiskan ini semua ini khusus loh nenek yang buatkan untuk menyambut. " Ucapnya sambil memberikan steak sapi yang nenekku buat.
Steak sapi yang berwarna coklat kemerah-merahan atau bisa dikatakan steak sapi ini dimasak dengan tingkat kematangan medium rare diletakkan di piringku.
Aku dengan senang hati menerima pemberian nenek lalu memakannya
"Hmmp"
Kata yang tak sadar ku ucapkan saat memakan steak ini. Tekstur yang juicy pecah di mulut dan juga rasa rempah yang akan kaya rasa bercampur dalam lidahku. Aku menikmati memakan steak ini.
"Nenek bagaimana steak ini dibuat bisa se'enak dan selembut ini dan juga rasa yang beda dari yang lain." Ucapku sambil menatap ke arah nenekku dengan mata berkilap-kilap.
"Ini adalah makanan yang spesial koki pribadi nenek yang buatkan untuk menyambut kehadiranmu Lisa sayang."
"Begitu yah. Terima kasih nenek. Aku sangat menikmati ini. "
"Sama-sama sayang. "
Saat aku selsai mengobrol dengan nenek, kakek pun berbicara.
"Benarkah itu kek?" Ucapku yang melirik ke arah kakek.
Lalu nenekku pun menyenggol pundak kakekku yang tersipu malu dan berkata. "Apaan sih kamu Robert berbicara seperti itu."
"Hahaha memang benarkan sayang." Jawab kakekku begitu.
"Senang sekali aku melihat kakek dan nenek bahagia begini." Ucapku.
Lalu kakek dan nenek aku pun terdiam akan kata-kata yang aku ucapkan sambil melihat ekspresi wajahku yang sedikit iri melihat kakek dan nenek ku.
"Lisa suatu saat kamu juga pasti akan menemukan kebahagiaan, tidak usah kamu berkecil hati seperti itu. Yang lalu biarkanlah berlalu biarkan pergi dan relakan lah. Sekarang hiduplah dengan tujuan barumu yang dan jalani lah apa yang menurut kata hatimu benar. "
"Iya benar apa kata nenek mu itu. Yang lebih penting sekarang kamu makan saja yang banyak dan lupakanlah masalah itu kamu pasti lapar kan setelah menempuh perjalanan yang jauh dari rumahmu kesini."
Kakek mencoba menghibur diriku agar terlihat ceria kembali. Namun aku tidak menyangka aku bisa membuat ekspresi yang menyedihkan seperti itu, padahal aku tidak merasa ekspresi wajahku berubah.
"Hehehe benar sekali nek sekarang kita habiskan saja makan yang ada di meja ini."
Dan setelah itu kami selesai makan malam, kami pun pindah ke ruangan tengah tempat yang biasa untuk berkumpul dan bersantai di sana menurut kakek dan nenek.
Di dalam ruang santai ada sofa merah panjang cukup untuk tiga orang aku duduk di tengah, kakek duduk di samping kanan ku sementara itu nenek kh telah kembali ke kamarnya.
"Kek aku boleh bertanya sesuatu?" Ucapku dengan ragu-ragu.
"Boleh kamu mau bertanya apa ?" Ucap kakek aku yang penasaran akan pertanyaan ku. .
"Kek apakah benar kata ibunda dan ayahanda bahwa aku akan diberi untuk mengurus wilayah di daerah kakek punya."
__ADS_1
"Oh tentang itu kukira tentang apa."
"Memang menurut kakek aku akan bertanya apa ?" Aku pun terheran akan ucapan yabg dilontarkan kakek aku.
"Kakek kira kamu akan bertanya tentang kamu ingin pulang kembali ke rumahmu."
"Ihh kakek ada-ada saja. Masa aku baru datang kesini langsung ingin pulang lagi kesana . Lagian aku tahun depan kan akan sekolah disini dan juga dokumennya sudah dikirimkan oleh ayahku." Ucapku sambil memeluk kakekku sari samping dan menyenderkan kepalaku kepada pundaknya.
"Tentang itu memang ia namun jika itu juga kamu bersedia namun jika tidak juga tidak apa-apa." Ucap kakek ku sambil mengelus kepalaku
"Aku bersedia kek dari pada aku tak ada kegiatan disini. Memang wilayah nya sebelah mana." Ucapku
"Wilayahnya yang kakek pernah selamatkan dulu yaitu di Findar."
"Ohh di Findar kah memang wilayah Findar lingkungan kaya gimana kakek." Ucapku sambil melepas pelukannku.
Lalu kakek ku pun berdiri sambil berkata. "Nanti akan kakek jelaskan rinciannya ke kamu Lisa. Lebih baik sekarang kakek akan beristirahat karena hari sudah mulai malam."
"Baiklah. Semalam malam kakek."
"Yah selamat malam juga Lisa."
Ucap kakek sambil berdiri dan pergi meninggalkan aku sendiri. Lalu setelah kakek susah pergi tidak terlihat.
Aku memanggil Fanny tidak jauh dariku yang sudah beres dan menata rapi barang-barang bawaan ku dikamar dimana aku akan tinggal hari ini.
"Ada apa Nona?"
"Fanny kamarku sebelah mana. Aku ingin istirahat dulu."
"Kamar nona ada di lantai dua. Mari saya antar. "
Fanny berjalan menuntunku ke arah kamarku dan aku mengikutinya dari belakang.
Perjalanan ke kamarku melewati tangga yang besar bercabang dan berkarpet merah dan tangga itupun bercabang, Fanny berjalan ke sebelah kanan menaiki tangga itu, aku terus mengikutinya, hingga sampai di koridor menuju kamarku di sisi-sisi koridor ini terdapat meja yang terpakai oleh guci-guci yang antik di sepanjang serta ada beberapa ruangan yang pintunya tertutup.
Kami melewatinya dan tak lama di ujung koridor Fanny pun berhenti di sebuah kamar berpintu putih lalu membuka kamarnya dan berkata.
"Kamar anda sebelah sini nona silahkan."
"Baiklah."
Fanny membukakan pintunya. Aku masuk dan melewati Fanny yang ada di depan pintu. Terlihat si dalamnya kamar yang sederhana dengan tembok berwarna putih namun luas kamar ini lebih besar dari kamarku sebelumnya. Kemudian jendela yang mengarah keluar yang menyambunghkan ke sebuah balkon untuk bersantai agar bisa menikmati pemandangan ke arah taman belakang kediaman. Lemari baju berwarna alami kayu ek, laci kecil yang ada si samping kasur dan tempat tidur yang empuk cukup untuk dua orang.
"Terima kasih Fanny telah mengantarku dan membereskan barang ku sekarang kamu boleh istirahat." Ucapku sambil tersenyum padanya.
"Ini bukan apa-apa nona jangan begitu." Ucapnya dengan menunjukan sikap groginya.
"Yasudah Fanny bisa kamu siapkan air hangat, karena berkeringat akibat perjalanan menuju kemari, karena aku ingin mandi. Jika tidak mandi nampaknya aku tidak akan bisa tidur dengan badan yang lengket oleh keringat sendiri ini. "
"Baik nona, saya akan persiapkan. "
Fanny menyiapkan persediaan ku untuk mandi sementara itu Diana yang ada di dekatku juga membantu melepaskan gaun yang aku kenakan ini.
Aku mandi di bantu oleh mereka dan setelah selesai mandi serta telah memakai piyama dan jiga tubuhku sudah segar, Fanny dan Diana pun pamit.
"Kalau begitu saya mohon pamit. "
"Baiklah Fanny, Diana. "
__ADS_1
Keduanya pergi dari kamarku dan aku seketika membantingkan badanku di kasur untuk tidur beristirahat.