
"Apa-apaan dengan dokumen ini. Apakah kalian tidak sadar akan kejadian yang begitu bahaya seperti ini! Apakah kalian tidak menyadarinya atau apa? "
Aku membentak kepada Piers dan juga Jasper. Keduanya memasang wajah termenung seakan mereka tahu apa hal yang membuat aku marah saat ini.
"Maafkan atas kerja saya dan juga Jasper nona."
"Iya maafkan kami nona."
Jasper pun nampak sangat bersalah akan hal ini terlihat jelas ekspresi wajahnya itu.
"Nampaknya kalian sangat tahu apa yang membuat aku marah kan!"
"Tentu saja nona. Kami pun awalnya tidak sadar akan tetapi setelah kurang lebih enam bulan baru saja terlihat detail pastinya itu. Kami telah mengerjakannya dengan sekuat tenaga serta kami pun telah melaporkan dokumen-dokumen ini ke tuan besar Robert Alson atas hal kejadian di dalam dokumen itu, namun kami hanya menerima jawaban 'jangan dulu kalian bergerak, karena saat ini sesuatu yang besarnya belum menampakkan diri. ' begitu jawabnya tuan besar, nona Lisa."
Begitulah penjelasan yang aku terima dari Piers. Jika memang itu adalah sesuatu yang di katakan oleh kakek, itu berarti ada sesuatu hal yang aneh menimpa wilayah ini. Bukan dari faktor masyarakat ataupun perdagangan nya serta aku penasaran kata-kata kakek yang di tekankan sesuatu yang besarnya belum menampakkan diri.
"Jika memang itu adalah rencana yang dibuat oleh kakek aku tidak akan mempermasalahkan. Maafkan aku yah kalian berdua. "
Aku dengan tulus meminta maaf kepada Piers dan juga Jasper atas perlakuan ku barusan.
"Tidak apa-apa nona. Lagi pula itu juga salah saya sebelumnya tidan memberitahu anda. "
Balas Jasper seperti itu.
Dan setelah semua pembahasan itu selesai, aku mulai memfokuskan kembali mengecek dokumen-dokumen yang menumpuk ini.
****
Tiga hari telah berlalu semenjak aku menetap sekaligus menjadi pemimpin sementara di wilayah Findar ini. Hari ini nampak terlihat cerah dan begitu menyejukkan cocok sekali jika dipakai untuk santai atau bermalas-malasan sambil tertidur di bawah pohon menghirup udara segar tanpa ada beban di pikiran sama sekali.
Namun itu semua hanya khayalan ku semata. Kejadian itu tidak akan terjadi kepadaku karena tumpukan-tumpukkan dokumen ini tidak ada habisnya walaupun telah aku kerjakan dalam beberapa hari ini, ya walaupun sudah berkurang begitu banyak sih. Tapi aku begitu sangat lelah namun di satu sisi ini adalah tanggung jawabku serta keinginanku yang tadinya ingin sekali bekerja.
__ADS_1
Aku menempelkan wajah ke meja atau bisa dikatakan menyenderkan badan ke meja dan menghela nafas panjang.
"Aku harus cari suasana baru nampaknya untuk menjernihkan pikiran ini."
Tok tok~
Suara ketukan pintu terdengar.
"Aku masuk yah nona. "
Dari suaranya itu pasti Diana. Pintu pun terbuka itu memang benar Diana di tangan dia membawa sebuah nampan yang isinya ada satu teko, satu gelas teh dan sepiring kue spoon.
"Nona wajahmu nampak sangat mengerikan sekali sampai-sampai kantung mata berwarna hitam itu terlihat jelas."
Ucap Diana sambil berjalan menghampiri aku.
"Benarkah Diana!? "
Aku terkejut karena tidak menyangka bahwa kantung mata yang berwarna hitam ini akan terlihat oleh orang lain padahal aku sudah menyembunyikannya dengan riasan.
Seperti biasa Diana selalu cepat khawatir jika melihat kondisi aku seperti ini. Aku menegakkan kembali badan.
"Tenang saja Diana, tubuhku baik-baik saja. Kami tidak usah khawatir."
Balas ku sambil tersenyum agar bisa menghilangkan rasa cemas dari Diana.
"Daripada itu, yang kamu bawa itu apa Diana? "
"Ah agar bisa menenangkan pikiran anda nona, ini aku bawakan teh lemon dengan madu dan juga sepotong kue spoon yang lembut untuk anda."
Begitulah ucapnya sambil menaruh yang di pegang nya di tengah-tengah meja.
__ADS_1
Perhatian yang begitu hangat dari Diana. Diana seperti saudara sekaligus kakak ku satu-satunya di kehidupan ini. Dia selalu yang paling mengerti apa pun apa yang aku butuhkan saat sedang susah seperti ini.
Aku beranjak dari duduk ku dan berjalan ke samping dia. Aku memeluknya dengan erat dari samping dan Menempelkan kepalaku di bahunya dengan bersikap sedikit manja.
"Tu-Tunggu no-nona apa yang anda lakukan! "
Diana terkejut sekali karena aku tiba-tiba memeluknya.
"Sudahlah biarkanlah aku seperti ini untuk sementara."
Diana perlahan mulai sedikit tenang.
"Diana Terima kasih selama ini kamu terus memperhatikanku dan terus menghiburku di kala senang ataupun susah. Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika sedari kecil aku tidak mengenalmu, mungkin aku sudah tiada di dunia ini. "
Aku bukan tanpa sebab berkata seperti itu. Namun pada kenyataannya aku mendapatkan ingatan Lisa terdahulu yang selalu di tolong oleh Diana dikala senang ataupun susah di kehidupannya.
"Nona apakah anda tahu, aku juga sangat berterima kasih kepadamu. Jika kala itu nona Lisa tidak memungut ku di jalanan dingin itu, mungkin saat ini pun aku masih tetap hidup sebagai gelandangan atau mungkin lebih buruknya aku pasti sudah mati di tindas oleh kejamnya waktu dan kehidupan di jalanan."
Itu terjadi dimana saat Lisa yang asli waktu menginjak umur enam tahun. Dimana saat tepat di musim dingin bersamaan dengan turunnya salju. Lisa dan juga ayahnya yang sedang di perjalanan pulang menuju rumahnya sehabis dari kediaman pangeran Pabio.
Tiba-tiba kereta kuda yang di tumpangi Lisa dan juga ayahnya seketika terhenti karena ada seorang anak perempuan tergeletak tepat di tengah jalan yang sepi, yah anak perempuan itu adalah Diana. Karena Lisa kasihan akan kondisi Diana dia meminta kepada ayahnya untuk membawanya ke kediaman dan menjadikannya pelayan pribadinya.
"Anda tahu nona. Demi anda aku akan membantumu apapun yang terjadi bahkan jika itu membutuhkan taruhan nyawaku. Karena nona Lisa adalah dewi penyelamat ku."
Aku terkejut betapa begitu besarnya rasa sayang Diana kepadaku disisi lain aku juga merasa bersalah bahwa Lisa yang dia kenal sebenarnya sudah tiada dan telah digantikan olehku. Namun aku tidak bisa berkata seperti itu kepadanya.
"Diana juga, kamu sudah ku anggap sebagai saudara sekaligus kakak perempuan ku yang paling berharga di hidupku ini. Kamu selalu ada di saat senang ataupun susah. "
Keadaan saat ini jadi mengharukan. Namun satu hal yang pasti perkataan yang ku nyatakan kepada Diana itu adalah kesungguhan serta ketulusan ku dari dalam hati.
"Yasudah kalau begitu karena kamu sudah repot-repot membawakan itu aku akan menikmatinya. "
__ADS_1
"Baiklah akan segera saya siapkan. "
Aku berhenti sejenak untuk menikmati waktu santai minum teh ini saat ini agar bisa menenangkan pikiran ku yang hanya penuh dengan dokumen-dokumen permasalahan wilayah Findar ini.