
Matahari yang sebelumnya cerah sekarang berubah menjadi oranye, udara yang tadinya terasa panas karena wilayah ini dekat dengan lautan mulai menjadi sejuk menandakan waktu sudah mulai telah sore.
Perjalanan yang lama ini akhirnya kereta kuda yang di tunggangi aku berhenti di depan gerbang mansion cukup besar dika di bandingkan dengan kediaman di Kerajaan Marsiey maupun kediaman kakek. Menandakan Kami sudah sampai di kediaman baruku yaitu rumah yang berada di wilayah Findar.
Walaupun kakek tidak tinggal disini, nampaknya disini masih ada orang-orang yang tinggal, kenapa aku berkata begitu, itu karena baru saja aku melihat ada dua orang membukakan gerbang mansion ini dan kereta kuda melanjutkan kembali hingga sampai di halaman rumah itu.
Sesampainya di depan halaman mansion kereta kuda pun berhenti. Lalu Aku, Fanny serta Diana turun dari kereta kuda. Setelah itu Fizkar membantu menurun nurun kan barang bawaan ku dan setelah selesai dia memecut kembali kereta kuda dan berangkat.
Terlihat Di depan mansion ada seorang lelaki tua serta tiga orang pelayan wanita berdiri. Mereka membungkuk memberi salam kepadaku saat aku baru saja sampai disini. Jelas sekali mereka menunggu kedatanganku dan mencoba menyambut ku.
"Selamat datang Nonal Lisa, perkenalkan namaku Piers Born anda bisa panggil aku Piers salam kenal."
Entah mengapa setelah melihat wajah pria ini aku teringat akan Andreas. Karena mereka begitu mirip dimulai ujung rambut sampai ujung kakinya, ini seperti sebuah Doppelganger nya Andreas pelayan nya kakek.
"Ohh iya salam kenal. Dan perkenalkan juga dia ini Fanny dan juga Diana pelayan pribadiku." Ucapku sambil memegang pundak Fanny.
"Salam kenal pak Piers."
Tapi tunggu dulu Andreas pun kalo tidak salah nama keluarganya adalah Bors? Atau jangan-jangan...
"Tunggu dulu pak Piers aku hanya ingin memastikan? "
"Memastikan tentang hal apa nona? "
Piers nampaknya sedikit bingung akan pertanyaanku.
"Jadi siapa yang adik dan siapa yang kakak di antara kalian?"
"Maksud anda dengan siapa? "
Nampaknya Piers masih belum mengetahui bahwa yang ku tanyakan adalah kalian yang di sana itu merujuk kepada dirinya dan Andreas.
__ADS_1
"Maksud ku dengan pak Andreas."
"Jadi maksud anda itu itu...., aku adakah adiknya pak Andreas. Jadi kenapa anda tahu bahwa aku adalah kakak adik dengan pak Andreas? Pasti dari wajah kami yah. "
"Kalah itu sudah pasti karena wajah kalian terlihat mirip"
Gumam dalam diriku. Aku menjawab perkataan Piers dengan mengangguk mengiyakan.
"Nona bisa sebut aku dengan Piers saja."
"Baiklah kalau begitu mohon bimbingannya Piers. "
"Sebaliknya juga nona Lisa. Kalau begitu silahkan ikuti saya. "
Ucapnya sambil menuntunku ke dalam rumah. Di dalam mansion terlihat ruangan pertama yang aku masuki adalah ruangan aula sederhana, warna tembok yang bewarna putih dipadukan dengan warna emas terlihat elegan dan juga interior yang sederhana namun elegan terlihatnya.
Aku dan Fanny terus mengikuti Piers. Dan tak lama Piers berhenti. Di depannya ada tiga orang yang berdiri Piers pun berbicara pada mereka.
Mereka pun membungkuk memberi hormat kepadaku.
"Perkenalkan Nona Lisa nama saya Nois dan di samping saya. "
"Nama saya adalah Lembrant nona Lisa. Kami berdua di perintahkan oleh tuan besar untuk menjadi pengawal anda mulai dari hari ini sampai seterusnya."
"Salam kenal juga, mulai sekarang mohon bantuannya yah Nois, Lembrant. "
"Perkenalkan nama saya Andrew, saya selalu kepala koki di kediaman ini, salam kenal nona Lisa."
Ucap seorang pria yang berada di samping kanan Lembrant mengenalkan dirinya padaku.
"Salam kenal juga."
__ADS_1
"Perkenalkan namaku Fanny pelayan pribadi Nona Lisa yang setia salam kenal." Begitu ucapnya dengan tegas sambil tersenyum dengan mata yang sedikit mengancam kepada Nois dan Lembrant.
Nois, Lembrant menjadi agak takut setelah perkataan Fanny yang mengancam itu.
"Baiklah kalau begitu Piers bisa antar aku ke kamarku sekarang, aku ingin segera istirahat."
"Baiklah kalau begitu Nona Lisa, silahkan sebelah sini."
Piers menuntunku ke arah kamar yang akan aku pakai mulai sekarang. Kami terus berjalan, lalu ada sebuah tangga, Piers menaikinya aku tetap mengikutinya dari belakang.
Entah mengapa di dunia ini aku selalu mendapatkan kamar tidur pasti di lantai kedua bangunan.
Di sepanjang jalan aku terus melihat-lihat, namun tidak ada yang spesial dari rumah ini, namun satu hal yang pasti mansion ini sangat rapi dan bersih terawat dengan sangat baik.
Tak lama Piers berhenti di depan pintu bewarna cokelat muda dengan gagang yang sederhana terbuat dari perak.
"Nona ini adalah kamar anda."
Perkataan Piers kepadaku bersamaan dengannya membuka pintu kamar itu. Terlihat langsung ke arah jendela luar dari tempatku berdiri.
Aku mulai melangkahkan kaki ku masuk ke lamar baruku. Ruangan yang begitu sederhana yang hanya ada tempat tidur yang besar, lemari besar berpintu dua dan sebuah lemari kecil dengan lampu tidur diatasnya.
Piers pun berkata kembali padaku.
"Bagaimana Nina Lisa apakah kamu suka ruangan ini."
"Ahh aku suka yang sederhana seperti, sekarang kamu boleh pergi Piers aku ingin segera istirahat."
"Baiklah Nona Lisa."
Piers menutup kembali pintu kamarku lalu kembali mengerjakan pekerjaan yang biasanya lakukan.
__ADS_1
Karena badanku sudah merasa lelah akan perjalanan yang begitu memakan waktu dan tenaga. Aku langsung berbaring di kasur dan tak lama mataku mulai terlelap.