DI REINKARNASI KE ZAMAN KERAJAAN

DI REINKARNASI KE ZAMAN KERAJAAN
Chapter 09


__ADS_3

Aku tadinya ingin masuk ke dalam kediaman ku. Akan tetapi baru saja setibanya depan pintu, aku bertemu dengan Josept yang sedang berdiri disana entah sedang apa aku pun tidak tahu. Namun yang pasti saat ini aku harus bergegas karena waktu untuk ke pesta yang diadakan oleh Pangeran Panik tinggal beberapa jam lagi.


"Selamat datang kembali nona."


Dengan hormat Josept menyambut kepulanganku.


Namun jika saat ini Josept masih berdiri di depan pintu, berarti keluarga ku nampaknya masih ada di rumah atau opsi kedua yaitu mereka belum ada yang pulang dari urusan mereka masing-masing.


"Josept apakah ayahanda dan ibundaku sudah pulang?"


Aku bertanya kepadanya Josept demikian.


"Belum nona. Tuan serta Nyonya belum ada yang pulang ke kediaman."


Josept dengan sopan membalas pertanyaanku.


Aku berjalan kembali lalu membuka pintu sambil berkata.


"Yasudah kalau begitu. Terima kasih atas infonya Josept."


"Sama-sama nona."


Josept membungkuk memberi hormat kembalj


Aku berjalan masuk dengan tergesa-gesa ke rumah melewati lorong, kemudian ruang ramu, kemudian tangga bergegas menuju kamarku.


Lalu saat di depan kamarku aku bertemu dengan Diana yang sedang berdiri di depan sana, nampanya dia menunggu kepulanganku.


"Selamat datang kembali nona."


Dengan hormat sopan Diana menyambut kedatanganku.


"Iya Diana."


Diana membukakan pintu kamarku dan aku masuk ke dalam kamar lalu di belakang aku di ikuti oleh Diana.


"Diana aku ingin kamu mengeluarkan gaun-gaun kemarin yang aku beli, kita akan memilih mana yang cocok untuk aku pakai nanti di pesta yang diadakan oleh Pangeran Pabio."


"Baiklah nona."


Dengan penurut Diana melakukan apa yang aku perintahkan.


Diana mengeluarkan baju-baju yang tersusun rapi di dalam lemariku. Sementara itu aku memilih baju Diana nampaknya keluar dari kamarku dan menutup kembali pintu kamar dengan perlahan entah apa yang ingin dia lakukan, aku tidak peduli karena saat ini di pikiranku hanyalah bagaimana caranya agar aku tampil cantik nanti menawan dan tidak mempermalukan keluargaku dj pesat yang diadakan Pangeran Pabio.


Aku mencoba mencocokan baju-baju yang akan ku pakai malam ini dengan aksesoris yang waktu itu aku beli. Namun aku masih belum mendapatkan yang cocok karena aku kemarin membeli baju terlalu banyak hingga saat ini aku masih bingung untuk memakai baju yang mana yang pas untuk aku.


Walaupun begitu aku tidak begitu bingung karena ada beberapa opai baju yang menurutku cocok untuk aku kenakan.


Tok tok~


Suara ketukan pintu tedengar kembali.


"Silahkan masuk. "


Aku mempersilahkan yang mengetuk pintu itu masuk sambil melirik ke arah pintu.


"Permisi nona."

__ADS_1


Ternyata dia adalah Diana yang baru kembali lagi sambil membawa sepiring roti lapis yang berisikan tiga buah serta sau gelas susu hangat.


"Jadi kenapa kamu membawa itu Diana? "


Aku ingin tahu apa maksud di balik semua itu.


"Itu karena baru saja pulang dan tergesa-gesa langsung kemari aku yakin pasti nona belum makan siang oleh sebab itu aku memerintah orang dapur untuk membuat roti lapis ini agar nona dapan mengganjal sedikit rasa lapar nona nantinya"


Aku tersenyum lembut kepada nya karena atas perhatian serta kepeduliannya yang begitu besar kepadaku. Jika aku seorang lelaki mungkin aku akan membuat Diana menjadi milikku seutuhnya karena hatinya begitu baik.


"Terima kasih Diana."


Aku menyanjung atas kebaikkan dirinya itu.


"Sama-sama nona."


Aku berhenti sejenak untuk memilih gaun yang akan aku pakai di pesta nanti. Dan berjalan lalu duduk di samping tempat tidurku. Lalu kemudian Diana menyerahkan itu dan dengan senang hati aku memakannya.


Dengan perlahan aku memakan roti lapis serta susu hangat yang dibawakan oleh Diana.


Lepas selesainya aku memakan semangat makanan itu aku memilih kembali gaun yang akan aku pakai bersama dengan Diana yang juga membantuku memilihkannya.


"Nona bagaimana dengan gaun yang satu ini. Warna putihnya yang begitu natural serta renda-renda hiasan bunga dan juga sedikit hiasan manik-manik berkilauan dari berlian kecil ini kurasa cocok untukmu."


Diana menunjukkan gaun model yang di sebutkan nya itu. Seketika aku terpikat akan gaun itu.


"Menurutku itu sangat cocok untuk ku juga Diana. Terima kasih telah memilihkannya untuk ku, akan aku pakai itu."


Aku memujinua dan melemparkan senyum menawan kelada Diana. Diana pun tampak senang karena dirinya bisa membantu diriku memilihkan gaun.


Diana kemudian merapihkan kembali gaun-gaun yang telah aku keluarkan dan menyisihkan satu gaun yang akan ku pakai nanti di pesta di atas tempat tidur.


Dan setelah 20 menit kemudian aku selesai mandi dan memakai handuk kering ku untuk mengeringkan badan ku sehabis mandi dan memakai piyama mandi yang kering kembali ke tubuhku serta handuk kering di kepalaku.


Aku melangkah keluar kamar mandi dan memakai pakaian yang sudah dipilih tadi.


Kemudian aku duduk di depan meja makeup berencana merias wajah ku sesederhana mungkin di bantu oleh Diana. Kenapa aku mencoba merias wajahku sesederhana mungkin , itu supaya terlihat cantik alami. Tidak lupa memakai jepit rambut dengan desain bunga serta beberapa perhiasan yaitu kalung dan juga anting yang aku beli yang terbuat dari emas putih berbalut berlian-berlian kecil.


Aku sengaja menguraikan rambutku karena gaun serta penampilanku sangat cocok dengan rambut silverku.


Setelah selesan berdandan tak terasa hari sudah mulai sore nampkanya. Aku memakai sepatu kesukaan ku yang ku dapat dari ibuku sewaktu acara ulang tahunku.


"Nona penampilan anda sangat-sangat sangaaaaatt cantik sekali hari ini. Walaupun biasanya anda cantik dengan riasan seperti biasanya. Namun kali ini anda begitu sangat cantik natural dan terlihat sangat dewasa."


Diana memuji ku nampak sangat berlebihan sampai-sampai itu membuat aku malu. Riasan Lisa yang dulu selalu memakai make up yang tebal, walaupun dirinya sendiri tanpa make up sebenarnya sudah cantik. Namun ada kalanya sebenarnya make up yang tebal itu membuat kecantikan alami seseorang tertutup dan malah menjadi bumerang kepada dirinya sendiri atas orang lainnya yang melihatnya.


Aku tertawa kecil dan berkata, "Terima kasih Diana atas pujian itu."


"Sama-sama nona."


Tok tok~


Begitulah suara ketukan pintu terdengar kembali.


"Silahkan masuk."


Akupun mengijinkannya masuk. Ternyata dia adalah seorang pelayan wanita juga yang ada di kediaman ini.

__ADS_1


"Permisi nona Lisa."


Dengan hormat


"Iya ada apa? "


Balas ku dengan lembut.


"Nona Lisa. Tuan dan Nyonya sudah datang dan saat ini mereka menunggu anda untuk segera turun dikarenakan sebentar lagi kita akan segera berangkat ke pesta kerajaan begitu pesan dari tuan."


"Oh baiklah kalau begitu nanti aku akan turun menghadap mereka. Terima kasih atas pemberitahuannya."


"Sama-sama nona. Kalau begitu saya undur pamit."


Pelayan itu dengan sopan membungkuk hormat kembali lalu menutup kembali pintu kamar. Aku tidak tahu bahwa ayahanda serta ibunda telah kembali. Nampaknyabakh menghabiskan waktu cukup begitu lama.


Tok tok~ suara ketukan sari pintu terdengar kembali.


"Lisa. ibunda masuk ya."


Begitu ucapnya Ibundaku sambil membuka pintu kamar.


"Sayang ayo kita berangkat nanti kita telat menghadiri acaranya. "


Nampanya ibuku kesini datang untuk menjemputlu karena tidak sabar.


"Baiklah Ibunda, aku sudah selesai juga ini."


Entah mengapa ibundaku seketika mematung setelah melihatku.


"Kenapa ibunda? Apakah aku terlihat aneh? "


Kataku karena penasaran apa yang terjadi kepada ibundaku setelah melihat wajahku dia mematung.


"Wahhh anakku Lisa kamu bpak sangat cantik sekali malam ini. Betapa anggun serta dewasanya penampilanmu ku ini."


Ibunda memuji penampilanku. Entah mengapa sekarang membuatku sedikit malu.


"Hehehe... Benarkah itu ibunda. Terima kasih."


"Ohh iya aku hampir lupa. Ayo Lisa kita akan berangkat sekarang."


"Baiklah ibunda. "


Aku serta ibunda pergi dari kamar dan Diana juga pamit untuk ke barak. kami pun menuju ke bawah untuk ke depan rumah sambil berjalan menuju keluar rumah akupun terus menggenggam tangan ibuku sampai keluar dan tiba kereta kuda.


Disana terlihat bahwa ayahanda sudah menunggu kehadiran kami.


Saat ayahanda melihat penampilan ku seketika da pun memuji aku.


"Wahai putri semata wayangku kamu begitu cantik malam ini."


"Benarkan sayang. Siapa dulu ibu nya."


"Terima kasih ayah."


Entah mengapa ini sesuatu hal yang baru menyenangkan hatiku, karena baru pertama kali aku di puji oleh kedua orang tuaku karena semasa hidup di negara asal ku aku tidak pernah sekalipun dipuji oleh kedua orang tuaku yang gila kerja itu.

__ADS_1


Kami akhinya masuk ke dalam kereta kuda. Dan sang kusir memecut kuda berangkat menuju tempat pesta.


__ADS_2