
Karena masalah ini tidak akan selesai, akhirnya aku memutuskan untuk ke desa Landro. Dimana tertulis di dokumen laporan bahwa desa itu mengalami penurunan ekonomi, sumber daya alam serta berkurangnya masyarakat yang signifikan dan saat ini desa Landro juga populasi kemiskinannya menjadi yang paling tinggi.
Saat ini aku sedang di dalam kereta kuda yang bukan biasa aku pakai. Kereta kuda ini tidak memiliki lambang keluarga bangsawan bisa dikatakan saat ini aku dalam sebuah penyamaran serta aku pun tidak memakai baju yang begitu mencolok akan kebangsawanan ku.
Akan tetapi aku masih saja tetap tidak biasa menumpangi kereta kuda, ini membuatku menderita sekali karena aku selalu menghadapi rasa sakit di pantat serta pinggang setelah menarik kereta kuda yang getadannya heboh tanpa ada peredam saat berlari cepat.
Aku menuju desa Landro tidak sendirian, saat ini aku seperti biasa di temani oleh Fanny, Nois dan Lembrant sebagai pengawal ku. Dari kediaman mansion menuju desa Landro tidak memakan waktu lama sekitar kurang lebih selama dua jam saja.
"Jadi kenapa anda secara mendadak ingin ke desa Landro? "
Fanny membuka pembicaraan di perjalanan yang terselimut keheningan dalam gerbong kereta kuda ini.
"Nampaknya kamu penasarannya yah Fanny karena aku tiba-tiba ingin berkunjung ke desa Landro. Ingin tahu kan, ingin tahu kan? "
Aku mencoba sedikit menggoda, menjahili Fanny agar dirinya sedikit penasaran apa yang akan aku lakukan. Dan juga aku sedikit penasaran ekspresi rsut wajah Fanny saat penasaran.
"Yah jika memang Nona tidak ingin memberitahu kami tidak mengapa. Lagian itu bukan tugas kami. Kami hanya ditugaskan untuk mengawal, menjaga keselamatan nyawa anda. " Begitu jawab Fanny dengan muka datar.
Nampaknya aku tadinya ingin bertingkah usil malah sebaliknya aku terkena serangan boomerang sendri. Jawaban yang tidak sesuai ekspresi yang aku dapatkan seketika dari Fanny.
Aku menghela nafas panjang, merapat dirinya dengat tatapan kecewa. Aku melipat kedua kaki ku dan menyenderkan daguku di telapak tangan sebelah kanan sementara tangan kiri ku ku masukan ke dalam sela-sela antara pinggang dan ketiak.
"Haaa... Jadi seperti ini. Desa Landro yang tercatat di isi dokumen laporan dalam satu tahun ini mengalami tingkat kemerosotan dalam hal ekonomi maupun sumber daya sangatlah besar. Karena itu aku ingin mengunjungi desa itu langsung dan melihat penyebabnya dengan mata kepalaku sendiri dan juga melihat solusi apa yang terbaik untuk bisa meningkatkan kembali ekonomi sumber daya mereka. "
Saat aku menjelaskan itu kepada mereka, seketika mereka menatapku dengan tatapan aneh, itu membuatku penasaran sekaligus membuatku terasa terganggu.
"Apakah ada yang salah? "
Tanya ku kepada mereka.
__ADS_1
"Ti-tidak nona. Hanya saja ini membuat kami sangat terkejut atas apa yang telah kami dengar itu bahwa sebenarnya anda memang orang yang baik, cerdas serta berwawasan luas. "
Entah itu pujian atau sebuah ejekan kepadaku yang dikatakan oleh Nois kepadaku itu. Namun satu hal yang pasti itu membuatku bingung harus senang atau aku harus marah.
"Jadi dari perkataanmu barusan, kamu mengejekku atau memuji ku Noir?"
Kataku dengan sedikit ketus.
"Tentu saja aku memujimu nona."
Mereka kuda pun berhenti, Lembrant melihat ke arah luar jendela.
"Nampaknya kita sudah sampai di depan gapura desa Landro Nona Lisa."
Memang yang dikatakan Lembrant benar, namanya kami telah sampai di depan desa Landro.
"Baiklah kalian, sebelum turun aku ingatkan kepada kalian jangan panggil aku nona di depan warna desa sini. "
Pertanyaan cepat dari Fanny.
"Kalian panggil saja aku dengan nama Linda oke."
Fanny, Nois serta Lembrant melihat satu sama lain.
"Baiklah nona jika itu keinginan anda. "
"Baiklah kalau begitu mari kita turun. "
Aku turun dari kereta kuda kemudian yang lainnya pun mengikutiku.
__ADS_1
Yang terlihat pertama kali dari desa ini yang menonjol adalah kumuh serta bau yang tidak sedap menyelimuti lingkungan nya. Mungkin jika bangsawan lain yang berkujung datang kedesa ini pasti mereka seketika akan memasang wajah jijik seperti melihat sebuah muntahan manusia. Bangunan yang tidak layak serta banyak sekali orang-orang yang tergeletak teler bagaikan pengemis.
"Ini lebih parah kondisinya dari pada yang ada di dalam laporan."
Aku berjalan masuk lebih dalam ke tengah-tengab desa tidak lupa mereka yaitu Fanny, Nois serta Lembrant masih tetap mengikuti aku sambil memasang sikap yang waspada.
Orang-orang penduduk sini yang ada di dalam rumah atau yang berpapasan denganku atau yang telah ku lewati mereka menatap ke arahku terus menerus dengan pandangan yang aneh serta pandangan ketakutan.
Mereka tidak melepaskan tatapannya dari menatap ku, hingga tiba-tiba ada seorang kakek tua keriput bungkuk dengan tubuh gemetar, serta rambut dan jenggot yang sudah memutih berjalan menggunakan tongkat untuk membantunya berhenti di hadapanku.
"Selamat datang di desa kami para nona-nona serta para tuan-tuan sekalian. "
Nada suaranya begitu lemah serta bergetar bergelombang seperti seorang yang sekarat. Dia menyambut kami dengan sopan.
"Jadi ada keperluan apa kedatangan tuan dan nyonya sekalian ke desa kumuh seperti ini? "
Pak tua ini bertanya akan keperluanku, nampak sekali dirinya merasa risih atas kedatangan aku dan juga pengawal dan pelayan aku ini. Aku bisa merasakan dari ucapan yang gemetaran itu dan juga dia sesekali melihat ke arah belakang ku terus menerus melihat Nois serta Lembrant yang membawa pedang yang di singgah kan di pinggang nya.
Aku tersenyum lembut kepada pak tua di depanku ini agar bisa mengurangi ke risihan nya itu.
"Maaf Pak, bahkan saya bertemu dengan kepala desa disini? Karena ada sesuatu hal yang harus aku bicarakan dengan dirinya. "
"Jika kamu mencari kepala desa, akulah kepala desa disini?"
Masih dengan suaranya yang gemetar serta jeda yang aneh saat dia berbicara, dia mengaku dirinya adalah kepala desa Landro ini. Aku sedikit terkejut, nampaknya keberuntungan sedikit berpihak kepadaku karena tidak perlu repot-repot bertanya lagi untuk mencari kepala desa.
"Maafkan aku, aku tidak tahu bahwa anda adalah kepala desanya. Jadi bolehkah saya mengobrol sesuatu hal yang penting dengan anda? "
Kepala desa yang sudah tua ini tidak langsung menjawab pertanyaanku itu, dia terus menatap kepadaku dengan matanya yang sudah terhalang oleh kulit keriputnya yang tersisa hanyalah celah yang begitu kecil dimatanya atau biasa orang-orang katakan sipit. Tatapannya nya itu membuat tubuhku merasa aneh, aku merasakan sedikit hawa dingin dari tatapan itu serta sedikit keraguan.
__ADS_1
"Jika memang itu hal penting, lebih baik kita mengobrol saja di rumahku"
Kepala desa berbalik dan berjalan kami mengikutinya dari belakang untuk bisa menuju ke kediamannya.