
Keheningan yang hanya sesaat itu seketika pecah disaat anak laki-laki cucu dari kepala desa masuk sambil membawa beberapa gelas di atas nampan. Dari jumlah gelas itu nampak sangat pas dengan jumlah orang yang ada di ruangan ini.
Entah apa isinya, itu menjadi sebuah misteri namun satu hal yang pasti itu adalah sebuah minuman menurutku. Dia menaruh membungkuk menaruh nampan isi itu tepat di atas meja.
Rasa penasaran ku akan isi air dalam gelas itu seketika terjawab sudah, itu adalah sebuah teh yang berwarna cokelat begitu kental, aku tidak tahu itu teh jenis apa yang bisa membuat warna sepekat itu, namun sudah dipastikan itu adalah teh. Dia membagi dan menaruh secangkir teh itu satu per satu tepat di depan kami.
"Maaf hanya ada ini yang bisa kami sediakan."
Perkataan yang dari nada ucapan pelannya itu anak laki-laki ini nampak sedikit malu. Kemudian dia berdiri tegap kembali sambil memeluk nampan itu melihat tepat ke arahku dengan ekspresi wajah yang malu-malu nya itu berapa sangat menggemaskan.
Aku melemparkan senyuman, anak laki-laki itu seketika membuat pandangannya dariku, dia menunduk dengan wajah sedikit memerah, mungkin sedikit malu sekaligus terpesona akibat senyuman cantik maut ku.
Aku tertawa kecil namun sembari menahan tawa ku juga agar tidak terdengar oleh yang lainnya, namun apa daya upayaku gagal menahan tawa kecil itu. Yang lainnya seketika pandangan mereka tertuju kepadaku.
"Nona apakah ada sesuatu hal yang membuat lucu? "
Ucapan dari Fanny seketika membuat tawa kecilku mendadak terhenti karena saking terkejutnya.
" Hmm... Hmmm maaf semuanya. Tidak ada apa-apa kok, silahkan lanjutkan. Jadi sampai sampai mana tadi pembahasan kita? "
Aku bertanya kembali, karena aku melupakan akhir cerita dari kepala desa Drumm.
"Dimana pada warga akhirnya menyerahkan lahan pertanian mereka kepada bangsawan yang meminjamkan modal. Sampai sana nona. "
Jawab Danny mengingat kan kembali akhir cerita tragis yang di ali warga desa Landro ini.
"Jadi begitu kah. Kemudian apakah anda tahu siapa bangsawan yang meminjamkan modal itu pak kepala desa Drumm? "
__ADS_1
"Aku mengenal dirinya namanya adalah tuan Earl Kellisson."
Nama yang begitu asing dia sebutkan kepadaku. Aku tidak tahu sama sekali tentang Earl Kellisson ini. Karena dalam catatan nama-nama bangsawan yang mempunyai pengaruh besar, nama Earl Kellisson tidak ada di dalam catatan yang di berikan oleh kakek ku.
"Jika aku boleh tahu siapa Earl Kellisson? Apakah dia bangsawan di Kerajaan ini, kepala desa Drumm? "
Aku merasa penasaran akan orang yang disebut Earl Kellisson ini. Jika dilihat dari kelakuannya kepada warga desa ini bisa dipastikan dia pastinya seorang bajingan yang ingin mengambil keuntungan dari para warga desa Landro ini. Akan tetapi itu masih sebuah dugaan, karena kita tidak bisa tahu karakter setiap manusia jika kita tidak mengenal wujud dirinya yang sebenarnya kalau belum saling bertatap muka dan saling berbicara.
"Saya juga tidak tahu menahu kalah soal Earl Kellisson adalah bangsawan dari Kerajaan ini atau pun bukan nona. Namun satu hal yang pasti dirinya adalah seorang anggota eksekutif di serikat pedagang. "
Begitulah perkataan dari kepala desa Drumm. Namun aku tidak sepenuhnya percaya bahwa dirinya termasuk ke dalam anggota serikat pedaga dan juga dia menjabat sebagai eksekutif.
"Apakah anda yakin bahwa dirinya adalah salah satu eksekutif dari serikat pedagang. Apakan anda mempunyai buktinya pak Drumm? "
Aku berkata begitu kepada kepala desa karena rasa kecurigaan ku masih tetap menghantui perasaanku ini jika aku belum melihat buktinya.
Kepala desa Drumm menaruh sekuat tenaga di kedua tangannya di pegangan kursi yang dia gunakan sebagai tumpuan dirinya untuk bangkit dari duduknya itu. Perlahan dia berdiri, aku melihat nya pun terasa kasihan, akan tetapi apa daya begitulah tubuh manusia tidak bisa melawan penuaan termakan oleh waktu.
Semua organ, jaringan, dan sel tubuh manusia perlahan akan kehilangan beberapa fungsinya seiring bertambahnya usia. Penuaan tubuh manusia lebih dari sekadar uban dan kerutan. Secara keseluruhan tubuh manusia bisa mengalami penuaan, dari sel, jaringan, hingga organ.
Itu adalah faktor alami yang sudah menjadi suratan takdir dan tidak bisa di ubah oleh manusia mana pun.
Kepala desa Drumm berhasil berdiri dengan kekuatannya itu, dia terhenti sejenak, suasana nafas yang sedikit terengah-engah terdengar seperti membutuhkan banyak usaha hanya untuk berdiri saja.
Setelah itu dia mengambil tongkat yang dipakai sebagai alat bantu jalannya lalu berjalan ke arah dalam ruangan. Aku serts yang lainnya tidak banyak bertanya atau mengobrol apapun.
Tak lama pak kepala desa Drumm kembali dengan di tangannya membawa sebuah amplop warnanya jika disebut cokelat terlalu pucat dan jika disebut putih itu sangatlah jauh dari warna putih yang bersih kalau menurutku seperti sebuah warna creamy di dalamnya terlihat menonjol sepucuk surat yang terlipat seperti akun pinta.
__ADS_1
Pak kepala desa Drumm nampaknya saat ini di tidak berniat duduk kembali di kursi bekas duduknya karena di saat ini berdiri tepat di depanku yang terhalang meja kecil.
"Silahkan nona."
Begitulah ucapnya sambil menaruh amplop di tanganya itu lalu menyodorkan nya kepadaku. Dia angkat tanganya dari amplop itu aku pun mengambilnya di sertai ucapan, "Terima kasih pak Drumm."
Aku melihat dari cap segel amplop berwarna merah dari sebuah lelehan lilin itu yang sudah terpotong, ada sebuah lambang terbentuk menyerupai tiga buah koin ditumpuk menandakan itu adalah lambang dari serikat pedagang kerajaan ini bisa dikatakan itu seperti asli namun itu belum bisa membuktikan keaslian dari cap segel dari serikat perdagangan.
Aku mengeluarkan secarik surat yang terlipat itu dari dalam amplop dan membuka lalu membaca nya. Isi dalam surat yang ku baca seperti ini 'salam kepada rakyat desa Landro yang tercinta di Kerajaan ini. Kami selaku serikat pedagang merasa turut prihatin akan kegagalan panen yang terus-menerus menimpa warga desa Landro. Oleh sebab itu kami mengirim salah satu eksekutif serikat pedagang yang ingin membantu kalian atas nama ketua serikat pedagang saya ucapkan penyampaian ini salam hormat. Ketua serikat pedagang Sebastian Rondo.'
Dengan di akhiri nama ketua serikat pedagang serta tanda tangan dan juga cap warna merah lipstik di buat dari sebuah tinta merah berlambang tiga koin bertumpuk.
Aku mendekatkan bibirku ke telinga Nois dan berbisik, "Apakah kau mengetahui bahwa ini adalah cap asli ataukah palsu Nois? "
Nois mendekat dan melihat cap yang berada di ujung kana bawah surat yang ku pegang. Dia melihat begitu detail.
"Maaf nona, namun jika urusan seperti ini kurasa kepala pelayan lebih mengetahui nya bahwa itu cap asli atau cap palsu. Karena selama ini yang selalu berurusan dengan serikat pedagang adalah dirinya. "
Jawab Nois sambil berbisik pula. Jika ini adalah cap palsu aku bisa memperjuangkan tanah milik para warga bisa kembali lagi dan menjebloskan Earl Kellisson itu ke penjara karena melakukan penipuan kepada warga desa dan juga meminjamkan sejumlah uang dengan pemaksaan. Namun jika sebaliknya ini adalah cap asli akh tidak banyak bisa membantu karena Earl Kellisson serta warga desa sudah menyetujui syart-syarat meminjam uang dan telah menandatangani nya.
"Untuk sekarang saya akan membawa surat ini dahulu ke kediaman. Terima kasih atas waktu yang telah di luangkan oleh anda kepada kami kepala desa Drumm. "
Di akhir ini ucapan ku itu, aku membungkuk memberi hormat kepada kepala desa Drumm. Dirinya tersenyum sambil mengangkat sebelah tangannya dan berkata, "Tidak. Anda tidak perlu se sungkan itu nona. Sebaliknya saya senang bahwa pemimpin wilayah ini masih peduli kepada kami sampai repot-repot kemari."
Aku melipat secarik kertas surat yang di tanganku dan memasukkannya kembali ke dalam amplop kemudian memasukkannya ke dalam saku sebelah kanan gaun yang aku kenakan ini.
Kemudian kami berjalan keluar rumah, kami diantar oleh kepala desa Drumm serta cucu laki-laki nya itu sampai keluar rumah.
__ADS_1