
Perjalanan tidak memakan waktu cukup banyak, karena memakai kereta kuda dalam waktu kurang dari sepuluh menit pun kereta kuda yang ku tunggangi telah sampai di depan gerbang sekolah.
Aku turun dari kereta kuda dan perlahan melangkah menuruni tangga kereta kuda. Karena antriannya kereta kuda nga panjang setelah akhirnya turun kereta kuda yang membawaku pun bergegas pergi agar tidak terjadinya penumpukkan disini.
Setelah itu kereta kudaku pun maju dan akupun langsung melangkah masuk ke dalam lingkungan sekolah.
Para murid lainnya pun baru saja bersarangan.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi. "
Kami yang saling bertemu dengan murid lainnya saling sapa satu sama lain dengan sopan, karena itu sudah menjadi tradisi dan budaya sehari-hari.
Aku terkejut akan sekolah ini yang bangunan nya bukan main besarnya, halaman sekolah yang begitu luas. Fasilitas yang sangat memadai. Jika di bumi mungkin ini akan menjadi bangunan sekolah paling megah dan mewah di dunia.
"Selamat pagi Lisa".
Seorang gadis menyapaku saat aku sudah melewati gerbang masuk sekolah. Gadis yang memiliki paras yang begitu rupawan nanti cantik. Matanya berwarna saffire biru dengan badan yang tingginya semampai, serta rambut pirang nya itu menjadi ciri khas seperti orang Eropa Timur.
Akupun terhenti dan berbalik melihat kepadanya ditambah melayangkan senyuman ke gadis yang menyapaku itu tidak lain dia adalah Risa Valentine atau biasa ku panggil dengan sebutan akrabnya Risa.
"Selamat pagi juga Risa."
Risa kemudian berjalan menghampiriku.
"Bagaimana akhir pekan mu Lisa, apakah menyenangkan? "
"Yah begitulah, aku habis berbelanja kemarin untuk menghabiskan waktu libur. Bagaimana denganmu Risa? "
"Enak bisa jalan-jalan. Kalau akh tidak melakukan banyak hal di hari libur kemarin, hanya berjalan-jalan di sekitar rumah saja."
Risa memancungkan bibirnya, dia cemberut setelah mendengar menghabiskan cerita libur ku. Risa adalah anak dari Duke Valentine.
Aku melanjutkan perjalanan dengan Risa ke dalam sekolah untuk menuju ke dalam kelas. Di setiap jalan akan ke kelas, aku bertemu dengan banyak murid yang menyapaku pagi ini, tentu saja aku membalas sapaan mereka juga walaupun aku tidak terbiasa dengan ini, namun tetap harus aku lakukan karena aku adalah bangsawan kelas atas.
Sampai jaraknya tidak jauh lagi sampai ke kelas. Pas di lorong mau menuju ke kelas ada yang memeluk ku dari belakang sambil meloncatdan berkata.
"Met pagi."
Aku terkejut sampai-sampai terasa agak sakit di punggungku.
"aduhh, selamat pagi juga Melfina.".
"Hehehe maaf yah Lisa mengejutkanmu. "
"Iya gak apa-apa kok Melfina. "
"Ehh Melfina itu bahaya tahu, dan juga kamu bersikap kurang sopan kalau seperti itu!" kata Risa dengan nada yang agak nyaring.
Melfina melepas pelukannya dariku lalu tertawa kecil.
"Maaf Risa, tadinya hanya ingin mengejutkan Lisa."
"Tapi kan Melfina , Lisa nya kan baru sembuh."
Aku kurang paham akan ucapan Risa barusan. Kurang sembuh apa maksudnya yah?
"Iya iya. Aku udah minta maaf yah Lisa."
Aku tersenyum canggung kepadanya itu pula menghentikan perdebatan mereka.
__ADS_1
"Sudah ayo masuk kelas sebentar lagi kan kita akan mulai belajar."
Lalu kami pun masuk ke kelas dan tak lama bunyi lonceng tanda waktu belajar pun berbunyi dan kami pun mulai belajar.
***
Bunyi lonceng sekolah menggema keras ke seluruh penjuru sekolah dimana itu adalah menandakan bahwa jam istirahat telah datang. Aku sedikit bernafas lega untuk saat ini karena pelajaran baru saja selesai. Melfina dan Risa pun mulai menghampiri mejaku dan mengajakku untuk ke kantin bersama.
"Lisa ayo istirahat kita makan ke kantin." Ucap Melfina Sambil menarik tangan kananku.
"Iya tunggu sebentar Melfina aku membereskan bukuku dulu." ucapku yang sedang membereskan buku bekas pelajaran tadi.
Lalu Melfina pun melepas tangan kananku.
"Iya Melfina sabar kenapa. Walaupun tubuhmu kecil setidaknya bisa kan menahan rasa laparmu beberapa menit saja." Ledek Risa kepada Melfina.
"Ihh bukan nya aku tidak bisa tahan lapar Risa, namun sekarang kan hari senin." Jawabnya Melfina begitu dengan eksperi cemberut kepada Risa.
"Emangnya ada apa di hari Senin?" Jawab Risa yang agak bingung kepada Melfina.
"Masa kamu tidak tahu menu di hari senin. Menu hari senin adalah menu yang paling spesial kan yaitu ada spoon cake rasa berry yang enak itu."
Melfina dengan wajah senangnya membicarakan menu hari ini.
"Oh kirain ada yang spesial." Risa membalas ucapan Melfina itu dengan biasa saja.
Raut wajah Melfina seketika berubah menjadi cemberut. Nampaknya dia tidak senang akan jawaban Risa yang biasa-biasa saja itu.
"Apa kamu tidak tahu bahwa menu spoon cake hari ini dimasak langsung oleh koki terbaik di kerajaan ini dan jumlahnya juga hanya seratus buah tiap minggunya."
"Tapi kan spoon cake tetap saja spoon cake tidak ada bentuk yang berubah dengan spoon cake buatan koki lainnya. Dan juga rasa spoon cake memang begitu-behitu saja."
Melfina tambah tidak senang setelah mendengar bantahan kembali dari Risa. Pipinya sekarang mengembung seakan dia menahan amarahnya itu di pipinya.
"Sudah sudah ayo sekarang kita waktunya istirahat dan kita memesan spoon cake itu." Sambil merangkul tangan mereka berdua.
"Yasudah ayo berangkat. Aku tidak akan membagimu secuil pun spoon cake nya nanti kepadamu Risa." Begitu kata Melfina.
"Ahh dasar bocah." Ucap Risa di barengi dengan hela'an nafas yang. lesu.
Kami akhirnya berangkat ke kantin sekolah yang berada di ujung timur.
Kami bertiga sampai di kantin. Aku tidak menyangka karena ruangan kantin ini begitu besar ukurannya sama seperti setengah lapangan sepak bola. Kantinnya juga sangat bersih dan rapi.
Untuk mendapatkan makanan kita harus mengantri barisan. Dan tak lama bagian kami untuk mendapatkan makanan.
Menu hari ini adalah Bistik galantin, desert spesial yaitu spoon cake terbatas serta untuk minumannya yaitu lemon tea.
"Akhirnya bagian kita juga. Bibi apakah masih ada desert Spoon cake nya? "
Melfina menanyakan Spoon cake yang menurutnya penting saat ini.
"Tentu masih ada nona muda."
"Yatta masih kebagian."
Melfina nampak senang karena masih kebagian Spoon cake.
"Akupun sama yah bu."
"Kalo aku ingin sup jagung dengan roti yah bu" Ujar Risa yang ingin makanan yang berbeda dengan menu kami.
__ADS_1
"Baiklah nona, kebetulan kami pun membikin sup jagung."
"Baiklah segera siap."
Kata si ibu kantin dan si ibu kantin itupun menyiapkannya. Dan tak lama pesanan kami pun siap dan mengambil milik kami masing-masing dan berjalan menuju meja yang kosong sebelah pojok kiri dekat jendela besar.
Kami pun duduk dan mulai menikmati makanan kita masing-masing sambil berbincang-bincang.
Saat kami sedang asyik berbincang ada seorang pria menghampiriku dari belakang dan berbisik kepadaku.
"Sepertinya kamu sangat menikmati kue nya yah."
"!"
Betapa terkejutnya aku akibat bisikkan yang dilakukan oleh seseorang yang berada di belakang ku. Seketika aku berdiri dari kursi sambil terkaget dan berbalik ke arah seseorang yang berbisik itu.
Ternyata dia adalah Pangeran Harles yang berbisik itu. Dia nampak sangat senang terlihat dari senyuman manis nya itu melihatku terkejut.
"Pangeran Harles! "
"Yo nona Lisa."
"Aku kira siapa yang berbisik kepadaku sampai membuatku kaget . Ternyata anda Pangeran Harles."
"Hahaha...."
Pangeran Harles tertawa lepas. Kemudian dia berkata kembali, "Maaf, maaf. Habisnya anda dari tadi aku perhatikan dari sana tadi sangat senang sekali jadi aku tak tahan untuk menjahilimu."
Unjuk ke meja yang dia gunakan ada tepat agak jauh dari samping kanan ku.
Aku menghela nafas berkali-kali untuk menenangkan diriku sambil mengelus-elus dadaku lalu berbalik dan duduk kembali.
"Bolehkah aku ikut dudun disini nona-nona? "
Pangeran Harles begitu bertanya kepada kita bertiga.
"Boleh kok boleh Pangers."
Balas Melfina.
Pangeran Harles berjalan mengitari lalu duduk di kursi kosong di depan ku lalu kami pun melanjutkan kembali perbincangan kami dan aku berkata.
"Oh iya Pangeran Harles. Terima kasih karena sudah menolong saya waktu itu di kediaman saya tempo hari."
Saat itu Pangeran Harles sudah tidak ada dj kediaman jadi aku lupa akan ber Terima kasih kepadanya.
"Itu tidak apa-apa. Lagi pula sudah ku katakan berapa kali bahwa kamu bisa memanggil aku dengan Harles saja."
"Aku tidak bisa memanggilmu begitu Pangeran walaupun kamu temanku tetapi tetap saja kamu kan seorang pangeran terhormat."
Bantah diriku secara halus untuk menolak panggilan yang dia inginkan itu.
"Ehhh masa begitu kamu terlalu terikat oleh aturan Lisa benar kan Melfina , Risa." Jawabnya sambil bertanya kepada Melfina dan Risa tang ada di sebelahku.
"Ehh sebenarnya aku setuju dengan perkataan nya Lisa pangerang. Walaupun anda dan Lisa teman semasa kecil, akan tetapi bangsawan lain akan menganggapnya bahwa itu adalah hal yang sangat tidak sopan. " Jawab Melfina begitu lalu ucapannya pun di teruskan oleh Risa.
"Benar apa yang di katakan Melfina itu pangerang. karena kita ini adalah turunan bangsawan kita sebagai wanita harus menghormati , bagus akan tutur kata dan menta'ati hukum serta sopan santun kita."
"Baiklah baiklah terserah kalian aku kalah deh."
Pangeran pun membalas dengan santainya dan setelah itu kami melanjutkan makanan kami di iringi dengan obrolan ringan.
__ADS_1
Kami bertiga tersenyum dan tertawa kecil melihat Pangeran Harles yang kalah bicara dan akhirnya bel pun berbunyi menandakan bahwa istirah telah usai kami pun kembali ke kelas masing-masing.