
Ternyata perjalan dimana menuju mansion kepunyaan kakek dan nenek di wilayah ini pun memakan waktu yang cukup lama. Sekitar enam jam telah berlalu menempuh perjalanan akhirnya kami baru sampai di wilayah pusat Findar dan untuk menuju mansion masih membutuhkan waktu.
Findar wilayah yang tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil namun karena lautnya yang luas disini ada dermaga untuk para pedagang masuk dan menjadi pusat dermaga Kerajaa Leopord.
Bisa terlihat di sepanjang penjuru jalan banyak sekali pedagang kebutuhan pokok serta aksesoris dan juga orang-orang yang berbelanja. Akan tetapi disisi lain terlihat juga di sebuah gang-gang kecil anak-anak lusuh kucel kumel yang terlantar.
Hatiku terasa sakit melihat anak-anak di dalam gang gelap itu. Bagaimana bisa anak yang tidak berdosa harus ditelantarkan. Akupun menyuruh Fizkar untuk berhenti di depan kios pedagang sate yang ada di samping kanan keretaku.
Aku mengetuk papan gerbong kereta yang menutupi celah untuk berinteraksi dengan Fizkar yang menjadi kusir kereta kuda yang ku tumpangi.
Fizkar membuka papan nya.
"Ada apa Nona Lisa? "
"Fizkar tolong berhentikan kereta kudanya di depan kedai sate itu."
"Baiklah nona Lisa. "
Fizkar menghentikan kereta kudanya.
"Anda akan kemana Nona? "
Tanya Fanny.
"Aku akan turun dulu sebentar yah untuk membeli sate itu."
Ucapku kepada Fanny sambil beranjak dari kursiku menuju keluar sambil membawa dompet kecilku.
"Tapi tunggu Nona Lisa memangnya mau apa ?" Ucap Fanny yang duduk di depanku.
"Aku hanya ingin makan itu saja Fanny tunggu yah, Fizkar maaf yah tunggu dulu ok." Ucapku kepada mereka berdua lalu menuju ke kios sate itu.
Sesampainya aku di depan kios itu si pedagang berkata.
"Ayo Nona muda silahkan satenya murah hanya dua keping koin tembaga."
"Pak aku ingin dua puluh sate tusuk yah pak tapi yang sepuluh tusuknya dipisah."
__ADS_1
"Baiklah nona." Ucap si pedagang sambil membungkus pesanan ku, tak lama ia mengasihkannya padaku.
"Ini dia Nona cantik dua puluh sate tusuk yang dipisah."
"Jadi berapa pak ?"
"Jadi empat keping koin perunggu Nona." Ucap si pedagang itu.
Aku pun mengambil uang yang ada di dompetku lalu mengasihkannya kepada pedagang sate itu.
"Ini pak uangnya."
"Terima kasih nona cantik."
Ucap pedagang itu sambil tersenyum. Aku pun membalas kembali senyumnya sambil berjalan menuju tiga orang anak-anak yang berada di gang dekat kios sate itu. Saat ku dekati, mereka seperti orang yang ketakutan lalu aku bertanya kepada mereka.
"Apakah kalian mau sate?" Ucapku sambil tersenyum bersamaan dengan menyodorkan kantung yang berisikan sate.
Lalu salah satu anak laki-laki mendekatiku dan berkata.
"Apakah benar kaka cantik ?" Ucapnya dengan nada pelan.
Anak laki-laki itupun mengambilnya lalu membuka bungkusan itu san membagikannya kepada kedua anak perempuan yang agak kecil di belakangnya. Terlihat raut wajah mereka yang gembira saat melahap sate itu.
"Baiklah kalau begitu aku pergi yah."
Ucapku kepada mereka. Akan tetapi sesaat aku akan melangkahkan kaki ku seorang anak perempuan menghampiriku dan berkata.
"Kaka ini untuk kamu." Anak perempuan itu menyodorkan sebuah pembatas buku dari kayu berukiran abstrak.
"Terima kasih aku akan menerimanya, oh iya kaka ingin bertanya kalian tinggal dimana ?"
"Kami tinggal di Panti Asuhan Affetto ka."
"Hmm nanti kaka kapan-kapan mampir kesana deh yah, terus kalian gak akan dimarahi jika ada disini?"
"Kami sembunyi-sembunyi keluar dari panti asuhan karena tak ingin merepotkan sister Yuliana." Ucap si anak laki-laki
__ADS_1
"Ohh mendingan kalian sekarang pulang yah nanti sister Yuliana khawatir lagi paham." Ucapku kepada mereka sambil mengelus kepala anak wanita yang dekat denganku.
"Iyah ka kami akan pulang."
"Bagus kalau begitu aku pergi yah dah." Ucapku kepada mereka sambil berjalan menuju kereta kudaku dibarengi dengan melambaikan tanganku.
"Dah kaka terima kasih yah." Jawab mereka sambil melambaikan tangannya juga.
Lalu aku kembali ke dalam kereta kuda dan duduk kembali untuk meneruskan kembali perjalanan. Di depanku Fanny yang terus menatapku membuatku tidak nyaman.
"Fanny kenapa kamu menatapku terus." Ucapku kepadanya.
"Tidak apa-apa nona aku hanya terharu akan sifat mu yang tadi kulihat dari jendela." Jawab Fanny sambil terisak-isak.
"Apaan sih Fanny membuatku jadi malu saja. Itu sudah hak ku Fanny untuk mensejahterakan wilayah ini karena mulai sekarang aku yang akan menjadi penanggung jawabnya bisa dikatakan akku akan menjadi pemimpin wilayah ini." Ucapku kepada Fanny dengan nada yang halus.
"Akan tetapi nona kamu terlalu baik walaupun kebaikanmu tak disadari oleh Pangeran Pabio yang tergila-gila oleh wanita bertopeng iblis itu."
"Jangan begitu Fanny memang dari pertama pun Pangeran tak mencintaiku jadi mau bagaimana lagi. Lebih baik kita makan sate ini saja." Ucapku yang membuka bungkusan sate sambil menawarkannya ke Fanny.
"Apa gak apa-apa aku mengambilnya.?"
"Iyah tidak apa-apa Fanny." Jawabku dengan senyum manis
Fanny Dan Diana mengambilnya lalu memakannya setelah ia menghabiskan satu sate tusuk itu aku pun berkata kepadanya.
"Gimana enakkan."
"Iyah enak Nona Lisa, boleh aku mengambil lagi."
"Iyah ini enak nona Lisa.
"Oh tentu silahkan ambil lagi ayo, tapi harganya satu koin perunggu yah setiap tusuk hehehe..."
"Ahhh.... jika harus membayar aku tidak akan jadi mengambilnya." Jawabnya sambil menaruh kembali sate yang ia pegang.
"Enggak kok enggak bayar aku cuman bercanda hehehe..." Ucapku yang menjahili Fanny.
__ADS_1
Lalu aku, Diana dan Fanny memakan sate itu kembali sambil menikmati perjalanan menuju kediaman baruku.