
Sesampainya diluar rumah kepala desa Drumm dan akan segera pergi menaiki kereta kuda. Ssesuatu yang ingin tahu pun terpintas dalam pikiranku.
"Tunggu sebentar." Aku berhenti dan berkata begitu kepada Fanny, Nois serta Lembrant. Aku berbalik melihat ke arah kepala desa Drumm.
"Maafkan aku Kepala desa Drumm. Aku ingin menanyakan sesuatu bakan satu hal yang baru ku ingat. "
"Tentang apakah itu nona? "
"Aku ingin tahu masih adalah beberapa warga desa yang memiliki lahan yang belum di sita kepada Earl Kellisson? "
"Untuk itu masih ada beberapa desa yang mempertahankan lahan pertanian mereka karena tidak terjerat hutang kepada Earl Kellisson, termasuk lahan punyaku juga. Memang ada apa yah nona anda menanyakan itu? "
"Tidak ada apa-apa pak kepala desa. Hanya saja aku ingin melihat lahan-lahan pertanian itu. Apakah aku boleh ke sana? "
"Tentu saja boleh nona. Namun di sana tidak ada apa-apa lagi, apakah anda yakin? "
Nampaknya pak kepala desa Drumm terus meyakinkan ku bahwa apakah diriku ini benar-benar ingin ke lahan bekas pertanian gandrum itu.
"Tentu saja oak Drumm. Bolehkah kita jalan sekarang? "
"Tentu saja, mari saya tunjukkan jalannya. "
Pak kepala desa Drumm sambil di tuntun oleh cucunya itu berjalan perlahan ke arah utara, seperti biasa kami yang hanyalah seorang tamu hanya bisa mengikuti langkah kakinya dari belakang dan juga desa ini adalah desa yang baru saja pertama kali aku menginjakkan kaki disini dan tidak tahu apapun tentang desa Landro ini.
Warga desa yang ada di halaman rumah mereka serta di lalu lalang jalan ini pun tetap melihat ke arah kami yang orang asing ini dan juga mungkin mereka memerhatikan kami seperti tatapan heran seperti itu karena penampilan kami yang hampir lirik seperti bangsawan, walaupun sebenarnya aku adalah memang bangsawan, namun nampaknya gaun biasa yang ku kenakan ini masih cukup mewah untuk warga desa ini.
Fanny juga tidak memakai seragam pelayan seperti biasanya dan memakai gaun milikku, awalnya dia menolak menggunakannya, namun karena aku paksa dirinya pun menyerah dan menuruti apa yang aku perintah.
Perjalanan tidak cukup memakan waktu banyak, kami telah melewati rumah-rumah warga dan sudah berada di luar desa. Dari kejauhan aku bisa melihat pemandangan yang pertama ku lihat di ladang bekas gandrum ini adalah dimana hamparan ilalang serta sisa sisa tangkai gandrum saling berpadu warna kuning dari tangkai gandrum serta warna hijau dari ilalang berdiri tegap.
__ADS_1
Lahan yang begitu luas membentang ini lebih dari ribuan hektar ini aku bisa membayangkan betapa pemandangan yang begitu indah bahwa disaat panen gandrum dilaksanakan. Dari pohon-pohon gandrum yang siap di panen serta warga desa yang menjadi petani bersuka ria memanen bersama gandrum mereka dengan penuh kebahagiaan.
Ada sebuah jalan setapak yang membelah ilalang-ilalang ini. Aku berjalan ke sana akan tetapi seketika tanganku ditarik di tahan oleh Fanny.
"Anda mau kemana nona? "
"Aku ingin ke sebelah sana Fanny, ingin melewati jalan setapak itu. "
Aku menunjuk ke arah jalan setapak yang membelah perkebunan ilalang liar ini.
"Jangan nona! Bagaimana jika saat anda melangkah ke sana tergigit ular atau terkena perangkap hewan! "
"Tidak akan ada, nyatanya itu adalah jalan setapak bekas manusia Fanny. "
Fanny merasa khawatir akan diriku melangkah sendiri ke sana dengan situasi yang belum terpasti aman aku lewati.
"Dan juga sudah ku katakan jangan panggil aku nona saat kita sedang diluar, panggil aku dengan sebutan nama yang sudah kita sepakati oke."
"Maafkan aku nona. Aku tidak sengaja karena tadi panik."
Bisik Fanny membalas perkataanku. Aku maklumi akan sikap Fanny yang tidak sengaja itu dan melanjutkan kembali apa yang ingin aku lakukan yaitu berjalan di setapak yang membelah lahan ilalang liar.
Namun Fanny tetap memegang tanganku sambil melihat dengan wajah cemas dan menggeleng kan kepalanya tetap melarang ku untuk masuk kesana.
"Lisa, lebih baik Nois serta Lembrant yang berjalan kesana duluan karena mereka membawa senjata"
Memang benar sangat masuk akal ucapan Fanny itu karena jika Nois serta Lembrant berjalan terlebih dahulu lebih aman, dan juga jika ada hewan mencurigakan mereka siap siaga langsung menebas hewan-hewan yang berbahaya.
Aku setuju dengan ucapan Fanny dan mengangguk, kemudian aku dan Fanny melihat ke arah Nois serta Lembrant.
__ADS_1
Seakan mengerti dan tidak bisa menolak permintaan Fanny itu serta tatapan aku kepada mereka, Nois menggosok-gosok rambutnya.
"Baiklah-baiklah aku akan maju duluan. "
Nois berjalan di jalan setapak itu sambil tangan kirinya memegang pedang yang masih tersarung tergantung di pinggang sebelah kirinya. Lalu di ikuti oleh Fanny, aku, kepala desa serta cucunya dan di akhir barisan ada Lembrant mengikuti sambil waspada jika ada sedangan tidak di kenak dari belakang.
Ini memang terasa anek bagiku, karena aku baru pertama kali di perlakukan sebegitu berharganya oleh orang lain. Namun di satu sisi aku merasa senang karena mereka sangat peduli akan keselamatan ku akan tetapi disisi lain jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan itu pasti akan membuatku sangat bersalah, akan tetapi semoga sesuatu yang buruk tidak terjadi saat ini.
Dengan langkah kaki yang perlahan dan waspada kami terus berjalan mengikuti jalan setapak itu, suasana burung berkicauan, suara jangkrik hutan yang saling sahut menyahut begitu berisik serta suara ilalang-ilalang yang tergesek oleh langkah kaki kami terdengar pelan namun sedikit kasar.
Kurang lebih sudah sekitar dua ratus meter kami melangkah, terlihat jarak yang tidak terlalu jauh ada beberapa pohon yang berdiri tegap dengan buah berwarna merah ada juga buah berwarna kuning dan hijau, buah yang menggelantung di di dahan-dahan pohon itu tidak lain adalah buah kakao.
Aku tidak menyangka karena di balik lahan yang di tumbuhi rumput-rumputan liar ada sebuah ladang kakao yang membentang luas. Aku bergegas berlari ke lahan yang di tumbuhi banyak pohon kakao tersebut dan menghiraukan yang lainnya.
"Linda tunggu jangan berlari an gegabah seperti itu! "
Teriak Fanny cemas padaku. Aku tidak bisa menahan senyuman di wajahku ini, karena ini adalah sebuah lahan yang penuh akan kakao yang bisa membuat sebuah bisnis untukku.
Kepala desa serta yang lainnya di sana tentu saja nampak kebingungan terlihat jelas dari ekspresi mereka melihatku.
"Nona kenapa anda begitu gembira hanya hal tumbuhan liar yang tidak berharga ini."
Sontak saja akh sangat terkejut akan omongan nya itu. Karena aku baru pertama kali bahwa tidak ada yang mengenali bahwa ini adalah pohon kakao bahan yang paling utama untuk pembuatan cokelat.
"Maaf sebelumnya kepala desa? Apakah anda tidak tahu tanaman ini tanaman apa? "
"Tentu saja kami tahu bahwa ini tanaman adalah tanaman tidak berharga. Bahkan buahnya saja tidak bisa dimakan rasanya begitu pahit dan hanya dipakai sebagai peneduh saja. "
Aku tidak percaya bahwa disini benar-benar tidak tahu sama sekali pohon kakao.
__ADS_1
"Kalau begitu kalian. Apakah kalian tahu yang namanya cokelat? "
Aku bertanya kepada Fanny Nois serta yang lainnya disini. Naum mereka tidak menjawab, bisa ku simpulkan mereka pasti tidak tahu apa yang namanya cokelat.