
Semakin kami mengikuti jalannya, semakin sempit jalan setapak yang kami lalui hingga akhirnya kepala desa berhenti tepat di sebuah rumah yang menurutku cukup layak dari bangunan rumah lainnya walaupun semuanya telah berpartisipasi bangunan dari batu bata seperti rumah eropa rakyat biasa di pertengahan abad.
"Silahkan masuk. "
Begitulah ucapnya sambil membukakan pintu rumah. Pak kepala desa masuk duluan sementara kami satu per satu masuk karena lubang pintu nyatanya cukup untuk satu orang yang melewat.
Dalam rumah serta luar rumah begitu berbanding terbalik, dimana saat aku lihat baru saja luar rumahnya dan halaman kecil nya sedikit terlihat berantakan, namun di dalam rumah ini begitu sederhana dan barang-barang tertata rapi dan juga bersih.
Di dalam rumah ini kami melihat ada dua buah sofa yang bisa dibilang kualitas standar bisa di katakan kami langsung berada tepat di ruang tamu.
"Silahkan duduk nona-nona dan tuan-tuan. "
Di mempersilahkan duduk kami, kami tanpa sungkan menerima tawarannya itu dan duduk.
"Kakek kamu sudah pulang yah."
Seorang anak laki-laki datang dari sebuah ruangan yang berbeda, nampaknya dia mendengar suara pintu terbuka yang pasti dia mempunyai firasat bahwa kakek nya telah pulang.
"Wah nampaknya ada tamu. Mohon maaf atas ke tidaksopanannya. "
Anak laki-laki itu berjalan kemudian memegang tangan kanan kepala desa. Terlihat dia ingin membantu kepala desa untuk duduk di sebuah kursi tunggal. Gerakannya begitu hati-hati sampai dimana suara "ahhh" ******* lega kepala desa dibarengi duduk dengan sempurna.
Pemandangan yang begitu mengharukan, jarang sekali melihat seorang anak laki-laki muda yang baik membantu seperti ini, bahkan di kehidupanku sebelumnya pun sanya sekali dua kali melihat pemandangan seperti ini.
"Kalau begitu saya permisi dulu ke belakang."
Dengan ramah anak Laki-laki itupun meminta izin kepada kami dan berjalan meninggalkan kami disini.
__ADS_1
"Anak yang baik yah."
Pujiku berkata kepada kepala desa ke anak laki-laki itu.
"Terima kasih. Dia itu adalah cucuku yang merawat ku disini."
Balas kepala desa atas omongan ku barusan.
"Jadi permisi, saya ingin tahu maksud kedatangan nona ini serta yang lainnya ini ke desa ini ada keperluan apa? "
Kepala desa membuka percakapan. Nampaknya kedatangan kami memang membuat dirinya penasaran. Aku menarik nafas panjang, karena disini aku akan memulai berbicara dengan serius mencari informasi detail tentang desa ini.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena kedatangan saya kesini sangatlah mendadak. Saya benar-benar minta maaf. "
Aku menundukkan sedikit kepalaku, namun di dalam hatiku ini aku sungguh benar meminta maaf dengan tulus. Kepala desa tertawa kecil.
Kepala desa nampak nya rasa curiga di dalam benaknya kurasa sedikit berkurang.
"Jadi ada perihal apa anda sekalian datang kemari? "
"Pertama-tama perkenalkan nama saya adalah Linda, saya serta para pengawal ini adalah petugas baru untuk pendataan masyarakat serta perkembangan atas perintah langsung dari yang mulia Marquis Robert Alson selalu penanggung jawab wilayah Findar ini."
"Baiklah nona Linda jika itu adalah tugas langsung dari Baginda Marquis Robert Alson. Saya akan menjawab apapun yang ingin anda tanyakan. Dan perkenalkan saya adalah Drumm."
Nampak kecurigaan serta rasa waspada terhadap ku seketika menghilang setelah dia tahu bahwa aku adalah utusan dari Robert Alson yaitu kakek ku. Walaupun sebenarnya aku berbohong kepadanya bahwa aku adalah petugas pendata masyarakat serta perkembangan desa.
Dari sikapnya aku sudah bisa tahu bahwa kakek ku adalah orang yang paling di hormati oleh mereka.
__ADS_1
"Kepala desa Drumm, saya ingin langsung ke inti nya saja. Kenapa keadaan desa ini begitu sangat memprihatinkan? "
Aku bertanya begitu karena tidak ingin banyak basa basi serta ini juga agar menghemat waktu kerja ku dan bisa memulai pekerjaan lainnya yang masih tertunda.
Kepala desa Drumm seketika menghela nafas panjang, entah hal apa dan pikiran apa yang membuat dia menghela nafas panjang begitu, namun satu hal yang pasti ialah itu pasti sesuatu hal yang buruk serta merepotkan untuk di jelaskan olehnya.
Drumm yang selalu kepala desa pun mulai menceritakan dimana desa ini yang dulunya tidak seperti ini atau dari awal mula. Desa Landro dahulunya adalah penghasil bahan baku utama terbesar yaitu bisa dikatakan penghasil gandrum terbesar di Kerajaan Leopors ini.
Rakyat desa Landro hidup bahagia tanpa ada kecemasan, karena hidup sebagai petani gandrum yang menjadi bahan baku pembuatan roti memiliki penghasilan yang cukup stabil karena minat pasar yang tiada habisnya.
Akan tetapi empat tahun yang lalu secara tiba-tiba mulai terasa dimana hasil panen berkurang cukup drastis, dimana panen gandrum menurun sekitar kurang lebih dua puluh persen dari biasanya. Semakin lama semakin drastis pula pada petani gandrum mengalami kerugian. Pada warga desa tidak merasa curiga apapun sebelumnya mungkin hanya karena faktor alam yang sedang tidak bagus saja dan mereka melanjutkannya bertani gandrum kembali dengan uang tabungan yang mereka punya.
Namun semakin maju ke depan. Dampak menurunnya panen gandrum semakin terasa. Warga desa yang menjadi petani mulai frustasi dan ada juga sebagian yang mengalami kerugian sampai gagal panen hingga harus berhenti menjadi sebagai petani gandrum.
Mereka yang punya anak muda dipaksa untuk keluar dari desa dan bekerja di kota yang besar agar mendapatkan hasil yang cukup besar untuk biaya hidup keluarga mereka. Namun warga desa lainnya yang tidak memiliki anak terpaksa harus menjalani hidup susah.
Hingga akhirnya suatu hari dua tahun lalu, harapan sedikit muncul kepada masyarakat desa ini. Ada seorang bangsawan muncul dengan mewahnya. Dia menemui kepala desa sambil membawa se gerobak koin emas untuk meminjamkan modal kepada para petani gandrum di desa Landro ini.
Tentu saja bangsawan itu sangat di sambut hangat oleh masyarakat desa Landro dan para warga pun seperti mendapatkan sebuah harapan yang begitu besar bisa di ibaratkan seperti menemukan sebuah oasis di tengah gersangnya gurun pasir.
Warga desa seketika berbondong-bondong meminjam modal pada bangsawan itu untuk dipakai modal kembali bertani gandrum. Namun pada kenyataannya naas harapan warga desa seketika lenyap, hasil panen terus merosot kembali hingga gagal panen terjadi kembali.
Setahun kemudian bangsawan itu menagih uangnya untuk kembali serta bunga pinjaman yang cukup besar. Warga desa yang tidak sanggup membayar akhirnya memberikan surat lahan tanah Gandrum mereka sementara yang tidak bisa sama sekali membayar hutang nya di jadikan budak oleh bangsawan itu untuk di penjual belikan kembali.
Begitulah isi sebuah fakta dari hancurnya desa Landro ini. Cerita yang begitu sangat suram akan hancurnya desa akibat sebuah bencana alam yang mereka lakukan sendri sampai penyakit yang mereka buat sendiri pula.
Aku yang mendengarkan cerita kepala desa Drumm untuk sesaat tidak bisa berkata apa-apa bahkan tidak hanya aku saja, yang lainnya orang-orang yang ada disni pun tidak bergeming saat selesainya cerita dari kepala desa Drumm.
__ADS_1