
Dering lonceng yang menggema ke seluruh sekolah menandakan bahwa jam sekolah telah berakhir bersamaan dengan panas nya matahari yang mulai mereda. Keadaan disini menandakan waktu sekitar jam siang menjelang sore.
Aku bergegas merapihkan buku pelajaranku yang telah aku gunakan hari ini yang tergeletak di atas meja kemudian memasukkan nya ke dalam tas. Aku bergegas sebab saat ini teman-teman ku telah menunggu tepat di pintu luar kelas berjanji untuk pulang bersama.
"Ayo Lisa Cepat. "
Melfina nampaknya tidak sabar menungguku.
"Tunggu sebentar dong Melfina." Balas ku.
Selesai semua tidak ada yang tertinggal satupun aku berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri mereka berdua.
"Jadi bagaimana apakah nanti kalian akan hadir di pesta perayaan Pangeran Pabio? "
Aku merasa Melfina membuka percakapan ini dengan topik yang berat untuk aku.
"Kalau aku pasti akan datang karena aku ayahku adalah saudara dari raja saat ini dan masih satu keluarga. Lisa pun pasti akan datang kan. "
Risa menepuk pundakku seakan yakin bahwa jawabanku akan datang ke pestanya. Aku diam untuk sesaat itu. Kedua temanku ini melihat ke arahku.
"Lisa kamu kenapa? "
Melfina seakan peka akan raut wajah murung yang aku tunjukkan untuk sesaat itu.
Akh menggelengkan kepala dan berkata, "Tidak. Aku tidak apa-apa Melfina? "
"Tapi Lisa... "
Sebelum Melfina menuntaskan perkataannya, aku berkedip sebelah mata lalu tersenyum mengisyaratkan bahwa aku tidak ingin dia melanjutkan perkataannya itu.
"Ahhh gitu kah."
Melfina nampaknya mengerti akan isyarat dariku itu. Sementara Risa merasa heran akan tingkah kami berdua.
"Kalian ini kenapa sih? Kalian nampak aneh. Atau jangan-jangan kalian menyembunyikan sesuatu dariku? "
"Tidak, tidak, tidak. Tidak ada yang kami sembunyikan kok. Beneran. "
Aku dan Melfina namoak kompak menjawab Risa dengan di akhiri tawa canggung. Namun kecurigaan Risa nampak nya belum hilang dari kami berdua.
"Beneran kan kalian tak meny bunyikan sesuatu rahasia dariku? "
"Ya... emm... aku pasti akan datang. Karena aku kan adalah tunangan Pangeran Pabio."
Dengan senyuman aku membalas perkataan Risa.
Dari lorong saat itu sampai sudah dekat di gerbang sekolah kami terus mengobrol dengan senang walaupun entah apa yang kami obrolan itu. Sampai di gerbang sekolah aku melihat Lucas sedang berdiri sendiri. Entah sedang menunggu siapa sambil menengok kanan kiri melihat siswa siswi yang melewatinya.
Aku memperhatikan dia dari kejauhan, aku mencoba berjalan ke arah nya namun saat matanya itu melirik kearah ku, Lucas seketika melambaikan tangannya.
"Hai Lisa, Lisa... sebelah sini."
Aku terkejut dia meneriakki namaku, orang-orang yang ada di sana seketika melirik kearah ku adapun yang tidak sih sebenarnya. Nampak sekali Lucas berarti sedari tadi berdiam diri di depan gerbang sekolah dia sedang menungguku.
Namun entah mengapa aku merasa ada hawa tatapan yang menyeramkan kearah ku sampai-sampai membuat bulu kuduk ku merinding.
__ADS_1
"Sahabatku Lisa siapakah pria tampan itu? "
Risa bertanya padaku dengan senyuman yang menakutkan serta memegangi pundak ku.
"Ri-Risa? Kenapa kamu tersenyum menyeramkan begitu padaku? "
"Sudahlah jawab saja! Siapa pria tampan itu? "
Begitu ucap Melfina sama dengan nada serta senyuman seram kepadaku sambil memegang pundak ku juga.
"Tu-Tunggu kenapa kalian aneh begini kepadaku! ? Dia itu hanya saudaraku."
Setelah aku berkata bahwa Lucas adalah saudaraku. Tatapan mereka berdua seketika melembutkan, hawa kecemburuan yang menusuk tajam kepadaku seketika menghilang.
"Akhrinya aku bisa bernafas lega."
"Ternyata dia saudaramu."
"Kenalkan aku dong Lisa dengan nya."
Tanpa basa basi Risa ingin mengenalkan Lucas padanya.
"Sama akupun."
Ahh ini sangat merepotkan karena mereka ingin sekali berkenalan dengan Lucas. Akan tetapi aku ingin sekali cepat pulang dan beristirahat di rumah.
"Nanti saja yah aki kenalkan dia pada kalian. Untuk saat ini lebih baik aku cepat-cepat mendatanginya, karena ini sesuatu hal yang sangat langka untuk ku."
"Ehh ayolah kenalkan kami kepadanya sebentar saja? "
"Maaf tapi taun kali saja yah! Baiklah kalau begitu aku duluan yah Melfina , Risa."
Aku berlari meninggalkan mereka dan menghampiri Lucas dan berkata.
"Ada apa Lucas kok tumben sekali kamu yang menjemputku di sekolah." toh begitu aku bertanya kepada Lucas lalu dengan senang.
Lucas pun menjawab perkataanku. "Sebenarnya aku ingin mendiskusikan tentang pembuatan per yang dari plat baja itu." Seperti biasa dia tidak pernah basa basi terhadapku dan langsung berbicara ke intinya.
"Kau ini Lucas. Setidaknya tanya apa saja dulu kem kepadaku? Jangan langsung to the point seperti itu."
"Maaf maaf Lisa, tapi kita dikejar oleh waktu soalnya."
Aku memakluminya akhirnya.
"Ohh maksudmu pembuatan shokbreker itu yah boleh." Aku pun menjawab pertanyaan Lucas.
"Iya pembuatan shokbreker itu kah baiklah"
"Yasudah kalau begitu kita berangkat ke tempat kerjaku Lisa."
"Ok ayo kita berangkat."
Kami akhirnya berjalan menuju kereta kuda yang Lucas tunggangi dan dia pun membukakan pintu kereta kudanya dan mepersilahkan kan aku naik duluan berkata kepada Lucas dengan wajah agak gugup.
"Apaan si kamu Lucas jangan memperlakukan aku seperti tuan putri deh."
__ADS_1
"Bukannya wajar yah kan kamu sekarang adalah tunangan Pangeran Pabio dan pastinya nanti akan menjadi pemainsuri masa depan kerajaan ini." katanya.
Seketika hatiku sesak entah Lisa yang dulu merasakan bahwa cinta Pangersn Pabio itu palsu kepadanya atau karena dirinya sudah tahu akan kelakuan Pangersn Pabio.
Raut wajahku yang tadinya ceria berubah menjadi sedih karena mendengar ucapan Lucas dan melangkah masuk ke dalam kereta, tak lama Lucas pun masuk lalu menutup pintunya dan berkata kepada pelayannya.
"Kita berangkat ke tempat kerjaku."
"Baiklah tuan." perkataan dari kusir itu dan langsung memecut kuda itu.
Hatiku terasa gundah karena perkataan Lucas tadi dan dia pun terus memerhatikanku di perjalan itu dan berkata kembali.
"Lisa kenapa kamu jadi murung begitu."
"Tidak , tidak apa-apa Lucas" jawabku begitu
"Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan Lisa, apakah tentang pertunangan kamu yang rumornya bahwa pangerang akan memutuskan pertunangan itu." begitu jawab Lucas .
Akupun terkaget mendengar perkataan itu dari Lucas yang mengetahui bahwa Pangersn Pabio ingin memutuskan pertunangannya denganku.
"Kamu tau dari mana berita itu Lucas ." Jawab dengan terkejut.
"Aku dapat berita itu kemarin dari paman ketika aku mengunjungi rumah mu kemarin itu." Begitu jawabnya Lucas.
"Yah sebenarnya memang begitu dia ingin memutuskan pertunangan kita karena dia sekarang sedang dekat dengan wanita baru yaitu Lady Carmelia walaupun begitu ayah tetap menekan ku untuk tetap menjalin hubungan dengan Pangersn Pabio." Jawabku kepada Lucas.
Lucas pun terkaget dan mengatakan.
"Serius itu Lisa! kamu memdapatkan informasi dari mana bahwa pangerang sedang mendekati wanita yang bernama Carmelia itu?".
"Sebenarnya kemarin aku dapat informasinya".
Aku berdalih kepada Lucas bahwa aku mendapatkan informasi Pangeran Pabio selingkuh terhadapku tiga hati yang lalu.
Bukanya tiga hari yang lalu sih aku mendapatkan informasinya. Tapi aku sedari awal sudah tahu dirinya berselingkuh dengan si Carmelia putri seorang Baron yang tidak tahu diri dan selalu memojokkan Lisa menjadi peran antagonis sampai akhirnya Lisa diasingkan ke suatu tempat yang jauh dan tidak di ketahui sama sekali keberadaannya sampai game ini berhasil ku selesaikan.
"Tiga hari yang lalu. Apa yang kamu katakan itu benar Lisa!?"
Akh mengangguk Lalu mengakatan kebenaran yang ku buat-buat tentunya kepada Lucas aku berkata.
"Benar waktu kemarin aku pingsan bukan karena kecapean namun karena aku dapat informasi dari pelayan kepercayaan ibuku yang bernama Rudolf itu kau tau kan."
"Ohh iya aku tahu pelayan ibumu itu."
"Iya sebenarnya Rudolf itu adalah bukan pelayan biasa. Sebelum dia bekerja sebagai pelayan ibuku dia adalah bekas pembunuh bayaran yang keji tau." ucapku kepada Lucas
Lucas pun menjawab. "Benarkah. Aku baru tahu bahwa latar belakang Rudolf seperti itu dan bukan nya Josept juga sama bekas tentara bayaran. "
Aku membalas kembali bincangan dia.
"Iya betul. Lalu sebenarnya sudah dari bulan lalu hingga sekarang ini ibuku menyuruh Rudolf memata-matai pangeran dan wanita yang dekat bersamanya itu."
"Ohh jadi seperti itu yah Lisa . Yang tabah saja yah kamu Lisa mungkin memang Pangeran bukan jodohmu walaupun engkau mencintainya."
Lucas mencoba menenangkan dengan cara mengelus kepalaku.
__ADS_1
Tak terasa kereta kuda berhenti menandakan bahwa kita sudah sampai di tempat kerjanya Lucas.