Di Santet Tetangga Ku

Di Santet Tetangga Ku
Kontrakan Sebelah


__ADS_3

Aku seorang ibu rumah tangga mempunyai satu anak. Rumah tangga kami bisa dibilang harmonis meskipun keadaan keuangan naik turun, aku tak pernah mengeluh. Begitu juga dengan suamiku.


Di kontrakan ini kami sudah tinggal selama 3 tahun, di sini sangat damai. Tidak seperti kontrakan ku yang sebelumnya, penuh dengan tetangga yang rempong, suka mengurusi urusan ku dan lain-lain. Tapi di sini sangat nyaman dan tenang.


Kontrakan ku adalah perumahan KPR type 36, namun sang pemiliknya menyewakan pada kami dengan harga murah, dibandingkan menyewa kost-kostan atau kontrakan lainnya jelas di sini lebih murah dan nyaman.


Belum lagi, jangkauan kerja suami ku yang dekat membuatnya tak perlu menempuh jarak yang jauh. Karena suami ku juga bekerja sebagai kuli bangunan di komplek perumahan ini. Setiap tahunnya sekian ratus unit rumah di bangun dan pasarkan di lokasi sekitaran kontrakan ku.


Siang itu pukul 11.30 suami ku pulang kerja. Ia pulang untuk makan siang dan tidur sebentar.


"Dek, kamu nggak masak?" Suami ku membuka wajan dan panci tapi tak ada makanan apapun di sana. Ia lalu membuka kulkas.


"Aku bingung mas mau masak apa, kamu pilih aja di dalam kulkas ada sayuran. Kamu pilih yang mana?"


Aku menyuruhnya memilih menu sayuran di kulkas. Di sana ada kangkung, terong ungu dan kacang panjang. Dan untuk lauknya, aku tak perlu bingung karena di bawah freezer ada beberapa potong ayam dan ikan laut yang sudah di bumbui, tinggal di goreng saja.


"Kangkung saja dek," dengan cepat ia menjawab.


"Ya, mas." Aku memalingkan wajah ku pada putri ku Einy. "Einy, kamu mau ayam goreng? mamah goreng kan ayam Upin Ipin mau?"


"Mau mah!" dengan cepat ia mengangguk.

__ADS_1


"Aku juga mau dek, ayam goreng Upin Ipin!" Sahut suami ku.


Aku memasak sayur kangkung permintaan suamiku dan menggoreng beberapa potong ayam. Tak butuh waktu lama, makanan sudah tersaji dengan cepat. Namun suami ku malah tertidur pulas di depan televisi dengan kipas angin di depan nya.


Aku tak ingin mengganggu tidur siang nya, ku biarkan saja ia tidur sejenak melepas penat nya. Jadi aku mengambilkan nasi untuk makan siang putri ku saja. Ia sudah berusia 3 tahun, namun aku selalu mengajarkan mandiri padanya. Jadi tak perlu repot menyuapinya makan, ia bisa makan sendiri tanpa berantakan.


Setelah selesai makan siang, Einy mengambil bantal dan tidur di samping ayahnya. Begitu lah rutinitas siang kami setiap hari, santai dan menikmati hari-hari kami bertiga.


Hingga sore hari, kami kedatangan tetangga baru tepat di sebelah kontrakan ku. Ia adalah sepasang suami istri yang sudah berusia lanjut. Usia nya kisaran 60 tahun.


Ku dengar, mereka masih berbau keluarga dengan ku. Entah dari mana silsilahnya aku tak mengerti. Yang aku tahu, aku harus memanggil nya 'Mbah' karena orang tua ku juga menghormatinya.


Namun si mbah perempuan ia tak terlihat seperti berumur 60 tahun. Ia lebih cocok berumur 40 tahun. Dengan kulitnya yang putih, rambutnya yang di bleacing kemudian di semir dengan warna pirang. Dan lagi, ia memotong pendek poni nya, membuat keningnya jadi tertutup. Aku merasa minder dengan penampilanku sendiri ketika sedang mengobrol dengan nya.


"Ia Mbah, apalagi di samping sebelah kiri ku masih kosong semua, jadi nggak berisik dan damai banget." Sahut ku kepada nya.


"Mbah nggak sanggup angakat-angkat barang berat, biar suami mbah aja yang beres-beres. Tangan Mbah lagi sakit." Ucap nya memperlihatkan pergelangan tangan nya yang bengkak.


"Kenapa kok bisa bengkak begini Mbah?" tanya ku.


"Nggak tahu juga ndok, tiba-tiba bengkak aja. Terus kumat-kumatan. Nanti sembuh sendiri, nanti kumat lagi." Ucap nya duduk di samping rumah.

__ADS_1


Aku mengikuti nya duduk berhadapan dengannya. Agak lama kami mengobrol, hingga ku dengar suara berisik di dapur ku. Pasti suami ku sudah bangun dan mencari makan.


"Mbah, nanti lagi ngobrol nya ya. Ayah Einy kelihatannya sudah bangun, saya mau siapin makanan nya dulu."


"Iya ndok, nanti ngobrol lagi." Ucapnya tersenyum penuh ramah. Nada bicara nya yang lembut membuat siapa saja terpesona dengan gaya bicaranya.


Aku meninggalkan Mbah yang sedang menonton suaminya mengangkuti barang-barang ke dalam rumah. Barang mereka tak banyak, hanya ada 1 lemari kecil, 1 kasur, 2 meja kecil dan televisi serta perlengkapan memasak. Jadi, ku rasa ia nggak memerlukan bantuan suamiku.


Aku memeriksa ke dapur dan ku lihat suami ku sudah hampir selesai dengan makan siang nya.


"Si Mbah jadi pindah?" tanya suami ku.


"Iya, kamu mau bantuin angkut barang-barang nya?"


"Barang apa? memangnya barang nya banyak?"


"Nggak, cuma sedikit. Satu pick up aja nggak penuh."


"Aku masih lemes, aku nggak bantuin ya?"


"Terserah kamu mas, barangnya juga cuma sedikit kok."

__ADS_1


Selesai makan siang, suami ku kembali bekerja. Ia menyapa Mbah dan Mbah membalasnya dengan senyuman dan keramahan.


Aku mengambil bantal di kamar dan tidur di samping Einy. Ku matikan televisi yang dari tadi menyala. Aku tak bisa tidur jika ada suara televisi di depan ku. Kebalikan dengan suami ku, ia terbiasa menonton televisi sampai tertidur. Meskipun suara televisi begitu nyaring, tak membuatnya merasa terganggu.


__ADS_2