Di Santet Tetangga Ku

Di Santet Tetangga Ku
Mbak Surti Dikerjai


__ADS_3

Sehat, satu kata yang mewakili tubuhku saat ini. Aku merasa semakin sehat dan pulih, dapat berpikir jernih lagi.


Hari ini hari libur mas Jain, kami memutuskan untuk pergi ke lokasi kebun kami. Di sana kami menanam bibit tanaman rambutan dan nanas. Siang yang cerah membuat kami sangat cepat sekali haus.


Air minum kami hampir habis, jadi kami hanya berbaring di atas karpet di bawah pohon rindang. Aku memetik beberapa buah nanas kecil yang sudah sangat matang. Benar-benar segar dan manis rasanya.


Einy yang penurut hanya duduk saja di atas karpet memakan jajan yang dia beli di warung dalam perjalanan.


"Einy.. sampahnya di kumpulin ya sayang, nanti banyak semut."


"Iya mah..." Sahut Einy.


Mas Jain menebas rumput yang sudah mulai tinggi. Ia menebasnya menggunakan parang yang agak kecil. 2 jam kemudian, tebasan mas Jain hanya tersisa sedikit akan tetapi kami harus pulang karena air minum benar-benar sudah habis.


Kami bertiga pulang ke rumah kakek dan nenek Einy. Kami menghabiskan waktu di sana hingga malam hari. Setelah itu barulah kami pulang ke rumah, jaraknya yang sangat jauh, sekitar 25 km membuat kami sampai di rumah hingga pukul 20.00 malam.


Karena kelelahan dan mengantuk kami langsung tidur, aku juga lupa untuk menyalakan aplikasi surah Al-Qur'an dan ponselku.


Tidak menyalakan alplikasi membuatku kembali bermimpi buruk. Kali ini aku berada di rumah kayu bertingkat, akan tetapi aku tak dapat menemukan genderuwo yang selalu berusaha menyakitiku.


Makhluk-makhluk yang lalu lalang di sana juga tak memperhatikanku, biasanya mereka menatapku tajam dan menghalangi jalanku menuju Einy. Tapi malam ini, mereka tak menggangu ku, ada apa??


Aku terbangun tengah malam karena Einy meminta ke kamar mandi. Aku mengantarnya seperti biasa, setelah selesai kami kembali tidur. Aku baru ingat aku tak menyalakan aplikasi.


Aku membuka ponselku dan menyalakan aplikasi, suara lantunan ayat suci Al-Quran menggema di seluruh ruang kamar hingga menjelang pagi.

__ADS_1


Tak ada mimpi aneh apapun hingga menjelang pagi. Aku bisa merasakan kehangatan matahari pagi dan melanjutkan aktivitas seperti biasa. Aku hanya berharap kalau memang ada seseorang di luar sana yang ingin menyakiti aku dan keluargaku, biarlah Tuhan yang maha kuasa yang membalasnya.


Siang itu aku menonton video ustad lagi, di dalam video si ustad menyembuhkan pasiennya lagi dengan beberapa nasihat yang ia katakan. Ia mengatakan bahwa makhluk halus juga sama seperti manusia, hanya saja dia tak terlihat. Tak perlu membenci keberadaannya, cukup kita yang selalu mendekatkan diri pada yang maha kuasa.


Benar apa yang dikatakan pak ustad ini. Aku merasakan aura si penunggu kamar yang samar-samar. Dalam hati aku mengatakan, kamu boleh diam di situ asalkan jangan mengganggu aku dan keluargaku. Tak apa kalau kamu hanya ingin berteduh. ucapku dalam hati.


Namun keberadaannya semakin samar kurasakan. Apakah keikhlasan di hatiku juga berpengaruh? entahlah, tapi aku merasakan dia tak lagi ada di sana.


*********


Mbak Surti datang bertamu, dia sedang menderita sakit kandung kemih. Dengan susah payah dia berjalan sampai ke rumahku. Ia berniat membeli tanaman kumis kucing milik si mbah.


"Tanya saja mbak, pasti di jual kok." Ungkap ku.


"Kalau kamu dikerjai ya kerjai saja balik lah mbak!"


"Aku takut sama si Mbah dan hal-hal yang kayagituan..." keluhnya.


"Nggak apa-apa mbak, daripada mbak keliling lagi cari tanaman kumis kucing nya? mbak mau cari dimana coba?" aku berusaha meyakinkannya.


"Iya udah deh." Akhirnya mbak Surti menuju ke sebelah mengetuk rumah si mbah.


Setelah beberapa saat mabuk Surti datang dengan membawa sebuah polybag tanaman kumis kucing. Akan tetapi wajah mbak Surti pucat pasi.


Dia bergidik dan segera masuk ke dalam rumah ku.

__ADS_1


"A-aku mau pulang aja ya!" dia mengambil tas dan ponselnya yang ia letakkan di atas meja.


Aku menarik tangannya, "kenapa mbak??" tanya ku heran.


Ia bergidik lagi, "nggak, nggak kenapa-napa. Aku pulang ya?!"


"Ceritain dulu ada apa mbak??" tanya ku kepo.


Dengan terpaksa mbak Surat menceritakan apa yang terjadi.


"Aku tadi habis ketuk pintu langsung to the point aja tanyakan tanaman kumis kucing... eeeh, si mbah malah pegang perut bawah aku.... katanya aku harus hati-hati, ada sesuatu dalam perut aku. Si Mbah suruh aku ke rumahnya lagi besok sebelum matahari terbit katanya!"


Mbak Surti kembali bergidik menceritakan semuanya padaku. Ia menceritakan dengan setengah berbisik.


"Aku pulang dulu! aku merinding!"


Mbak Surti langsung pergi dari hadapanku. Dan kejadian tersebut aku ceritakan pada mas jadiin. Akan tetapi mas Jain menanggapinya biasa saja.


"Biasa lah dek, cari pelanggan... kamu masa nggak ngerti??"


Aku juga bergidik membayangkan ketika si mbah memegang perut mbak Surti sambil mengatakan itu. Sampai malam tiba, aku dan mas Jain mengunjungi mbak Surti.


Saat itu aku melihat mbak Surti menjadi khawatir apakah benar di dalam perutnya ada sesuatu? ia menjadi sangat gelisah. Akan tetapi suaminya meyakinkannya bahwa si Mbah hanya mencari pasien saja.


Meskipun mbak Surti yakin yang diucapkan suaminya, tetapi kegelisahan dan ketakutan tergambar jelas di raut wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2