
Aku mendengarkan nasihat dari mas Jain, hari ini aku berusaha tidur siang dan mengerjakan sholat. Setelah sholat Zuhur aku akan tidur siang supaya nanti magrib mataku tidak mengantuk.
Aku mengambil air wudhu dan menggelar sajadah. Dan sesuatu yang aneh kembali terjadi, saat aku mengangkat tangan memulai takbir, Allahu'akhbar.
Dada ku bergemuruh, jantungku berpacu sangat cepat. Dan yang paling parah dadaku terasa panas, Astagfirullohallazim.
Aku menghentikan sholat ku dan terduduk karena dada ku yang bergemuruh, berdebar dan panas. Aku mengucapkan istigfhar beberapa kali hingga detak jantungku kembali normal, lalu kembali berdiri.
Allahu'akhbar. Aku mengulang lagi dari awal. Akan tetapi dadaku kembali berdebar-debar dan panas. Aku tak bisa menahannya, aku seakan seperti mau pingsan menahan debaran jantungku sendiri.
Aku kembali duduk beristirahat dengan tenang. Ku pandangi Einy yang sedang tidur siang menggunakan kipas angin, aku mempunyai ide. Aku menarik kipas ke dalam kamarku dan menggunakan kecepatan angin yang paling cepat.
Aku kembali berdiri untuk sholat, dan dengan kipas angin yang memutar dengan sangat kencang membuatku merasa adem dan sedikit tenang. Aku bisa sholat meskipun dengan dada yang berdebar tak beraturan dan panas. Meskipun begitu, aku sholat dengan cepat, karena tak tahan dengan debaran yang aku rasakan.
Dan yang membuatku sangat aneh adalah, ketika sholat ku selesai, debaran di dadaku juga berhenti. Aku tak dapat menahan rasa heran ku. Aku harus menceritakan ini pada mas Jain.
Aku mengembalikan kipas kepada Einy dengan putaran yang kembali normal. Siang itu aku mencoba tidur namun tak dapat terlelap. Aku merasa nanti akan tidur di waktu maghrib lagi. Aku menjadi cemas, semakin ku pikirkan semakin cemas diriku.
Siang itu mas Jain tidak pulang untuk makan. Jadi aku mencari kesibukan ku sendiri. Aku mencuci piring dan menyirami tanamanku. Dan apa yang kulihat selanjutnya adalah, si mbah yang menyiram ayam-ayam ku dengan air dari belakang rumah nya.
"Kurang ajar!!!" ucapnya kasar sambil melempar segayung air.
__ADS_1
Kudengar dia juga mengomel ini dan itu, berbeda sekali karakternya yang sangat ramah sebelumnya. Aku merasa ia adalah orang yang berbeda. Sebelumnya ia terlihat seperti wanita tua yang lemah di mataku, sekarang dia seperti seekor serigala.
Aku hanya diam melihat sikap nya. Aku tak dapat menyalahkan dia, karena memang itu salah kami juga. Aku juga tak memiliki cukup uang untuk membeli jaring.
Aku melihat hari ini banyak yang datang ke rumah nya. Dia juga membuka salon, karena dia memiliki skill di bagian itu. Setiap hari ada saja yang datang ke salon nya, entah untuk menyalon atau hanya sekedar mengobrol.
Waktu sholat ashar telah tiba, aku kembali mengerjakan sholat ashar. Dan rasanya masih seperti ketika sholat zuhur. Dadaku berdebar dan panas. Jadi, setiap kali sholat aku harus menggunakan kipas angin.
Pukul 17.15, sebentar lagi waktu sholat magrib. Tetapi seperti biasa, aku merasakan ngantuk yang sangat hebat. Aku tidur di samping mas Jain yang sedang menonton televisi. Hanya berada di dekat mas Jain aku menjadi tenang. Aku tidur di samping kakinya sambil memeluk kakinya.
"Tuh kan, kebiasaan..Maghrib malah tidur, cepat bangun!" mas Jain berusaha membuatku agar tidak tidur.
Akan tetapi rasa ngantuk ku mengalahkan segalanya. Aku masih sadar, tetapi mataku sangat lengket. Aku memeluk kaki mas Jain, jadi kalau sewaktu-waktu dia pergi dari sisi ku aku bisa merasakannya.
Malam pun tiba, karena tidur di waktu maghrib aku jadi tidak bisa tidur hingga puk 2 dini hari. Dan semua itu berlangsung sudah berhari-hari.
Pagi hari, aku membuatkan kopi untuk mas Jain. Seperti biasa ia duduk di dapur menungguku memasak sambil memakan pisang goreng yang ku masak.
"Dek." Mas Jain memanggilku.
"Kenapa mas?"
__ADS_1
"Em, nggak. Nggak kenapa-kenapa dek." Mas Jain ragu untuk mengatakan sesuatu padaku.
Aku menoleh padanya. "Kenapa mas?"
Ia terdiam sesaat, "kamu percaya nggak sama yang aku alami?"
Aku terkejut mendengar mas Jain berkata begitu.
"Kenapa mas, ceritain!"
"Aku akhir-akhir ini sering mimpi aneh."
Kini aku yang terdiam mendengarkan ia bicara.
"Mimpi kamu memangnya seperti apa mas?"
"Aku sering sekali mimpi di kejar-kejar orang, mau di bunuh." Ucapnya tanpa melihat kearah ku.
Aku terkejut mendengarnya, aku melihat wajah mas Jain yang ekspresinya tak seperti biasa.
"Mas, sebenarnya aku juga sering mimpi aneh akhir-akhir ini. Aku sering sekali mimpi kamu selingkuh sama perempuan lain, mimpi di kejar-kejar orang mau di bunuh, atau kamu pergi meninggalkan aku."
__ADS_1
Akhirnya aku juga mengatakan tentang mimpi ku itu kepada mas Jain. Seumur hidup kami bekum pernah mengalami hal seperti ini.
Pagi itu suasana berubah, kami merasa hidup kami sekarang sudah mulai tidak tenang. Aku merasa ada sesuatu yang salah dengan kami, dengan rumah ini. Hanya saja sesuatu itu tak dapat dijelaskan dengan nalar dan akal sehat.