Di Santet Tetangga Ku

Di Santet Tetangga Ku
Bertarung dengan Genderuwo di Rumah Kayu


__ADS_3

Hari itu sangat cerah, ada saja yang mengetuk pintu rumahku di siang bolong.


"Permisi, mbak..."


"Ya, pak ada apa?" tanyaku padanya.


"Si mbah ini kemana ya kok nggak ada orangnya?"


"Aduh, ma'af pak saya nggak tahu.. mungkin ke rumah anaknya."


"Rumah anaknya dimana ya mbak?"


"Ma'af pak, saya nggak tahu.." ucapku sambil tersenyum.


"Aduh, gimana ini ya.. anak saya lagi sakit perut, dulu si mbah pernah ngobatin dan alhamdulillah cocok, anak saya sembuh."


"Oh, gitu ya pak.. ma'af ya pak saya nggak tahu keberadaan si mbah."


"Ya sudah, terima kasih mbak."


"Sama-sama pak.."


Aku kembali masuk ke dalam rumah ku. Aku menidurkan Einy yang sudah mengantuk. Dan aku juga berusaha untuk ikut tidur di sampingnya. Sayang sekali, hanya sekejap saja aku bisa tidur.

__ADS_1


Mas Jain pulang untuk makan siang, aku menyiapkan segalanya di depannya.


"Mas, tadi si Mbah kedatangan tamu.. katanya anak perempuannya sakit, terus si Mbah dulu pernah ngobatin dan cocok, bisa sembuh. Jangan-jangan si mbah itu dukun mas??"


"Memang nya kamu baru tahu dia dukun?" mas Jain balik bertanya padaku. Aku sangat terkejut mendengarnya.


"Mas, si Mbah semalam juga marah-marah ngatain kurang ajar terus ayam kita di siram dengan sadis."


"Biarkan saja, kita lihat nanti orang kayak gitu mati nya mau jadi apa?"


"Si mbah juga sekarang buang muka sama aku mas."


"Biarkan saja dek, nggak usah kamu pikirkan."


Siang itu kami beristirahat di ruang tengah. Meskipun mataku tak bisa terlelap tapi aku selalu mencoba. Ku dengar si mbah sudah datang, sepeda motornya dapat ku dengar dengan jelas.


Si Mbah menolak dengan halus pemberian nasi kotak itu, "Ma'af ya mbak, saya nggak bisa menerima nasi kotak ini. Ini pantangan bagi saya, saya benar-benar minta ma'af. Mbak berikan saja pada tetangga yang lain yang belum kebagian." Ucap si mbah.


Aku terkejut mendengar kata pantangan yang diucapkan oleh si mbah. Aku tak menyangka ternyata dia benar-benar dukun.


Si pemilik hajatan pulang kembali membawa nasi kotaknya ke sepeda motornya.


******

__ADS_1


Malam itu, sesuatu yang sangat buruk terjadi padaku. Tak pernah sebelumnya aku mimpi yang sangat menyeramkan seperti ini.


Aku memimpikan aku dan Einy berada di rumah kayu bertingkat. Einy masuk ke dalam rumah itu, akupun mengikutinya. Tetapi di rumah itu beragam makhluk halus berkeliaran di sana, dari yang genderuwo, Kunti, poc***, Wewe dan lain sebagainya ada di sana.


Aku berusaha menarik Einy yang terus berjalan, aku tak dapat menggapainya karena Einy berjalan sangat cepat. Di sana aku di terkam oleh genderuwo yang sangat mengerikan. Ia berusaha melukai ku, aku pun juga berusaha melukainya. Aku terus melawan si genderuwo.


Penampilannya yang tak seperti manusia, persis seperti gerandong di serial 'mak lampir'. Tapi aku terfokus pada Einy, aku terus mengejarnya yang naik ke lantai atas.


Aku mengikuti Einy ke lantai atas. Tiba-tiba saja dari atas aku melihat aliran sungai di bawah. Sungai itu berarus sangat deras. Tiba-tiba Einy melompat dari ketinggian lantai 2 rumah itu ke sungai.


Aku sangat terkejut melihat Einy melompat, aku segera menyusulnya melompat ke sungai. Aku berusaha menarik kaki nya, dan aku mendapatkannya. Akan tetapi aku terbangun dari mimpiku.


Aku terus menerus beristighfar setelah bangun. Aku menatap Einy lekat, mengapa aku bisa bermimpi sangat menyeramkan begitu? aku tak habis pikir. Padahal suasana hati ku sedang biasa saja.


Biasanya aku akan bermimpi buruk apabila aku merasa tertekan, akan tetapi ini berbeda. Bahkan mimpi itu seperti meninggalkan sebuah sensasi nyata di dalam pikiranku, yang membuatku merasa ngeri.


Aku kembali tidur setelah lama beristighfar. Namun apa yang terjadi kemudian, aku mengalami mimpi yang tidak menyenangkan.


Aku bermimpi seorang laki-laki memegang parang mandau dan mengejar ku dengan cepat. Ia berusaha membunuhku. Aku sangat ketakutan dan hanya bisa melarikan diri sebisa mungkin.


Orang tersebut sangat lah agresif, biasanya mimpi adalah pikiran kita. Sedikit banyak kita bisa mengendalikan mimpi itu, karena mimpi itu tercipta dari pikiran kita sendiri.


Namun yang terjadi padaku seperti akulah yang di kendalikan. Aku tak bisa mengatur mimpi ku sendiri, tapi mimpi lah yang sudah mengatur ku.

__ADS_1


Seberapa keras aku berlari menjauh, si laki-laki tetap berusaha membunuh ku. Mimpi yang ku alami membuatku sangat frustasi.


Hingga aku bangun pagi, adrenalin ku masih terpacu. Nafas ku masih memburu, seakan semua yang ku alami benar-benar nyata.


__ADS_2