Di Santet Tetangga Ku

Di Santet Tetangga Ku
Sakit Aneh


__ADS_3

Bangun pagi, biasanya badan ku segar rasanya. Tapi hari ini..


"Mas, kaki ku sakit sekali mas." Aku merengek pada suamiku.


"Memangnya semalam kamu ngapain?" Mas Jain nampak sangat heran.


"Aku nggak ngapa-ngapain mas. Memangnya kamu lihat aku ngapain?"


"Ya aku nggak tau lah."


"Kaki aku nggak bisa ditekuk mas!" Aku hampir menangis merasakan kaki ku yang teramat sakit.


Pagi itu dengan susah payah aku memasak, mandi dan yang paling sulit bagiku adalah memakai celana setelah mandi. Karena memasang celana harus menekuk lutut ku.


"Mas... lutut ku nggak bisa di tekuk.." Aku meringis kesakitan.


"Terus mau di apakan? penyebabnya aja nggak tahu."


Mas Jain membantuku dengan memijat-mijat kaki dan lutut ku. Tapi, bukannya sembuh, malah membuat ku tak bisa berjalan total.


"Mas... bagaimana ini? aku nggak bisa jalan..." Aku meringis hampir mengeluarkan air mata menahan sakitnya.


"Ma'af dek, mas sudah nggak bisa bantu kamu lagi. Mas sudah sangat kesiangan, mas berangkat kerja dulu."


Aku tak tahan melihat kepergian mas Jain. Bagaimana aku mengurus anakku jika kaki ku saja tak berfungsi begini. Dan tibalah sa'at yang paling ku khawatirkan.


"Mamah... aku mau susu." Einy memberikanku dot basi sisa kemarin.


Aku bingung harus mengatakan apa pada Einy agar dia mengerti.


"Einy, sayang.. kamu lihat kan kaki mamah lagi sakit?" Aku mencoba berdiri mempraktikkan apa yang ku katakan padanya dengan meringis kesakitan.


"Mamah kenapa mah?"

__ADS_1


"Kaki mamah sakit, mamah nggak bisa berdiri. Kamu cuci Dodot sendiri ya?"


"Tapi mah, aku nggak bisa cuci dodot sendiri.."


"Bisa.. kan anak mamah pinter, itu pakai spon warna kuning panjang yang baru mamah beli di shopee kemarin.."


Aku berusaha mengingatkan dan membujuknya.


"Spon warna kuning panjang yang ada di tempat sendok ya mah?"


"Iya sayang, cuci sendiri ya dodot nya pakai itu. Kan, Einy bisa sambil main air. Tapi ingat, baju nya jangan sampai basah main air nya ya?"


Ku perhatikan Einy sedang mencerna apa yang ku katakan. Aku berharap semoga anakku yang masih berumur 3 tahun ini bisa mencerna apa yang aku katakan dan menuruti ku.


"Iya mah..."


Lega hati ku mendengar Einy mengucapkan itu. Dengan segera ia mengambil spon di tempat sendok dan mencuci dot nya dengan sabun cuci piring yang ada di belakang.


Untung saja toples susu tak terlalu tinggi letaknya. Einy pasti dapat menjangkaunya. Dan untung saja air galon yang ada kerannya juga tak begitu tinggi, sehingga Einy bisa menjangkaunya meskipun dengan bernjijit.


"Einy, sudah cuci dodot nya?"


"Sebentar lagi mah..."


Kudengar suara percikan air yang agak keras. Aku menunggunya dengan sabar sambil terus memantau. Dan setelah beberapa saat Wing masuk ke dalam dengan botol dot yang sudah bersih. Namun, pakaiannya basah kuyup dari atas sampai bawah.


"Sini Einy, mamah lepas dulu baju sama celana kamu, basah semua nanti masuk angin."


"Iya mah."


Setelah itu, Einy membuat susu sendiri. Dan selama 2 hari aku tak bisa berjalan sama sekali. Untuk buang kecil saja aku memerlukan bantuan mas Jain. Aku merasa sangat tersiksa sekali.


Dan suatu malam, aku mendengar keributan besar dari kontrakan sebelah. Ku dengar barang-barang di banting dengan keras. Dan suara si mbah bertengkar dengan suaminya. Mereka saling berteriak satu sama lain.

__ADS_1


Hingga keesokan pagi, kaki ku sudah mulai sembuh. Pukul 10 siang si mbah bertamu ke rumah ku. Ia datang dengan wajah sembah dan mata yang bengkak. Aku mencoba bertanya dengan perlahan apa yang sudah terjadi padanya.


Nenek cantik itu mengusap air matanya perlahan. Ia menceritakan bahwa suaminya semalam marah besar padanya. Aku tak berani menanyakan apa penyebabnya.


Ia hanya mengatakan semua itu perkara sepele. Tetapi suaminya marah besar kepadanya. Ia juga mengatakan bahwa suaminya adalah psikopat.


"Apa Mbah, psikopat?" tanya ku tak percaya dengan apa yang aku dengar.


"Iya ndok, mbah lanang (laki-laki) kamu itu seorang psikopat. Dia terlihat pendiam kalau di depan orang banyak. Tapi kalau sama istri sendiri berani main pukul dan tampar."


Aku terkejut mendengar pengakuan dari mbah, seakan aku tak percaya dengan apa yang dia katakan. Karena si mbah lanang tak pernah bersikap kasar kepada orang lain.


"Yang sabar Mbah..."


"Iya ndok, Mbah cuman capek menghadapi sikap mbah lanang mu itu." Ucapnya sambil menyeka air matanya.


Kulihat si mbah mengganti warna semir rambutnya menjadi warna ungu magenta. karena kulitnya yang putih, bagiku cocok-cocok saja.


Aku mencoba memberanikan diri bertanya tentang anak perempuan yang sering bersama Dadang anaknya.


"Anak cewek itu calon istri nya Dadang ndok, sebentar lagi mereka akan menikah." Ucap si mbah.


"Syukur Alhamdulillah mbah, kalau mas Dadang sudah menemukan jodoh nya."


"Iya ndok.." sahut nya lagi.


Agak lama kami berbincang, setelah itu ia pulang ke rumahnya. Sudah sekitar 1 Minggu aku sudah tak pernah melihat Ratih dan Dadang. Tapi, lagi-lagi aku menegaskan bahwa itu bukanlah urusan ku.


Sore itu aku merasa pusing, pusing yang aku rasakan cukup intens. Segala yang ada aku rasakan berputar di penglihatan ku.


Mas Jain sudah pulang dari pekerjaannya. Ia mengajak ku pergi ke rumah orang tua ku yang tak jauh dari sana. Rumah orang tuaku tepat di gang belakang.


Tapi, karena kepala ku sangat pusing aku menolak ajakan mas Jain. Akhirnya mas Jain pergi ke rumah orang tua ku berdua saja tanpa aku.

__ADS_1


Namun apa yang terjadi padaku tak pernah ku alami sebelumnya. Aku merasakan pusing yang hebat, akan tetapi batin ku ketakutan. Semakin lama ku rasakan, semakin takut diriku. Apa yang sebenarnya pada ku? apakah ada yang salah dengan kesehatan jasmani dn mental ku?


__ADS_2