Di Santet Tetangga Ku

Di Santet Tetangga Ku
Perempuan Penunggu Kamar


__ADS_3

Hari jum'at adalah libur mas Jain, jadi kami bertiga kembali membersihkan kebun dan menanam bibit pohon pisang dan mangga di lokasi tanah milik kami.


Seperti biasa, jarak yang cukup jauh dan sekalian main tempat mertuaku membuat kami pulang agak larut malam.


Seperti biasa mas Jain memeriksa ayam-ayamnya yang belum masuk kandang. Akan tetapi, lagi-lagi mas Jain menemukan kaki ayam nya yang sudah patah lagi. mas Jain sangat marah dibuatnya. Ia yakin perbuatan ini adalah perbuatan si mbah.


"Tega sekali mereka melakukan ini! mereka sepertinya bukan orang waras!" Ucap mas Jain dengan kesal, nada suara nya bergetar karena menahan emosinya.


"Sabar mas... aku kan sudah bilang, jaring ayam nya di tambahin. Atau kita bikin dari kayu-kayu panjang yang sudah nggak terpakai di proyek kan bisa mas?"


"Biarin aja! kalau mereka mau protes sini ngomong sama aku langsung. Kita memelihara ayam lebih dulu sebelum kedatangan mereka ke sini!"


Aku terdiam mendengar ucapan mas Jain yang kekeh dengan pendiriannya. Aku sudah tak dapat berkata apa-apa lagi. Kami tidur malam itu dengan perasaan yang tidak mengenakkan.


Dan keesokan hari aku bangun pagi, tiba-tiba kakiku tak bisa berjalan lagi.


"Mas... kaki ku kenapa ini nggak bisa berjalan lagi??"


Mas Jain yang melihat ku kesulitan untuk bangkit segera bangun dari tidurnya.


"Memang nya semalam kami ngapain sih?" tanya mas Jain heran.


"Memangnya kamu lihat aku ngapain mas?? aku nggak ngapa-ngapain kan semalam?"


Tiba-tiba kepalaku sangat berat dan pusing. Segala yang ada di rumah ini aku rasa sedang berputar-putar. Aku tak sanggup berdiri, aku meminta mas Jain untuk memasak pagi itu dan menyiapkan susu untuk Einy.


Aku tak dapat bangun berdiri, tapi untuk memeriksakan diri aku tak memiliki uang. Aku juga tak pernah mengadu kepada orang tuaku meskipun kami tinggal sangat berdekatan.

__ADS_1


Setelah bercerai, ayahku menikah dengan seorang janda. Setelah mereka menikah, kehidupan kami berubah drastis. Aku dan saudaraku sudah tak dapat mengenali ayahku. Ayah ku lebih memilih membela istrinya.


Demi kebaikan bersama, aku tak pernah mempermasalahkan semua itu, jadi seperti ada jarak diantara aku dan ayahku. Begitupun dengan saudara-saudaraku.


Aku tak berniat mengeluhkan sakit ku pada orang tua ku. Selama aku bersama mas Jain, aku merasa baik-baik saja. Karena dia suami yang mau membantu pekerjaan istrinya di rumah.


Karena mas Jain sudah memasak, aku tak perlu mengkhawatirkan mereka akan kelaparan. Biarlah rumah berantakan asalkan mas Jain dan Einy tetap bisa makan.


Sekitar 3 hari aku tak mampu berdiri, kepala ku yang terus berputar juga tak ada habisnya. Aku terlihat sehat, tapi sebenarnya sangat sakit. Tak ada gambaran yang bisa menjelaskan kondisi saat itu.


Dan satu persatu keanehan selalu muncul pada diriku. Entah apakah hanya diriku saja yang mengalami. Setiap menjelang magrib, aku mulai ketakutan berlebihan tetapi mataku sangat mengantuk. Jadi setiap hari aku tidur di waktu magrib. Aku tak pernah bisa menahan kantuk ku tersebut.


Dan yang membuat aku jengkel adalah, setiap kali aku bangun mas Jain dan Eing selalu saja pergi meninggalkan aku sendirian. Jadi begitu aku bangun tidur, aku seperti orang gila yang kesetanan mencari Einy dan mas Jain. Aku menemukan mereka di rumah mbak Surti.


"Mas, bisa nggak kamu nggak meninggalkan aku kalau aku di rumah sendirian?!"


Plak! aku memukul bahu mas Jain, mataku berkaca-kaca.


"Aku ketakutan mas!!"


Mas Jain terheran melihat sikap ku seperti itu. Sampai-sampai suami mbak Surti menjadi tidak enak melihat sikap ku.


Setelah cukup lama main di rumah mbak Surti, kami berpamitan. Entah kenapa aku sangat ketakutan untuk kembali ke rumah itu. Rasanya seperti rumah itu berpenghuni dan di jaga sehingga aku tak boleh masuk ke sana.


Itu semua hanya perasanku saja, tapi perasaan itu sangat nyata hingga tal dapat ku ungkapkan dengan kata-kata.


"Mas, akhir-akhir ini aku merasa aneh. Aku selalu sakit nggak jelas seperti ini, setiap hari."

__ADS_1


Mas Jain terdiam sambil merokok, ia memperhatikan aku yang sedang bicara. Tapi dia tak menjawab sepatah katapun.


"Dan lebih parahnya lagi, setiap mulai menjelang maghrib aku sangat ketakutan. Ketakutan ku buat mu mungkin tak beralasan. Tapi ini nyata mas, aku ketakutan!"


Aku tak dapat menahan perasaan ku lagi, akhirnya aku mengeluarkan semua isi hati ku yang sebenarnya sejak kemarin ingin ku katakan pada mas Jain.


"Makanya, kamu kalau maghrib jangan tidur. Kamu tiap hari tiap maghrib malah ngorok!"


"Di situ anehnya mas, aku selalu merasa ngantuk berat."


"Ya di lawan lah ngantuk nya, cari kegiatan apa kek."


Benar juga apa yang mas Jain katakan, mungkin aku bisa mencobanya besok.


"Dan satu lagi mas... kamu percaya atau nggak sama aku terserah. Ini cuma perasaan aku, tapi.. perasaan ini sangat nyata mas."


"Apa?"


Aku mengatakannya sambil berbisik. "Di pintu kamar sebelah, aku merasa kayak ada perempuan yang terus berdiri di sana. Terserah kamu mau percaya sama aku atau nggak."


"Makanya dek, rajin-rajin sholat."


Benar apa yang dikatakan mas Jain, aku jarang sekali mengerjakan sholat. Mungkin besok aku akan mempraktikkan nya.


"Mas, yang paling penting kalau besok-besok aku ketiduran lagi di waktu maghrib, kamu jangan tinggalin aku sendirian di sini. Aku sangat ketakutan mas!"


Mas Jain membuang puntung rokok nya yang sudah habis dia isap. Aku berharap dengan mengungkapkan perasaan ku, rasa takut ku bisa berkurang walau sedikit. Terkadang aku berpikir apakah aku terkena gangguan jiwa?

__ADS_1


__ADS_2