
Aku memasak pagi ini, di kulkas masih banyak sayuran. Aku ingin sekali makan oseng kangkung pedas dengan ikan asin. Selain enak, memasaknya juga cukup cepat dan praktis.
Biarkan 'dia' yang selalu menatap ku setiap saat itu. Aku selalu mencoba mengabaikannya. Lagi pula, aku tak dapat melihatnya. Anggap saja aku mulai gila, mungkin sebentar lagi aku akan berobat.
Tepat setelah aku memasak dan membuatkan mas Jain kopi, kepala ku kembali berputar hebat. Ya Allah... aku hanya bisa pasrah.
Mas Jain bangun dan mencuci wajahnya, setelah itu ia minum kopinya.
"Dek.. selesai masak kok tidur lagi?" tanyanya padaku.
"Aku sakit kepala lagi mas... mas aku minta tolong cuci kan dot Einy. Aku nggak sempat mencucinya, dan tolong isi susu seperti kemarin." Ucapku sambil memejamkan mataku.
"Ya," sahut mas Jain dan pergi meninggalkan ku.
Aku kembali sakit seperti kemarin. Aku tak dapat memahami sebenarnya apa yang sudah terjadi padaku.
Seharian seperti biasa aku hanya bisa memantau Einy melalui suaranya. Aku mengambil ponsel ku, sudah jarang sekali aku memainkannya.
Aku membuka google tentang sakit kepala. Di sana tertulis sakit kepala ada beberapa macam, ada pusing biasa, sakit kepala migrain dan vertigo.
Aku berusaha menatap layar ponsel gak lama agar bisa membaca informasi yang aku butuhkan. Di sana tertulis vertigo akan sembuh sendiri dalam waktu beberapa jam, hari, bahkan minggu.
Minggu?? lama sekali? apakah aku harus menunggu selama itu untuk sembuh? aku terus menerus mencari tahu tentang penyakitmu melalui diagnosis ku sendiri.
__ADS_1
Akan tetapi jawaban yang ku dapatkan sama sekali tidak memuaskan. Dia sana tertulis meminum obat pereda nyeri dapat menyembuhkan sementara. Akan tetapi itu sama sekali tak berlaku untuk ku. Aku menyimpan kembali ponsel ku.
Sudah berhari-hari cabai di depan rumah ku tidak aku siram, mungkin sekarang sudah mati. Aku mencoba bangkit dan berpegangan pada jendela kamarku. Ku tengok tanaman cabai ku baik-baik saja. Aku juga merasa heran, seharusnya cabai itu sudah layu sekarang. Karena kepala ku masih sangat pusing dan berputar aku kembali berbaring.
Menjelang malam, ketakutan ku semakin menjadi. Aku takut dengan sosok perempuan penunggu kamar, ketika aku pergi ke toilet, aku juga takut mengingat mimpiku tadi malam. Dan yang paling aku takutkan adalah, aku takut tidur. Aku takut tidur dan bermimpi yang menakutkan lagi.
Akhirnya aku terjaga, jika kemarin aku memang susah tidur hingga larut malam. Malam ini aku tak ingin tidur.
Aku tak ingin tidur, memaksakan mata, hati dan pikiran ku. Aku hanya akan tidur apabila mataku yang memintanya.
Pukul 02.00, mataku mulai mengantuk. Dan aku menahannya agar tidak terlelap. Aku menahan kantukku sekuat tenaga. Aku takut jika aku tertidur akan bermimpi lagi.
Akhirnya tanpa sadar aku tertidur. Malam ini aku memimpikan sesuatu yang tidak menyeramkan. Akan tetapi mimpi malam ini menguras perasaanku.
Aku terus mencarinya dan berusaha menelponnya menggunakan ponselku. Tetapi aku tak dapat menelponnya, aku sangat hafal sekali nomor ponsel mas Jain. Tetapi ketika aku mengetikkan angkanya, angkanya malah berubah dengan sendirinya.
Aku menjadi frustasi, aku terus berjalan tanpa arah untuk mencarinya. Hingga aku berada di tempat yang aku kenal. Akan tetapi aku menemukan mas Jain sedang bermesraan dengan perempuan lain.
Aku tak memanggilnya apalagi memarahinya. Aku pergi dari sana dengan hati yang sangat sakit. Tetapi mas Jain menyusulku.
"Tunggu dek!" dia memanggilku lembut.
Aku menghentikan langkah ku. "Ada apa mas?"
__ADS_1
"Ma'af kan aku dek..." Ucapnya padaku.
"Apa kamu mencintainya mas?"
"Ya dek, aku sangat mencintainya." sahut mas Jain.
Dan jawaban mas Jain semakin membuatku hancur. Aku menangis tersedu-sedu hingga aku terbangun dari tidur ku.
Mimpi ini sangat menguras emosiku. Aku menjadi semakin tertekan. Aku tak ingin menceritakan mimpi ku itu kepada mas Jain karena bukan hal yang penting dan buang-buang waktu saja. Apalagi untuk memikirkannya.
Pikiranku sebenarnya waras, akan tetapi ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang di luar nalar dan akal sehat. Lagi pula aku masih tak malu berdiri, jadi mas Jain selalu memasak setiap pagi.
Pagi itu sangat mendung sampai siang hari. Aku bersyukur jadi mas Jain tidak terlalu kecapean hari ini. Tapi tiba-tiba hujan turun disertai petir.
Aku yang sedari tadi memang berada di kamar memanggil Einy. Aku berusaha berdiri mematikan televisi dan mencabut antenanya. Aku juga mematikan ponselku.
"Einy... sini masuk ke dalam kamar, ada petir!" ucap ku memerintahkan Einy dengan cepat masuk ke dalam kamar. Kami berdua bersembunyi di kamar dan berselimut. Aku juga menyuruh Einy untuk menutup telinga nya dengan bantal.
Jeddddeeeerrrr !!!!!!
Suara petir menyambar, aku rasa petir itu menyambar tepat di halaman rumahku. Suaranya begitu nyaring dan menyebabkan kilatan berwarna merah.
Petir itu menyambar sebanyak 2 kali di dekat rumah ku. Dan sekali menyambar di tempat lain berhasil membuat listrik padam.
__ADS_1