
Keesokan pagi, Mas Jain suami ku memberi makan ayam ternak kami. Kami memelihara belasan ekor ayam di pekarangan rumah. Sedangkan aku pergi menyirami tanaman cabai yang ku tanam dengan polibag di depan rumah.
Pohon-pohon cabai sudah berbuah dan matang, jadi kami jarang sekali membeli cabai di warung. Walaupun harga cabai meroket, aku tak pernah bingung karena aku juga menanam nya. Selesai menyirami tanaman ku, aku memetik cabai yang sudah matang.
Kulihat si mbah juga sedang menyirami tanaman-tanaman bunga miliknya yang ia bawa dari kontrakan sebelumnya.
"Siram terus ndok.. sampai banjiirr." Canda nya padaku.
Aku membalasnya dengan senyuman. "Banyak sekali bunga nya mbah, itu buat dijual??"
"Iya ndok, biasa kalau ada nawar Mbah jual aja. Lumayan lah buat nambah-nambah, di belakang juga ada bibit nya lagi."
"Ya, syukur Alhamdulillah Mbah, bisa buat pemasukan."
Ia membalas perkataan ku dengan senyuman. Aku kemudian masuk ke dalam rumah dan beraktivitas seperti biasanya, mencuci dengan mesin sambil kutinggal memasak.
Sedangkan Mas Jain sudah berangkat kerja, dan putri ku Einy ia selalu bangun kesiangan. Ia selalu bangun pukul 08.00 pagi karena kebiasaannya begadang setiap malam. Sangat susah sekali menghilangkan kebiasaan begadangnya, karena sejak bayi memang seperti itu.
Setiap hari ketika Einy bangun, pekerjaan ku sudah selesai dengan sempurna. Jadi, aku punya waktu yang sangat banyak untuk mengurusnya sepanjang siang. Tak butuh tenaga dan otot yang ekstra untuk mengurusnya karena ia anak yang mandiri.
Siang itu aku dan Einy hanya menghabiskan waktu menonton televisi, siaran kesukaannya. Hingga satu mobil datang ke kontrakan sebelah. Kulihat anak si Mbah dan seorang perempuan. Ku pikir, mungkin itu calon menantu nya.
Aku hanya melihatnya dari jendela saja, tak ada keinginan untuk bercengkrama dengan mereka. Sejak dari dulu, aku orang yang tertutup pada orang lain. Namun pintu rumah ku selalu terbuka lebar pada siapa saja tamu yang datang.
Sore itu, kulihat anaknya dan kekasihnya sedang duduk santai di depan rumah. Si perempuan nampak sopan dan sangat pendiam, bicaranya pun pelan dengan nada lembut.
Aku berpikir mungkin sebentar lagi mereka akan menikah, si mbah sebentar lagi akan benar-benar jadi 'mbah'. Dari jendela kamar ku, kulihat si perempuan tersenyum padaku dengan lembut. Aku pun membalas senyumnya.
__ADS_1
Hingga ada 2 motor yang datang mendekat, salah satu perempuan yang turun dari sepeda motor kelihatan sedang kesakitan. Mereka membantu nya masuk ke dalam rumah si mbah.
"Mamah, bikinin aku susu dong." Einy menyodorkan dodot nya padaku.
Aku berpaling mendengar Einy minta susu.
"Iya, sebentar mamah bikinin dulu."
Aku pergi ke dapur dan membuatkannya susu. Kudengar dari dapur ku suara Mbah yang tertawa, mereka yang sedang mengobrol hangat. Sepertinya mereka teman dekat, pikir ku.
Ayam-ayam ternak ku sangat ribut sore ini, ada ayam betina yang akan bertelur. Ia terbang kesana dan kemari. Meskipun sudah di tanamkan jaring di sekeliling rumah, ayam betina itu tetap saja bisa keluar bebas.
Ayam betina itu berulang kali masuk ke dapur ku melalui jendela. Aku menangkapnya dan memasukkan ke kandang, di sana ada kotak tempat ia bertelur. Namun si ayam nakal tetap saja terbang kesana kemari membuatku frustasi.
Hingga ia terbang ke luar rumah dan membuat pot-pot bunga si mbah tumpah. Aku keluar dan mengejar si ayam. Sore itu aku sangat frustasi dengan ayam betina milikku itu. Ingin rasanya aku potong saja dan ku masak rica-rica.
kok kok kok kok kok kok petok!
Bukan hanya 1 ayam berbunyi, tapi semua ayam di kandang berbunyi seperti itu.
Kok kok kok kok kok petok! kok kok kok kok kok kok kok kok petok! kok kok kok kok petok!
"Mamah, ayam berisik!" Teriak Einy.
"Iya, ini juga mamah mau tangkap."
Hingga menjelang senja, aku tak dapat menangkapnya. Suami ku sudah pulang, ia yang melihat ku sibuk mengejar ayam juga ikut membantu ku. Dengan susah payah kami berhasil mengurung nya di kandang. Aku menghela nafas lega.
__ADS_1
"Mas, ayam nya tadi ngobrak-abrik pot bunga nya mbah." Ucapku dengan nada kesal.
"Mau gimana lagi, namanya juga ayam. Apalagi mau bertelur ya heboh." Jawab suami ku dengan nada santai.
"Mas, besok kalau kamu libur kerja jaringnya di tambahin lagi ke atas."
"Ngapain di tambahin, biarin aja kayagitu kenapa sih?"
"Aku malu lah mas sama Mbah.. nannti kalau dia marah gimana?"
"Marah kok sama ayam?!"
Dan jawaban terakhir suami ku sukses membuat ku semakin kesal. Ku tinggalkan dia yang masih memasukkan ayam nya ke dalam kandang.
Hingga malam tiba, suasana menjadi tenang dan nyaman. Aku, suami dan anak ku memutus kan untuk berjalan keliling komplek untuk sekedar mencari penjual pentol bakso.
Kami berkeliling komplek hingga puas.
"Mas, itu si anak perempuan yang ada di rumah Mbah siapanya sih mas?"
"Itu kan calon istrinya si Dadang?"
"Oh, gitu. Kelihatannya masih muda banget mas, nggak sesuai lah sama Dadang. Itu anak perempuan kayak masih anak sekolahan. Sedangkan si Dadang umurnya udah 30 an lebih. Sama kamu aja beda jauh mas..." Ucapku berusaha mengungkap kan pertanyaan yang bersemayam di hati ku.
"Iya, itu perempuan masih muda banget, kok mau ya sama si Dadang?"
"Hus! nggak boleh gitu mas.. kualat nanti kamu!"
__ADS_1
Kami berdua tertawa diatas sepeda motor kami. Sampai kami menemukan penjual bakso, akhirnya kami berhenti dan bersantai di sana.