Di Santet Tetangga Ku

Di Santet Tetangga Ku
Akhir Dari Segalanya


__ADS_3

Hari ini adalah hari penting untuk kami, hari dimana kami resmi pindah rumah. Satu persatu barang telah diangkut ke dalam mobil muatan. Barang-barang kami tak ada yang begitu berarti. Hanya mesin cuci, televisi, kulkas dan sebuah lemari kayu yang dibikin sendiri oleh mas Jain.


Bahkan meja dan kursi kami tinggalkan di kontrakan, dan juga sebuah horden berwarna biru. Anggap saja itu adalah kenangan, dan sebuah poster surah Yasin di dekat pintu kamar.


Ada pemandangan yang menarik perhatianku di sana. Si Mbah berbicara dengan mas Jain, dia bilang dia senang kami sudah memiliki rumah sendiri. Mas Jain terlihat mengobrol santai dengan si Mbah dan suaminya.


Aku yang ikut mengangkut barang ke dalam mobil pick up melewati si mbah, aku tak berniat menyapanya, malah dia sendiri yang menyapa ku.


"Alhamdulillah ndok, kalau kalian sudah punya rumah sendiri. Mbah ikut senang, semoga Mbah juga cepat bisa bikin rumah di sana." Ucapnya tersenyum lebar.


Dan ya, dia juga menyicil tanah beberapa kavling di dekat lokasi kami. Apakah dia akan menjadi tetangga ku seumur hidup? suatu saat dia pasti akan membangun rumah juga di sana. Oh, tidak!


Aku berusaha tersenyum dan membalas perkataannya dengan santai. Anak dan menantunya juga nampak ramah sekali pada kami. Aku merasa kasihan pada Ratih, sayang sekali gadis polos ini terjebak di ini bersama mertuanya. Kudengar, dia sudah pindah dan sekarang sudah tinggal serumah dengan si mbah.


Akan tetapi rasa simpati ku cukup sampai di sini, karena mobil muatan siap berangkat. Kami pergi setelah berpamitan.


********


Aku memberesi barang-barang bersama mas Jain, sedangkan Einy tinggal bersama mertuaku di rumahnya. Sementara aku dan mas Jain memberesi rumah.


Satu persatu barang sudah berada di tempatnya, hanya kulkas yang kutinggalkan di rumah mertua ku karena di tempatku hanya menggunakan panel surya. Sementara televisi dan mesin cuci rencananya akan ku jual saja.


Masih ada banyak barang yang harus kami kemasi, akan tetapi hari sudah larut malam. Jadi kami memutuskan untuk melanjutkan besok.


Di rumah baru, untuk pertama kali kami tidur di rumah kami sendiri. Malam ini mimpi ku masih sama, aku berada di dua dunia yang terhubung melalui pintu. Aku kembali mengejar Einy dan bocah laki-laki kecil yang bersamanya. Aku menggendong mereka berdua dan berlari keluar melalui pintu. Untuk pertama kalinya, aku berhasil melewati pintu tersebut.


Akan tetapi, Einy dan bocah tersebut sudah hilang tak diceritakan dalam mimpi ku lagi. Mimpi beralih latar belakang dan membuatku terjaga.


Ternyata hari sudah pagi. Aku bersiap memasak dengan menu seadanya, telur dadar dan sayur pakis yang banyak bisa kutemukan di samping rumah. Bagi sebagian orang mungkin tidak ingin memakannya. Akan tetapi aku dan mas Jain sangat menyukai pakis, apalagi yang masih muda sekali.


Sambil memasak aku terus mengingat lagi mimpiku tadi malam. Mimpi itu seakan seperti nyata bagiku. Einy dan bocah laki-laki kecil yang selalu hadir di setiap mimpiku. Apakah mimpi itu sebuah pertanda?


Yang paling aku takutkan hanyalah jika anak kecil di dalam mimpi itu adalah makhluk halus yang mengikuti Einy. Apakah Einy di ikuti makhluk halus? tetapi dalam mimpiku, anak kecil itu adalah manusia. Dia juga tersesat di alam gaib seperti ku dan Einy. Tetapi siapa anak ini?


Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di benakku. Tetapi yang membuatku paling bersyukur adalah aku sudah tak pernah lagi mimpi Labirin, atau rumah kayu dan juga rumah gedong. Bagiku mimpiku tadi malam jauh lebih baik.

__ADS_1


"Dek, uangnya masih nggak?" tanya mas Jain padaku sambil membongkar tas ku.


"Kamu lihat aja sendiri mas, kalau nggak salah cuma tersisa 500 ribu. Kami mau beli apa mas??"


Mas Jain mendapatkan dompetku dan menghitung isinya.


"Cuma ada 450 dek..." Mas Jain menghela nafas panjang. "Aku pikir uang nya masih cukup buat manggil pak ustad ke sini besok malam." Ucap mas Jain lesu.


"Nggak bakal cukup mas uangnya, beras, minyak dan lain-lain sudah habis. Sementara kerjaan kamu juga selesai kan mas? kita bacakan sendiri saja rumahnya, baca Yasin dan do'a selamat saja."


"Ya dek, terserah kamu saja... itu juga baik."


Karena uang yang memang sudah tak cukup untuk memanggil pak ustad, kami memutuskan membacakan sendiri saja Yasin dan do'a selamat biasa, juga tidak memanggil orang tua kami untuk hadir.


Di rumah kami nampak damai, beberapa kerabat terus berdatangan untuk menjenguk kami siang itu, di sini meskipun terbilang hutan malah terasa lebih nyaman dan tenang dibandingkan kontrakan kami sebelumnya.


Suasana malam yang gelap gulita, hanya ada suara jangkrik pun tak membuat kami takut. Semakin malam malah semakin tentram rasanya.


*******


Keesokan pagi tubuhku juga demam tinggi. Aku tak dapat bangkit, hanya berbaring. Sesekali aku pergi ke toilet karena diare yang cukup parah. Aku mengalami dehidrasi yang parah, membuatku harus minum air 2-3 liter perhari.


Aku mengalami sakit yang cukup parah dalam 10 hari. Aku di kunjungi oleh kerabatku hari itu.


"Jangan-jangan kamu hamil??" tanya mbak Qila padaku.


"Hamil?? mana mungkin mbak, aku kan demam dan diare... mana mungkin sakit begitu kok hamil??"


"Yah, namanya juga siapa tahu. Kamu nggak KB kan?"


"Udah lepas KB 6 bulan sih mbak..."


"Nah, coba deh kamu beli tes pack siapa tahu kamu beneran hamil."


Aku berpikir sejenak, "ada bener juga kamu mbak...yasudah, nanti malam aku coba ke apotek beli tes pack. Lagian si Einy sudah besar, aku dan mas Jain juga berharap punya momongan lagi."

__ADS_1


Kunjungan mbak Qila hari itu membuatku terinsipirasi dan menggugah ku untuk pergi ke apotek. Aku mengajak mas Jain keluar malam itu. Sementara Einy tinggal bersama dengan mertuaku.


Setelah mendapatkan tes pack kami pulang ke rumah. Rasanya aku tak sabar menunggu hasilnya. Setelah sakit cukup parah yang ku derita, aku kehilangan berat badan sehingga nampak sangat kurus. Namun aku bersyukur masih diberikan kesembuhan.


Malam hari, aku kembali memimpikan Einy dan anak laki-laki kecil itu. Malam itu aku memimpikan kami bertiga berhasil melewati pintu, dan setelah berhasil melewatinya Einy dan anak kecil itu hilang tak diceritakan dalam mimpi lagi, dan latar mimpi juga berubah.


Aku kembali memimpikan labirin, labirin yang gelap gulita. Aku bisa merasakan aura si kuntilanak, aura itu sangat kuat sehingga membuatku lari pontang panting ketakutan. Akan tetapi aku tak melihat kemunculan si Kunti. Dan aku berhasil keluar dari labirin.


Pada malam-malam sebelumnya aku juga bermimpi di rumah gedong dan rumah kayu. Di sana hanya ada beberapa makhluk halus yang berjalan tanpa arah, akan tetapi mereka tak melihatku dan terus berjalan tanpa menggangguku.


Keesokan pagi, aku bangun dari tidur ku. Dengan cepat aku pergi ke kamar mandi menggunakan tes pack ku. Sayang, urin ku masih sangat sedikit. Padahal ini urin ku dalam satu malam. Karena air urin yang sangat sedikit jauh di bawah garis, aku terpaksa memiringkan wadahnya agar sampai di batas garis. Akan tetapi urin belum juga sampai di batas garis.


Urin naik sangat lambat, tak seperti waktu aku hamil Einy. Urin begitu cepat naik dan langsung menunjukkan 2 strip garis. Saking lambatnya air itu menyerap sampai aku mengumpat di dalam hati. Apakah ini pengaruh diare yang aku alami?


Aku menunggu air itu benar-benar naik hingga 1 menit lamanya. Dan garis pertama muncul perlahan di menit berikutnya.


Aku masih menunggu di menit ketiga, tak ada garis lagi yang muncul. Aku membuang sisa urin nya, dan masih menunggu. Di menit kelima masih tak ada garis yang muncul, jadi aku mengambil dan hendak membuangnya. Saat itulah garis kedua muncul perlahan.


Apa ini garis? bukan, ini hanya bayangan.


Tapi, ini seperti garis merah?


Aku membolak balik tes pack nya, mungkin tes pack ini rusak. Jadi aku menyimpannya saja, mungkin satu jam kemudian garisnya bisa berubah tajam.


Aku ingin menggunakan tes pack satunya lagi akan tetapi aku harus menunggu lagi hingga aku kembali kebelet. Akan tetapi meskipun aku menggunakan tes pack lainnya hasilnya tetap saja garis 1, dan satunya lagi hanya seperti bayangan.


Aku mencoba menanyakan pada teman dan kerabatku, mereka mengatakan kalau aku positif hamil. Untuk memastikan sebaiknya aku melakukan USG.


Dan benar saja, setelah aku melakukan USG ternyata aku benar-benar hamil. Betapa bahagia kami mendapat kabar itu.


Dan seiring kehamilanku, aku sudah tidak pernah lagi bermimpi buruk seperti sebelumnya. Baik itu memimpikan berada di dunia sebelah, atau aku menyelamatkan Einy dan anak laki-laki.


Hidup kami saat ini benar-benar berada di puncak terindah, setelah sekian lama. Cicilan kami juga sudah lunas, benar-benar hidup yang damai.


Hanya sesekali, apabila kurasakan hati mulai gelisah aku kembali memutar aplikasi surah-surah Al-Qur'an. Aku memutarnya untuk menenangkan hatiku. Dan hingga saat ini aku masih menyimpan aplikasi tersebut dan tak pernah berniat menghapusnya.

__ADS_1


__ADS_2