
Malam ini, aku bermimpi aneh lagi. Akan tetapi aku mimpi yang tak biasanya aku mimpikan.
Aku melihat ayah ku jatuh sakit dan tiba-tiba saja meninggal tepat di depanku. Aku tak dapat menahan kesedihanku hingga aku menangis dan terbangun.
Semua mimpi-mimpi yang aku alami tak ada sedikitpun yang mengenakkan. Aku seperti mengalami trauma setiap bangun pagi.
Semakin kurasakan dan kupikirkan, aku semakin menyadari bahwa aku sedang mengalami gangguan jin, apakah ini sihir? tapi siapa pelakunya?
Yang kuinginkan sekarang hanyalah kesembuhan. Aku berharap kaki ku yang seringkali sakit dan kepalaku yang berputar-putar segera Allah berikan kesembuhan.
Terlebih lagi dengan semua mimpi yang aku alami, aku hanya ingin sembuh seperti sedia kala. Dan keadaan ini sudah berjalan selama 1,5 bulan.
Pagi ini aku merasa agak sehat, meskipun mimpi tadi malam masih menghantuiku aku tetap berusaha berpikir positif dan selalu optimis, itu adalah pribadi asliku.
Aku membuat pisang goreng untuk sarapan mas Jain dan Einy. Aku juga membuat segelas kopi untuknya. Tak berapa lama mas Jain bangun dan mencuci wajahnya, setelah itu menyusul ku ke dapur untuk minum kopi.
"Masak apa kamu dek?"
"Nih." Aku menyodorkan sepiring pisang goreng padanya.
Mas Jain duduk di lantai menikmati sarapannya yang sederhana. Sudah 2 minggu mas Jain memasak hampir setiap hari.
__ADS_1
"Dek..."
"Apa mas?"
Mas Jain nampak lesu. "Tadi malam aku mimpi aneh." Ekspresi mas Jain saat itu tak seperti biasanya.
"Mimpi apa mas?"
Sejenak ia terdiam menarik nafas, "aku mimpi mamah ku diambil dek."
"Diambil??"
Seketika aku teringat mimpi ku tadi malam, aku juga bermimpi ayahku diambil. Dan mimpi itu seakan seperti nyata hingga membuatku menangis hingga aku terbangun.
Mas Jain hanya terdiam.
"Mas... apa mungkin kita terkena guna-guna atau santet mas?" tanyaku padanya. "Kamu sadar nggak mas, setiap kali kaki ayam kita patah, kaki aku juga ikutan nggak bisa jalan? apa mungkin si Mbah sudah mengirim sesuatu pada kita mas?? siapa lagi kalau bukan dia? kita nggak pernah punya musuh. Mas, sejak si mbah buang muka dan nggak menegur kita lagi sejak itu aku juga sakit-sakitan dan bermimpi buruk setiap malam."
"Aku juga merasa dek, sebelum mereka pindah di sini semua baik-baik saja dan nyaman. Tapi sejak kedatangan mereka, di sini terasa berbeda."
Aku terkejut mendengar mas Jain mengatakan itu. Berarti bukan hanya aku yang merasakan seperti orang gila setiap hari. Mas Jain juga menyadari ada sesuatu yang berbeda. Aku tak menyangka mas Jain yang selama ini hanya diam ternyata juga mengalaminya.
__ADS_1
"Mas, kamu juga tiap hari mimpi buruk katak aku?"
"Nggak juga sih dek."
"Nggak juga berarti sering mas?" tanya ku penasaran.
"Kadang-kadang sih." Sahutnya.
Aku tertegun mendengar pengakuannya.
"Mas kamu tahu nggak, aku belum sempat cerita sama kamu. Setiap kali aku berdiri untuk sholat dada ku berdebar kencang dan terasa sangat panas. Tapi kalau sholatnya selesai dadaku juga sudah nggak berdebar lagi. Aku mulai menyadari mas, ada sesuatu yang salah sama aku."
"Yasudah, kamu rajin-rajin sholat ya dek..."
"Iya mas..."
Setelah berbicara singkat dengan mas Jain aku merasa agak baikan, perasaanku sedikit tenang. Tinggal aku memikirkan bagaimana cara mengusir sihir-sihir itu pergi dari tubuhku dan rumah ini.
Mas Jain sudah pergi bekerja. Aku masih memasak di dapur. Sambil memasak aku memikirkan ide tentang cara mengusir sihir itu.
Aku pernah menceritakan tentang ini kepada mbaj Surti, dia bilang itu sangat mudah. Tinggal aku siram saja sekililing rumah ku dengan air kencing ku. Tetapi aku memiliki pendirian yang kuat tentang hal-hal mistis seperti itu, apalagi tentang dukun, aku sangat membeci perbuatan-perbuatan musryik begitu.
__ADS_1
Kalau aku menyiram air kencing ke sekeliling rumah, bukan itu akan menyebabkan bau tak sedap? dan bukankah jin dan setan sangat menyukai tempat-tempat yang berbau? seperti bau busuk, bau darah, bau amis termasuk bau pesing? Jadi aku tak menggunakan cara yang pernah dikatakan mbak Surti padaku.
Sementara kalau aku hanya mengandalkan ayat-ayat ruqyah sepertinya kurang efektif. Yang sembuh hanya kaki ku saja, aku mulai berpikir keras.