
Malam ini aku kembali ke dunia labirin. Aku benar-benar membenci tempat ini. Dimana pun aku berlari hanya ada lorong panjang bercabang dan gelap.
Aku membuka pintu toilet dan seorang kunti sudah menerkam ku. Kami saling beradu pukulan dan cakaran, ia sangat agresif sekali membuatku terpukul mundur. Aku sangat membencinya, jadi aku terus melawannya meskipun aku sangat takut dan merinding.
Aku menjambak kepalanya dan memukul wajahnya sambil membacakan ayat kursi. Ia juga berusaha mencabik-cabikku. Pakaian nya yang putih dan panjang terkibar-kibar akibat pertempuran kami.
Aku kalah, bahkan seorang Kunti muncul lagi di hadapanku dan terus bermunculan. Aku menutup pintu toilet dan berlari menjauh. Namun semua yang aku lakukan adalah percuma. Seberapa keras aku mencoba untuk lari dan terbangun semua tetap tidak ada perubahan. Aku benar-benar membenci tempat ini.
Hingga Einy membangunkan ku untuk pergi ke kamar mandi.
"Mamah.... aku mau pipis." Einy membangunkan ku.
Alhamdulillah....!
Aku lega Einy membangunkan ku, setidaknya aku bisa tersadar sekarang.
"Ayo Einy, berdiri..."
__ADS_1
Aku membantunya bangkit, seketika kantuk ku telah hilang. Aku dan Einy pergi ke kamar mandi. Kami melewati kamar sebelah yang lampunya selalu menyala, tapi kali ini lampu itu mati, sialan!
Aku mengetek saklar nya menghidupkan lampu, dan aku merinding. Bukan hanya bulu kuduk ku, tetapi seluruh tubuh ku merinding!
Sialan! Aku akan mencari cara untuk mengusir kalian semua, di sini tak ada tempat untuk kalian! Bisik ku dalam hati.
Aku terus berjalan mengikuti Einy, setelah itu kami kembali ke kamar.
Tapi aku tak dapat tidur, kulihat jam menunjukkan pukul 02.40. Aku baru saja tertidur 2,5 jam yang lalu. Sebentar lagi waktu sholat subuh tiba, aku tak berniat melanjutkan tidurku daripada nanti aku bermimpi buruk lagi.
Hingga pukul 6 pagi aku tak beranjak dari tempat tidur ku, hanya ponsel yang menemaniku sejak subuh. Setelah itu barulah aku beraktivitas seperti biasa.
Hari ini hari libur mas Jain, kami memutuskan untuk pergi ke rumah orang tua mas Jain. Pukul 9 pagi kami berangkat dari rumah. Hari itu badanku terasa sangat fit.
Mas Jain pergi memancing di dekat rumah orang tua nya, hingga sore hari. Hari juga mulai mendung dan gelap. Ibu mertuaku menyuruh kami untuk tidur di rumahnya saja malam itu. Akan tetapi mas Jain menolak karena harus berangkat kerja besok pagi-pagj sekali.
Kami tetap pulang meskipun cuaca sudah berubah. Gerimis mulai turun dan angin bertiup sangat kencang. Kilatan petir mulai terlihat dari kejauhan, padahal perjalan masih panjang.
__ADS_1
Tak berapa lama hujan turun dengan deras. Kami tak sempat berteduh dan juga tidak membawa jas hujan. Akhirnya sepanjang jalan menuju rumah kami menggigil kedinginan.
Tubu Einy sudah sedingin es ketika kami sampai di rumah. Gigi ku gemerutuk karena menggigil, terlebih lagi mas Jain yang menyetir di depan.
Aku membuka pintu rumah dan kami bertiga langsung masuk ke dalam. Dan aura panas seketika menyelimuti tubuh kami bertiga. Seketika itu juga menggigil yang aku rasakan tiba-tiba saja hilang.
"Begitu masuk rumah langsung anget dek!" ucap mas Jain kepada ku.
"Iya mas, suhu nya beda jauh sekali sama di luar!"
Kami bertiga membungkus tubuh kami dengan selimut, Einy dan mas Jain langsung tidur. Akan tetapi aku yang ketakutan menghindar untuk menutup mataku, dan lebih memilih bermain dengan ponsel.
Meskipun di luar sedang hujan deras, untungnya sinyal ponselku masih sangat bagus. Jadi aku bisa memainkan ponselku dengan bebas.
Kali ini aku tidak membuka google ataupun YouTube. Kali ini aku membuka playstore. Aku berinisiatif mendownload sebuah aplikasi surah Al-Qur'an. Kali inj pilihan ku jatuh pada ayat kursi yang diulang sampai 7 kali, surah Al-fatihah 3 kali pengulangan, dan surah Yasin yang diulang 3 kali.
Setelah itu aku memutar bacaannya. Aku hanya mendengarkan dan menghayati saja. Bukan kah aku ketakutan setiap kali mendengar ayat suci Al-Qur'an? jadi aku menggunakannya sebagai senjata keduaku mengusir para setan-setan itu.
__ADS_1